Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 11 ~ Masih Kecewa


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Daddy... Ayo kita pulang sekarang!"


Ammar dan Dhana yang masih duduk di teras depan rumah terperanjat seketika saat suara bariton Aiziel tiba-tiba memintanya untuk pulang. Melihat raut wajah sang putra yang sangat masam, membuat Ammar dan Dhana saling pandang heran seraya berdiri.


Tidak berselang lama setelah Aiziel keluar, tampak Pak Aidi, Bu Aini, Ibel, Mala, Damar dan Wulan juga ikut keluar memenuhi teras rumah. Hal itu semakin membuat Ammar dan Dhana terheran-heran.


"Ayo Mas, kita pulang. Malam semakin larut dan kasihan Al di rumah sendirian." timpal Ibel yang menatap lekat sang suami dan sepertinya mengerti dengan maksud Aiziel.


"Kenapa cepat sekali Sayang? Bahkan aku belum selesai bicara dengan Dhana. Kamu baik-baik saja, bukan?" tanya Ammar yang melihat ke arah Ibel lalu menoleh ke Aiziel.


"Ibel baik-baik saja, Nak. Sejak tadi putramu ini yang terus-terusan merengek untuk minta pulang. Sepertinya dia kelelahan. Lebih baik kalian pulang dan beristirahat ya." timpal Bu Aini seraya mengusap punggung sang cucu.


"Ck, kamu ini mengganggu Daddy mengobrol saja, Ziel. Ya sudah, kalau begitu kita pulang." sungut Ammar yang melirik kesal putranya.


Ibel dan Bu Aini pun terkekeh geli seraya saling pandang melihat kedua pria tampan yang berbeda generasi itu. Sementara Pak Aidi, Dhana, Damar dan Wulan juga terkikik geli melihat ekspresi Ammar yang tampak jengah.


"Oma, Opa, Uncle, Anty... Ziel pulang dulu ya. Assalamualaikum semuanya." ucap Aiziel seraya mencium tangan keempat orang tua yang masih terlihat muda itu walau berbeda generasi.


Tanpa menunggu jawaban dari keempat insan yang ia cium tangannya itu, Aiziel langsung berlenggang pergi dan masuk ke dalam mobil dengan raut wajah yang tidak terbaca. Melihat tingkah sang putra yang tiba-tiba aneh seperti itu, membuat Ibel dan Ammar saling pandang.


Begitu juga dengan Pak Aidi, Bu Aini, Dhana dan Mala namun sepertinya tidak dengan Damar dan Wulan. Kedua anak kembar itu sangat mengerti dengan sikap Aiziel yang masih emosi dan marah pada sang mami. Namun dengan sekuat tenaga, pria itu menutupi rasa kesal itu di depan semuanya dan memilih pergi.


"Ayah, Ibu... Kalau begitu Ammar, Ibel sama Ziel pulang dulu ya. Sepertinya putra sulung Ammar benar-benar sudah kelelahan dan tidak sabar ingin masuk kamar lalu rebahan." ujar Ammar seraya menyalami tangan ibu dan ayahnya.


"Kalian hati-hati ya, Nak. Jangan terlalu kencang membawa mobilnya. Ingat, kamu membawa anak dan juga istrimu." timpal Pak Aidi yang mengusap punggung putranya.


"Siap Ayah..."


"Ibel pamit ya, Yah, Bu." timpal Ibel seraya menyalami tangan ayah dan ibu mertuanya.


"Iya, Sayang. Kalian hati-hati. Sering-sering lah main ke sini menemani Ayah dan Ibu." jawab Bu Aini yang memeluk Ibel.


"InsyaAllah, Bu. Lagi pula Ziel sudah lulus kuliah dan dia akan menetap di sini. Jadi dia pasti akan sering main ke sini sebagai ganti Mas Ammar dan Ibel." ujar Ibel seraya melirik suaminya.


"Iya, iya, Ibu sangat mengerti dengan maksud kamu, Sayang." jawab Bu Aini yang terkikik geli melihat ekspresi menantunya itu.


Ammar yang merasa gemas pun merangkul bahu sang istri lalu mencium kening istrinya itu di depan semuanya, termasuk si kembar Damar dan Wulan. Sementara yang lainnya hanya tersenyum bahagia melihat keduanya.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya, semuanya. Assalamualaikum." ujar Ammar yang melihat semuanya secara bergantian.


"Wa'alaikumsalam..." jawab semuanya.


Ammar dan Ibel pun beranjak, berjalan ke arah mobil. Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil dan Ammar pun langsung melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.

__ADS_1


"Damar, Wulan... Lebih baik kalian masuk juga ya, Sayang. Ini sudah malam, besok kalian harus bangun pagi. Ayo, sekarang masuk ke kamar masing-masing ya, Nak." ujar Bu Aini yang masih berdiri di ambang pintu seraya mendekati kedua cucunya.


"Iya Oma..." jawab Damar yang tersenyum.


Sementara Wulan hanya mengangguk kuat mendapatkan perintah dari sang oma. Lalu keduanya pun masuk ke dalam, dan diikuti pula oleh Pak Aidi, Bu Aini, Dhana dan Mala.


"Kalian juga istirahat ya, Nak. Ibu sama Ayah mau masuk ke kamar dulu." ujar Bu Aini yang menoleh ke arah Dhana dan Mala.


Keduanya pun hanya mengangguk seraya tersenyum pada sang ibu yang dibalas senyuman pula oleh Bu Aini. Setelah Pak Aidi dan Bu Aini masuk ke dalam kamar, Dhana pun berjalan ke lantai atas tanpa menghiraukan Mala yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


Mala mendengus, sejak tadi Dhana selalu diam, menghindar dan enggan bicara dengannya. Bahkan saat mata keduanya bersiborok pun Dhana langsung menoleh ke arah lain. Ingin masuk ke kamar untuk mengikuti sang suami pun rasanya sangat malas. Namun Mala tetap mengikuti Dhana dan berusaha untuk menepis egonya yang teramat besar.


"Mau sampai kapan kamu mendiamkan aku seperti ini Mas?" ujar Mala yang berjalan di belakang Dhana.


Dhana tetap bergeming dan terus berjalan, seakan tidak mendengar pertanyaan sang istri yang sebenarnya tampak geram sejak tadi dengan sikap Dhana yang hanya diam. Untuk menghindari sang istri, Dhana yang masih kecewa dan marah pun mengambil langkah seribu agar cepat sampai di kamar dan bergelumun dengan selimut. Namun langkah Dhana kalah cepat dengan istrinya yang kini sudah berdiri di hadapan Dhana.


"Mas..."


"Aku sedang malas ribut dengan kamu, Mala. Jadi tolong biarkan aku masuk ke kamar dan tidur. Aku capek!!!" tukas Dhana yang sedang menahan gejolak amarah di hatinya.


"Tapi mau sampai kapan kamu diam terus Mas? Aku tidak bisa kamu diamkan seperti ini." jawab Mala seraya meraih tangan Dhana yang enggan melihat wajahnya.


Dhana pun menghela nafas kasar seraya menetralisir emosi yang kini menyeruak kembali memenuhi hatinya. Memori otak Dhana seakan berputar lagi saat mengingat kejadian tadi siang.


"Kamu tanya kapan? Yang tau jawabannya hanya kamu, Mala. Selagi kamu membenci putri kita, selama itu pula aku akan bersikap seperti ini sama kamu!" ujar Dhana yang penuh penekanan seraya menepis tangan istrinya.


"Sampai kapan pun aku tidak akan menerima anak itu di dalam hidupku, Mas. Tidak akan!"


Mala yang kesal pun berlenggang pergi dan memilih untuk tidur di kamar tamu. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang melihatnya.


Kenapa Mi? Kenapa Mami tidak mau menganggap Wulan sebagai putri Mami? Apa salah Wulan, Mi? Apa karena Wulan tidak bisa bicara dan tuli? Bahkan untuk mendengar saja, Wulan harus menggunakan alat bantu dan itu membuat Mami malu. Kalau Wulan tau akan jadi seperti ini, Wulan akan menolak untuk lahir ke dunia ini, Mi. Wulan sayang Mami. Wulan ingin dipeluk Mami, seperti Mami memeluk Mas Damar. Gumam Wulan dalam hati.


Lolos sudah bulir bening dari pelupuk mata gadis kecil itu. Setelah sang mami hilang dari pandangan matanya, Wulan menutup kembali pintu kamarnya dan menghambur ke atas tempat tidur. Setiap malam, gadis kecil itu selalu menangis saat teringat betapa malangnya nasib hidup yang harus ia jalani. Dengan keterbatasan, hinaan orang di luar sana, bahkan kebencian ibu kandungnya.


Wulan yang menangis pun menutupi wajahnya dengan selimut, membiarkan air matanya jatuh sebanyak mungkin karena tidak akan ada orang yang bisa melihatnya saat ini. Lampu kamar dibiarkan menyala begitu saja, menerangi ruang persegi yang tak lain adalah kamarnya. Tangisnya semakin pecah, beriringan dengan suasana malam yang semakin hening, senyap dan dingin.


***


"Ziel.... Tunggu, Nak!"


Setelah perjalanan dari rumah sang oma berakhir, Aiziel yang masih geram dengan sikap Mala terhadap Wulan pun langsung menghambur keluar dari mobil tanpa menghiraukan Ammar dan Ibel. Melihat sikap aneh sang putra, membuat keduanya merasa heran sekaligus khawatir.


Langkah lebar Aiziel pun terhenti saat sang daddy berusaha mencegahnya untuk naik ke lantai atas rumahnya, di mana kamarnya berada. Sejak tadi, selama di perjalanan, Aiziel hanya diam dan raut wajahnya terlihat sedang menyimpan amarah yang besar dan itulah yang membuat Ammar penasaran.


"Ziel mengantuk, Daddy. Kita bicaranya besok saja ya." jawab Aiziel yang sedang berusaha untuk mengelak.

__ADS_1


"Tidak!!! Sebelum kamu cerita, Daddy tidak akan membiarkan kamu tidur nyenyak. Apa yang terjadi sebenarnya sama kamu? Sejak dari rumah Oma, sikapmu sangat aneh, Nak. Apa yang terjadi? Apa yang membuatmu terlihat marah seperti ini? Jangan kamu kira Daddy tidak tau apa yang ada di dalam pikiran kamu saat ini. Apa yang kamu bicarakan dengan Damar dan Wulan di halaman samping?" ujar Ammar yang menghujani ribuan pertanyaan.


Aiziel menghela nafas kasar berusaha mengontrol emosinya yang masih menyeruak. Lalu pria tampan itu memilih duduk karena merasa lemah jika harus mengingat semua cerita Damar dan Wulan. Melihat gelagat sang putra yang aneh, Ibel dan Ammar pun saling pandang heran lalu mereka pun ikut duduk bersama putranya itu.


"Ziel benar-benar tidak menyangka kalau Anty Mala sampai setega itu pada Wulan, Daddy. Anty Mala meninggalkan putrinya lagi di sekolah dan hanya membawa Damar. Itu yang membuat Ziel kesal, marah dan ingin cepat pulang karena Ziel muak melihat sikap Anty Mala yang berlagak seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Damar menceritakan semuanya pada Ziel dan itulah yang jadi penyebab Wulan menangis saat memeluk Ziel tadi." tutur Aiziel seraya menatap langit-langit ruang tamu rumahnya.


Ammar dan Ibel terhenyak seketika saat mendengar semua penjelasan putranya itu, walaupun feeling mereka sejak tadi memang mengarah ke sana. Ternyata benar, kalau Aiziel bersikap aneh dan terkesan dingin pada Mala karena ia sudah mendapatkan cerita dari Damar.


"Sudahlah, Nak. Mommy mengerti dengan perasaanmu. Mommy paham kalau kamu sangat menyayangi Wulan. Tapi Anty Mala tetaplah anty kamu, istri dari Uncle Dhana, dan uncle-mu adalah adik kandung Daddy. Anty Mala hanya memerlukan waktu untuk bisa menerima putrinya, Sayang. Dan tugas kita hanya bisa berdo'a dan mendukung adik perempuanmu itu." tutur Ibel yang berusaha menenangkan sang putra sulung.


"Tapi mau sampai kapan Mommy? Sejak Anty Mala sadar dari komanya, dia tidak pernah menyayangi Wulan dan itu masih berlaku sampai sekarang. Apa Anty Mala tidak punya hati? Itu putri kandungnya loh. Apa perlu nasib Wulan sama seperti Onty Dhina, baru Anty Mala akan menyayangi Wulan?" tukas Aiziel yang ternyata masih geram dengan sang anty.


Ammar terperangah saat mendengar nama sang adik yang disebut oleh Aiziel. Dengan cepat, ia menoleh ke arah Aiziel lalu meraih bahunya hingga keduanya saling berhadapan.


"Ziel... Kamu itu bicara apa sih? Tidak baik bicara seperti itu. Jangan bawa-bawa adik perempuan Daddy dalam hal ini. Dia sudah tenang di alam sana." serkas Ammar yang menatap tajam putra sulungnya itu.


Aiziel yang masih terbawa emosi pun menghela nafas panjang seraya mengacak kasar rambutnya. Sementara Ibel berusaha menenangkan sang putra dengan mengusap lembut punggungnya.


"Maaf Daddy... Kalau begitu Ziel mau masuk ke kamar dulu. Ziel mau istirahat. Good night Dad, Mom." ujar Aiziel yang memilih untuk pergi ke kamarnya.


Ibel hanya menganggukan kepala seraya tersenyum pada putra sulungnya itu, lalu ia menggeser tubuhnya mendekati Ammar dan berusaha menenangkannya.


"Sudahlah, Mas. Jangan terlalu dipikirkan ya. Jika Ziel sudah tenang, kita akan mengajak anak itu bicara lagi. Kamu tau sendiri 'kan bagaimana sifat Ziel yang turun dari kamu? Dia itu arogan dan emosional sama seperti kamu." ujar Ibel yang sedang menenangkan suaminya.


"Kamu bisa saja, Sayang. Wajar saja kalau anak itu sama sepertiku, dia 'kan anakku." jawab Ammar yang akhirnya terkikik geli.


Melihat suaminya yang terkikik geli seperti itu membuat Ibel gemas. Lalu mereka pun ikut beranjak dan berjalan menuju kamar. Sementara Aiziel sedang berjalan menuju kamarnya.


"Baru pulang Mas?"


Saat Aiziel baru saja ingin meraih gagang pintu kamarnya, tiba-tiba suara bariton itu berhasil menarik perhatiannya. Aiziel pun menoleh ke asal sumber suara dan terlihat sang adik yang tak lain adalah Aifa'al dan tengah berdiri seraya bersandar di ambang pintu kamarnya.


"Kamu belum tidur Al? Ini sudah larut loh. Besok kamu kuliah 'kan?" tanya Aiziel yang berjalan mendekati sang adik.


Aifa'al tampak menyeringai saat mendengar pertanyaan sang mas sulung, lalu ia berjalan pula mendekati Aiziel.


"Sejak kapan Mas peduli dengan kuliah Al? Bukannya Mas hanya peduli dengan gadis kecil kesayangan Mas yang cacat itu?!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2