Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 132 ~ Sensitive


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Rainar...! Hoi...! Malah bengong!"


Mesin waktu bergerak cepat, melangkah pergi meninggalkan rangkaian kenangan indah di pagi hari, merangkak siang namun awan yang semula putih bersih bak kapas kini berubah, menjadi awan hitam tebal nan gelap yang bergerak perlahan entah ingin ke mana, siap untuk menumpahkan bulir kehidupan ke muka bumi sebagai nikmat.


"Sepertinya sahabatmu ini syok setelah mendengar semua cerita panjang kamu, Damar." seloroh Syahal, melirik Rainar yang masih terpekur dengan mata ke arah Wulan.


"Sepertinya sih begitu, Mas." ujar Damar.


"Rainar...! Ya ampun, sadar Dik...!" sahut Syahil, menepuk keras bahu Rainar.


Rainar terlonjak hebat, menatap semuanya yang menatapnya tak heran. Setelah jam pelajaran kedua berakhir, waktu istirahat pun masuk. Membuat semua siswa/siswi berhamburan keluar kelas, termasuk tiga serangkai. Ketiganya pun menuju kantin, menemui Syahal dan Syahil yang sedang duduk santai sampai Damar Wulan pulang.


Hingga cerita panjang selama liburan pun Damar ceritakan pada sang sahabat yang selama liburan memilih berkunjung ke luar kota. Membuat Rainar terperangah, tidak menyangka kalau Gibran menculik Damar dan Wulan, dibantu Bima dan menjadikan Aifa'al sebagai kambing hitam rencananya.


Cerita berlanjut saat Syahal angkat bicara, menceritakan kejadian di saat kebakaran pada ruang penyekapan sampai peristiwa rel kereta api. Tak lupa pula dengan kisah masa lalu Mala yang membuat semuanya tidak menyangka, termasuk Rainar sendiri sekarang saat mendengarnya. Cerita terus berlanjut, melibatkan nama sang paman di tengah-tengah, memberitahu Rainar kalau Imam telah tiada dan menyusul istri tercinta. Membuat Rainar yang sempat mendengar nama itu dari sang papa, kendati tak pernah dipertemukan juga ikut merasa kehilangan.


Rasa-rasanya jam istirahat hari ini akan terasa sebentar karena terus bercerita, membuat Rainar semakin tak menyangka kalau Gibran yang sudah sempat teringkus justru kabur dengan rencana licik pastinya, kendati belum ada yang tau siapa dalang dibalik semua rencana busuk itu, bertukar posisi dengan Bima yang justru terjebak di dalam permainan cantik seorang Gibran, hingga kini semuanya belum terselesaikan.


"Aku benar-benar tidak menyangka, Mar. Masalah Om Dhana dan keluargamu akan serumit ini." ujar Rainar, melihat Damar dan Wulan bergantian.


"Utangku sudah lunas 'kan?" tanya Damar.


"Ya...! seharusnya di saat seperti itu, aku berada di samping kalian. Tapi kenapa di antara kalian tidak ada yang memberitahu aku?" jawab Rainar, semula lirih berakhir kesal.


"Semuanya terjadi begitu saja, Rainar. Masalah demi masalah datang silih berganti, bahkan untuk bernafas lega saja kami tidak bisa. Apalagi situasi sekarang masih sangat berbahaya, terutama untuk Wulan. Itulah alasan, kenapa Mas kembar berada di sini." tutur Damar, berusaha meyakinkan Rainar.


"Sebenarnya papamu sudah mengetahui semuanya, Nar. Mungkin Om Ronald tidak ingin mengganggu waktu liburan kamu di Surabaya. Tapi ya sudahlah, semua yang telah terjadi pun juga sudah terjadi, bukan? Jadi untuk apa menyesalinya? Tidak akan ada gunanya untuk kita, dan masalah pun tidak akan selesai dengan cara menyesal!" timpal Syahal, mendadak dewasa saat ini.


"Lalu bagaimana sekarang? Yang menjadi sasaran Pak Gibran bukan Tante Mala lagi, melainkan Wulan." ujar Rainar, menoleh ke arah Wulan yang tersenyum tipis padanya.


"Kamu tenang saja, Nar. Selama ada kami semua, gadis kecil kita ini tidak akan terluka apalagi ada orang yang berani menyentuh tubuhnya walaupun hanya seujung kuku!!!" jawab Syahil, menenangkan gelisah Rainar.


"Tapi ada satu hal yang membuat Rainar bersyukur, Mas. Setelah semua ini terjadi, Mas Al dan Tante Mala berubah, menjadi lebih baik dan sudah menerima Wulan apa adanya dengan hati terbuka." ujar Rainar.


"Ya... itulah yang dinamakan ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Bahkan Mas Al, kini jauh lebih posesif pada Wulan dibandingkan Mas Ziel, Mas, Syahil dan Damar. Tapi jiwa sangar dan kejamnya Mas Al tidak pernah hilang, kamu harus tetap berhati-hati loh!" ujar Syahal, tengah menakut-nakuti Rainar.


"Ck! Mas Al hanya sangar pada orang luar saja, Mas! Kalau Rainar 'kan bukan orang luar!" jawab Rainar, melirik jengah Syahal.


"Tapi kamu memang harus berhati-hati dengan Mas Al, Nar!!! Kalau kamu ingin mendekati Adek, kamu harus melewati ujian mental dulu dari Mas Al. Hahaha..." celetuk Damar, menggoda Rainar yang ketakutan.


"Ck! Ternyata kakak dan adik sama saja! Sama-sama pandai menjatuhkan mental baja ku yang semula kokoh." cebik Rainar.


Gelak tawa Syahal-Syahil dan Damar-Wulan serentak bergema, pecah menyisir langit-langit kantin sekolah yang sudah mulai sunyi, menertawakan Rainar yang wajahnya menunjukan kekesalan, hingga bel masuk kelas kembali berbunyi, menuntut semua penghuni sekolah untuk melanjutkan pembelajaran terakhir hari ini.


"Kami masuk dulu ya, Mas." ujar Damar, beranjak dari duduknya serentak dengan Wulan.


"Ya sudah, sana masuk! Nanti ke sini lagi kalau kalian sudah selesai!" titah Syahal.


"Oke, Mas! Ayo Dek, Nar...!" jawab Damar.


Rainar dan Wulan mengangguk, beranjak dari tempat setelah melambaikan tangan pada Syahal dan Syahil yang tersenyum.


"Dua jam lagi kita akan pulang. Oke...!" sahut Syahil, melirik jam di tangannya, terdengar juga helaan nafas beratnya.


"Kamu bosan?" seloroh Syahal, heran.


"Bukan bosan, Mas. Tapi perasaan Syahil tiba-tiba berubah tidak enak. Kenapa ya?" jawab Syahil, mengurut dada yang terasa sesak.


"Kamu lagi mikirin apa memang?" celetuk Syahal seraya menyeruput minumannya.


"Tidak ada. Tiba-tiba saja jadi seperti ini." jawab Syahil berusaha tidak gelisah lagi.


"Hanya perasaan kamu saja mungkin! Jangan terlalu dipikirkan! Sebentar lagi kita akan pulang kok. Tenang ya kembaranku." ujar Syahal, mengusap punggung Syahil.


Syahil menghela berat, berusaha menepis kemelut rasa yang tiba-tiba datang tanpa sebab setelah Damar-Wulan kembali ke kelasnya, merasakan sesuatu yang buruk akan menimpa kedua adiknya entah apa, namun sukses mengusik ketenangan jiwa.


"Syahil mau menghubungi Mas Al dulu ya, Mas."


"Untuk apa? Mas Al sedang di kampus! Nanti dia marah kalau kita mengganggu."

__ADS_1


"Perasaan Syahil benar-benar tidak bisa tenang, Mas."


"Itu hanya perasaan kamu saja, Syahil!"


Kali ini Syahil tidak mau patuh, tangannya dengan cepat merogoh saku jaket hitam kesayangannya, mengambil ponsel yang terselip di dalam sana lalu menghubungi Aifa'al sesuai dengan niatnya sejak tadi.


"Assalamualaikum Mas..."


"Wa'alaikumsalam... ada apa Syahil?"


"Mas di mana? Bisa datang ke sini?"


"Mas di jalan. Ada apa memang?"


"Tidak ada apa-apa, Mas. Tapi perasaan Syahil tiba-tiba tidak enak selepas Damar sama Adek masuk ke dalam kelas lagi."


"Kamu masih di sekolah mereka?"


"Iya, Mas. Opa yang menyuruh Syahil dan Mas Syahal untuk menjaga Damar-Adek."


"Ya sudah, Mas akan menyusul kalian ke sana! Kalau bisa kamu pantau terus Adek dan Damar di dalam kelas mereka! Oke?"


"Oke Mas...!"


Panggilan pun berakhir, terdengar buru-buru hingga salam yang wajib diucapkan pun terlupakan begitu saja. Membuat Syahal yang sejak tadi hanya memperhatikan kembarannya, menggeleng. Heran dengan sikap sensitive sang adik hari ini. Tidak hanya hari ini sih, pokoknya naluri sebagai kakak dalam jiwa Syahil semakin meningkat setelah ia berubah menjadi baik.


"Masih tidak tenang?" tanya Syahal.


"Masih! Ayo kita ke dalam sekolah itu, Mas!"


"Haa? Untuk apa? Mana boleh kita masuk!"


Syahil terdengar menghela semakin berat, baru sadar kalau sekolah ini dilindungi oleh penjagaan super ketat sejak Gibran dicap sebagai buronan. Tentu saja ini semua ide Kinan yang berusaha melindungi semuanya dari kegilaan Gibran, jika sewaktu-waktu manusia satu itu bertingkah tanpa berpikir.


"Sudahlah! Kamu itu terlalu cemas, Syahil! Tapi Mas senang melihat kamu seperti ini."


"Senang? Maksud Mas Syahal?"


"Wajar saja lah, Mas. Mereka 'kan adik Syahil juga."


"Nah, itu yang Mas maksud...!"


Syahil bergeming, namun hatinya berkata bahwa perkataan Syahal memang benar.


Semoga saja perasaanku yang tiba-tiba tidak enak ini, tidak ada kaitannya dengan keluargaku, terutama Damar dan Adek. Gumam Syahil dalam hati yang gelisah.


***


"Huuuffff...! Untung saja aku juga sempat mengambil buku ini di laci kerja Papa. Ck!"


Zivana merebah sejenak, melepas rasa penat bercampur kalut tatkala tertangkap basah keberadaannya oleh sang papa, membuat gadis belia itu terlelap lemas, hingga tak sadar kalau hari semakin siang.


Gadis itu beranjak cepat, bangkit dari tempat tidur yang sudah membuatnya terlelap lama, membuatnya kehilangan banyak waktu. Niat hati ingin cepat-cepat menghubungi sang bunda, namun karena terlalu dikejutkan sang papa, urung sudah niat itu beberapa jam yang lalu. Membuat gadis belia itu gusar seraya meracau lirih.


"Aku harus cepat menghubungi Bunda! Bunda pasti mau membantuku keluar dari tempat terkutuk ini! Semoga saja ponselku masih ada pulsanya. Kalau tidak, tamat lah riwayatku!"


Bibir mungil nan tebal itu terus meracau cemas, namun tak menyurutkan kelincahan kelima jemari tangannya yang terus menari di atas layar sebuah benda pipih cerdas itu. Dengan gencar jari jemari itu berkeliaran lincah, mulai menghidupkan ponsel yang selama ini mati, hingga akhirnya gadis itu menemukan nomor seseorang yang diduga adalah nomor sang bunda.


Tut...!


Tut...!


Tut...!


Tiada respon dari sang bunda, membuat Zivana semakin gelisah, menoleh ke arah pintu kamarnya sesekali, memastikan kalau sang papa sedang tidak mengawasi dirinya.


Tut...!


Tut...!


Tut...!

__ADS_1


Lagi-lagi sang bunda tak memberikan respon apapun, membuat Zivana resah jika sewaktu-waktu sang papa memergokinya lagi seperti tadi, tanpa diduga-duga.


"Ayolah Bunda! Angkat telepon Zivana!"


Zivana yang semakin gelisah, tak gentar. Dengan keyakinan penuh ia menghubungi sang bunda kembali, harap-harap kali ini akan ada respon dari sang bunda di sana.


"Zivana...! Ini kamu, Sayang?"


Mata Zivana melebar, terdengar suara pekikan lembut di seberang sana, yang ia yakini bahwa itu benar-benar suara Kinan.


"Bunda...! Iya, Bunda. Ini Zivana..."


"Alhamdulillah... kamu ada di mana Nak? Katakan pada Bunda, ke mana papamu membawa kamu? Kamu baik-baik saja? Bunda sangat mencemaskanmu, Sayang!"


"Tolong Zivana, Bunda! Tolong jemput Zivana di sini! Zivana tidak tahan tinggal bersama Papa di tempat asing seperti ini! Zivana tersiksa, Bunda! Zivana terkekang! Papa benar-benar sudah jauh berbeda! Ternyata Papa sudah menipu Zivana selama ini, Bunda. Papa ingin balas dendam pada orang tuanya Damar sekaligus memisahkan Zivana dari Bima! Please, Bunda! Tolong Zi!"


"Kamu ada di mana Sayang? Ayo cepat! Katakan, di mana kamu dan papamu itu sekarang? Bunda akan menyuruh anak buah Bunda untuk langsung menjemputmu!"


"Zivana tidak tau ini di daerah mana, Bunda. Tempatnya sangat asing dan sangat sepi."


"Kamu yang tenang dulu ya! Kamu rileks, tenangkan hatimu, berpikirlah Sayang! Cari petunjuk di sekitarmu, apapun itu asalkan jelas! Ayo Nak! Lakukan apa yang Bunda katakan! Pelan-pelan ya! Kamu tenang...!"


Perlahan tapi pasti, Zivana mengikuti apa yang diarahkan sang bunda di balik sana, menuntunnya untuk tenang agar otaknya bisa berpikir dengan jernih, berusaha untuk mencari petunjuk sesuai yang dikatakan sang bunda kendati hanya di balik telepon.


Zivana melangkah, mendekati jendela kamarnya yang berukuran sedang namun tak cukup besar jika ia berniat ingin kabur melewati jendela itu. Matanya mengedar, memperhatikan setiap sudut Villa terpencil itu di balik jendela. Hingga akhirnya, mata tajamnya membulat ketika melihat sesuatu yang diduga akan menjadi petunjuk untuk sang bunda di sana agar dapat mencarinya.


"Bunda... ada sesuatu yang Zivana lihat!"


"Apa Sayang? Ayo cepat katakan!"


Zivana pun menyipit, berusaha membaca sebuah tulisan yang tertangkap matanya.


Brak!


Bibir yang baru saja bergerak dan ingin mengatakan sesuatu pada sang bunda di sana seketika terkatup rapat, jiwanya pun terguncang hebat ketika suara hentaman kaki yang keras dari luar sukses mendobrak pintu kamarnya hingga terbuka secara keji. Zivana terbelalak, mendapati keberadaan sang papa dengan tatapan kilat bak elang yang siap menerkam mangsanya saat ini.


Sementara Gibran tak menghiraukan ekspresi sang putri yang tengah melawan ketakutannya terhadap papanya sendiri. Lelaki yang sudah berkepala empat itu melangkah lebar dengan seram, masuk ke dalam kamar itu dan mendekati sang putri yang hanya mematung di posisinya saat ini.


Sret!


Prang!


Zivana kian terlonjak, melihat secara tragis ponselnya yang baru saja ditemukan harus hancur berkeping-keping karena kegilaan sang papa. Hancur sudah ponselnya kini, bersama dengan hancurnya harapan diri yang terus meronta untuk bisa bebas dari kekangan sang papa. Sementara Gibran menatapnya kilat, matanya merah tajam, menyiratkan amarah yang besar dalam hati ketika memergoki sang putri menghubungi orang yang sudah menjadi musuhnya kini.


"Kamu ingin mengundang Polisi ke sini? Dengan cara menghubungi bundamu itu, hah! Berani-beraninya kamu menyusup, masuk ke dalam kamar Papa hanya untuk memberitahu Kinan kalau kamu ada di sini! Apakah kamu ingin Papa ditangkap Polisi? Kamu ingin Papa masuk penjara lagi? Iya? Apa kamu tidak memikirkan Papa? Kamu tidak memikirkan perasaan Papa? Jawab!" sergas Gibran, membentak geram Zivana.


Bagaimana ekspresi Zivana kira-kira saat mendengar perkataan sang papa? Sudah pasti terkejut! Membuatnya berpikir keras, bagaimana bisa sang papa mendengar pembicaraannya dengan sang bunda di telepon. Namun seketika seringai Zivana terukir, teringat dengan sesuatu yang telah didengarnya kemarin, bahwa sang papa juga memerintahkan Bram untuk menyadap ponselnya demi menjalankan misi liciknya.


Tidak hanya itu, Villa ini pun juga sudah dipenuhi kamera CCTV pengintai di seluruh sudut ruang yang ada, termasuk kamarnya. Membuat seringai Zivana semakin terlihat, seraya menghunuskan tatapan nan tajam pada sang papa yang berbuat demikian.


"Perasaan? Papa menanyakan perasaan Papa sendiri pada Zivana? Apakah Papa memikirkan perasaan putri Papa ini, hah? Apa Papa memikirkan Zivana? Tidak, Pa! Papa hanya memikirkan diri Papa sendiri! Papa egois! Silakan kalau Papa tetap ingin balas dendam, Zivana tidak peduli! Yang Zivana inginkan sekarang hanya bebas!!! Zivana tidak mau tinggal bersama Papa yang hanya memikirkan dirinya sendiri!!!" pungkas Zivana yang tidak kalah geram.


Plak!


Satu tamparan mentah melayang begitu indahnya, mendarat di bandara pipi putih gadis belia nan sombong seperti Zivana. Membuatnya terhuyung, tangannya pun meraba pipi yang terasa sangat panas, meninggalkan bekas kemerahan di sana. Sementara Gibran menggeram, amarah yang memuncak membuatnya gelap mata.


"Papa jahat!" ucap Zivana, lirih.


Jatuh sudah air matanya yang menumpuk sejak tadi, bersamaan dengan terlukisnya senyum miris dan tatapan kecewa yang ia layangkan pada sang papa.


"Papa, tidak akan pernah membiarkanmu keluar dari tempat ini, selain dengan Papa!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2