Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 44 ~ Partai Pelindung


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Ternyata musuh bebuyutan lo di sekolah sekaligus target tabrak lari tadi siang yang lo buat itu, adalah adiknya Aifa'al dan Syahil!!!"


Seketika mata Bima dan Zivana terbelalak, tidak menyangka kalau kebetulan ini akan mereka dapatkan dengan mudah tanpa harus bersusah payah terlebih dulu. Seringai ketiganya mengembang, mengukir di wajah mereka yang mempunyai niat jahat.


"Jika Syahil keluar tanpa Aifa'al, itu artinya mereka sempat bertengkar? Apakah benar seperti itu?" tanya Bima yang menyeringai.


"Bertengkar sih tidak, tapi mereka sempat perang mulut sebelum Syahil pergi. Syahil keluar setelah dia mengetahui kalau gue sama lo ingin mencelakai si bisu itu. Syahil emosi banget sampai ponsel gue hancur sama tuh anak! Awas saja nanti! Bakal gue balas tuh anak!" jawab Dimas yang emosi, mengepal kuat tangannya.


"Lo kenapa bodoh banget sih? Siapa suruh lo kasih tau Syahil? Kalau dia melapor, baru tau lo!" tukas Bima seraya menjitak Dimas.


"Ck! Mana bisa dia melapor tanpa bukti!" sungut Dimas seraya merotasi matanya.


Bima mendengus kesal, menoleh ke arah Zivana yang berusaha menenangkannya agar tidak emosi setelah mendengar pengakuan Dimas yang tidak sengaja telah memberitahu Syahil tentang rencana Bima.


"Lalu apa berita bagus itu? Sejak tadi lo hanya memberitahu gue berita buruk!!!" sungut Bima seraya menyeruput minuman dinginnya, untuk mendinginkan pikirannya.


"Berita bagusnya ada pada diri Aifa'al, Bim. Ternyata Aifa'al membenci si bisu itu, dengan begitu kita bisa memanfaatkan tuh anak. Gue tidak mau mengotori tangan gue hanya untuk si bisu dan kakaknya yang jadi musuh bebuyutan lo di sekolah. Setelah ini, lebih baik lo pikirkan bagaimana cara untuk memanfaatkan kebencian Al." jawab Dimas.


Bima bergeming, memikirkan perkataan Dimas, membuat rencana baru seperti yang dikatakan Dimas untuk membalas Damar. Sementara Zivana, ia juga terlihat sedang berpikir keras untuk membuat rencana baru, yang pastinya akan menguntungkan dirinya.


"Kalau begitu gue pergi dulu ya, Bim. Gue malas duduk di sini kalau cuma jadi obat nyamuk lo. Bye..." ujar Dimas yang pergi.


Bima mendengus kesal, melihat Dimas yang berlenggang pergi tanpa menunggu respon darinya. Sementara Dimas hanya melempar seringai tajam, berjalan keluar Cafe menuju motor besarnya yang berdiri di depan Cafe.


"Kamu ada ide lagi tidak untuk rencana selanjutnya untuk Damar dan si bisu itu?" tanya Bima seraya menoleh ke Zivana.


"Untuk saat ini belum ada, Bim. Nanti lah kalau aku ada ide lagi, aku akan langsung kasih tau kamu. Yang penting sekarang ini adalah, kita sudah mendapatkan satu kunci sukses untuk rencana selanjutnya. Kita hanya tinggal mencari ruas untuk kunci itu." jawab Zivana yang tersenyum pada Bima.


Bima mengangguk, tidak sabar ingin menjalankan rencana jahat lainnya untuk Damar dan Wulan, menggagalkan Damar untuk bisa menjadi ketua osis di sekolah.


***


"Syahil jadi ragu, Mas!"


Perjalanan Aiziel, Syahal dan Syahil yang sempat terhenti karena waktu maghrib tiba, kini mereka telah sampai di tempat parkir sebuah apartment yang cukup luar. Ketiga pria tampan itu mengedar pandangannya, mencari sesuatu yang menjadi tanda kalau salah satu pemilik kamar apartment itu ada di dalam. Namun seketika, pandangan Aiziel dan Syahal tertuju kepada sang adik yang mendadak tidak yakin untuk bertemu Aifa'al.


"Maksud kamu apa? Mas Ziel sudah susah payah loh mengantarkan kamu ke sini. Tapi kamu malah tidak yakin seperti ini!" sungut Syahal seraya menepuk keras bahu Syahil.


"Mas Al pasti masih emosi, Mas. Syahil bukan takut sama orangnya, tapi sama emosinya yang kapan saja bisa meledak." jawab Syahil yang berdecak sebal.

__ADS_1


"Sudah, sudah! Biar Mas yang menangani anak itu kalau dia emosi. Ayo cepat!!! Kita langsung naik saja ke lantai atas. Semoga saja Al sudah pulang, jadi kamu bisa lebih cepat mengambil barang-barang kamu." timpal Aiziel yang menoleh, melihat kedua adik kembarnya itu.


Syahil menghela nafas, menuruti perkataan sang mas sulung yang beranjak, mengambil langkah lebar, masuk ke dalam apartment. Ketiga cucu tampan Pak Aidi dan Bu Aini itu pun berjalan menuju lift agar lebih cepat.


Ting!


Pintu lift terbuka, ketiganya bergerak cepat menyusuri koridor yang cukup gelap menuju kamar Aifa'al. Aiziel yang sudah tau di mana letak kamar sang adik, membuatnya dengan cepat menemukan kamar itu, sehingga kini mereka telah tiba di depan kamar Aifa'al.


Aiziel menekan bel kamar apartment sang adik, memberi kode bahwa dirinya tengah berdiri, menunggu pintu kamar apartment untuk segera dibuka. Tidak berselang lama, pintu kamar Aifa'al terbuka, memperlihatkan sosok pria yang tak jauh tampan dari ketiga saudaranya itu. Aifa'al keluar, mengeryitkan dahi tatkala mendapati Aiziel, Syahal serta Syahil datang ke apartment bersamaan.


Syahil mengulas senyum, berusaha untuk mencairkan suasana hati sang mas, tapi senyuman itu tak bersambut hangat karena yang diberikan senyuman terlihat emosi menatap ke arahnya. Sementara Aiziel dan Syahal yang melihat keduanya, mengerti kalau situasi seperti ini harus diselesaikan.


"Mau apa kalian ke sini? Oh, kalian ingin main keroyokan sekarang, karena kalian sudah satu partai! Partai Pelindung si Bisu! Hahahaha..." ujar Aifa'al yang menyeringai, tertawa lepas dan menertawakan Wulan.


"Stop, Al!!! Mas dan Syahal datang ke sini hanya ingin menemani Syahil untuk mengambil barangnya yang sempat dia bawa selama menginap di apartment kamu. Karena kamu sudah mengusir Syahil, jadi dia hanya ingin mengambil barangnya dan tidak ingin ribut sama kamu." timpal Aiziel seraya mengangkat telapak tangannya di depan Aifa'al.


"Oh, jadi si pengkhianat ini mengadukan semuanya pada Mas dan Syahal? Silakan, silakan saja ambil barang kamu, karena di sini tiada tempat untuk sosok pengkhianat!" ujar Aifa'al yang menyeringai ke arah Syahil.


Syahil bergeming, melihat seringai tajam sang mas sepupu yang memang selama ini selalu mendukungnya di saat ia bertengkar dengan Syahal. Namun keputusan Syahil sudah bulat, hati nuraninya memberontak tatkala ia menghina dan membenci Wulan hanya karena keterbatasan dalam bicara.


Syahal menyikut sang adik, memperhatikan sikapnya yang hanya diam di tempat tanpa melangkah sedikit pun, matanya pun terus tertuju pada Aifa'al, berusaha untuk tenang dan melihat setiap gerak-gerik Aifa'al yang sesaat melempar tatapan tajam ke arahnya.


Syahil menghela nafas panjang, membuat Aiziel menoleh ke arahnya yang masih tidak bergerak maju, masuk ke dalam apartment Aifa'al. Sementara Aifa'al masih memasang wajah sangar, bak singa jantan yang ingin menerkam mangsanya di saat itu juga.


"Ayo, Syahil! Masuk dan ambil semua yang telah kamu bawa ke sini." ujar Aiziel seraya meraih bahu Syahil, menuntunnya masuk.


Syahil yang bergeming akhirnya bergerak juga, melewati Aifa'al yang masih berdiri di ambang pintu seraya menatapnya dengan penuh kekecewaan dan kebencian. Syahil mengerti, mungkin saat ini sang mas sepupu belum merasakan apa yang ia rasakan saat Wulan memperlakukan dirinya dengan baik walaupun selama ini ia tidak bersikap, baik.


"Jangan meninggalkan jejak apa pun di kamar ini! Bawa semua barang milikmu! Pergi dan jangan pernah kembali lagi!!!" sahut Aifa'al tanpa melihat ke arah Syahil.


Syahil hanya bisa menghela nafas berat, menerima apa pun perkataan sang mas sepupu padanya. Sementara Aiziel dan Syahal yang masih stay di luar, berusaha menahan geram, mendengar penindasan kasar yang terlontar dari mulut Aifa'al dan diam adalah cara terbaik untuk tidak memancing emosi satu sama lain.


Tidak berselang lama, Syahil pun keluar, menenteng tas besar yang berisi beberapa pakaian dan buku kuliahnya, menghampiri Syahal dan Aiziel yang tersenyum padanya.


"Sudah?" ujar Aiziel seraya meraih tas itu.


"Biar Syahil saja, Mas. Semua pakaian dan buku kuliah Syahil sudah di dalam tas. Jadi tidak ada lagi yang tertinggal." ujar Syahil yang menolak bantuan Aiziel.


"Baguslah! Kalau begitu kamar ini tidak meninggalkan jejak dan bau pengkhianat!" timpal Aifa'al seraya bertegak pinggang.


"Sebenarnya yang pengkhianat di sini itu siapa sih Mas? Syahil atau Mas Al?" tandas Syahal yang geram, menghampiri Aifa'al.

__ADS_1


Syahil melepaskan tasnya, meraih tubuh sang mas kembar yang hendak mendekati Aifa'al di ambang pintu dengan seringainya. Tindakan serupa dilakukan Aiziel, sebagai kakak yang paling tua dan paling dihormati oleh adik-adiknya, Aiziel melangkah lebar meraih tubuh Syahal yang tersulut amarah.


"Sudahlah, Mas! Jangan melawan emosi Mas Al yang tidak akan habis. Lebih baik kita pulang sekarang dari pada emosi Mas semakin tersulut dan akan berakhir dengan perkelahian lagi." ujar Syahil yang berdiri di belakang Syahal seraya berbisik.


"Ayo kita pulang, Syahal! Tidak akan ada manfaatnya melawan anak yang tidak tau diri ini. Ayo, kita pergi saja!" timpal Aiziel dengan tegas, menatap tajam sang adik.


Syahal melemah, membiarkan Aiziel dan Syahil merangkul tubuhnya untuk berjalan menjauhi Aifa'al yang sebenarnya sudah emosi, siap ingin berkelahi namun lawan bicaranya malah memilih pergi begitu saja. Membuat Aifa'al yang emosi memilih untuk masuk ke dalam apartment, membanting pintu dengan keras sehingga mengejutkan Aiziel, Syahal dan Syahil yang baru hendak masuk ke dalam pintu lift.


"Sudah, tidak perlu kalian pikirkan! Untuk menghadapi Al yang sedang emosi seperti tadi, memang lebih baik pergi dari pada kita ikut terbawa emosi mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya. Al akan terlihat lebih baik, jika dia sendirian di apartment." ujar Aiziel yang melihat kegelisahan kedua adik kembarnya itu.


"Tapi bukan itu yang Syahil takutkan, Mas." jawab Syahil yang merasakan tidak tenang.


Aiziel mengeryit, menoleh ke arah Syahal yang mengedikan bahunya, seakan sama, tidak mengerti dengan maksud sang adik.


"Lalu apa yang kamu pikirkan?" tanya Aiziel.


"Mas Al masih ikut bergabung dengan geng motor Bima. Syahil takut, Bima dan Dimas akan memanfaatkan kebencian Mas Al pada Wulan untuk menjalankan aksi brutal mereka. Saat ini mereka pasti sudah tau kalau Mas Al dan Syahil tidak sejalan lagi karena Mas Al masih membenci Wulan." jawab Syahil yang cukup mengetahui sifat geng motor itu.


"Kejadian seperti itu tidak akan pernah terjadi, Syahil! Mas yang akan menjamin itu!" ujar Aiziel seraya memegang kedua bahu Syahil.


"Kita akan memperingatkan Damar dan Wulan agar mereka selalu berhati-hati. Kamu tenang saja, Syahil. Selama kita bersama, Damar, Wulan bahkan Mas Al tidak akan pernah masuk ke dalam jerat bahaya. Kita harus melindungi mereka dari kegilaan ketua geng motormu itu." timpal Syahal yang meyakinkan sang adik kembar.


Syahil menghela nafas berat, sebelum akhirnya ia mengangguk percaya dengan kedua masnya itu. Tidak berselang lama, mereka pun sampai di lobi apartment dan bergegas menuju mobil di tempat parkir.


"Mas akan mengantar kalian dulu sampai ke rumah. Setelah itu, Mas akan kembali lagi ke rumah Uncle Dhana." ujar Aiziel yang masuk ke dalam mobil.


"Eh tunggu, Mas! Jangan langsung pulang ke rumah dong! Kita balik ke rumah Uncle saja dulu. Motor Syahal ada di sana, Mas!" sungut Syahal yang protes seraya masuk mobil.


"Ck!!! Kalau bukan adikku, sudah kudepak kau dari dalam mobilku ini!!!" sungut Aiziel yang mendengus geli seraya menoleh ke arah Syahal di sampingnya.


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2