
...🍁🍁🍁...
Di bawah cahaya rembulan yang tadinya memancarkan cahaya terang, berangsur menghilang tertutup awan hitam nan tebal, menyisakan sedikit cahaya yang membuat malam nan hening semakin sunyi dan sepi. Terlihat seorang gadis kecil yang menangis, berpangku tangan sebagai tanda tubuhnya merasakan dinginnya hembusan angin.
Kenapa Ya Allah? Kenapa aku dilahirkan hanya untuk menerima kebencian Mami? Kenapa aku dilahirkan hanya untuk menyusahkan orang-orang yang aku sayang? Kenapa aku dilahirkan hanya untuk menerima penghinaan orang yang ada di sekitarku? Kenapa Ya Allah? Kenapa ujian dari-Mu begitu menyakitkan hati gadis bisu seperti aku? Jika aku boleh memilih, lebih baik aku tidak pernah dilahirkan ke dunia ini dari pada harus menyaksikan betapa besar kebencian Mami terhadap diriku. Gumam si gadis kecil dalam hati.
Sesekali, ia tampak mengusap kasar bulir kristal bening yang berjatuhan di wajahnya. Guratan kesedihan tampak jelas dari sorot matanya yang basah dan sembap. Gadis kecil itu tampak menggigil, namun kakinya tetap melangkah tanpa tau arah tujuan. Ia hanya bisa bermonolog sendiri, meratapi betapa malangnya nasib diri yang enggan untuk diakui, hanya dijadikan sasaran caci maki bahkan oleh ibu kandungnya sendiri.
Jgeeer!
Suara petir yang menggelegar, membuat gadis kecil itu terlonjak kaget dan memilih untuk bersembunyi di bawah sebuah atap rumah reot tak berpenghuni. Jalanan sepi, tiada satu pun kendaraan yang lalu lalang, membuatnya semakin dirundung rasa takut. Namun rasa takut itu tidak melebihi betapa hancur hatinya saat ini. Mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, perkataan seorang wanita yang menghujam keras tepat pada jantungnya. Perkataan kasar dari seorang wanita yang mengandung dan melahirkan dirinya ke dunia ini. Namun setelah ia lahir, kehadirannya sama sekali tidak dianggap oleh sosok wanita itu.
Jgeeer!
Suara petir yang semakin menggelegar, menandakan bahwa sebentar lagi hujan akan turun. Sepertinya langit mengerti, merasakan apa yang dirasakan gadis kecil nan malang itu. Ketidakmampuan untuk berbicara dan keterbatasan untuk mampu mendengar tanpa alat bantu, menjadikan dirinya sebagai amukan dan hinaan orang sekitar. Tak terkecuali, orang itu adalah ibu kandungnya sendiri yang berhati batu.
Kapan hati Mami akan terbuka? Menerima kekuranganku dan memeluk erat tubuhku seperti memeluk tubuh kakak kembarku? Kedua kakak sepupuku sampai berkelahi hanya karena salah seorang dari mereka membelaku, dan satu yang lainnya justru tidak menyukai keberadaanku. Sama seperti Mami yang tidak menginginkan aku hadir di dalam hidupnya. Semalang inikah nasibku? Gumam gadis kecil itu dalam hati.
Sosok ibu yang selalu dibutuhkan kasih dan sayangnya, sosok ibu yang seharusnya bisa menjadi pelindung utama untuknya, sosok ibu yang seharusnya mampu memberikan kehangatan di malam hari seperti ini. Namun semua itu hanya lah sebuah angan-angan yang sulit untuk diraih dan diwujudkan.
Tik... Tik... Tik...
Hujan lebat pun turun membasahi bumi, hembusan angin semakin terasa masuk hingga menyentuh tulang. Gadis kecil itu bergegas pergi, mencari kendaraan yang dapat dijadikan tumpangan untuk pulang. Niat hati keluar dari rumah untuk mencari angin segar dan menenangkan hati serta pikiran yang sangat kacau. Namun niatnya itu justru membawanya entah ke mana.
Ya Allah... sekarang aku ada di mana? Kenapa aku tidak mengenal jalan ini? Seberapa jauh aku berjalan sejak tadi, sehingga aku tidak menyadari ke mana arah langkahku pergi. Sekarang aku harus bagaimana? Aku benar-benar tidak tau dengan jalan sepi ini, bahkan tiada siapa pun yang melewati jalan ini. Ya Allah... aku benar-benar ketakutan saat ini. Gumam gadis kecil itu lagi dalam hati.
Sekeliling tempat di mana ia berada saat ini terlihat sangat sepi, puluhan pohon rindang yang menjulang tinggi, menjadikan suasana malam terasa semakin mencekam. Sesekali gadis itu mengedar pandangan ke sekeliling, mencari seseorang yang bisa membantunya saat ini. Guratan kecemasan pun terlihat di wajahnya yang sembap, menyadari bahwa dirinya saat ini tengah tersesat. Tubuhnya pun basah kuyup, tersiram derasnya air hujan yang berjatuhan, sama dengan deras air matanya yang masih terus mengalir.
***
"Mas... kita beli makan malam yuk!!!"
Rasa lapar yang datang tiba-tiba berhasil mengusik ketenangan Syahil yang sedang tertidur pulas di kamar apartment Aifa'al. Rasa lapar yang tak tertahankan, menuntut Syahil untuk segera tersadar dari halusinasi indahnya di alam mimpi. Membuat mata yang tadinya mengantuk berat, kini terbuka lebar karena alunan musik yang berasal dari dalam perutnya. Lalu Syahil menghampiri si pemilik apartment yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakak sepupunya, Aifa'al.
"Mas sedang malas keluar, Syahil! Kalau kamu lapar, masak mie instant saja sana!" seru sang pemilik apartment yang terlihat sibuk berkutat dengan laptopnya.
"Kemarin malam Syahil juga sudah makan mie instant, Mas. Masa mau makan itu lagi! Bisa-bisa perut Syahil ini keriting makan mie terus!" sungut Syahil yang jengah dan kesal.
"Ah, kamu ini menyusahkan Mas saja! Ya sudah ayo! Tapi jangan terlalu lama! Mas sedang banyak tugas kuliah nih!" sungut Aifa'al yang beranjak lalu meraih jaketnya.
"Iya, tidak akan lama kok. Paling cuma ke jalan sepi yang dekat sini. Di sana tempat penjual ketoprak malam nangkring, Mas." jawab Syahil seraya memakai jaket Levi's.
Aifa'al berdecak kesal, walaupun perutnya juga terasa lapar namun ia berusaha untuk menahannya karena malas untuk mengisi perut. Mood adik bungsu Aiziel itu tampak masih belum stabil, mengingat kejadian di rumah sakit tadi siang, bahkan bekas merah di pipinya saja masih terlihat walau samar, membuatnya tidak memiliki selera makan.
Mereka pun berjalan, menyusuri lorong apartment yang terlihat sangat sepi. Tiada satu pun penghuni apartment lainnya yang menunjukan batang hidung mereka karena malam semakin larut.
"Mas Al masih marah ya dengan perlakuan Papa tadi. Syahil minta maaf ya, Mas. Papa kalau emosinya sedang memuncak seperti tadi, memang seperti itu." ujar Syahil yang berusaha memecah keheningan.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Yang salah itu papa kamu, tapi Mas tidak marah hanya kesal saja." jawab Aifa'al yang dingin.
"Ya, tapi rasa kesal itu bisa berujung marah juga loh. Syahil 'kan sering tidur di sini dan Syahil merasa tidak enak dengan Mas Al." ujar Syahil yang berjalan sesekali menoleh ke arah Aifa'al.
__ADS_1
"Kalau kamu merasa tidak enak, jadi diam saja. Mas malas kalau harus membahas itu lagi. Lebih baik kamu fokus mencari makan malam untuk kita. Mas juga lapar nih!" ujar Aifa'al yang berjalan seraya melirik Syahil.
Syahil yang mengerti pun diam, menuruti perintah sang mas sepupu dan melanjutkan langkahnya mengikuti Aifa'al. Walaupun usia mereka yang terpaut tidak jauh namun karena ajaran orang tua, membuat mereka patuh dan menerapkannya sampai saat ini.
***
Hujan lebat yang mengguyur bumi perlahan mereda, meninggalkan sisa-sisa air hujan di sekitar jalan dan membuatnya basah, dingin dan semakin hening. Sosok gadis kecil yang sejak tadi menyusuri jalan sunyi masih terus melangkah, mengedar pandangan, mencari bantuan yang bisa dijadikan petunjuk jalan. Namun usahanya sia-sia. Gadis kecil yang tak lain adalah Wulan tampak ketakutan.
Hujan deras yang mengguyur tubuhnya, membuatnya basah sekujur tubuh. Wulan terus melangkah seraya berpangku tangan, menghilangkan rasa dingin yang menyiksa, memberikan kehangatan untuk tubuhnya.
"Hei Neng cantik... sendirian saja, Neng?"
Suara bariton yang terdengar parau penuh ***** itu tiba-tiba mengejutkan Wulan dari arah belakang. Wulan pun menoleh cepat, mendapati dua orang sosok pria kekar dan basah kuyup dengan pakaian khas preman. Guratan kecemasan semakin terlihat jelas di wajah gadis kecil itu. Melihat tatapan sayu dari kedua preman yang semakin bergerak maju mendekati dirinya.
Tanpa berpikir panjang, Wulan pun berlari namun langkah kakinya yang mungil kalah cepat dengan lebar kedua preman itu.
"Mau ke mana sih Neng? Ini sudah malam, lebih baik kita pulang yuk. Abang ganteng akan menemani Neng cantik tidur malam." ujar salah satu preman seraya mencegah jalan Wulan.
"Hahahaha... kita bawa saja dia, Brother. Lumayan, untuk senang-senang malam ini. Pasti seru! Dia masih kecil dan pasti akan semakin menantang adrenalin kita, Bro!!!" timpal preman satunya lagi dengan penuh tatapan ***** yang semakin memuncak.
Wulan yang ketakutan pun beringsut mundur, menjauhi kedua preman asing dengan tatapan mesumnya itu. Namun sejurus kemudian, salah satu di antara preman itu meraih dan mencekam kuat tangannya.
"Aaaaaa... aaaaaa... aaaaaa..."
Wulan meracau, berusaha memberontak, melepaskan diri dari cengkraman preman mesum itu. Namun kekuatannya tidak lah sebanding dengan preman itu. Apalagi ia tidak bisa bicara, hanya bisa meraung dan meraung untuk segera dilepaskan.
***
Sadha dan Vanny saling pandang tatkala mendapati ketiga pria tampan yang berdiri di depan pintu rumah mereka. Larut malam yang semakin menyisakan keheningan, membuat Sadha heran melihat kedatangan mereka. Apalagi saat melihat raut wajah sang adik yang terlihat mengkhawatirkan.
"Ayo silakan masuk! Kalian kenapa datang di saat larut malam seperti ini? Lalu kenapa hanya bertiga? Wulan mana?" ujar Sadha.
Dhana, Damar dan Aiziel tetap bergeming, masih berdiri di ambang pintu. Sementara Sadha dan Vanny yang berbalik pun heran melihat ketiganya terdiam di ambang pintu.
"Dhana... ada apa? Kenapa wajah kamu terlihat panik seperti ini? Apa yang terjadi? Katakan, Dhana! Apa yang telah terjadi?"
Melihat sang adik yang panik, memancing kecemasan Sadha dan Vanny. Sementara Dhana yang tetap bungkam, meneteskan bulir kristalnya di hadapan mas tengahnya.
"Adek kabur dari rumah, Paklik!"
Sadha dan Vanny terperangah mendengar perkataan Damar yang membuka suaranya.
"Kamu bicara apa Damar? Bagaimana mungkin Wulan bisa kabur dari rumah? Bagaimana ceritanya?" tanya Vanny.
"Wulan sudah tau kalau Daddy masuk rumah sakit setelah melihat Ziel bertengkar dengan Al karena Ziel membela Wulan, Bulik. Dan ini terjadi karena Anty Mala yang memberitahu Damar dan Wulan." timpal Aiziel seraya melihat Vanny.
"Mala lagi? Wanita itu benar-benar tidak punya perasaan!!! Lebih baik kalian masuk dulu ya. Biar Bulik buatkan teh hangat dan kita cari solusinya bersama-sama." serkas Vanny yang sempat emosi namun ia tahan.
Damar dan Aiziel pun mengangguk lalu berjalan masuk, meninggalkan Dhana yang masih berdiri di hadapan Sadha. Sementara Vanny memilih untuk pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat.
"Wulan, Mas. Wulan hilang." ujar Dhana lirih dan hampir tak terdengar.
__ADS_1
Sadha pun memeluk sang adik, berusaha memberikan kekuatan dan semangat agar sang adik tetap kuat menghadapi masalah ini. Air mata keduanya pun jatuh beriringan dengan kekecewaan dan ketakutan yang semakin mendalam.
"Kamu tidak sendiri, Dhana. Mas akan ikut mencari Wulan. Kita cari Wulan malam ini juga. Ayo kita masuk dulu! Kakakmu sudah membuatkan minuman hangat biar kamu tidak sakit dan tetap kuat." tutur Sadha seraya melerai pelukan lalu menenangkan Dhana.
Dhana mengusap air matanya yang jatuh tanpa izin, mengangguk patuh mengikuti perkataan sang mas tengah. Pikiran kalut dan kacau pun kembali menyelimuti, tapi sebisa mungkin ia menepisnya walaupun terasa sulit. Sadha pun merangkul Dhana, membawanya masuk dan duduk di ruang tamu terlebih dahulu.
"Kalian minum dulu ya, Nak. Bulik panggil Syahal dulu ke atas. Mungkin dia bisa ikut kalian mencari Wulan. Dengan begitu, adik kalian bisa secepat mungkin ditemukan." ujar Vanny seraya meletakkan minuman di atas meja.
"Terima kasih banyak, Bulik. Maaf kalau kedatangan Damar dan Papi, membuat Bulik dan Paklik kesusahan." jawab Damar yang tertunduk sedih, merasa bersalah.
"Kenapa kamu bicara seperti itu Sayang? Bulik dan Paklik tidak pernah merasa disusahkan. Kita semua itu keluarga. Jadi memang harus dan sudah sepatutnya untuk saling tolong menolong." ujar Vanny seraya mengelus pucuk kepala Damar.
Hati Damar menghangat saat mendengar perkataan sang bulik yang sangat peduli dengan keutuhan keluarga. Tidak seperti sang mami yang egois dan berhati batu. Seketika pikiran Damar kembali teringat dengan sang adik yang entah di mana ia sekarang. Damar terdiam namun bulir dari matanya terus saja berjatuhan.
Melihat sang adik terdiam, Aiziel pun mengusap lembut punggung Damar, berusaha menenangkan walaupun dirinya sendiri tidak tenang. Vanny pun beranjak, bergegas menaiki tangga, menuju kamar sang putra, meninggalkan Sadha, Dhana, Damar dan Aiziel yang saling menguatkan.
Ceklek!
Kepanikan Vanny membuatnya langsung menerobos masuk ke dalam kamar sang putra. Terlihat lah sang putra kembar yang sudah terlelap, mengarungi mimpi indah di malam yang semakin larut.
"Syahal... bangun, Nak! Syahal, bangun!" seru Vanny seraya membangunkan sang putra kembar.
"Hmmm, ada apa sih Ma? Masih malam, Syahal minta dibangunkan besok, bukan sekarang." jawab Syahal yang bergulum selimut tebalnya.
"Ihhh, anak ini! Kalau sudah tidur, susah sekali bangunnya! Syahal bangun dulu!!! Urgent, Nak! Urgent!!!" sahut Vanny lagi seraya menggoyang tubuh putranya itu.
"Urgent apaan sih Ma? Tidak ada asap kebakaran 'kan? Itu artinya bukan urgent." jawab Syahal yang semakin ngelantur.
Kesabaran Vanny pun berada di ambang batas melihat tingkah sang putra kembar yang *****. Tidak ingin membuang masa, Vanny pun mendekatkan wajahnya ke telinga sang putra yang semakin terlelap.
"Bangun, Syahal! Kamu harus bangun dan membantu Damar untuk mencari Wulan!!!"
Pekikan Vanny di telinga Syahal berhasil membuat pria tampan itu beranjak cepat dari tidurnya. Mata yang awalnya sangat mengantuk, kini terbelalak lebar menatap sang mama.
"Memang Adek Wulan kenapa Ma?" tanya Syahal yang terlihat sangat terkejut.
"Wulan kabur dari rumah karena kelakuan anty kamu yang tidak punya hati itu!" jawab Vanny yang sangat marah dan kecewa.
Syahal terdiam saat mendengar perkataan sang mama. Tidak mampu membayangkan apa yang terjadi pada Wulan di luar sana. Tidak ingin membuang waktu, Syahal yang khawatir pun beranjak dan menarik tangan sang mama untuk keluar dari kamarnya.
"Kita harus bisa menemukan Adek Wulan malam ini juga, Ma!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇