Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 125 ~ Berusaha Menyadarkan


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Ayo, Dek! Masuk lah!"


Goresan tinta jingga berpaduan dengan warna keemasan terbingkai indah di ufuk barat langit yang sudah hampir meredup, hilang ditelan luasnya cakrawala di atas sana. Sekelompok burung bangau dan kelelawar pun tampak turut menghiasinya, berterbangan ke sana ke mari sesuai arah yang hendak mereka tuju sebagai tempat pengembaraan selanjutnya di saat gelap.


Perjalanan panjang Rumi dengan sang kakak yang tak lain dan tak bukan adalah Bram pun berakhir tepat di depan sebuah rumah minimalist sedang, namun mewah. Manik teduh nan cantik Rumi terus teralih, mengedar ke semua sudut rumah elite itu. Sementara sang kakak, Bram yang sudah membuka pintu utama rumah itu terpekur, menatap sang adik yang sibuk melihat-lihat.


"Rumi... Ayo masuk! Kamu harus istirahat!" seru Bram, berdiri di depan pintu rumah itu.


"Ini rumah siapa Kak?" tanya Rumi, masih enggan beranjak dari posisi berdirinya kini.


"Rumah Kakak! Kamu bisa tinggal di sini selama Kakak bekerja di luar kota. Kakak harus kembali ke sana karena masih ada pekerjaan yang harus Kakak selesaikan." terang Bram, enggan menatap sang adik terlalu lama.


"Kakak mau pergi lagi? Lalu Rumi?" tanya Rumi lirih, menatap nanar sang kakak.


Bram terdiam, tak tau harus menjawab pertanyaan sang adik yang masih berdiri di teras rumah itu, enggan untuk beranjak apalagi masuk ke rumah yang asing itu.


Dengan langkah berat, Bram melangkah lambat, mendekati sang adik yang masih menatapnya penuh pertanyaan dan heran.


"Masuklah dulu! Kamu baru keluar dari rumah sakit, Dek! Kakak harap kamu bisa mengerti situasi pekerjaan Kakak saat ini!"


Rumi mengeryit, rasa penasaran dengan ribuan pertanyaan masih berputar di dalam kepalanya, siap untuk ditembakan pada sang kakak yang hanya bungkam selama perjalanan panjang mereka. Tak ada dua patah kata, bahkan satu kata sekali pun. Hanya diam, perjalanan panjang yang entah sudah berapa jam mereka lalui itu hanya mereka lalui dengan diam seribu bahasa.


Bram merangkul bahu sang adik, lalu membawanya masuk ke dalam rumah itu untuk beristirahat di dalam kamarnya.


"Ini kamar kamu. Di rumah ini hanya ada dua kamar. Kamar Kakak dan kamarmu! Tapi untuk saat ini, Kakak harus kembali! Majikan Kakak sudah menunggu Kakak! Kamu istirahat ya, Dek. Semua keperluan pribadi kamu sudah Kakak siapkan, jadi kamu tinggal memakainya saja." terang Bram, mengusap lembut kepala sang adik.


Rumi masih bungkam, mata teduhnya itu masih menatap lekat sang kakak, mencari sesuatu yang sedang disembunyikan oleh sang kakak darinya selama ini. Sementara Bram tetap bersikap tenang dan biasa saja, kendati hatinya tidak setenang dirinya saat ini, teringat dengan sesuatu yang tiba-tiba mengganjal sejak pertemuannya dengan Wulan di rumah sakit dan tau kalau Wulan bersama Damar lah yang menolong Rumi.


"Semua obat kamu juga sudah Kakak siapkan. Kakak akan menghubungimu selalu. Kakak janji! Kakak pamit dulu ya."


Satu kecupan sayang Bram daratkan di pucuk kepala sang adik, sebagai ungkapan sayang yang tak terkira pada sang adik, harta berharga Bram satu-satunya yang ia miliki hingga saat ini dan untuk selamanya.


Lama Bram mengecup kepala Rumi yang masih terpaku, tidak berkata apapun pada sang kakak yang akan meninggalkannya.


"Tunggu Kak...!"


Langkah lebar Bram setelah mengecup pucuk kepala Rumi terhenti tepat di bibir pintu kamar, membuat lelaki itu memutar kepalanya lagi, melihat ke arah sang adik.


"Ada apa Dek? Kamu butuh sesuatu?"


"Rumi butuh penjelasan Kakak!"


Wajah Bram pias seketika, paham dengan maksud dan arah bicara sang adik saat ini.


"Penjelasan apa lagi?"


Rumi beranjak dari duduknya, melangkah pelan mendekati sang kakak di bibir pintu.


"Wulan! Kenapa gadis kecil itu terlihat ketakutan saat melihat Kakak masuk ke dalam kamar rawat Rumi? Dan kenapa wajah Kakak juga berubah saat Kakak melihatnya? Apakah sebelumnya Kakak sudah pernah bertemu dengan gadis itu? Atau jangan-jangan, Kakak pernah jahat sama Wulan? Kalau Kakak tidak pernah jahat padanya, tidak mungkin dia sampai ketakutan seperti tadi dan lari begitu saja dari kamar rawat Rumi!"


Bram terbungkam rapat. Kepalanya setia menunduk, enggan menantang mata teduh sang adik yang bisa membuatnya melunak. Karena sejatinya, Bram adalah sosok kakak yang baik di mata Rumi, tidak pernah jahat dan tidak pernah kasar pada orang apalagi pada anak seusia Damar dan Wulan.


Namun selama ia bekerja dengan Gibran, Bram banyak berubah. Kendati rasa cinta dan sayang pada Rumi sangat besar, lelaki dewasa itu tidak pernah bercerita apapun tentang pekerjaan pada sang adik tercinta. Bram tak ingin jika Rumi tau apa pekerjaan aslinya di ibu kota, demi pengobatan Rumi.


"Kakak hanya diam! Berarti jawabannya benar 'kan Kak? Apa yang sudah Kakak lakukan pada Wulan? Apa semua ini ada hubungannya dengan pekerjaan Kakak yang selalu Kakak tutup-tutupi dari Rumi? Sebenarnya apa pekerjaan Kakak di sini? Apakah selama ini uang yang Kakak kirim pada Rumi di kampung, bukan uang halal? Kakak pasti sudah melakukan kejahatan demi uang, bukan? Jawab Rumi, Kak...!" tandas Rumi, menatap geram sang kakak.

__ADS_1


Tangan Bram yang terjuntai, mengepal. Penuturan sang adik membuatnya marah, kepalanya yang tertunduk kini terangkat, menatap sang adik yang tak kalah tajam.


"Diam! Diam, Rumi! Sudah cukup! Kakak tidak mau meladeni amarahmu sekarang! Kakak harus pergi dan kamu tidak perlu memikirkan gadis bisu itu lagi!" seru Bram.


"Ck!!! Ternyata Kakak sudah tau banyak tentang gadis penolongku itu! Sekarang sudah jelas, bahwa Kakak mengenalnya! Dan sekarang, Kakak jawab pertanyaanku! Kenapa Wulan sampai ketakutan saat dia melihat Kakak? Atau dugaanku benar lagi! Kakak pernah menjahati gadis penolongku itu?" pungkas Rumi lagi yang kian geram.


"Kakak harus pergi!" jawab Bram, tanpa menoleh apalagi melihat Rumi sebelum pergi dan kembali ke Villa terpencil Gibran.


Rumi tersenyum miring, sikap sang kakak membenarkan semua rentetan pertanyaan yang sejak tadi berputar di dalam otaknya. Mata teduhnya yang sudah basah dibawa menoleh, melihat Bram yang berjalan keluar.


"Kakak boleh pergi! Tapi di saat Kakak kembali, maka jangan harap, Kakak bisa melihatku di rumah ini bahkan di dunia ini lagi!" seru Rumi lirih, tercekat ingin terisak.


Tekat yang semula bulat, langkah kaki yang semula cepat, hendak menyentuh bibir pintu kini terhenti lagi. Tubuh tegap Bram seakan melemas saat mendengar perkataan Rumi, membuatnya berbalik, menatap sang adik.


"Kakak harus ingat! Kalau Wulan tidak ada saat Rumi pingsan di jalan, mungkin yang Kakak lihat sekarang ini bukan raga Rumi! Melainkan jasad Rumi yang sudah terbujur kaku! Mati di pinggir jalan karena terlambat mendapatkan pertolongan seorang dokter! Kakak juga harus ingat! Kalau adikmu ini, sedang sakit parah bahkan sebentar lagi akan mati! Kalau bukan karena Wulan dan Damar, mungkin Kakak sedang menangisi jasad Rumi saat ini! Kakak harus ingat itu!"


Bram menghela berat, otak yang masih bekerja seakan menolak perkataan Rumi. Namun tidak dengan hati nurani, hati kecil yang tersembunyi seakan membenarkan semua perkataan sang adik tentang Wulan. Membuatnya gamang dalam waktu yang singkat, tak dapat dipungkiri kalau hatinya kini tengah bersyukur karena ada yang menolong Rumi, kendati orang itu Wulan.


Apa yang harus kulakukan? Tuan Gibran sangat menginginkan gadis itu sekarang. Karena melalui gadis itu, dia akan balas dendam kematian kedua orang tuanya. Namun di sisi lain, kenapa harus gadis itu yang menolong adikku? Kenapa bukan orang lain saja? Karena Damar dan Wulan, Rumi bisa diselamatkan. Padahal aku sudah berbuat jahat pada kedua anak kembar yang sebenarnya tidak tau-menau dengan masa lalu Tuan Gibran dan ibu mereka itu. Gumam Bram dalam hati yang bertengkar.


Sementara Bram terdiam, Rumi beranjak. Melangkah lemas mendekati sang kakak yang tengah bergumam sendiri di dalam pikirannya. Kepala yang sebenarnya sakit lagi, dibawa Rumi untuk menjangkau Bram.


Bruk!


Namun rasa sakit enggan bersahabat, membuat Rumi yang kondisinya masih lemah jatuh pingsan tepat di depan Bram. Membuat lelaki dewasa itu terkesiap, saat lamunannya buyar mendengar suara keras yang berasal dari adiknya sendiri.


"Rumi...! Bangun Dek! Rumi...! Bangun!"


Bram gusar, panik tak terkira melihat raut wajah sang adik yang kembali pucat pasih. Tangannya dingin dengan denyut nadinya yang lemah, tak terdeteksi oleh tangannya.


Bram semakin panik, menepuk pelan pipi sang adik yang tampak semakin pucat itu. Hingga akhirnya Rumi membuka matanya, membuat Bram menghela lega. Tubuhnya yang tegap itu langsung berdiri, membawa sang adik masuk ke dalam kamar lagi dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Minum dulu ya, Dek!"


Rumi mengangguk patuh, amarah yang membingkai wajah cantiknya tadi sudah hilang entah ke mana bersamaan dengan matanya yang masih bisa terbuka kembali. Tangannya pun meraih gelas minum dari tangan Bram, menegaknya sampai habis. Membuat Bram yang melihat merasa lega, harta berharga satu-satunya itu masih ada.


"Jangan pergi lagi, Kak!"


"Baiklah! Kakak akan menemani kamu."


"Dan jangan sakiti Wulan lagi!"


"Jangan memikirkan itu terus, Rum!"


Rumi menghela nafas berat, sudah cukup dengan melihat semua sikap sang kakak sebagai jawaban dari semua pertanyaan. Bahwa sang kakak tidak hanya mengenal Damar dan Wulan, melainkan juga pernah menjahati keduanya atas dasar pekerjaan. Kendati Bram tidak mengatakan apapun, namun mata yang tidak bisa berbohong sudah menjawab semuanya dengan jelas tanpa harus mengeluarkan untaian kalimat.


"Rumi tidak bisa!!! Damar Wulan adalah penyelamat hidup Rumi, adiknya Kakak! Kakak maupun Rumi, kita berdua utang nyawa sama mereka, Kak! Jika dugaan Rumi benar, bahwa pekerjaan Kakak ada hubungannya dengan mereka, Rumi minta sama Kakak untuk berhenti sekarang juga!"


Bram terbungkam lagi. Antara pekerjaan dan adik, mana yang harus ia pilih? Jika Bram memilih adik, berarti pekerjaannya akan hilang dan biaya untuk pengobatan sang adik pun juga ikut musnah seketika. Namun jika Bram memilih pekerjaan yang membuatnya harus melakukan kejahatan, maka ia harus menjalankan rencana jahat Gibran lagi terhadap Wulan, yang bahkan sampai saat ini Bram sendiri tidak tau apa rencana rahasia selanjutnya sang majikan.


"Jika Kakak harus berbuat jahat hanya karena uang, dengan cara menyakiti anak sebaik mereka, maka dengan tegas Rumi mohon sama Kakak, hentikan semua ini!!! Mereka masih kecil, Kak! Kakak tidak boleh menyakiti mereka hanya demi uang! Coba sekarang Kakak bayangkan, kalau kita ada di posisi mereka? Apa yang Kakak rasakan di saat Rumi bertemu dengan orang yang sangat ingin menyakiti Rumi? Kakak akan khawatir dan Rumi pasti akan ketakutan!!! Seperti itulah yang mereka rasakan, Kak!"


Bram termenung, kegamangan tiba-tiba menyelimuti hatinya saat ini. Sementara Rumi yang melihat sang kakak melamun pun meraih tangannya, hingga lamunan panjang Bram lenyap dalam sekejap.


"Kak... Rumi memang tidak tau apa-apa tentang pekerjaan Kakak. Tapi Rumi rasa, kalau Kakak banyak berubah sejak Kakak bekerja dengan Pak Gibran itu. Kakak jadi cuek, datar dan kaku. Kakak tidak seperti dulu yang Rumi kenal. Baik, lembut, penuh kasih sayang dan perhatian. Rumi mohon, hentikan pekerjaan Kakak ini! Rumi yakin, Kakak pasti tertekan karena pekerjaan ini, yang tidak sesuai dengan karakter Kakak." tutur Rumi, tengah membujuk sang kakak.


"Kakak tidak bisa, Dek! Kakak harus..."

__ADS_1


"Apa Kakak lupa sama pesan Abah dan Ambu sebelum mereka meninggal dunia? Harta benda bisa dicari, sekalipun berat tetap jalani. Jangan pernah mau menerima pekerjaan yang menghasilkan uang haram. Jika kita menerimanya, sekecil apapun itu maka hidup kita tidak akan tenang seumur hidup. Kakak lupa dengan pesan mereka?" pungkas Rumi, memotong ucapan Bram.


"Lalu bagaimana dengan pengobatan kamu? Kalau Kakak berhenti, ke mana Kakak harus mencari kerja agar Kakak bisa membiayai pengobatan kamu, Dek?" tukas Bram, suara bariton nya mendadak parau.


"Masih ada Allah, Kak. Rezeki itu tidak punya pintu, asalkan kita terus berikhtiar yang disertai dengan usaha di jalan-Nya. Bukan menjadi orang jahat yang mau saja menjalankan perintah majikannya." jawab Rumi, berusaha menyadarkan sang kakak.


"Tapi Dek, Kakak tidak..."


"Kak... kalau bukan karena Damar Wulan, Rumi sudah tidak ada di sini. Kalau bukan karena mereka, mungkin Kakak tidak bisa bertemu lagi dengan Rumi. Mungkin Rumi sudah berkumpul dengan Abah dan Ambu sekarang. Itu artinya, Allah masih memberi Rumi kesempatan hidup dan menyadarkan Kakak melalui tangan Damar dan Wulan." potong Rumi, berusaha meyakinkan Bram.


Bram menghela berat, mengusap gusar kepalanya yang sudah kacau sejak tadi. Pikiran dan hati seakan tengah berperang besar, menolak dan menerima perkataan sang adik yang membuatnya kebingungan.


"Istirahatlah! Jangan memikirkan hal lain yang bisa membuat kepalamu sakit lagi! Kakak juga mau istirahat dulu! Jika kamu membutuhkan sesuatu, panggil Kakak!!!"


Bram beranjak, setelah menaikkan selimut halus untuk menutupi tubuh ramping Rumi. Lalu Bram beranjak, meninggalkan Rumi di dalam keheningan, menunggu jawabannya atas semua penuturan tulus untuk dirinya. Membuat Bram terduduk lemas di depan pintu kamar Rumi, membenamkan kepala yang terasa berat ke dalam kedua lututnya. Menampakan sosok seorang Bram yang terkenal santai dan jahat, sedang frustasi.


Drrrrttt!


Bram tersentak, mendapati getaran yang berasal dari ponselnya. Menuntut tangan untuk cepat merogoh saku, mengambil benda pipih cerdas itu lalu mengangkatnya.


"Iya Tuan..."


"Kamu di mana? Cepat kembali!"


"Sepertinya tidak bisa sekarang, Tuan."


"Kenapa? Adikmu masih sakit?"


"Iya Tuan. Saya harus menjaganya."


"Jangan terlalu lama di sana! Bahaya!"


"Baik Tuan. Saya tau akan hal itu."


"Cepat urus adikmu lalu kembali! Masih banyak tugas yang harus kamu kerjakan!"


"Baik Tuan..."


Panggilan pun berakhir, membuat Bram menghela berat semakin frustasi. Perintah sang majikan yang menuntut, belum lagi permohonan sang adik yang membuatnya semakin bimbang dan bingung harus apa.


"Lebih baik aku mandi dan istirahat dulu! Semoga saja setelah itu pikiran dan hatiku bisa tenang lagi. Aku harus bisa mengambil keputusan yang tepat! Tepat untukku dan untuk Rumi!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


semoga kamu bisa mengambil keputusan yang paling top ya Bram 😘 kasihan Rumi.


Satu part penuh khusus Bram dan Rumi, setelah ini part khusus untuk... siapa ayo wkwkwk pasti udah pada nunggu part ini yaa 😂 sabar... lagi dina on proses 😁✌️

__ADS_1


__ADS_2