Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 66 ~ Mempercayai Aifa'al


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Sssstttt... gggrrrttttt... sssfffyuuuu..."


Sunyi dan senyap, hening hingga membuat sayup-sayup suara getaran bibir seseorang membuat salah satu di antara dua manusia malang yang tengah terkurung di ruangan rahasia terkesiap. Menolehkan wajahnya ke sumber suara, melihat sang adik yang sejak tadi menahan dingin yang kian menusuk.


"Adek... Adek tidak apa-apa?"


Damar mengeryit cemas, takut dengan kondisi sang adik yang kedinginan, pucat dan lemah. Kekuatan yang ada di dalam diri habis terkuras begitu saja, berusaha untuk melepas diri dari ikatan rantai yang mengikat tubuh keduanya.


"Adek... jawab Mas, Dek! Adek baik-baik saja 'kan?" tanya Damar lagi yang cemas.


Wulan mengangguk walaupun samar, dingin yang menyelimuti tubuh seakan menguras habis kehangatan tubuhnya, membuatnya tersandar lemah di punggung Damar. Sementara Damar masih berusaha untuk mencari cara agar bisa terlepas dari ikatan rantai itu.


"Sebentar lagi hari akan terang, Dek. Mas akan membawa Adek keluar dari tempat ini. Adek harus kuat ya. Kita pasti bisa keluar dari tempat ini." ujar Damar yang berusaha menenangkan sang adik.


Wulan mengangguk lagi, matanya sayu, sesekali suara menggigil kedinginan dari bibirnya lepas begitu saja, berusaha untuk menahan rasa dingin itu agar Damar tidak khawatir, ingin sekali meraih tangan sang mas kembar, meyakinkannya bahwa dirinya baik-baik saja dan Damar tidak perlu cemas lagi. Namun apa daya tangan yang terikat, bukan terikat oleh tali melainkan oleh rantai, membuat bulir bening matanya jatuh.


"Aaa... aaaaa... aaaaa... aaa-aaa?" ujar Wulan lirih yang sedikit menoleh ke arah sang mas kembar.


"Mas baik-baik saja, Dek. Adek jangan mengkhawatirkan Mas. Mas baik dan Mas akan menjaga Adek walaupun nyawa Mas menjadi taruhannya." jawab Damar seraya menoleh ke arah sang adik.


"Aaaaa... aaaaaa... aaaaaaa... aaa... aaa!" ujar Wulan yang parau, menangis terisak.


"Jangan menangis, Dek. Maksud Mas bukan seperti itu. Maaf ya kalau perkataan Mas membuat Adek takut dan khawatir. Jangan menangis lagi, Sayang. Sstttt...." jawab Damar yang berusaha menenangkan.


Tangis Wulan mereda, membuat kepalanya yang semula tertunduk efek menangis kini terangkat kembali, sedikit menoleh ke arah sang mas kembar yang mencemaskannya.


Kita harus keluar dari sini, Mas. Adek akan kuat demi keselamatan kita. Gumam Wulan dalam hati.


***


"Sepertinya Syahil tau siapa orang yang menggunakan motor Mas lalu mengikuti taksi Damar dan Adek!"


Penuturan Syahil sukses membuat semua keluarganya terperangah, saling melempar pandangan heran. Syahil menoleh, melihat ke arah sang uncle yang menatapnya lekat.


"Bukan Mas Al, Uncle. Tapi Bima!!! Pasti anak itu yang memakai motor Mas Al lalu mengikuti taksi Damar dan Wulan. Bima pasti sengaja ingin memanfaatkan posisi Mas Al di dalam geng motor, seperti yang Syahil takutkan selama ini! Bima pasti tau kalau Mas tidak menyukai Adek dan Bima sengaja membawa makanan ke Basecamp untuk membuat Mas Al ketiduran agar dia bisa memakai motor Mas Al." tutur Syahil.


Dhana pun terdiam, berusaha memahami analisis sang keponakan yang masuk akal, membawanya beranjak dan menghampiri Syahil yang masih berdiri bersama Aifa'al.


"Tapi apa motif Bima, Syahil? Kenapa dia menculik Damar dan Wulan?" ujar Dhana.


"Banyak, Uncle! Salah satunya adalah karena Damar musuhnya. Tidak hanya itu, Damar juga kandidat calon ketua osis di sekolah. Dan satu hal lagi yang membuat Bima memiliki motif untuk berbuat jahat pada Damar, yaitu Syahil. Damar dan Adek sempat menolong Syahil dari kegilaan Bima." tutur Syahil yang sangat yakin.


Dhana terdiam, perkataan Syahil memang benar adanya, mengingatkan dirinya pada kejadian yang menimpa sang putra. Karena Bima, Damar masuk rumah sakit dan tidak menutup kemungkinan kalau Bima berbuat jahat lagi pada Damar bahkan pada Wulan.


Tidak jauh berbeda dari Dhana, Aifa'al pun ikut terdiam. Perkataan sang adik membuat memori otaknya berputar, teringat dengan seseorang yang sempat ia temukan di saat dirinya hendak pergi ke rumah sang oma.


"Sepertinya tidak hanya itu Syahil!" timpal Aifa'al yang sejak tadi terdiam, kini angkat bicara.


Syahil menoleh cepat, menatap lekat sang mas sepupu yang sepertinya teringat akan sesuatu di dalam kepalanya, membuat yang lainnya ikut terkejut.

__ADS_1


"Maksud kamu apa Al?" tanya Sadha yang beranjak dari duduknya, mendekati Aifa'al.


"Bicara tentang Bima, Mas sempat melihat anak itu sebelum Mas berangkat ke rumah ini. Dia keluar dari lift dan gerak-geriknya memang mencurigakan. Apa mungkin ada orang lain yang menyuruh atau menolong Bima untuk menculik Damar dan Wulan?" tutur Aifa'al yang memancing mata semua keluarganya untuk terbelalak sempurna.


"Maksud Mas Al, Bima tidak sendirian?" tanya Syahil yang terbelalak sempurna.


"Bisa saja 'kan? Selain motif yang kamu katakan tadi, bisa saja ada seseorang di balik semua ini dan membantu Bima. Tapi yang membuat Mas penasaran, siapa yang Bima kunjungi tengah malam di Apartment. Tidak mungkin dia menemui Mas. Kamu tau sendiri 'kan kalau teman-teman geng motor tidak ada yang tau Mas tinggal di Apartment itu." jawab Aifa'al yang menduga-duga.


"Tapi siapa yang membantu Bima, Mas? Dan apa tujuannya?" tanya Syahil seraya berpikir keras.


"Apa mungkin Uncle Dhana dan Anty Mala pernah punya musuh di masa lalu?" timpal Aifa'al yang menoleh ke arah sang uncle.


Sadha dan Dhana terkesiap, mendengar kata musuh membuat kenangan lama yang telah terkubur lama seakan dipaksa untuk dibongkar kembali, teringat sosok yang pernah jahat pada adik perempuannya. Namun itu tidak mungkin. Sosok itu sudah pergi jauh dari kota ini, sosok itu juga sudah bertaubat dan mengakui kesalahannya, meminta maaf sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan kota besar ini entah ke mana.


"Tidak, Nak. Uncle dan Anty tidak pernah punya musuh di masa lalu atau sekarang." jawab Dhana yang melihat ke arah Sadha.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Mas?" timpal Syahil yang menoleh ke arah Aifa'al.


Aifa'al terdiam, memangku tangan seakan berpikir tindakan apa yang harus ia lakukan. Bukan hanya untuk Damar dan Wulan, tapi juga untuk namanya yang sempat tertuduh, membuatnya harus melakukan sesuatu.


"Mas akan mencari tau siapa yang telah menyembunyikan Damar Wulan!" jawab Aifa'al yang menatap lekat manik Syahil.


"Mas yakin? Mas butuh bantuan Syahil?" tanya Syahil yang mengkhawatirkan sang mas sepupu jika bergerak sendirian.


"Tidak perlu!!! Kamu pantau Mas dari jauh saja karena Mas akan memberitahu kamu jika Mas menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan." jawab Aifa'al yang meraih kedua bahu sang adik, melirik ke arah mas sulungnya sesaat.


"Kamu yakin Nak? Uncle takut akan terjadi sesuatu padamu jika kamu bergerak sendiri. Uncle tidak ingin membebani kamu, Al." ujar Dhana yang memastikan kalau telinganya masih berfungsi dengan baik, mendengar sang keponakan akan membantu mencari kedua anak kembarnya.


Dhana menghela nafas, merasakan kalau sang keponakan belum berubah, sikapnya masih sama, Aifa'al masih membenci sang putri. Sementara itu, Syahil yang mengerti dengan tatapan Aifa'al pun menarik cepat tangannya, memangkas tatapan tajam dari mata kedua masnya yang mungkin tersulut emosi lagi jika tidak dipisahkan.


"Maaf Mas, tapi Syahil harus memisahkan Mas dengan Mas Ziel." ujar Syahil seraya menenangkan Aifa'al yang terengah-engah.


"Ya sudah, kalau begitu Mas pamit. Titip salam untuk semuanya. Mas akan segera mengabari kamu kalau Mas mendapatkan informasi tentang Damar dan Wulan." ujar Aifa'al seraya menepuk bahu Syahil.


Syahil mengangguk, mempercayai Aifa'al sepenuhnya untuk mencari tau siapa yang sudah menculik Damar dan Wulan. Aifa'al beranjak, bergegas menaiki motor, hendak pulang ke Apartment.


"Tunggu, Mas!!!" sahut Syahil.


"Ada apa lagi?" tanya Aifa'al dingin.


Syahil beranjak, berlari kecil menghampiri Aifa'al yang sudah siap hendak meluncur keluar dari gerbang rumah sang opa.


"Syahil minta maaf, Mas." ujar Syahil.


"Untuk apa?" tanya Aifa'al heran.


"Untuk masalah kita. Syahil tau Mas masih marah pada Syahil karena waktu itu. Syahil berharap, Mas Al juga bisa berubah seperti Syahil. Adek tidak seburuk yang pernah kita pikirkan, Mas. Dia sangat menyayangi kita. Syahil berharap Mas Al bisa merasakan itu."


Syahil yang tidak berani melihat langsung mata Aifa'al, memilih untuk masuk kembali ke dalam rumah, menghindar dari amarah Aifa'al yang bisa memuncak kapan saja di saat membicarakan perihal tentang Wulan. Namun sepertinya perkataan Syahil kali ini sangat berbeda, membuat Aifa'al terpekur, duduk memeluk helm yang akan dipakainya. Untuk sesaat Aifa'al terdiam, tapi itu hanya sebentar hingga akhirnya ia memilih pergi, mengabaikan penuturan Syahil yang masih terngiang di telinganya.


***

__ADS_1


"Mas Al sudah pergi, Pa."


Syahil menghela nafas panjang, duduk di samping Syahal dan Aiziel, memberitahu semuanya kalau Aifa'al sudah pergi tanpa berpamitan.


"Semakin hari anak itu malah semakin tidak tau sopan santun! Pergi begitu saja di saat masalah ini belum selesai!!!" sungut Sadha.


"Sstttt! Kamu bicara apa sih Mas? Al sudah bersedia membantu kita untuk mencari di mana Damar dan Wulan. Kita tunggu saja kabar dari Al dan jangan bicara seperti itu!" jawab Vanny yang menyikut lengan Sadha.


Sadha berdecak lirih, menyandarkan tubuh dan kepalanya yang terasa berat, membuat papa dari dua anak kembar itu tidak tenang.


"Lebih baik Ayah, Ibu, Mala dan Dhana istirahat saja. Kita percayakan semua ini pada Al. Besok pagi Imam dan Mas Sadha akan pergi ke kantor polisi untuk meminta bantuan. Imam yakin, kalau Al mampu menemukan Damar dan Wulan. Kita do'akan saja agar mereka baik-baik saja." tutur Imam yang menenangkan.


"Terima kasih, Mam. Terima kasih, Mas. Maaf kalau Dhana sudah menyusahkan kalian. Apalagi kamu, Mam. Aku sangat..."


"Tidak perlu seperti itu, Dhana. Tugasku datang ke sini memang untuk membantu kamu dan ini permintaan adik kembarmu. Jadi jangan bicara seperti itu lagi! Karena perkataanmu itu bisa membuat istriku sedih di sana." potong Imam yang tersenyum.


"Sekali lagi terima kasih, Mam." ujar Dhana.


Imam mengulas senyum, menatap sang sahabat yang beranjak bersama istrinya, disusul oleh kedua mertuanya yang ikut beranjak hendak mengistirahatkan tubuh.


"Mas Sadha dan Kak Vanny istirahat saja. Biar Imam yang berjaga-jaga di sini. Siapa tau saja, Damar dan Wulan pulang di saat tak terduga. Sama seperti di saat Wulan pergi malam itu karena Mala." ujar Imam yang melihat kedua pasutri itu.


"Kamu sudah tau semuanya Dik?" tanya Sadha yang tercengang tidak percaya.


"Ayah dan Ibu sudah menceritakan semuanya pada Imam, Mas. Imam sudah mengetahui semua masalah di rumah ini dan karena itulah Dhina meminta tolong pada Imam untuk datang ke sini." jawab Imam yang mengulas senyum simpul.


"Ya sudah, Mas dan Vanny tinggal dulu ya. Kalau kamu lelah, kamu istirahat saja." ujar Sadha yang beranjak bersama sang istri.


Imam mengangguk, mengulas senyum sebagai pengantar kedua kakaknya untuk beranjak menuju kamar, mengistirahatkan tubuh yang sangat lelah sementara mesin waktu sudah menunjukan pukul lima pagi.


"Kalian tidak tidur Nak?" tanya Imam yang melihat ketiga keponakan tampannya itu.


"Nanti saja, Paman. Ziel tidak bisa tidur." jawab Aiziel seraya bersandar lelah.


"Kalian jangan khawatir. Damar dan Wulan pasti baik-baik saja. Lebih baik kalian ambil wudhu lalu salat subuh agar pikiran kalian tenang. Kita akan salat berjama'ah di sini." ujar Imam yang menenangkan ketiganya.


"Baiklah Paman..." jawab ketiganya.


Imam menghela nafas panjang, mengulas senyum simpul, menatap ketiga keponakan tampannya itu beranjak, berjalan ke dalam dapur hendak ke kamar mandi, mengambil wudhu sesuai dengan perintah sang paman. Sementara Imam masih duduk di sofa ruang tamu, meraih ponselnya dan menatap layar ponsel dengan wallpaper wajah seseorang.


"Setelah masalah ini selesai dan Damar Wulan sudah kembali, aku akan mengikuti saran yang kamu katakan padaku waktu itu, Sayang. Aku akan membawa Wulan pergi bersamaku agar Mala tidak bisa menyiksa putrinya lagi! Aku akan bicarakan masalah ini dengan Dhana. Aku mencintaimu, istriku!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2