
...🍁🍁🍁...
"Bertahanlah Paman!"
Derap langkah kaki kian berpacu, melawan waktu yang tengah mengejar, berlari cepat seraya mendorong brankar yang digunakan oleh sang paman, tidak sadarkan diri sejak beberapa jam yang lalu, wajah yang pucat tercetak jelas, membuat Aiziel dan Aifa'al dirundung rasa cemas yang tak berujung.
"Kedua Masnya tidak boleh masuk ya!!! Biarkan dokter yang menangani pasien." ujar seorang suster, berusaha mencegah.
"Tolong selamatkan paman saya, Sus!" jawab Aiziel, tercekat hampir menangis.
"Kami akan berusaha!!! Berdo'a lah!!!"
Suster itu pun bergerak cepat, masuk setelah memastikan pintu kamar yang tertulis dengan tiga huruf itu tertutup rapat. Aiziel dan Aifa'al menghela nafas berat, berusaha tenang walaupun hati teramat cemas. Keduanya enggan untuk duduk, memilih tetap berdiri di depan pintu UGD yang tidak bisa mereka intip ke dalamnya.
"Sebenarnya Paman kenapa sih Mas? Padahal tadi pagi Paman baik-baik saja." ujar Aifa'al, meracau seraya mengusap kasar wajah hingga kepalanya.
"Mas juga tidak tau, Al! Kalau Mas tau, sudah sejak tadi Mas memberitahumu!" jawab Aiziel yang tak kalah panik, cemas.
Aifa'al menghela nafas kasar, berjalan ke sana dan ke mari tidak jelas, rasa cemas yang semakin membalut rapat, membuat keduanya tidak sadar dengan rumah sakit yang kini mereka jajaki. Tanpa sadar, ada beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka dengan tatapan penuh tanya.
"Ziel, Al..."
Aiziel dan Aifa'al terkesiap, menangkap sinyal dari suara yang sangat familiar di telinga, menuntun keduanya untuk menoleh hingga tertangkap oleh alat penglihatannya.
"Daddy, Mommy, Uncle..."
"Syahal, Syahil, Damar, Adek..."
Pemilik nama di atas tersebut melangkah, terasa berat namun perlahan sampai juga. Membuat Aiziel dan Aifa'al saling pandang, tidak percaya kalau ternyata mereka sudah salah menjajaki rumah sakit sebagai tujuan penanganan sang paman yang diduga sakit.
"Siapa yang ada di atas brankar itu, Ziel?" tanya Dhana, terasa berat dan tersumbat.
Aiziel bergeming, deru nafasnya yang belum stabil akibat berlari mendorong brankar kini harus berpacu lagi, mendapati pertanyaan dari sang uncle yang dapat dipahami nada suaranya. Membuat Aiziel gugup seketika, takut akan menjawab pertanyaan yang kini belum pasti kebenarannya, menuntun mata untuk menoleh, melirik Aifa'al yang terdiam.
"Ziel... siapa yang kamu bawa tadi Nak?" tanya Ammar, suaranya lebih parau kini.
"P-paman Imam, Daddy!!!" jawab Aiziel, terdengar parau dan bibir yang bergetar.
Bak dihujam ribuan anak panah tepat di bagian jantung, jawaban sang putra sulung sukses membuat Ammar terhuyung hingga menabrak dinding. Ibel yang melihat sang suami pun menjangkaunya, membawanya untuk duduk di kursi tunggu, wajahnya pun juga sudah basah entah dari sejak kapan.
Sementara Dhana yang ikut mendengar, hanya mematung. Berdiri di tempat dengan rentetan pertanyaan yang siap diluncurkan, menatap kosong lurus ke arah depan.
Lalu bagaimana dengan Syahal-Syahil dan Damar-Wulan? Tentu saja mereka tak kalah terkejut, mendengar sang paman yang baru beberapa hari datang ke ibu kota, menghiasi hari-hari suram yang tengah mereka lalui, kini terbaring lemah di dalam ruangan UGD.
"Apa yang terjadi pada Paman, Mas?" pertanyaan Syahil akhirnya meluncur.
"Mas juga tidak tau, Syahil. Paman Imam tiba-tiba pingsan begitu saja di saat kami berniat ingin pergi ke sini." jawab Aiziel.
"Apa sebelum itu ada sesuatu yang terjadi pada Paman?" tanya Syahil lagi, mewakili rentetan pertanyaan yang mungkin ada di benak saudara dan saudarinya.
"Tidak pada Paman, Syahil!" jawab Aifa'al.
"Maksud Mas Al?" tanya Syahil, heran.
Aifa'al menghela nafas berat, berusaha menenangkan hati yang berselimut kabut, mengumpulkan energi untuk menceritakan kronologi ketika sang paman jatuh pingsan.
"Sebelum kami berniat ingin ke sini, kami sebenarnya ingin pulang terlebih dahulu. Karena takut Daddy dan Mommy cemas. Namun saat kami berjalan di lobby, Bima datang menghampiri kami dan dia sudah diringkus oleh dua orang Polisi. Bima telah tertangkap dan di sana lah Mas tau, bahwa Gibran kabur dari penjara!!! Awalnya kami tidak percaya, tapi pemberitahuan Syahal yang meyakinkan kami. Maka dari itu kami bermaksud untuk menemui Uncle di rumah sakit dan memberitahu berita ini. Namun di saat Mas dan Mas Ziel berjalan lebih dulu, ternyata Paman tertinggal di belakang, dan seorang OB memberitahu kami, kalau Paman Imam pingsan di lobby Apartment."
Tercengang bercampur cemas!!! Ammar yang duduk bersama Ibel seraya melihat bagaimana sang putra menceritakan pun semakin tak kuasa menahan bulir bening. Cerita sang putra seakan membenarkan perasaan yang sejak tadi menyelimutinya, pikiran yang tiba-tiba terus tertuju pada sang adik ipar, teringat akan penyakitnya yang belum mendapat penanganan serius.
Dhana yang masih mematung pun terkejut, di satu sisi berita Gibran yang melarikan diri sukses mengusik ketenangan hati, di lain sisi berita Bima yang tertangkap pun berhasil membuatnya sedikit lega. Namun di sisi depan, kabar Imam yang tiba-tiba masuk UGD pun tak kalah memporak-porandakan ketenangan hatinya dibanding kabar Gibran.
Bagaimana tidak? Sosok sahabat yang ia kenal tak pernah sakit, justru kini terbaring lemah di atas brankar rumah sakit, sedang ditangani dokter dan kabarnya pun belum menentu, membuat air matanya pun jatuh.
"Jadi Bima sudah ditangkap Mas?" tanya Damar, memastikan pendengarannya.
"Iya, Damar. Mungkin saat ini kasusnya sedang diproses oleh Polisi." jawab Aifa'al.
__ADS_1
"Tapi tunggu!!! Bukannya kita belum ada yang melaporkan kalau Bima itu terlibat? Kenapa sudah ada Polisi yang meringkus anak itu? Aneh!!!" timpal Syahal, bingung.
"Pemikiran kita sama, Syahal! Tapi Bima sempat berseru kalau dia ternyata ditipu oleh Gibran! Sekarang Gibran lepas dan Bima yang menggantikan!!! Sangat licik!!!" jawab Aifa'al, menyeringai teringat Bima.
"Bima minta tolong pada Mas? Ck!!! Bisa juga ternyata anak itu minta pertolongan!" timpal Damar, berdecak lirih teringat Bima.
"Sudahlah!!! Masalah Bima biar menjadi urusan Polisi sekarang! Karena yang paling penting saat ini adalah Paman Imam! Kita belum tau, apa yang menyebabkan Paman Imam tiba-tiba jatuh pingsan!" timpal Aiziel, menyudahi pembicaraan keempat adiknya.
Penuturan Aiziel yang menyudahi pembicaraan adiknya justru membuat Ammar semakin terisak, mengurut dada yang terasa sesak menahan beban pikiran.
"Mas... kamu jangan seperti ini ya. Imam akan baik-baik saja di dalam sana." ujar Ibel, berusaha menenangkan sang suami.
"Iya, Daddy. Mungkin Paman terlalu lelah. Jadi kekuatan tubuhnya pun ikut menurun." timpal Aiziel, menoleh ke arah sang daddy.
"Kalian belum tau saja, apa yang terjadi sebenarnya pada paman kalian!!! Dia itu sedang sa..."
Ceklek!
"Dengan keluarga pasien Imam?"
Ucapan Ammar terpangkas seketika oleh daun pintu ruang UGD yang terbuka, lalu disusul oleh suara lembut dokter cantik yang membuat Dhana seketika mengeryitkan dahi melihatnya, tidak asing dan cukup familiar.
"Mitha..." ucap Dhana, terperangah.
"Hai Dhana... maaf baru bisa menyapamu secara langsung di saat seperti ini." jawab Mitha, mengulas senyum walau terpaksa.
"Papi kenal dokter ini?" tanya Damar.
"Dokter ini teman kuliah Papi dan Paman Imam, Damar." jawab Dhana, tanpa kikuk.
"Bagaimana kondisi paman saya, Dok?" timpal Aiziel, tidak sabar ingin mendengar kabar baik dari dokter tentang sang paman.
Mitha menunduk sejenak, terdengar betul suara helaan nafas berat yang mengiringi, membuat Ammar dan Ibel yang masih di posisi duduk hanya bisa mendongakkan kepala, membuat Dhana dan anak-anak yang tampak tidak sabar semakin cemas.
"Pasien Imam kritis!!!"
Dada yang sesak dibuat semakin sempit, menuntun Ammar yang semula terduduk kini berjalan terhuyung dipegangi Ibel ke arah Mitha, Dhana dan anak-anak yang masih dalam mode tegang tidak percaya.
"Lakukan sesuatu, Dokter Mitha!!! Tolong selamatkan Imam!!! Dia harus sadar lagi!!!" cercah Ammar, tampak mengiba karena hanya dia lah yang tau kondisi asli Imam.
"Saya sudah melakukan yang terbaik, Dokter Ammar!!! Tapi pasien sendiri yang tidak ingin melakukan proses pengobatan lebih lanjut, hingga seperti inilah akhirnya!" jawab Mitha, mengenal Ammar sebagai rekan sesama dokter spesialis kanker di rumah sakit yang berbeda namun satu visi.
"Apa tidak ada jalan lain? Setidaknya kita lakukan kemoterapi pertama untuk Imam!" ujar Ammar, bernegosiasi tanpa sadar jika semua mata sedang memperhatikannya.
"Sudah sangat terlambat, Dokter Ammar! Saat ini saya hanya mampu mengatakan, tegar lah jika sesuatu hal yang tidak kalian inginkan terjadi pada Imam dalam waktu singkat ini!!! Saya permisi..." jawab Mitha.
Mitha beranjak, menahan mata yang kini sudah mengembun, bersiap menjatuhkan bulir kristal dari matanya saat mengetahui sendiri bagaimana kondisi pria yang hingga kini masih bersemayam indah dalam hati.
"Apa yang terjadi pada Imam, Mit?"
Langkah Mitha terhenti, memaksa bulir bening itu untuk jatuh walaupun sudah disimpannya. Pertanyaan Dhana, sosok yang sebenarnya sangat ia kenal, berhasil menghujam jantung, membuatnya teringat dengan permintaan Imam untuk tidak memberitahu Dhana tentang kondisinya.
"Mitha... apa yang terjadi pada Imam? Jawab aku, Mit!!! Aku berhak tau!!! Dia adalah suami adikku!!!" tandas Dhana.
Mitha menghela nafas berat, tidak ada gunanya lagi ia menyimpan rahasia Imam yang entah akan seperti apa nasibnya. Menuntun tumit untuk berputar, melihat ke arah Ammar, Dhana, Ibel dan anak-anak yang masih berdiri terpaku menatapnya.
"Imam menderita kanker hati stadium tiga, Dhana!!!" jawab Mitha, suaranya tercekat.
Ammar yang sudah mengetahui hal ini hanya bisa terbungkam, berdiri di sisi Ibel yang mematung tanpa suara, air matanya menetes tanpa henti, mengetahui sesuatu yang sangat menyayat hati seperti dulu. Sementara Dhana bungkam seribu kata, namun air mata yang menggambarkan segalanya, bahwa saat ini ia tidak percaya jika sang sahabat dinyatakan sakit parah.
"Aaaaa... aaaa..." ucap Wulan, lirih.
Damar mendekap Wulan yang tergugu, sama halnya dengan sang papi yang tidak percaya, seakan tengah bermimpi dalam tidur panjangnya yang tak berkesudahan. Baru beberapa hari sang paman sampai di ibu kota, namun takdir mempermainkan.
Sementara Aiziel, Aifa'al, dan si kembar Syahal-Syahil masih dalam mode kosong, mata keempat pria tampan itu pun turut dihadiri bulir-bulir kesedihan, mengingat sang paman yang sebelumnya baik-baik saja, dan kini terbaring lemah tak berdaya.
"Tidak! Tidak mungkin! Imam tidak pernah sakit! Tidak mungkin dia sakit kanker hati!!! Kamu pasti salah, Mitha! Kamu pasti salah!" cercah Dhana, berusaha menahan namun ketakutan membuatnya hilang kendali.
__ADS_1
"Aku berharap juga seperti itu, Dhana!!!" jawab Mitha singkat, namun penuh arti.
Dhana meracau, mengusap kasar wajah hingga kepala yang terlihat semakin kacau. Lalu menoleh cepat ke arah Ammar, saat rangkaian kalimat sang mas sulungnya itu berputar kembali di otaknya tentang Imam.
"Mas sudah tau? Tapi kenapa Mas tidak memberitahu Dhana, hah?" tukas Dhana, menatap tajam Ammar yang terbungkam.
"Mas juga baru tau semuanya kemarin, Dhana. Dan itu pun tidak sengaja. Imam datang bersama anak-anak, lalu di lobby dia berpapasan dengan Mitha. Di saat itu Mas mendengar pembicaraan mereka!!!" jawab Ammar, menjelaskan pada Dhana.
"Seharusnya Mas memberitahu Dhana!!!" tandas Dhana, namun terdengar bergetar.
"Imam melarang Mas. Dia tidak ingin membuat kamu dan keluarga kita susah!!! Bahkan Mas Ronald yang ada saat itu pun ikut membujuk Imam agar kemoterapi, tapi dia tetap bersikeras menolak semuanya!!!" jawab Ammar, meyakinkan sang adik.
"Apakah itu artinya... Imam akan pergi menyusul Adek, Mas?" tanya Dhana, parau.
Ammar bergeming, lebih memilih untuk menundukkan kepala, memeluk Ibel yang menangis sesegukan di dadanya. Membuat Dhana menghela pasrah, berusaha untuk kuat menerima segala ujian yang datang.
"Dokter Mitha!!!"
Suara sosok suster yang menghambur keluar dari kamar UGD pun membuyarkan lamunan semuanya, menoleh ke arah asal suara yang terdengar sangat panik, seraya memanggil Mitha yang belum beranjak.
"Ada apa Sus?"
"Kondisi pasien bernama Imam semakin menurun, Dokter!!!"
"Saya akan memeriksanya!!!"
Mitha dan sang suster bergegas masuk kembali, meninggalkan Dhana yang tak berekspresi saat mendengar perkataan suster itu, membuatnya hampir terduduk, namun disambut cepat oleh Syahal-Syahil yang berdiri tidak jauh dari sang uncle.
"Kamu harus menolong Imam, Mas!" ujar Ibel, mengangkat wajahnya yang basah.
"Rumah sakit ini bukan wilayah dinasku, Sayang!!! Kita hanya bisa berdo'a agar Imam kuat dan dia kembali lagi pada kita." jawab Ammar, menenangkan sang istri yang ingin bertemu dengan Imam, namun takdir berkata lain, membuat Ibel bertemu Imam dalam situasi yang tidak diinginkan seperti ini.
Isak tangis yang menggugu perlahan reda, membawa diri mendekati Dhana yang kini tengah termenung di antara anak-anaknya. Wajah Aiziel, Aifa'al, Syahal, Syahil, Damar dan Wulan pun tak kalah basah, bulir mata yang terus mengalir tanpa jeda, menemani sang paman yang tengah berjuang di sana.
"Firasat Dhana mengatakan, kalau Imam akan pergi meninggalkan kita di sini, Mas." ujar Dhana, menatap kosong ke depan.
"Mas juga sama seperti kamu, terpukul!!! Rasanya, bayangan di masa Adek ketika sedang sakit keras kembali terulang pada Imam. Kamu harus kuat! Kita semua juga harus kuat! Apapun itu kemungkinan nya, mungkin itulah yang terbaik untuk Imam!" tutur Ammar, berusaha menenangkan.
"Tapi berita ini sangat mendadak, Mas! Bahkan kita semua tidak ada yang tau, kalau Imam sedang sakit." jawab Dhana, menahan tangis yang ingin pecah saat ini.
"Bukan hanya kita, Dhana. Imam pun juga menyembunyikan penyakitnya dari abi dan uminya di Cairo." timpal Ammar, membuat Dhana menoleh ke arahnya.
"Jadi orang tua Paman Imam juga tidak tau dengan masalah ini Daddy?" timpal Aifa'al.
Ammar menggeleng, hingga menciptakan suasana hening seketika. Semuanya larut dalam pikiran masing-masing, duduk termangu berpangku tangan di kursi tunggu, menunggu kabar yang diharapkan akan ada keajaiban untuk seseorang yang berharga.
Ceklek!
Pintu kamar UGD kembali terbuka, buyar sudah lamunan yang tercipta, menuntun semuanya beranjak mendekati Mitha yang berdiri di ambang pintu dengan air mata di wajah. Tidak dapat dipungkiri, bahwa rasa yang masih bertahta dalam hati semakin kuat mengikat diri, membuatnya tidak kuat menahan lagi, bahwa sang pujaan hati kini telah....
"Imam... Imam sudah pergi menghadap sang Illahi!!!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
Walaupun ngak happy baca episode ini, please jangan timpuk dina ya, karena ini permintaan Imam 😌 penjelasannya akan ada di episode selanjutnya, piss... ✌️🤧
Sedikit warning : untuk visual si tamvan Aiziel, sengaja dina ganti ya 😚 karena menurut dina, babang billar kurang cucok jadi Aiziel yang sebenarnya arogan 😁✌️ kalau menurut kalian visual yang baru ini kurang srek juga, oke sip ✌️ jadi silakan berimajinasi dengan visual sendiri-sendiri aja ya bebs 😘 Terima kasih 🖤🖤🖤
__ADS_1