
...☘️☘️☘️...
Prang!
Peralatan make up yang semula tertata rapih pada tempatnya, kini berserakan memenuhi lantai kamar apartment milik sang suami. Emosi yang kian membuncah, membuatnya hilang kendali untuk bisa tetap diam di sana.
"Kalau saja anak itu tidak ada, mungkin aku masih tinggal di rumah itu! Karena dia, aku diusir oleh ayah mertuaku! Karena dia juga, sampai detik ini Mas Dhana tidak mau bicara denganku! Aku benci anak itu!!! Aku benci!!!"
Mala mengusap kasar wajahnya yang basah, bulir bening kekesalan ditambah dengan rasa benci yang semakin dalam pada putrinya.
Ting Nong...
Suara bel kamar apartment yang kini menjadi tempatnya berteduh seketika berbunyi. Mala terkesiap, mengatur nafas yang tidak teratur karena emosi, mengusap bulir bening seraya memperbaiki wajah dan rambut yang kacau. Mala beranjak, mendekati pintu utama untuk melihat siapa gerangan yang menghampirinya.
Ceklek!
Seutas senyum ramah khas seorang waitress apartment, menyambut kedatangan salah satu penghuni kamar apartment yang sudah lama tidak berkunjung. Mala pun mengulas senyum, menepis rasa kesal dan amarah di dalam dada.
"Permisi Nyonya Dhana... ada yang bisa saya bantu? Mengingat anda baru menempati lagi kamar apartment ini, saya mengira kalau anda membutuhkan sesuatu, Nyonya." ujar waitress dengan senyum ramah kepada nyonya kamar.
"Sepertinya saya memang membutuhkan sesuatu. Tolong bawakan saya makanan dan minuman untuk makan siang ya, Mbak." ujar Mala yang tak kalah ramah pada waitress itu.
"Baiklah kalau begitu, Nyonya. Saya akan kembali lagi dan membawakan pesanan anda." ujar waitress seraya menundukan kepalanya.
Mala mengangguk, tersenyum ramah seperti biasanya dahulu hingga kini masih tetap sama. Sikap ramah di dalam diri seakan tertutup oleh kebencian tidak beralasan kuat pada putrinya, membuat Mala dipandang buruk sebagai ibu.
Mala beranjak, menutup pintu kamar dengan rapat kembali dari dalam. Tanpa menyadari keberadaan seseorang yang tidak jauh dari kamarnya, menarik kedua sudut bibir untuk melukis seringai tipis, membawa tubuh keluar dari tempat persembunyian sejak tadi.
"Ternyata kamu di sini! Baiklah, Mala! Akan kuberikan waktu untuk beristirahat sejenak! Kulihat penampilanmu sangat kacau hari ini! Sepertinya dia bertengkar dengan suaminya! Semakin jauh wanita itu dari keluarganya itu, maka akan semakin mudah bagiku untuk..... ups! Hahaha... nantikan kejutan dariku, Mala!"
Sosok itu kemudian beranjak, berjalan melewati kamar Mala yang sudah tertutup rapat.
***
"Bagaimana kondisi Wulan, Dhana?"
Dhana duduk termangu, tatapannya kosong ke arah depan, membuat Ammar dan Sadha yang melihat pun bingung. Setengah jam yang lalu arwah sang adik pergi setelah mengatakan hal penting pada ketiganya, membuat Dhana tetap diam, bungkam seribu bahasa.
"Dhana... Mas dan Sadha sudah tau semuanya dari anak-anak. Karena itulah kami datang, dan ingin mendengarkan langsung cerita dari kamu. Mas juga tidak menyangka, kalau Adek datang mengunjungi kamu. Kita juga syok, Dhana! Mas mohon bicaralah!" ujar Ammar yang mengelus lembut bahu sang adik kembar.
"Maaf, Mas. Dhana masih tidak percaya saja kalau Adek datang menemui kita seperti tadi secara bersamaan. Wulan baik-baik saja dan saat ini Wulan sedang bersama dengan Ibu di kamarnya. Dhana diam bukan karena hal itu, Mas. Tapi karena memikirkan perkataan Adek yang belum bisa Dhana pahami tentang Mala." jawab Dhana yang melihat keduanya.
"Sebenarnya Mas juga berpikiran yang sama seperti kamu, Dhana. Mas masih tidak paham apa maksud Adek. Kenapa Adek mengatakan hal itu pada kamu?" ujar Ammar yang melirik Sadha.
"Tapi menurut Sadha nih ya, Mas. Lebih baik Dhana fokus sama Wulan saja dulu dari pada mengurus wanita itu! Sadha benar-benar tidak menyangka kalau Mala sanggup mencambuk putrinya sendiri! Kamu harus bersikap tegas pada istrimu, Dhana! Jangan sampai kejadian seperti ini terjadi lagi! Kasihan Wulan!" timpal Sadha yang melihat ke Ammar dan Dhana.
Dhana menghela nafas kasar, sangat mengerti dengan maksud sang mas tengah yang saat ini tengah mengkhawatirkan kondisi putrinya.
"Kalau Mala seperti ini terus, lebih baik kamu berpisah saja dengan wanita itu, Dhana!" seru Sadha yang terlihat kesal, duduk bersandar.
Ammar dan Dhana terperangah, tidak percaya dengan perkataan Sadha yang terlontar begitu saja karena efek rasa kesal, membuatnya jadi berpikir pendek. Jika saja Sadha yang menjadi Dhana, mungkin saat ini Mala sudah jadi janda.
"Astagfirullahalazim Mas, jangan bicara seperti itu! Tidak baik, Mas! Dhana memang kecewa dengan sikap Mala saat ini, tapi bukan berarti perceraian adalah jalan keluar dari semua masalah yang terjadi, Mas. Dhana yakin, kalau Mala hanya butuh waktu. Selama ini, Dhana juga salah karena terlalu keras pada Mala dan terus menuntutnya agar bisa menerima Wulan." jawab Dhana yang terkesiap mendengar saran Sadha.
Pletak!
"Ck!!! Kamu ini mas macam apa sih, Sadha? Adikmu sedang dalam masalah besar malah disuruh cerai! Seharusnya kamu lebih dewasa dan memberi saran yang baik, bukan seperti orang yang tidak punya jalan keluar lain!!!" sungut Ammar seraya menjitak kepala Sadha.
"Sadha kesal, Mas! Sadha tidak terima melihat Wulan menderita karena kebencian ibunya! Ibu macam apa sih dia? Sanggup mencambuk dan menyiksa anaknya sendiri!" ujar Sadha, marah.
"Tapi bukan seperti itu juga cara baiknya!!! Dhana pasti punya cara lain untuk masalah ini. Tugas kita hanya mendukung dan memberikan saran yang baik, bukan malah menjerumuskan." jawab Ammar yang menatap jengah sang adik.
__ADS_1
Sadha mendengus kesal, mengusap kasar wajahnya yang berpaling ke lain arah sesaat. Sementara Ammar yang melihat sikap adik tengahnya itu hanya bisa menggeleng kepala.
"Dhana tau Mas Sadha kesal, Dhana juga sama kesalnya seperti Mas Sadha bahkan lebih! Tapi walaupun begitu, Mala masih istri Dhana, Mas! Dia juga ibu dari Damar dan Wulan! Mungkin yang dikatakan Adek sebelum pergi memang benar, kalau Dhana harus lebih sabar dan tidak memaksakan kehendak agar Mala berubah." ujar Dhana yang berusaha meyakinkan Sadha.
"Oke kalau itu keputusan kamu, Dhana!!! Mas hanya bisa memberi saran dan dukungan agar kamu tidak merasa stress dalam menghadapi masalah ini sendirian. Lalu bagaimana dengan anak yang bernama Bima dan Zivana itu? Apa kamu tidak melaporkan hal ini pada Polisi? Ini sudah kriminal dan Damar sampai celaka loh!" jawab Sadha yang mengalah dengan adiknya.
Dhana menghela nafas kasar lagi, mengingat siapa Zivana sebenarnya, membuatnya tidak tega untuk memberitahu masalah pembulian sang putri pada Kinan yang berstatus sebagai ibunda Zivana, walaupun statusnya hanya ibu sambung, tapi sebagai sosok ibu Kinan pasti akan sangat sedih dan kecewa pada putrinya.
"Tidak ada bukti, Mas. Lagi pula Damar sudah baik-baik saja, dan tidak ada luka yang serius. Tapi masalah pembulian dan kecelakaan yang sudah terjadi, Dhana akan tetap bicara dengan pihak sekolah. Mereka lebih pantas bertindak karena kejadian ini terjadi di dalam sekolah." jawab Dhana yang tidak ingin berurusan lebih jauh, jika masalah ini dibawa ke pihak Polisi.
"Sebagai kepala sekolah dan pemilik sekolah, mereka tidak tegas, Dhana!!! Anak sendiri saja tidak terdidik dan suka sekali membuli orang lain!!! Dan bagaimana mungkin seorang siswa yang sudah berkali-kali tidak naik kelas masih saja dipelihara! Yang lebih parahnya, ternyata dia adalah ketua geng motor itu!!! Seharusnya pemilik sekolah bertindak tegas!" tukas Sadha yang masih emosi.
Lagi-lagi Sadha yang terbawa emosi, teringat dengan cerita sang putra kembar, membuatnya tidak habis pikir kalau sang putra juga pernah terlibat dengan geng motor itu, walaupun kini sang putra sudah sadar, namun kekhawatiran Sadha masih ada karena keponakannya masih ikut bergabung dengan geng motor nakal itu.
Tidak jauh berbeda dengan Ammar, mengingat bahwa sang putra bungsu masih ikut terlibat di dalam geng motor berandalan itu, membuat rasa sesak di dada semakin menyeruak penuh. Cerita sang putra sulung sungguh membuatnya frustasi dan tidak tenang.
"Jangan terlalu dipikirkan, Mas. Dhana yakin kalau Al pasti bisa menjaga dirinya. Al bukan anak yang nakal, dia hanya kesal dan kecewa dengan keadaan. Al pasti akan berubah, sama seperti Syahil yang berubah tanpa kita duga." ujar Dhana seraya meraih tangan Ammar dan menenangkannya.
Ammar hanya mengangguk, walaupun terasa berat ia juga tidak ingin membebani sang adik dengan masalah putranya itu. Dengan sekuat hati dan tenaga, Ammar meyakinkan sang adik agar fokus pada masalah keluarganya saat ini.
"Lalu apa rencana kamu sekarang Dhana?" tanya Ammar yang mengalih pembicaraan.
"Dhana akan menggunakan cara sendiri, Mas. Semoga saja dengan cara ini, Mala bisa luluh." jawab Dhana yang melihat keduanya.
Ammar dan Sadha mengangguk, percaya dengan apapun itu cara yang akan dilakukan sang adik terhadap istrinya karena bagaimana pun juga hanya Dhana yang berhak atas Mala.
***
"Oma... Adek bagaimana?"
Damar keluar dari kamar, menghampiri sang oma yang baru keluar juga dari kamar Wulan. Bu Aini menoleh, mengulas senyum simpul yang menenangkan hati siapa saja yang kini melihatnya.
"Adikmu sedang tidur, Sayang. Oma baru saja selesai mengobati luka di punggung adikmu." jawab Bu Aini seraya meraih bahu sang cucu.
Bu Aini menghela nafas sedikit kasar, tidak tega melihat sang cucu yang masih diselimuti rasa sesal karena kepergian sang mami.
"Besok kamu akan ujian, bukan? Jadi jangan main-main keluar dulu, Sayang. Lebih baik kamu mandi dan istirahat biar pikiran kamu tenang untuk menghadapi ujian besok pagi. Pergi mencari angin segarnya besok saja ya, Sayang." ujar Bu Aini yang meyakinkan Damar.
"Baik, Oma. Kalau Adek sedang tidur, Damar pun tidak bisa melakukan apa-apa sepertinya." jawab Damar yang lesu bin lemas lunglai.
Damar beranjak, mengambil langkah lemas menuju kamar, membuat Bu Aini tersenyum getir, tidak tega melihat keadaan sang cucu. Setelah Damar masuk, Bu Aini beranjak, turun ke lantai dasar untuk menemui sang suami.
"Ibu..."
Bu Aini menoleh, melihat sumber suara yang memanggilnya dari arah kamar Dhana. Seutas senyum terbit, melihat kedua putranya datang.
"Sejak kapan kalian di sini? tanya Bu Aini.
"Sejak tadi, Bu. Ammar dan Sadha datang setelah mendengar semua cerita anak-anak yang terjadi. Kami datang untuk menguatkan Dhana, Bu." jawab Ammar yang tersenyum.
"Adikmu ini memang sedang membutuhkan penyemangat, Nak." ujar Bu Aini yang melihat ke arah Dhana.
Dhana tersenyum simpul, menunduk segan karena semua orang menjadi susah dengan masalah keluarga kecilnya yang makin rumit.
"Ibu... Dhana titip Damar dan Wulan sebentar ya. Dhana ingin menyusul Mala ke apartment." ujar Dhana yang terlihat sudah rapih.
"Bawa kembali istrimu ya, Sayang." jawab Bu Aini yang berbinar, senang karena sang putra bisa bersikap dewasa dan tenang seperti ini.
"Bukan itu tujuan Dhana, Bu. Akan lebih baik jika Mala berada di sana selama satu minggu ke depan agar anak-anak bisa fokus ujiannya. Setelah ujian mereka selesai, Dhana janji akan membawa Mala pulang ke rumah ini." jawab Dhana yang berusaha meyakinkan sang ibu.
Bu Aini menghela nafas, berusaha mengerti dengan kondisi hati sang putra yang belum pulih dari kekecewaan terhadap sikap istrinya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi kamu hati-hati ya." ujar Bu Aini, pasrah dengan keputusan sang putra bungsu.
Dhana tersenyum, meraih tangan sang ibu untuk diciumnya sebelum pergi, menyalami tangan kedua masnya yang masih ada di sana. Setelah itu Dhana pergi, bergerak cepat untuk menyusul sang istri ke apartment.
"Kalau begitu Ammar dan Sadha pamit pulang juga ya, Bu. Ibu jangan terlalu stress!!! Ammar tidak mau Ibu sampai sakit karena masalah ini." ujar Ammar yang menyalami tangan sang ibu.
"Iya, Sayang. Kalian hati-hati ya." jawab Bu Aini.
"Titip salam untuk Ayah ya, Bu." timpal Sadha.
Bu Aini mengangguk, mengelus kepala sang putra yang secara bergantian menyalaminya. Setelah pamit, keduanya pun pergi, pulang ke rumah masing-masing.
***
Ting Nong...
Suara bel pintu apartment kembali berbunyi, membuat Mala yang mengeryit heran setelah keluar dari kamar mandi.
"Siapa lagi itu? Menggangguku saja!"
Mala berdecak kesal, menyibak handuk yang bergulung di kepalanya, menutupi rambutnya yang basah setelah berkeramas. Membawa kaki berjalan menuju pintu, masih memakai bathrobe putih yang membalut tubuhnya nan ramping, membuatnya terlihat cantik dan sexy.
Ceklek!
Pintu apartment terbuka, membuat Mala terkesiap tatkala mendapati sang suami berdiri di depan pintu dengan mengulas senyum.
"Mau apa kamu datang ke sini Mas?" tanya Mala dingin, masih kesal dengan sang suami yang beberapa hari ini mendiamkan dirinya.
Dhana bergeming, menatap penampilan sang istri yang terlihat berbeda dengan bathrobe di tubuhnya. Penampilan yang sudah lama tidak bisa ia nikmati sejak sikap sang istri berubah. Rindu, Dhana sangat merindukan istrinya itu.
Mala berdecak sebal, melihat sang suami yang diam menatapnya seperti itu. Mala jengah lalu memilih masuk tanpa menghiraukan suaminya.
Grep!
Mala terkesiap, mendapati Dhana memeluknya dari belakang, membenamkan wajahnya dalam ceruk leher sang istri yang sangat wangi. Mala meremang, bulu kuduk yang semula tidur kini berdiri, membuat jantungnya berdetak kencang.
"Aku minta maaf, Sayang. Aku terlalu keras sama kamu. Aku minta maaf!" tutur Dhana, suaranya parau, memeluk sang istri dengan erat seperti ini membuat hasratnya muncul.
Mala semakin meremang, rasa kesal di dalam hatinya seakan melayang terbang, otak masih berpikir jernih namun tidak dengan tubuh yang menerima setiap perlakuan intim sang suami. Mala tidak bisa menyangkal, tubuhnya sangat membutuhkan belaian hangat sang suami.
Emosi yang menyeruak seakan bertukar posisi dengan kabut gairah yang memuncak. Dhana meraih bahu sang istri, memutarnya hingga kini mereka saling berhadapan, menendang pintu yang masih terbuka hingga kini tertutup rapat. Tatapan keduanya terkunci, berusaha menepis bayang-bayang masalah yang datang silih berganti.
Cup!
Kecupan singkat mendarat di bibir tipis sang istri, membuat bulir kristal itu mengalir tanpa permisi di wajah cantiknya. Dhana mengusap air mata itu, mengerti dengan situasi saat ini yang sangat tidak tepat untuk mereka. Namun deru nafas Dhana menggambarkan segalanya, tidak sanggup menahan sesuatu yang sudah sejak lama tidak tersalurkan.
"Aku sangat merindukanmu, istriku!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
Apa yang terjadi pada Dhana dan Mala selanjutnya? Pasti kalian semua sudah tau, bukan? Ya namanya suami istri, tapi ampun karena author ngak terlalu pandai buat part gituan 🤣 jadi author skip dan silakan berhalu ria di dalam pikiran masing-masing wkwk 😂
__ADS_1
Terima kasih banyak ya untuk semuanya yang masih setia bersama author dalam menjalani kisah hidup Wulan 🖤🖤🖤 Love you 300.000 untuk kalian 😘😚😘😚😘😚🥰