
...☘️☘️☘️...
"Syahal sama Syahil di mana?"
Damar dan Wulan terperanjat, mendengar suara Aifa'al yang tiba-tiba bergema, menyisir langit-langit kamar Wulan. Setelah mandi dan salat maghrib, pemuda itu bergerak cepat, menuju kamar sang adik sesuai dengan kesepakatan awal, ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan keempat adiknya. Namun langkahnya terhenti, saat mata melihat sang adik yang telah sadar dari pingsannya.
"Masih mandi mungkin, Mas." jawab Damar, bergidik bahu karena tidak tau.
"Adek sudah bangun? Ada yang sakit?" ujar Aifa'al, duduk di tepi tempat tidur sang adik.
Wulan hanya menggeleng dengan seutas senyum yang membingkai wajah berserinya, membuat Aifa'al lega dan bersyukur.
"Memang Mas Al ingin bicara apa sih? Damar jadi penasaran." ujar Damar.
"Lebih baik kamu panggil Syahal dan Syahil! Kenapa lama sekali sih!" seru Aifa'al.
"Ya sudah, Damar panggil dulu." jawab Damar melas.
Damar pun beranjak lemas, mengerti sekali dengan titah sang mas tengah yang sukar untuk dibantah apalagi diabaikan, membuatnya harus beranjak dari duduk padahal ia sangat malas. Sementara Wulan yang melihat kedua masnya itu hanya terkikik samar, melihat betapa seramnya raut wajah Aifa'al, dan betapa melasnya raut wajah Damar.
"Cepat ya! Tidak pakai lama!" seru Aifa'al.
"Ya Mas..." jawab Damar, hampir tak terdengar.
Damar melangkah pelan sangking malasnya, namun langkahnya yang baru sampai di ambang pintu terhenti saat tubuh tegap Aiziel datang tiba-tiba dan bergegas memasuki kamar Wulan, bersama si kembar Syahal-Syahil juga di belakangnya yang mengekori.
"Adek di mana?" tanya Aiziel, menatap panik Damar.
"Di dalam kamar, Mas." jawab Damar, menunjuk ke dalam kamar sang adik.
Aiziel bergerak cepat seperti baru saja mendapat kabar buruk yang membuatnya terburu-buru mendatangi kamar sang adik. Sementara Syahal-Syahil dan Damar dibuat heran olehnya.
"Mas kembar dipanggil Mas Al!!!" seru Damar, menatap kedua masnya melas.
"Ya sudah, ayo masuk lagi! Kamu mau ke mana memang?" ujar Syahal.
"Damar disuruh Mas ketua untuk memanggil Mas kembar!" umpat Damar, melas.
"Karena Mas Syahal mandinya lama makanya kami telat. Biasa, mandi Mas Syahal mandi kembang tujuh rupa, Dik." umpat Syahil, melirik sang mas kembar seraya merangkul bahu Damar.
"Ck! Banyak omong kamu! Ayo masuk, sebelum Mas ketua bertitah lagi baru tau rasa kalian berdua!" seru Syahal, melirik jengah ke arah kedua adiknya.
Syahal berdecak, memilih masuk lebih dulu ke dalam kamar sang adik, menyusul Aiziel yang sudah duduk di tepi tempat tidur sang adik. Sementara Syahil dan Damar dibuat terkikik gemas melihat tingkah Syahal yang selalu saja menggelitik perut.
"Adek baik-baik saja 'kan?" tanya Aiziel, panik seraya mengelus wajah sang adik.
"Adek baik-baik saja, Mas." timpal Aifa'al yang duduk di sisi lain tempat tidur sang adik.
"Mas Ziel kapan datang?" timpal Syahal, mendaratkan tubuh di tempat tidur Wulan.
"Opa menghubungi Mas, saat Mas dalam perjalanan pulang. Opa menyuruh Mas, papa dan juga mama kamu datang ke sini untuk makan malam. Kata Opa, makan malam spesial. Memang ada acara apa?" terang Aiziel, melihat kelima adiknya satu per satu bergantian.
"Tapi kenapa tampang Mas panik seperti ini?" timpal Damar, menelisik wajah Aiziel.
"Kata Oma, Adek pingsan karena tidak makan siang. Karena itu Mas langsung meluncur ke sini." jawab Aiziel, menoleh ke arah sang adik kecil.
"Lalu Mas datang ke sini hanya bersama Papa dan Mama? Bude bagaimana?" tanya Syahal, teringat dengan sang bude yang masih ada di rumah.
"Mommy datang bersama Mas. Bulik yang menyuruh Paklik banting stir ke rumah dulu, menjemput Mommy atas perintah pakde kamu." terang Aiziel lagi.
"Syahal kira Mas lupa sama Bude." seloroh Syahal, menggoda sang mas.
Aiziel berdecak geli, melirik jengah sang adik kembar yang sukses membuat mood nya yang berantakan semakin hancur berkeping-keping, hingga memancing gelak tawa Syahil, Damar dan Wulan. Namun tidak dengan Aifa'al yang hanya menggeleng kepala.
"Kalian belum menjawab pertanyaan Mas! Memang ada acara apa malam ini? Tadi Mas juga melihat Anty Mala bersama Oma di dapur. Mereka tengah asyik menyiapkan makan malam dan Mas melihat sikap yang berbeda dari Anty Mala." ujar Aiziel, mendesak kelima adiknya itu untuk segera angkat bicara, menceritakan semua padanya.
"Nanti Mas juga akan tau sendiri! Sekarang kasih Al waktu sebentar untuk bicara masalah penting!" ujar Aifa'al, menggeser tubuhnya naik ke atas tempat tidur sang adik.
"Kamu ingin bicara apa Al?" tanya Aiziel, heran.
"Sesuatu tentang..."
"Anak-anak...! Ayo turun...! Kita makan malam bersama dulu! Bawa Wulan juga ya!"
Aifa'al memicing seketika, gemas dengan suara cempreng yang tiba-tiba bergema, memangkas pembicaraannya yang baru saja akan dimulai. Sementara Aiziel, Syahal, Syahil, Damar, dan Wulan yang melihat perubahan wajah Aifa'al hanya mengulum senyum, menahan betapa gelinya perut mereka saat ini.
"Jangan tertawa! Bulik selalu saja mengganggu kesenangan anaknya!" sungut Aifa'al, jengah lalu beranjak lebih dulu tanpa melihat mas dan adik-adiknya yang menahan geli.
"Maafkan Mama Syahal ya, Mas. Mama memang seperti itu kepribadiannya. Tidak senang kalau belum mengganggu kesenangan anak-anaknya." ujar Syahal, menggoda sang mas tengah yang berlalu pergi lebih dulu seraya menahan gelitik di perutnya.
Gelak tawa Wulan semakin dibuat pecah oleh penuturan Syahal, membuat gadis kecil itu melupakan mimpi buruknya tadi saat dirinya pingsan. Lalu mereka semua pun beranjak, tak lupa membawa Wulan sesuai titah Vanny yang menyeru dengan suara cemprengnya.
"Mas dan adik-adik kamu di mana Sayang?" tanya Bu Aini, mendapati Aifa'al yang berjalan menuju meja makan sendirian.
"Mereka di belakang, Oma." jawab Aifa'al, mendaratkan tubuhnya di atas kursi.
Tidak lama kemudian Aiziel, Syahal, Syahil, Damar dan Wulan pun datang, berjalan bersama menuju meja makan yang sudah dikelilingi oleh semua keluarga besarnya. Melihat Wulan yang diapit oleh keempat masnya, Mala pun beranjak. Menghampiri sang putri tercinta lalu mengambil alih tangannya, memapanya dengan penuh cinta dan sayang, membawanya ke meja makan. Membuat mata Aiziel, Ibel, Sadha dan Vanny yang belum tau peristiwa spesial ini membulat sempurna saat melihat tindakan Mala.
"Ayo duduk Sayang." ujar Mala, menarik kursi meja makan untuk sang putri.
__ADS_1
Wulan mengangguk patuh, mendaratkan kecupan singkat di pipi sang mami yang membuat semua orang tersenyum bahagia termasuk Mala sendiri, melihat kedekatan ibu dan anak yang selama ini terpisah lahir kendati raga masih tinggal di satu atap yang sama. Sementara Ibel, Sadha, Vanny dan Aiziel yang belum tau masih dalam mode terperangah tak percaya dengan adegan yang disuguhkan di depan mata mereka malam ini.
"Ayah... kenapa Mala jadi...”
"Inilah makan malam spesial yang Ayah maksud, Sadha." potong Pak Aidi, sangat mengerti dengan maksud ekspresi sang putra tengah.
"Jadi Mala..."
"Iya Sayang. Adik iparmu kini sudah pulih dari trauma yang membuatnya terbelenggu dan benci pada Wulan." potong Bu Aini, menoleh ke arah Vanny yang masih terperangah.
"Benarkah seperti itu Mala?" tanya Ibel, menatap lekat sang adik ipar.
Mala mengulas senyum, menggiring matanya ke arah sang putri dan suaminya yang melempar senyum juga padanya.
"Iya, Kak. Apa yang Ibu katakan benar. Mala minta maaf ya, Kak. Kalau selama ini, Mala banyak salah pada Kak Ibel, Mas Sadha, dan juga Kak Vanny. Maaf, jika perbuatan Mala pada Wulan selama ini sudah sangat keterlaluan, membuat kalian marah dan kecewa pada Mala." jawab Mala, melihat Ibel, Sadha dan Vanny secara bergantian.
"Alhamdulillah... Mas lega sekali mendengar kabar ini, Mala. Akhirnya do'a kami semua dikabulkan oleh Allah dan kamu sudah mau menerima Wulan." ujar Sadha, mengulas senyum lega mendengar berita bahagia ini.
"Kakak juga bersyukur sekali, Dek. Kamu sudah kembali seperti Mala yang kami kenal dulu. Pesan Kakak, jangan pernah kamu mengingat masa lalu lagi. Karena yang lalu biarlah berlalu, biarkan waktu yang akan menghapus semua lukamu itu. Ya?" tutur Ibel.
"Kak Ibel benar sekali, Mala. Cukup jadikan masa lalu sebagai pelajaran agar kamu bisa menjadi lebih baik lagi di masa depan nanti, khususnya untuk masa depan keluargamu." timpal Vanny, tak kalah berbinar mendengar berita bahagia terkait adik iparnya itu.
"Terima kasih Kak. Terima kasih Mas. Mala janji akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak Mala." ujar Mala, melihat Damar dan Wulan yang tersenyum juga ke arahnya.
"Mas pegang janji kamu, Dek." sahut Sadha yang menunjuk adik iparnya.
Mala mengangguk patuh, menebar senyum ke semua keluarganya yang menatapnya penuh rasa syukur yang tak dapat dibandingkan dengan apapun.
"Ziel senang mendengar kabar bahagia ini, Anty." ujar Aiziel, masih berdiri di posisinya bersama dengan Syahal, Syahil dan juga Damar.
"Maafkan Anty ya, Sayang. Kalau selama ini Anty sering berbuat salah sama kamu." ujar Mala, menatap lekat sang keponakan.
"Tidak apa-apa, Anty. Ziel tidak terlalu memikirkan hal itu kok. Yang penting saat ini, Anty sudah sehat lagi." jawab Aiziel.
"Terima kasih Sayang." ucap Mala, tersenyum lega.
Aiziel hanya mengangguk, mengukir senyum yang membuat pesona ketampanan di wajahnya semakin bertebaran ke mana-mana. Membuat Aifa'al mendengus samar, sudah tak tahan lagi jika harus menahan rasa lapar lebih lama lagi karena pembicaraan ini.
"Mas... ayo duduk! Mas lihat tuh, Mas Al sudah seperti cacing kepanasan karena menahan lapar sejak tadi." seloroh Syahal, berbisik di telinga sang mas sulung.
"Sepertinya kamu senang sekali ya menggoda masmu ini, Syahal!" sungut Aifa'al, menggiring matanya jengah ke arah sang adik kembar yang selalu usil padanya.
"Selagi masih bisa, kenapa tidak Mas!" seloroh Syahal yang tergelak lalu berjalan menuju kursi meja makannya lalu duduk.
Aifa'al mendengus gemas, melirik Syahal yang selalu saja mencibirnya dengan godaan receh, membuat semua orang yang ada di sana tertawa, melepaskan kebahagiaan yang menyeruak di dalam hati mereka malam ini.
Makan malam spesial keluarga besar Pak Aidi pun berjalan hikmat dan tenang, tidak ada satu pun di antara mereka yang bersuara, hanya dentingan suara sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring, mengiringi perjalanan makan malam spesial malam ini ke dalam suasana yang sudah lama sekali tidak mereka semua rasakan seperti malam ini.
Namun sejurus kemudian, mata yang tadinya tertuju pada sang mami kini teralih. Mendapati seberkas cahaya terang yang ada di sisi anak tangga rumah sang oma, membuat Wulan terperangah, melihat cahaya terang itu dengan kabut samar yang mengitari hingga menampakan wujud bayangan dua sosok yang sangat disayangi keluarga. Kedua sosok itu mengukir senyum pada Wulan, saling bergandengan mesra seakan tak ingin berpisah lagi, membuat Wulan tak percaya melihatnya, bahwa kebahagiaan makan malam spesial malam ini juga dihadiri oleh dua sosok tersayang keluarga besarnya.
Paman Imam... Onty Dhina.... Gumam Wulan dalam hati.
***
"Rumi... ayo kita makan malam dulu, Dek."
Sepersekian jam Bram mengurung diri di dalam kamarnya, entah apa yang dilakukan lelaki dewasa itu di sana, semoga saja lelaki itu merenungi perkataan adiknya tadi sore yang berhasil mengusik ketenangan hati dan pikirannya hingga sekarang. Kini lelaki itu mendatangi kamar sang adik, mengajaknya makan malam sebelum larut kian berjalan.
"Tapi Rumi belum lapar, Kak." jawab Rumi, membawa tubuhnya untuk bangkit dari nyamannya tempat tidur.
Dengan telaten Bram membantu sang adik duduk, bersandar di headboard tempat tidur dan membuatnya se nyaman mungkin. Lalu ia duduk di tepi, mengelus sayang wajah sang adik yang tampak pucat, masih sama seperti tadi di saat mereka memilih pergi dari rumah sakit.
"Kamu harus makan dan minum obat ini dengan rutin, Dek."
"Rumi tidak mau minum obat!"
"Kenapa bicara seperti itu? Kakak sedang tidak mau berdebat lagi ya, Dek!"
"Kalau Kakak tidak mau berdebat, Kakak tinggal menuruti permintaan Rumi!"
"Permintaan apa? Permintaan yang mana?"
"Jangan pura-pura lupa, Kak! Kita sudah membahas masalah ini tadi sore!"
Bram menghela berat, bukan tak mengerti apa yang diminta oleh sang adik padanya, membuatnya semakin bingung. Sementara Rumi masih dalam mode marah, enggan melihat sang kakak yang tengah pusing memikirkan permintaannya.
"Kakak tidak akan memaksa kamu, Dek. Kamu mau makan atau tidak, terserah! Kakak pusing dan Kakak bingung harus bagaimana! Kakak mau keluar dulu!!!"
Bram pun beranjak, keluar dari kamar sang adik. Tidak lama kemudian lelaki itu datang lagi, bersama sebuah nampan berisi piring makanan lengkap dengan air putih, jus beserta susu putih yang Bram letakkan di atas nakas di samping tempat tidur sang adik tersayang.
"Kalau kamu butuh apa-apa, panggil saja Kakak! Kakak ada di luar!"
Rumi bergeming, ekor matanya mampu menangkap dengan jelas apa yang dilakukan kakaknya sebelum benar-benar keluar dari kamarnya, membuatnya menghela panjang, berusaha membuang rasa kesal dan kecewa terhadap sang kakak yang sudah terlalu banyak membohongi dirinya selama ini. Mengaku bekerja sebagai asisten seseorang, namun tak disangka kalau pekerjaan sebagai asisten kali ini sudah mengarah ke jalur kriminalitas yang membahayakan jiwa orang, bahkan anak kecil seperti Damar Wulan.
"Rumi berharap Kakak akan sadar nantinya." ucap Rumi lirih.
***
"Apa rencana selanjutnya Dim?"
__ADS_1
Pelantaran sebuah gedung kosong yang didesign sedemikian rupa, menyerupai tempat perkumpulan anak muda yang mereka dijadikan rumah kedua. Di sinilah Dimas dan anak-anak geng motor Tiger berada sekarang, duduk berkumpul seraya menikmati minuman yang diduga minuman keras mengandung alkohol.
"Belum ada perintah! Kita tunggu saja sampai malam ini!" sahut Dimas.
"Dim... gue pamit pulang dulu ya. Sudah malam juga." timpal seorang pemuda.
"Biasanya lo juga pulang tengah malam, Ken. Kenapa buru-buru banget sekarang?" ujar Dimas, menegakkan tubuhnya yang semula bersandar santai selayaknya bos.
"Gue ada perlu di rumah. Gue pulang ya. Bye!" jawab pemuda yang ternyata Kenzie.
Kenzie pun beranjak, menjangkau jaket hitamnya yang tergeletak di sandaran kursi. Ternyata di sana tidak hanya ada geng Tiger dan Dimas, tapi juga ada Black Moon yang masih berada di bawah kekuasaan tangan Dimas sejak Bima sang kapten masuk sell tahanan.
"Tunggu Ken...!" sahut Dimas, beranjak dari duduknya.
"Apa lagi Dim?" tanya Kenzie, menggiring matanya malas.
"Sikap lo aneh banget hari ini! Lo lagi tidak menyembunyikan sesuatu dari gue 'kan?"
"Ck! Memang apa yang bisa gue sembunyikan dari lo, Kapten Tiger!?"
"Bisa jadi lo sedang merencanakan sesuatu untuk menusuk gue dari belakang!"
"Jangan samakan gue dengan lo! Gue bukan orang yang suka menikung, apalagi menusuk teman sendiri dari belakang!"
"Lo menyindir gue?" pungkas Dimas, merasa tersinggung.
"Sudahlah, Dim! Tidak ada yang bisa gue sembunyikan dari lo, sedangkan lo dan teman-teman baru lo itu selalu memantau pergerakan gue dan teman-teman Black Moon di mana pun. Jadi apa yang bisa gue tutupi?" jawab Kenzie, menepis kecil bahu sang kapten baru.
"Lo tau bukan, konsekuensi yang bakal lo dapat kalau lo berani berkhianat?"
"Gue tau tapi gue tidak takut, karena gue bukan pengkhianat seperti lo, Dim! Bye...!"
Seringai tipis menghiasi wajah tampan blasteran Indonesia dan Brazil seorang Kenzie yang berlalu pergi setelah berhasil menjatuhkan mental kapten barunya itu, membuat Dimas mendengus geram seraya memberikan tatapan tajam ke arah anak bawangnya itu.
Drrrrttt!
Dimas berdecak, kekesalan terhadap Kenzie yang belum redup dibuat semakin memuncak ketika ponselnya bergetar tidak sabar untuk segera diangkat.
"Hallo Pak..."
(…)
"Baik Pak..."
(…)
"Baik Pak, saya akan menunggu mereka dan bergerak sesuai perintah Bapak!"
Pembicaraan Dimar dengan si penelpon berakhir, membuat seringai tipir di wajah jahatnya terlukis seketika, mendapatkan tugas dari sang bos, membuat amarahnya yang semula memuncak terhadap Kenzie kini menguap entah ke mana. Dengan seringai itu Dimas memutar tumit, menghampiri anak bawangnya yang lain di dalam sana.
"Kalian boleh pulang! Besok kita akan ada project besar dari Bos!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1