Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 134 ~ Pukulan Dendam


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Pa...! Buka pintunya, Pa...! Papa...!"


Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur dan tak akan bisa menjadi nasi lagi. Tangis penyesalan kian bergema, memenuhi atap kamar Zivana yang membisu, menyaksikan betapa kecewa dan sakit hatinya sekarang, mendapatkan perlakuan yang tidak sebaik dulu dari sosok pria bergelar seorang papa.


"Papa...! Buka pintunya...! Zivana bukan binatang yang dengan seenaknya bisa Papa kurung dan Papa kekang secara paksa seperti ini! Pa...! Buka pintunya...! Pa...!"


Dua jam berlalu setelah pertengkaran dan perdebatan sengit yang terjadi di antaranya dengan sang papa. Membuat gadis belia nan cantik namun jahat dan sombong itu harus menerima hukuman yang tidak sepatutnya ia dapatkan dari sang papa.


Tidak ada jawaban apapun dari Gibran, membuat Zivana semakin menggeram kecewa, menghantam beberapa kali daun pintu yang tidak bersalah dalam masalah ini. Kalian pasti tau bukan, apa yang dilakukan Gibran bahkan pada putrinya sendiri itu?


Gibran yang marah dan terbawa emosi, mengurung Zivana di dalam kamarnya, bahkan tindakan Gibran itu tidak pantas disebut mengurung, melainkan menyekap. Terlihat dari kedua tangan Zivana yang terikat kuat, menyilang ke belakang dan membuatnya kesulitan untuk mengambil apapun. Menghantam pintu? Tentu saja gadis itu menggunakan kekuatan kakinya, berusaha memanggil bahkan memohon pada sang papa yang tak menghiraukan.


"Papa jahat...!" seru Zivana, sebelum akhirnya gadis itu memilih untuk diam.


Sayup-sayup suara tangis sang putri terdengar di telinga Gibran yang sengaja duduk di ruang tamu, bertupang dagu dan lesu, pandangan matanya menerawang. Teriakan sang putri yang meraung-raung histeris membuat hatinya teriris perih. Hati seorang ayah mana yang tega mengurung putri kandung semata wayangnya sendiri.


Namun kembali lagi pada kalimat diawal, bahwa nasi sudah menjadi bubur. Semua telah terjadi dan tetap harus diselesaikan sesuai rencana. Dendam yang terlanjur mendalam harus tetap dituntaskan, demi ketenangan hati, menjalani masa depan. Membuatnya harus bertindak keras pada sang putri yang mulai berani melawannya, setelah mengetahui semua kebohongan yang selama ini tersimpan rapih dan dijaga.


Gibran beranjak, berjalan cepat menuju kamarnya, meninggalkan kamar Zivana yang selalu dijaganya sejak pertengkaran berakhir. Setelah sampai di dalam kamar, lelaki satu anak itu meraih ponsel di atas nakas, lalu menghubungi seseorang.


Tut...!


Tut...!


Tut...!


Gibran mendengus marah, melempar ponselnya ke tempat tidur dengan kuat. Tidak mendapatkan jawaban dari sosok yang ia hubungi, sungguh membuatnya semakin jengkel dan kesal. Tidak seperti biasa, sosok yang selalu patuh akan titah kini menghilang tanpa kabar. Siapa dia?


"Ke mana Bram? Sejak tadi malam aku berusaha menghubungi anak itu, namun ponselnya selalu tidak aktif! Terakhir kali, aku menghubungi sore hari. Apa adiknya masih sakit? Tapi bukannya Bram bilang, kalau adiknya sudah baik-baik saja, dan bahkan sudah boleh dibawa pulang???"


Gibran mengusap kasar kepalanya gusar, segusar pikiran dan hatinya yang tengah hancur berkeping-keping setelah bertengkar hebat dengan putrinya sendiri. Matanya yang memicing sesaat, berusaha menetralisir emosi, berpikir keras apa saja kemungkinan yang akan terjadi di dalam rencananya, termasuk keberadaan Bram.


"Bram...! Awas saja jika kamu berani mengkhianatiku! Ke mana kamu saat ini? Ketika Dimas bersama anak bawangnya tengah melakukan tugas dengan orang suruhanku, kamu malah menghilang, tak ada jejak apalagi kabar! Tingkahmu yang seperti ini bukan kebiasaanmu, Bram...!"


Seketika seringai licik Gibran terlukis, membuat wajahnya yang sebenarnya tampan menjadi sangat menyeramkan, hingga para setan pun minder melihatnya, ternyata di dunia manusia pun ada yang lebih jahat bahkan lebih sadis dari mereka, seperti itulah kira-kira isi pikiran kawanan para iblis yang menghuni Villa terpencil itu.


"Sepertinya, rencanaku yang dijalankan Dimas and the gengs akan berjalan lancar! Aku sudah tidak sabar, ingin menyaksikan air mata kesedihan dan penderitaan Mala!"


***


"Mau apa lo!?"


Lelaki bertubuh besar itu pun menyeringai, menatap Aifa'al dengan ekor matanya yang tak kalah tajam dan menyeramkan. Tangan besarnya pun kini telah terangkat, siap untuk meraih tangan Wulan, menyeretnya dengan sadis sesuai perintas Bos mudanya. Namun jangan remehkan tangan kekar Aifa'al yang jauh lebih gesit dan kuat, berusaha sekuat tenaga menahan tangan besar lelaki hitam menyeramkan itu. Sudahlah bertubuh besar, hitam pula, sepertinya author terlalu lebay.


Lalu bagaimana dengan Wulan sekarang? Tentu saja ketakutan, tubuhnya dikekang tangan Aifa'al dari depan, menguncinya dengan erat agar tak ada siapa pun yang bisa membawanya pergi secara tak baik. Sementara Syahal-Syahil, Damar beserta Rainar bergegas turun juga pada akhirnya, meraih tubuh Wulan untuk segera mereka lindungi bersama dari lelaki hitam besar itu.


"Apa telinga kau itu sudah tidak berfungsi lagi? Haruskah aku mengulangi titah bosku? Sebaiknya kau serahkan gadis kecil yang cantik molek itu! Selain menjadi tawanan Bos besar kami, gadis kecil itu juga bisa kami jadikan santapan malam kami nanti!" ujar lelaki besar itu dengan sangat enteng.


Darah Aifa'al mendidih hebat seketika, mendengar perkataan lelaki bertubuh besar nan hitam menyeramkan itu dengan sangat gamblangnya, melecehkan sang adik tepat di depan matanya sekarang ini. Sungguh, raut wajah Aifa'al sudah memerah padam, menahan api amarah yang siap meledak, menyemburkan asap panas dengan larva yang akan mematikan semua rivalnya itu.

__ADS_1


Tangan yang terkepal kuat sejak tadi akhirnya melayang juga, mendarat tepat pada perut lelaki besar nan hitam hingga membuat lelaki itu terhuyung dan terjatuh. Sementara Dimas and the gengs terkejut, melihat lelaki yang katanya terbilang kuat dan tangguh, terjatuh hanya karena Aifa'al. Mengundang kekehan samar yang keluar dari mulut Syahal, Damar dan Rainar yang turut menyaksikan. Namun tidak dengan Syahil yang semakin mempererat dekapan tangannya pada tubuh mungil sang adik.


"Bos...! Bos tidak apa-apa?"


Salah satu anak buah lelaki besar itu pun bergegas menghampiri sang ketua yang terjungkang, menahan sakit pada perut buncitnya akibat pukulan mentah dari seorang bocah yang tubuhnya jauh lebih kecil dari pada lelaki besar itu. Membuat raut wajah malunya tak dapat ditutupi lagi.


"Bantu aku berdiri! Cepat!" seru lelaki itu.


"Siap Bos..." jawab si anak buah.


"Dasar bocah kurang ajar!" sungut lelaki besar itu seraya bangkit dengan sulitnya.


"Lebih kurang ajar siapa? Lo atau gue? Berani banget lo melecehkan adik gue! Sudah bosan hidup lo, hah!" tandas Aifa'al.


Lelaki itu mendengus marah, seperti seekor banteng yang siap menyeruduk mangsanya di depan mata. Sementara Aifa'al berdiri tegap, menantang lelaki besar itu dengan gagahnya, menghalangi siapa saja yang berani maju selangkah untuk membawa paksa Wulan darinya. Tidak akan pernah Aifa'al biarkan, mati adalah resiko besarnya.


"Siapa lagi yang berani maju? Lo? Lo? Lo? Atau bahkan lo, Dimas Pandawa? Maju lo!" seru Aifa'al yang memanas marah, seraya menunjuk satu-satu rivalnya yang banyak.


Dimas mendengus, mengutuki lelaki yang tubuhnya saja dipuji besar dan kuat, namun nyalinya menciut saat mendapat bogeman mentah dari tangan seorang bocah ingusan.


"Kalau lo gentle, kita duel satu lawan satu! Kalau lo kalah, cepat enyah dari tempat ini! Tapi kalau lo menang..."


"Gue mau lo serahkan si bisu itu pada gue! Bagaimana? Cukup adil untuk kita, bukan?"


Aifa'al tersenyum miring, menoleh sejenak ke arah adik-adiknya terutama Wulan yang berada dalam dekapan erat Syahil di sana, membuat api semangatnya kian terpancing, naluri sebagai kakak dalam jiwanya semakin menjalar di urat nadi, ingin cepat-cepat mengakhiri semua ini, menyelamatkan jiwa adik-adiknya yang tengah terancam, terutama sang adik yang ketakutan, Wulan.


"Keinginan lo tidak akan pernah terwujud, Dimas Pandawa!"


"Kita lihat saja nanti, Aifa'al Maryandi!"


Dengan seringai yang sama-sama tajam, bak pisau silet yang mempunyai dua sisi, sama tajam bahkan sama-sama mampu membunuh orang yang menggunakannya. Aifa'al dan Dimas bergerak maju, setelah memberikan kode pada kelompok mereka masing-masing. Hanya dengan tatapan kilat, Aifa'al sukses memberi kode penting pada adik-adiknya yang terus melihatnya. Sementara Dimas, tanpa memberikan kode pun semua anak bawangnya sudah tau apa yang akan dilakukan oleh kapten mereka itu.


Pertarungan sengit mengancam nyawa telah berlangsung, disambut meriah oleh semua anak bawang Dimas yang menyeru namanya penuh semangat, diwasiti lelaki bertubuh besar. Sementara Syahal-Syahil, Damar dan Rainar yang melihat itu tak henti mengucap, berdo'a dalam hati agar Aifa'al menang melawan Dimas yang sangat keji. Lalu bagaimana dengan Wulan? Gadis itu terisak, menyaksikan pertarungan Aifa'al demi melindunginya dari kegilaan Dimas dan kekejaman Gibran di suatu tempat.


Dengan susah payah Syahal, Syahil dan Damar menenangkan Wulan yang tergugu, tangannya terus menunjuk ke arah Aifa'al, seakan meminta semua masnya itu untuk menghentikan pertarungan berbahaya itu.


"Adek tenang ya, Sayang. Mas Al pasti mampu, kalau hanya mengalahkan Dimas. Mas sangat mengenal Mas Al. Dia sangat kuat dan pantang menyerah." tutur Syahil, mengusap lembut punggung sang adik.


"Aass... aa... aass..." ucap Wulan, lirih.


"Wulan... kamu tenang ya. Semoga saja Mas Al berhasil mengalahkan pria itu dan kita semua bisa lepas dari mereka." tutur Rainar, ikut menenangkan sang sahabat.


"Iya, Dek. Mas juga percaya, kalau Mas Al pasti bisa mengalahkan Dimas, bahkan anak bawangnya sekaligus. Adek jangan lupa, kalau ilmu silat Mas Al itu sangat hebat. Ya?" timpal Damar, meyakinkan sang adik.


"Mas Al tidak akan terkalahkan, Dek. Kecuali, kalau Dimas dan rombongan pengantinnya itu bermain curang!" timpal Syahal yang semula bersemangat namun...


Pletak!


"Kamu kenapa sih Syahil?" sungut Syahal, ketika lengannya mendapat jitakan panas dari adik kembarnya.


"Mas apaan sih! Bukannya menenangkan Adek, malah bicara seperti itu!" seru Syahil.

__ADS_1


Syahal berdecak kesal sesaat, lalu dengan lembutnya ia mengelus kepala Wulan yang tengah berdiri di sisinya, diapit oleh Syahil sedangkan Damar dan Rainar berdiri di sisi keduanya. Namun Wulan tetap bergeming, menatap nanar ke arah Aifa'al yang tengah berjuang mati-matian demi dirinya.


Pukulan keras terakhir yang berhasil mendarat mulus, membuat salah satu di antara petarung handal itu jatuh tersungkur, menyentuh tanah dengan wajah yang jauh dari kata baik-baik saja. Siapa yang kalah?


"Pukulan itu baru untuk Syahil! Karena lo sempat mengeroyoki dia, di saat dia ingin mencari gue! Pukulan kecil itu belum ada apa-apanya buat lo yang terlalu kejam!!!"


Dimas yang tersungkur, beringsut mundur. Memegangi dadanya yang terasa sesak akibat pukulan demi pukulan super kuat tangan Aifa'al. Sementara Aifa'al berjalan maju, mendekati Dimas yang menjauhinya.


Syahil yang mendengar penuturan sang mas tengah pun mengulum senyum, tak menyangka kalau masnya itu mengingat kejadian waktu itu. Di mana Bima beserta Dimas dan para anak bawang mengeroyoki dirinya sampai babak belur, hingga Damar dan Wulan datang menyelamatkan dirinya.


"Pukulan itu untuk gue! Karena lo sudah berani-beraninya memakai motor gue di saat gue ketiduran, efek obat tidur Bima! Dan dengan seenaknya, lo menggunakan motor gue untuk menculik kedua adik gue, lalu menjadikan gue kambing hitam dari semua rencana licik lo, Bima dan Gibran! Memang biadab lo, Dim!" pungkas Aifa'al.


"Itu bukan rencana gue! Itu kerjaan Bima!" sergas Dimas, berusaha bangkit tapi tidak sanggup seraya memegangi perutnya.


Aifa'al menyeringai, terus berjalan maju secara perlahan, sedangkan Dimas kian beringsut. Di saat salah satu anak bawang geng motornya hendak melangkah maju, ingin membantu sang kapten barunya itu, seketika itu juga Aifa'al mendongak cepat, menghunuskan tatapan membunuhnya ke arah anak bawang Dimas, bahkan ke arah ketiga lelaki bertubuh besar yang nyali nya ciut karena Aifa'al. Membuat mereka semua terpaku, tidak berani melawan sosok Aifa'al.


"Dan pukulan ini, untuk Damar! Karena lo sudah berani menculik dan menyekap dia! Bahkan lo juga pernah menabraknya di depan sekolah atas suruhan Bima! Karena lo, nyawa adik gue itu hampir melayang! Kalau saat itu Damar tidak gue temukan, mungkin nyawa lo sekarang yang bakalan gue cabut! Lo dengar itu...!" tandas Aifa'al, menatap tajam Dimas yang terluka.


"Oke Al! Gue mengaku kalah! Ampun Al...!" seru Dimas, tak sanggup lagi menghadapi Aifa'al yang memang sangat bringas kalau sedang marah.


"Ck! Tiada ampun untuk lo!" seru Aifa'al.


"Dan itu mungkin pukulan terakhir dari gue, untuk Wulan, adik perempuan gue! Karena lo, sudah berani menculik, menyekap, dan meneror dia! Lalu sekarang, lo membawa ketiga cecunguk besar yang tidak memiliki nyali itu untuk melecehkan adik gue! Bejat! Lo... laki-laki paling bejat yang pernah gue kenal, Dim!!! Sekarang... lo pergi dari sini!!! Katakan pada bos besar lo, kalau dia ingin merebut Wulan, langkahi dulu mayat gue!"


Dimas terperangah, tidak menyangka dengan keberanian Aifa'al yang sangat tinggi, berani menantang Gibran yang licik dan penuh dengan tipu daya hanya demi melindungi adiknya, membuat nyali Dimas ciut dalam sesaat. Sementara itu, Syahal, Syahil, Damar, Rainar dan Wulan bernafas lega. Melihat Aifa'al yang akhirnya menang.


Dimas yang sudah tak berdaya untuk beranjak pun memanggil salah satu anak bawangnya, hingga beberapa di antara mereka beranjak dan membantu Dimas berdiri. Cepat-cepat ingin pergi dari sini sebelum singa jantan yang kelaparan itu kembali mengaum, meminta makan lagi.


Dor!


Suara ledakan dari senjata api berwujud pistol meluncur tepat pada sasaran kunci, membuat semuanya terjingkat kaget, lalu menuntun mata mereka untuk mengedar.


"Aass... aa...!"


"Mas...!"


Syahal-Syahil, Damar, Rainar dan Wulan terpekik kuat bersamaan, melihat ke arah sang mas tengah yang semula berdiri tegap dengan gagahnya di depan sana, dan kini tersungkur menyentuh tanah dengan darah. Membuat mereka bergegas lari, mendekati Aifa'al yang meringis kesakitan memegangi kakinya yang menjadi sasaran tembakan itu.


Sementara Dimas tersenyum miring, puas ketika mata mendapati sosok yang menjadi penolong rencananya hari ini. Sosok yang pastinya sangat berpengaruh dalam cerita ini, memancing seringai licik yang lainnya, melihat sosok yang datang secara tiba-tiba itu. Siapakah dia?


"Anda datang di waktu yang tepat, Pak!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2