Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 108 ~ Imam Pamit


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


POV Imam


Assalamualaikum... aku Imam Permana, mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kalian yang pernah membaca dan mengikuti kisah mendiang istriku di novel sebelah. Ya, aku adalah suami Dhina, gadis pujaan hati yang selalu kusebut namanya dalam do'a.


Mungkin tidak banyak yang bisa kukatakan di sini, hanya saja aku akan sedikit curhat sebelum masuk ke dalam video terakhir ku.


Tiga belas tahun yang lalu... aku sungguh sangat bersyukur atas nikmat Allah, atas restu yang kudapatkan untuk menikahinya. Disaksikan oleh seluruh anggota keluarga yang menyayangi dan mencintainya, aku mengucap ijab kabul. Ada bahagia namun ada sedih. Aku bahagia karena akhirnya, gadis yang kusebut dalam do'a di setiap shalat telah sah menjadi permaisuri hatiku. Namun aku sedih karena di penghujung cerita, aku dipaksa untuk merelakannya pergi. Akhirnya, kami pun LDR lagi sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.


Tiga belas tahun... kulalui hari demi hari tanpa kehadirannya, tak sedikit pun rasa cinta ini berkurang untuknya, justru malah semakin bertambah walaupun dia tak lagi ada di sampingku. Entah cinta seperti apa yang Allah berikan, hingga aku sendiri pun tidak bisa melupakannya walaupun sesaat.


Kesibukan yang membuat hari-hariku menjadi lebih berarti, teralihkan dari rasa sedih yang kadang datang menyelimuti. Namun karena terlalu sibuk aku pun lupa, bahwa ada saatnya tubuh ini membutuhkan waktu untuk beristirahat demi melepas lelah.


***


Ayah, Ibu... Terima kasih karena sudah menerima Imam sebagai putra menantu di rumah ini. Imam sangat bersyukur, bahagia tak terkira bisa menjadi salah satu bagian dari kalian. Salah satu mimpi yang pernah Imam bayangkan saat pertama kali Imam tau kalau ternyata Dhina adalah putri Ayah saat pesta meriah di kantor dinas waktu itu. (Kisahnya ada di novel Adikku Sayang Adikku Malang pada episode 23).


Mas Ammar, Mas Sadha, dan Dhana... Sangat sulit bagi Imam merangkai kata untuk menggambarkan kasih sayang dan cinta kalian terhadap keluarga. Bagi Imam, kalian ada tiga superhero yang sangat patut diacungi ribuan jempol karena kekompakan kalian. Terima kasih, Mas! Karena sudah mau menerima lelaki ini sebagai adik ipar.


Kak Ibel, Kak Vanny, dan Mala... Sosok wanita tangguh berjiwa pemimpin yang tak kalah patut diacungi jutaan jempol. Kalian adalah tiga wanita terkuat yang pernah Imam temukan setelah Umi, Ibu dan Dhina. Terima kasih, Kak! Sudah menyayangi dan menerima Imam sebagai ipar yang paling tampan di antara kalian sebagai menantu Ayah dan Ibu. Imam bersyukur bisa berada di antara kalian yang saling menguatkan.


Imam minta maaf karena selama Imam di Jakarta, Imam tidak memberitahu sesuatu pada kalian. Sebenarnya, Imam tiba di ibu kota dua hari sebelum pergi ke rumah Ayah dan Ibu. Dua hari itu Imam pergi menemui Mitha, teman kuliah Imam dan Dhana dulu. Dia adalah dokter spesialis kanker di rumah sakit Medika. Awalnya Imam tidak pernah berpikiran untuk memeriksa kondisi Imam, namun karena rasa sakit yang semakin hari semakin bertambah, membuat Imam pergi menemui Mitha. Hingga akhirnya, sebuah kebenaran yang tidak pernah dibayangkan terjadi, Imam difonis mengidap kanker hati stadium tiga setelah dilakukan pemeriksaan secara detail oleh Mitha di laboratorium.


Gejala yang Imam rasakan sangat umum, hingga membuat Imam lalai. Dua tahun terakhir, Imam memang sering merasakan sakit pada bagian perut. Imam pikir itu hanya sakit perut biasa yang sering terjadi karena Imam telat makan. Jadi Imam tidak terlalu memikirkan hal itu karena pekerjaan Imam pun banyak yang harus dipikirkan.


Namun beberapa bulan terakhir ini, gejala yang sering muncul tiba-tiba datang lagi dan itu sangat sering. Imam memilih diam karena Imam takut Abi dan Umi khawatir. Jadi Imam memilih untuk memeriksanya saat hendak mengunjungi keluarga Imam yang ada di Jakarta.


Ingin rasanya Imam memberitahu kalian, tapi Imam tidak ingin membuat kalian sedih. Imam tau rasanya, saat mendengar kabar buruk yang menimpa orang tersayang kita. Jadi Imam memilih diam, demi semuanya.


Dalam video ini, Imam ingin meminta maaf pada Ayah, Ibu, Mas Ammar, Mas Sadha, Dhana, Kak Vanny, Mala, bahkan Kak Ibel yang belum sempat Imam temui. Niat hati ingin menemui Kakak, namun sepertinya takdir seakan berbisik kalau usia Imam tak akan lama lagi. Maaf... hanya itu yang bisa Imam ucapkan, jika di saat terakhir Imam tidak bisa mengucapkan kata perpisahan.


Dhana... Kamu harus kuat! Maaf, kalau aku harus pergi di saat masalahmu sedang sulit. Aku yakin, kamu pasti bisa menyelesaikan semua masalah dengan baik dan tanggap. Gunakan lah alat pelacak yang ada pada ponsel ini. Mungkin suatu saat, kamu akan membutuhkannya, Dhana.


Untuk Ziel, Al, Syahal, dan Syahil... Paman bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk melihat kalian beranjak dewasa saat ini, walaupun hanya sebentar. Ingatlah Nak, terus lah berbuat baik, jangan menyimpan dendam pada siapa pun. Karena dendam tidak hanya dapat merusak diri, tapi juga dapat merusak hati. Jika hati kita sudah rusak, maka akan sulit bagi diri kita untuk menerima kenyataan hidup. Hidup tidak selamanya indah, jadi tanamkan lah pada hati kalian untuk tidak menaruh dendam.


Paman juga sangat bersyukur, karena Al dan Syahil akhirnya bisa berubah seperti dulu, mau menerima Wulan apa adanya. Paman bangga sama kalian. Jagalah diri kalian baik-baik! Rajin sekolah, shalat dan mengaji agar kelak kalian akan menjadi anak-anak yang sholeh untuk orang tua.


Untuk Damar dan Wulan... Paman juga sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan kalian. Selama ini Paman hanya bisa mendengar cerita papi kalian karena dia tidak ingin Paman tau kondisi Wulan. Kalian juga jaga diri baik-baik ya, Nak. Paman minta maaf karena Paman baru sempat mengunjungi kalian di Jakarta. Kalian juga harus sabar saat menghadapi sikap mami kalian, terutama gadis cantik kesayangan Paman. Percayalah... suatu saat nanti mami kalian akan terbuka lagi hatinya agar bisa menerima Wulan.


Sebenarnya ada satu hal yang harus aku katakan padamu, Dhana. Sebelum aku berangkat ke Jakarta, Dhina pernah datang ke dalam mimpiku dan memintaku untuk membawa Wulan pergi bersamaku ke Cairo. Di dalam mimpiku itu Dhina menangis, dia tidak tega melihat Wulan yang selalu saja disakiti oleh Mala. Dan aku, menyetujuinya.


Aku ingin membawa Wulan ke Cairo dan tinggal bersamaku di sana. Tapi rencana hanya tinggal rencana. Setelah hasil tes laboratorium ku keluar, di saat kita semua tengah sibuk mencari keberadaan Damar dan Wulan yang sempat hilang tempo hari, Mitha menghubungiku dan memberitahu bahwa aku mengidap penyakit mematikan, membuatku ragu, apa aku bisa menunaikan keinginan Dhina di dalam mimpiku waktu itu, dan ternyata takdir kembali berkata lain.

__ADS_1


Perihal penyakit Mala, sebenarnya aku juga pernah mendapatkan isyarat dari Dhina di dalam mimpi. Ternyata, dugaan Dhina tentang hal itu benar dan sesuatu yang lain pada Mala kini adalah penyakit sindrom nya. Untuk Mala, aku hanya bisa berdo'a agar trauma yang dia rasakan akan hilang dan dia bisa menyayangi Wulan sepenuh hati.


Sekali lagi Imam minta maaf. Imam harap Ayah, Ibu, Mas Ammar, Mas Sadha, Kak Ibel, Kak Vanny dan Dhana bisa mengerti. Terima kasih untuk semua kasih sayang yang telah kalian limpahkan pada Imam. Dan untuk anak-anak Paman... Paman sangat menyayangi kalian semua, Nak!


Wassalam...


***


POV Author


Tanpa terasa mata yang menatap nanar layar televisi telah basah oleh bulir kristal, suasana duka yang kentara semakin larut karena video rekaman terakhir dari Imam, membuat semuanya menangis, masih tak percaya kalau Imam sudah tidak ada lagi di antara mereka.


"Mas Ziel... itu bukannya sofa yang Paman tempati saat tidur di Apartment tadi malam?" timpal Aifa'al, menunjuk televisi dengan tatapan nanar di saat menyadari sesuatu yang ada di video terakhir sang paman.


"Maksud kamu, Paman Imam membuat video ini di saat kita berdua sedang tidur?" tanya Aiziel, menoleh ke arah sang adik.


"Bisa jadi, Mas!!! Mas lihat sendiri video itu, background nya sama persis dengan ruang tamu di Apartment." jawab Aifa'al, gemetar.


Aiziel terpekur, menatap nanar layar datar televisi yang masih menyala, mengabaikan tatapan nanar dari semuanya yang ada di sana, termasuk Wulan. Gadis itu mengulum bibir, menahan isak yang ingin pecah saat mengetahui niat sang paman, mengajaknya tinggal di Cairo, namun semua hanya mimpi, rencana sang paman kini tinggal kenangan.


"Adek..."


Isak tangis seakan dipaksa berhenti saat suara Damar memanggil Wulan bergema. Damar pun beranjak, menyusul sang adik yang sesegukan setelah melihat video itu. Disusul Aiziel, Syahal-Syahil dan Aifa'al. Sementara para orang tua masih duduk termangu, mengontrol tangis yang ingin pecah lagi.


"Iya Sadha..." jawab Ammar, parau.


"Jadi ini alasan Imam meringkuk di tengah kobaran api saat ingin menyelamatkan Al, Damar dan Wulan tempo hari?" ujar Sadha, teringat dengan sikap aneh Imam saat itu.


"Maksud Mas Sadha?" tanya Dhana.


"Mas sempat memergoki Imam meringkuk sambil menekan perutnya, Dhana. Di saat itu, kamu pergi mengejar Gibran yang lari membawa Mala. Dan saat Mas bertanya, dia mengatakan kalau dia hanya kepeleset." jawab Sadha, masih teringat betul masa itu.


"Mas pun juga mengetahui semuanya saat Imam sedang berbicara dengan temannya yang bernama Mitha itu. Tidak hanya Mas, tapi Mas Ronald juga tau tentang penyakit Imam." timpal Ammar, membuang nafas.


"Apa kamu sudah memberitahu Ronald, Nak?" tanya Pak Aidi, melihat sang putra.


"Sudah, Yah. Tapi Mas Ronald sedang berada di luar kota. Dia sangat terkejut dengan kepergian Imam yang mendadak. Padahal kemarin, Mas Ronald masih bertemu dengan Imam 'kan?" ujar Ammar.


"Itulah yang dinamakan takdir hidup, Nak." jawab Pak Aidi, menoleh ke arah Ammar.


Ammar menghela panjang, mengangguk samar seakan membenarkan perkataan sang ayah. Hingga suasana hening pun kembali tercipta, membiarkan hati yang tengah berduka melayang entah ke mana.


***

__ADS_1


"Adek... jangan menangis lagi ya."


Seakan tak ada habisnya, air mata Wulan masih saja mengalir deras membanjiri pipi, membuat kelima masnya mengeryit tidak tega, melihat kondisi sang adik yang masih lemah terus menangis setelah melihat video terakhir sang paman tampan tersayang.


"Damar benar, Dek. Sekarang kita masuk lagi ya. Hari sudah malam. Angin malam tidak baik untuk kondisi Adek yang masih dalam tahap pemulihan." timpal Aiziel.


"Adek harus tetap kuat. Walaupun Paman Imam sudah tidak ada, Adek masih punya kita." timpal Syahil, berusaha menghibur.


"Nanti Paman Imam malah gentayangan loh, kalau Adek menangis terus seperti ini!" timpal Syahal, berpura-pura bergidik ngeri.


"Ck!!! Kamu ini bicara apa sih Syahal?" sungut Aifa'al, melirik sang adik dengan tatapan tajam.


"Ehh... Mas Al sepertinya belum pernah mendengar, kalau orang yang baru saja meninggal itu, sampai 40 hari, arwahnya masih berkeliaran di sekitar sini." jawab Syahal, sengaja berbisik untuk menakuti sang mas tengah yang masih pemarah.


"Ck!!! Kamu ingin menakuti Mas?" sungut Aifa'al, semakin geram dengan sang adik.


"Iiiiihhhh... hahahaha... wajah Mas Al lucu sekali kalau sedang tegang dan ketakutan. Santai saja, Mas. Syahal hanya bercanda." sahut Syahal, meniru suara makhluk tidak kasat mata untuk menggoda sang mas.


Aifa'al mendengus gemas, memilih masuk ke dalam rumah untuk menjauhi tingkah Syahal yang absurd, namun Syahal yang jahil justru mengikuti ke mana Aifa'al pergi. Memancing gelak tawa Aiziel, Syahil dan Damar yang masih duduk bersama Wulan di taman samping rumah sang opa dan oma.


"Kita masuk lagi ya Sayang?" tanya Aiziel, membujuk sang adik yang masih memeluk erat tubuh Damar.


Wulan pun bergeming, namun sesaat kemudian terdengar suara helaan nafas panjangnya yang berhembus samar tapi masih bisa terdengar oleh Aiziel, Syahil dan Damar. Gadis itu mengurai sedikit pelukan, menatap ketiga masnya yang masih setia menemani, lalu mengangguk pasrah.


Aiziel, Syahil, Damar dan Wulan pun ikut masuk. Menyusul Aifa'al dan Syahal yang sudah masuk lebih dulu.


Malam pun semakin larut, menuntut kaki untuk segera berjalan menuju kamar dan beristirahat, melupakan sejenak masalah yang ada, mengikhlaskan jalan takdir yang telah terjadi. Percaya bahwa dibalik semua masalah dan cobaan pasti ada hikmahnya.


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Empat episode untuk Imam 🥲🤧 maaf kalau Imam harus dina buat meninggal, karena selain terlalu banyak tokoh yang bikin dina pusing, dina juga kasihan sama Imam 🤧🥲 disuruh nikah lagi malah ngak mau, ya dari pada hidup menduda, lebih baik seperti ini takdir hidupnya 😚😅


Terima kasih untuk semuanya yang masih setia bersama Wulan dan dina si author✌️

__ADS_1


udah 4 episode dina kejar 😚🤭 jadi dina mau izin ngak up dulu ya untuk dua hari, capek habis ngetik 4 episode 🤭 jadi dina mau have fun dulu ✌️ bye bye 👋 sampai jumpa dua hari lagi 😚 lope lope lope 🖤


__ADS_2