
...☘️☘️☘️...
Terangnya cahaya bulan telah digantikan oleh sambutan cahaya sang raja pagi yang akan bertugas hingga siang menjelang sore nanti. Cahaya yang terang, seakan datang dan mengetuk jendela mata untuk terbuka, mengawali hari yang cerah dengan senyum nan merekah indah.
Dhana membuka mata, terlelap nyenyak setelah menemani putra putrinya belajar hingga larut malam, membuat sekujur tubuhnya terasa pegal dan menegang. Usianya yang tidak muda lagi membuatnya mudah lelah dan tidak bisa bertahan untuk begadang terlalu lama. Apalagi di malam kemarin yang sempat membuatnya tidak mengistirahatkan matanya walaupun sesaat.
Rasanya magnet pulau bantal terasa sangat dahsyat menariknya, membuat Dhana berat untuk beranjak walaupun mata telah dibuka.
"Untung saja Damar dan Wulan percaya dengan apa yang aku katakan tadi malam. Mereka pasti sangat penasaran dengan hubunganku dan Kinan di masa lalu kalau aku berusaha menghindar dari mereka. Apalagi kemarin siang Wulan juga sempat menanyakan perihal Kinan padaku. Huff..."
Dhana menghela nafas panjang, mengusap muka bantalnya yang masih terlihat muram, seperti kain kusut yang tidak disetrika rapih, tatkala teringat dengan berbagai pertanyaan mengintimidasi dari kedua anaknya di saat mereka menemukan fotonya bersama Kinan di masa kuliah dulu. Foto yang diambil saat mereka berteman akrab sebelum perkataan cinta keluar dari bibi seorang Dhana kepada sosok gadis yang menjadi cinta pertamanya di masa muda dahulu.
...~Flashback On~...
"Aku mencintai kamu, Kin."
Kinan terkesiap, menoleh ke sana ke mari untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar pernyataan cinta sosok pria di depannya saat ini. Sementara Dhana yang masih berharap, tampak berlutut tepat di depan Kinan seraya mengulurkan setangkai bunga mawar merah asli, harum nan indah.
"Tapi aku tidak bisa menerima cintamu, Dhana!" jawab Kinan yang terlihat panik.
"Maksud kamu apa Kin? Selama ini kita selalu bersama dan menjalin hubungan yang terbilang sangat dekat. Bahkan di antara teman-teman kita, tidak sedikit dari mereka yang menganggap kita ini seperti sepasang kekasih." ujar Dhana yang masih kekeuh, berlutut di hadapan pujaan hatinya.
"Tapi aku benar-benar tidak bisa, Dhana. Karena aku sudah mempunyai kekasih!!!"
Setangkai bunga mawar yang terulur, seketika layu di tempat tatkala mendengar penuturan Kinan yang baru saja Dhana ketahui hari ini. Bunga mawar yang layu sama dengan hal hatinya yang luluhlantah seketika, sakit namun tak berdarah.
Dhana bergeming, tangan yang tadinya terulur dengan semangat kini melemah begitu saja, layu seperti setangkai bunga mawar yang masih dipegangnya. Untuk sesaat Dhana terdiam, lalu ia beranjak, membawa tubuh yang terasa berat untuk ditegakkan kembali, menatap sosok gadis yang selama ini ia cintai namun ternyata pahitnya empedu harus ia telan setelah kedekatan mereka semakin terjalin erat.
"Kenapa kamu baru memberitahu aku? Selama ini kamu tidak pernah bercerita tentang kekasih kamu sama aku. Apakah seperti ini cara kamu untuk menolakku?" tanya Dhana yang menatapnya sendu.
"Maafkan aku, Dhana. Selama ini aku memang tidak menceritakan apa pun tentang statusku sama kamu. Karena kamu tau sendiri 'kan kalau aku bukan tipe wanita yang suka mengumbar sesuatu ke publik. Aku bukan seperti itu, Dhana! Dan selama kita dekat, aku hanya menganggap kamu seperti seorang sahabat, tidak lebih dari itu!" jawab Kinan dengan tenang, namun terlihat guratan rasa bersalah di wajah cantiknya.
Dhana tersenyum getir, menahan gejolak hati yang entah harus bagaimana tatkala mendengar semua penuturan Kinan. Rasa cinta yang terpendam selama ini harus hancur berkeping-keping tanpa belas kasih, karena orang yang dicintai sudah memiliki kekasih. Hati Dhana sakit, seakan teriris pisau tak kasat mata, menghujam relung hatinya yang paling dalam, meninggalkan bekas yang mungkin akan sulit untuk hilang dan disembuhkan dalam waktu singkat.
"Jadi kedekatan kita selama ini, hanya sebagai sahabat? Padahal selama ini aku mengira kalau kamu juga mencintai aku. Semua perhatian dan kebaikan kamu... jadi semua itu hanya sebatas sahabat?" timpal Dhana yang tercekat, sesak rasanya.
"Kamu telah salah menilai perhatian yang selama ini aku berikan, Dhana. Sungguh, aku tidak pernah berniat untuk menyakiti hati kamu seperti ini. Maaf, kalau selama ini kedekatan kita membuat kamu berpikir jauh. Tapi aku benar-benar tidak bisa. Maaf..."
Dhana bergeming, menatap punggung sang gadis pujaan hati, sang cinta pertamanya itu yang beranjak pergi meninggalkannya. Baru pertama kali merasakan jatuh cinta, ternyata dibalas oleh rasa sakit yang tidak diduga, meninggalkan luka yang dalam membuat Dhana trauma akan yang namanya cinta. Sejak hari itu, Dhana dan Kinan yang masih harus menyelesaikan kuliah, memilih untuk menempuh jalan mereka sendiri. Tidak ada lagi senyum, sapa, tidak ada lagi perhatian.
Pernyataan cinta seakan penghancur dari semua kedekatan yang selama ini mereka jalin, membuat mereka harus berpisah dan berjalan di rel kehidupan masing-masing. Setelah lulus kuliah, Dhana maupun Kinan tidak pernah bertemu lagi, membuatnya galau dan semua itu dapat ditangkap oleh indera penglihatan Dhina, sang adik yang terlalu peka terhadap mas kembarnya itu.
Dengan bercerita dengan sang adik seperti inilah yang berhasil membuat Dhana lupa akan kegalauan hati akan cinta pertamanya yang kandas, membuat Dhana lupa untuk merasakan jatuh cinta lagi karena terlalu menyayangi sang adik dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. Bahkan sejak saat itu, Dhana tidak pernah lagi dekat dengan seorang gadis kecuali adiknya sendiri. Tapi setelah sang adik meninggalkannya, Dhana kembali terpukul hingga ia bertemu dengan wanita yang kini telah menjadi istrinya.
...~Flashback Off~...
Dhana tersenyum simpul, mengingat kisah cinta pertamanya yang harus pupus begitu saja di tengah jalan, membuat kepalanya menggeleng, berusaha menepis kenangan masa lalu yang seharusnya sudah hancur tanpa ada bekas.
Karena tidak ingin duduk berlama-lama di atas tempat tidur, Dhana pun beranjak, mengayun kaki keluar dari kamar sang mas tengah yang ia gunakan untuk beristirahat tadi malam lalu menuju kamarnya di lantai bawah.
__ADS_1
***
"Kalian rajin sekali belajarnya."
Damar dan Wulan mendongak, melihat pemilik suara bariton yang menghampiri mereka di halaman samping. Buku-buku pelajaran pun terlihat berserakan di atas karpet plastik yang keduanya gunakan sebagai alas duduk. Belajar di halaman samping rumah seraya menikmati alam terbuka, menambah kesan segar dan alami, memperlancar kinerja otak yang sedang membutuhkan asupan energi untuk terus berpikir.
"Mas Syahal, Mas Syahil..."
Si kembar Syahal dan Syahil tersenyum simpul, mendekati keduanya yang tengah duduk di tepi taman halaman samping.
"Kalian belajar terus! Hari ini weekend loh!" ujar Syahal seraya duduk di atas karpet yang terbentang di tepi taman.
"Ya mau bagaimana lagi, Mas. Memang harus belajar lebih banyak karena Damar harus bisa naik ke kelas tiga dan menjadi ketua osis." jawab Damar yang semangat.
"Kamu mau jadi ketua osis?" tanya Syahal yang memastikan kalau telinganya tidak salah dengar perkataan sang adik.
"Ck! Pertanyaan macam apa itu, Mas! Memang Damar tidak pantas menjadi ketua osis di sekolah?" cebik Damar.
"Hahaha... siapa bilang adik Mas Syahal yang tampan ini tidak pantas? Bukan hanya pantas, tapi sangat pantas! Mas akan mendukung kamu, Damar!" jawab Syahal seraya meraih bahu sang adik.
"Kalau begitu Mas harus membantu Damar untuk mensosialisasikan diri di sosial media. Mas Syahal 'kan berbakat dengan hal-hal berbau teknologi seperti itu." ujar Damar seraya mengerlingkan matanya pada Syahal.
"Kalau masalah itu, Mas siap 24 jam kok untuk kamu. Tapi belajarnya harus lebih rajin ya, jangan terlalu terfokus sama pemilihan ketua osis di sekolah kamu!!!" jawab Syahal yang menepuk bahu Damar.
"Siap Mas kembar!" sahur Damar yang hormat.
"Oh iya, Mas kembar kenapa sudah ada di sini pagi-pagi? Bahkan Papi, Mami dan Mas Ziel saja belum bangun tuh." tanya Damar yang melihat keduanya heran.
"Ya tidak ada apa-apa sih, hanya ingin melihat kalian saja." jawab Syahal yang menoleh ke arah Syahil.
Syahil yang sejak tadi hanya diam pun tersenyum kikuk. Canggung, rasa tidak enak dan rasa bersalah pun masih saja menyelimuti hatinya yang tidak pernah dekat dengan kedua adik kembarnya itu. Melihat sang mas kembar terdiam, Wulan meraih tangannya, tersenyum manis dan membuat hati Syahil didera kehangatan.
'Mas Syahil jangan merasa bersalah lagi ya. Yang lalu biar lah berlalu. Adek sudah cukup bahagia melihat Mas Syahil datang ke sini bersama Mas Syahal'
Syahil mengeryit, tidak paham dengan bahasa isyarat yang digunakan Wulan saat berbicara dengannya. Melihat itu, Syahal pun meraih bahunya, mengartikan bahasa isyarat sang adik yang belum dipahami Syahil. Seutas senyum pun terbit di wajah tampan Syahil tatkala mendengar bahasa isyarat yang diartikan oleh sang mas kembar. Hatinya kembali hangat, menatap lekat manik sang adik.
"Paklik sama Bulik bagaimana Mas? Mereka tidak memarahi Mas Syahil 'kan?" tanya Damar lagi yang masih penasaran.
"Mereka bersyukur sekali karena Syahil akhirnya menyadari nuraninya." jawab Syahal yang menoleh ke arah sang adik.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga saja Mas Al juga bisa berubah seperti Mas Syahil dan keluar dari geng motor Bima." ujar Damar seraya mengurut dada.
Syahil menghela nafas kasar, nama Bima seakan menjadi hantu di dalam pikirannya hingga saat ini. Karena Bima, Damar jadi celaka sampai masuk ke rumah sakit.
"Damar... sudah sejak lama kamu mengenal Bima?" tanya Syahil yang akhirnya angkat bicara setelah berdiam diri sejak tadi.
"Sejak Damar dan Adek masuk ke SMP Jaya Mandiri, Mas. Bima terkenal sekali karena sering tidak naik kelas. Sepertinya usia Bima terlihat tidak jauh dengan Mas Syahil. Seharusnya dia sudah lulus SMA, Mas. Tapi karena orang tuanya, dia masih bertahan di sekolah itu." jawab Damar.
"Dia memang seumuran dengan Mas, bahkan Mas pernah satu kelas dengan Bima saat Mas masih SMP. Kamu harus hati-hati sama anak itu! Dia terlalu nekat dan akan melancarkan rencana apapun untuk menghabisi musuhnya." ujar Syahil.
__ADS_1
"Apakah dia sering mengganggu kalian?" timpal Syahal seraya melihat keduanya.
"Bukan hanya mengganggu, Mas. Bima juga sering membuli Adek di sekolah!!!" jawab Damar yang menoleh ke Wulan.
"Apa? Jadi anak itu juga membuli Adek?" pekik Syahil yang terkejut bukan main.
Damar mengangguk samar, menoleh ke arah sang adik yang hanya tertunduk di posisinya. Sementara Syahal dan Syahil saling pandang, geram dan ingin sekali rasanya menghantam sosok Bima yang menjadi dalang pembulian sang adik.
"Jadi yang sering membuli Adek di sekolah selama ini adalah ketua geng motor itu?"
Syahal, Syahil, Damar dan Wulan tersentak, menoleh bersama ke sumber suara yang baru saja terbangun dari tidur malamnya. Sosok yang terbangun tatkala mendengar suara keributan samar di tengah taman rumah sang oma.
"Mas Ziel..."
Aiziel yang sempat mendengar pembicaraan keempat adiknya itu pun beranjak, mengambil langkah lebar untuk meminta penjelasan yang lebih dari sang adik. Belum lama ini ia mengetahui kalau Wulan menjadi korban pembulian teman sekolahnya. Namun Aiziel masih bisa menahan diri dan diam karena ia tidak tau siapa dalang di balik pembulian Wulan.
"Jelaskan semuanya pada Mas! Apa benar yang Mas dengar barusan, kalau Bima adalah dalang dari pembulian Adek selama ini?" cercah Aiziel yang emosi, menatap tajam Damar untuk menjelaskan.
"Iya, Mas. Bima adalah dalang pembulian itu." jawab Damar yang terdengar lambat, takut menatap mata tajam Aiziel.
"Ternyata anak itu tidak hanya pembawa bencana di ruas jalan kota, tapi di sekolah kalian juga!" timpal Syahil yang mengepal kuat tangannya.
"Sebenarnya Bima tidak sendirian, Mas. Ada seorang siswi yang membantu Bima selama melancarkan aksi pembulian itu terhadap Adek." ujar Damar yang melihat ke arah Wulan.
"Siapa Damar?" serkas Aiziel yang semakin dibuat emosi mendengar hal ini.
"Zivana, Mas. Dia anak Bu Kinan. Anak kepala sekolah sekaligus anak pemilik dari sekolah itu. Zivana adalah kekasih Bima." jawab Damar yang melihat ketiganya.
Aiziel, Syahal, dan Syahil saling pandang terperangah. Begitu pula dengan Damar dan Wulan yang saling pandang, bukan terkejut apalagi terperangah. Sepasang anak kembar itu hanya saling melempar pandangan sendu, mengingat kenangan buruk yang dialami oleh salah satu di antara mereka dan mereka tidak pernah menceritakan hal ini pada siapa pun, termasuk pada Dhana.
Hening, semuanya terdiam sesaat tanpa menyadari keberadaan sepasang mata yang berdiri di ambang pintu, menatap sendu ke arah sang putri yang baru ia ketahui kemarin kalau sang putri menjadi bahan pembulian di sekolahnya. Pemilik sepasang mata itu pun berjalan ke arah taman, menghampiri mereka semua.
"Kenapa kamu baru mengatakan hal ini sekarang Damar?"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
Nah, itu ada sedikit flashback untuk Dhana yang pernah patah hati 😂 sebenarnya itu juga pernah diceritakan oleh arwah Dhina pada boneps 5 di novel sebelumnya. Jadi patah hati Dhana, Kinan lah penyebabnya 🤭🤭🤭 cukup jelas 'kan? wkwk semoga tidak ada masalah dengan masa-masa itu ya 🤭 maka lunas sudah utang author untuk memberitahu ada hubungan apa di antara Dhana dan Kinan di masa lalu ✌️✌️✌️✌️
Terima kasih semuanya, ILY 3000 untuk kalian semua 🖤🖤🖤
__ADS_1