
...☘️☘️☘️...
Waktu terus bergulir, membawa mentari yang semula memancarkan cahayanya terang harus berotasi penuh, bertukar tempat dengan sang penguasa malam, hingga waktu maghrib pun sebentar lagi akan segera datang, menyerukan kepada semua umat manusia di muka bumi untuk melaksanakan kewajiban sebagai muslim.
Hening!
Semua orang yang duduk di ruang tamu terbungkam, mendengar rentetan cerita panjang Bram yang masih betah berdiri bersama Rumi di sampingnya, menatap keluarga besar Wulan yang terperangah tidak percaya kalau asisten pribadi Gibran berani melakukan semua ini demi Wulan.
"Jadi Pak Bram menembak Mas Al tadi hanya sandiwara untuk mengelabui geng motornya Dimas?" ujar Damar yang angkat bicara, memberikan tatapan kilat ke Bram.
"Benar, Damar. Saya benar-benar minta maaf karena selama ini saya sudah terlalu banyak menyakiti kamu dan adik kamu. Saya merasa bersalah. Setelah saya tau, bahwa kamu dan Wulan yang menolong adik saya, saya sadar. Kalau semua yang saya lakukan terhadap kamu dan Wulan adalah tindakan yang tidak benar. Saya benar-benar ingin minta maaf." ujar Bram, tetap menundukkan kepalanya.
"Tapi tindakan yang anda lakukan pada cucu saya ini sudah sangat keterlaluan!!!" pungkas Pak Aidi, menahan marah yang membuncah sejak mengetahui kebenaran.
"Saya minta maaf, Pak. Jika Bapak dan keluarga besar ingin menjebloskan saya ke kantor Polisi, saya siap! Saya siap menerima hukuman apapun, asalkan bisa menghapus kesalahan saya selama ini pada cucu anda." jawab Bram, tetap menundukkan kepala.
"Anda juga sudah membahayakan nyawa cucu kembar saya beberapa minggu lalu! Bahkan hukuman penjara saja masih tidak cukup untuk menghukum anda, Pak Bram!" pungkas Pak Aidi, tidak mampu menahan amarahnya lagi yang tersimpan selama ini.
"Saya tau, Pak. Oleh karena itu, saya siap untuk dihukum! Jika memang hanya itulah satu-satunya cara untuk menghapus dosa saya pada cucu-cucu Bapak." tutur Bram, tertunduk gusar namun hanya bisa pasrah.
Pak Aidi mendengus, memalingkan wajah yang semakin memerah setelah mendengar penjelasan panjang Bram. Sementara Bu Aini yang duduk di samping sang suami berusaha menenangkannya, mengusap lembut lengan suaminya itu agar tenang.
"Penjara kan saja dia, Yah! Orang jahat seperti dia sangat pantas untuk dipenjara!" pungkas Sadha yang tak kalah geram dan emosi pada Bram.
"Al sangat setuju dengan usulan Paklik, Opa!!! Orang seperti dia memang sudah seharusnya mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya!" pungkas Aifa'al, menatap kilat Bram yang tertunduk.
Damar dan Wulan saling pandang, begitu pula dengan Bu Aini dan Mala, Ammar dan Dhana, Syahal, Syahil dan juga Rainar yang masih berada di sana ketika mendengar penuturan Sadha dan Aifa'al yang tersulut dalam emosi, sedangkan Pak Aidi terdiam.
Hening!
Bram masih menunduk, berdiri di samping Rumi yang wajahnya sudah basah karena air mata. Mendengar penuturan keluarga besar Damar dan Wulan yang semakin memojokan sang kakak, kendati ia sangat tau bahwa sang kakak memang bersalah. Kepalanya terus menggeleng, seakan tak setuju dengan penuturan keluarga Wulan, membuat Rumi tidak bisa berdiam diri saja.
Bruk!
Pak Aidi terperanjat, mendapati seorang gadis yang bersimpuh di depan kakinya. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka sangat terkejut melihat pergerakan Rumi yang sangat cepat mendekati Pak Aidi. Sementara Bram hanya memicing mata, pasrah dalam tunduknya, menyadari sang adik yang melangkah lebar mendekati tuan rumah, memohon belas kasihan untuknya, membuat Bram semakin merasa bersalah.
"Saya mohon, Pak. Tolong jangan jebloskan kakak saya ke dalam penjara. Saya mohon. Saya tau, kalau kakak saya sangat bersalah tapi semua itu bukan sepenuhnya kesalahan kakak saya. Kakak saya hanya menjalankan tugasnya, demi mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan saya. Saya mohon, Pak. Jangan jebloskan kakak saya ke dalam kantor Polisi. Hanya beliau yang saya punya saat ini. Kalau Bapak menjebloskan kakak saya ke kantor Polisi, lalu bagaimana nasib saya? Saya mohon, Pak. Maafkan semua kekhilafan yang telah kakak saya perbuat."
Rumi menangis pilu, menyentuh kaki Pak Aidi yang terpaku di hadapannya saat ini, menatapnya tajam namun ada tumpukan bulir yang dapat Rumi tangkap dari mata lelaki paruh baya itu. Pak Aidi tau bahwa gadis yang ada di depannya sekarang ini memang tengah sakit, bahkan penyakit gadis itu sama persis dengan sang putri yang sudah meninggal 20 tahun yang lalu.
"Saya mohon, Pak..." ucap Rumi, lirih.
Pak Aidi bergeming, menatap nanar gadis yang bersimpuh di depannya. Ingin sekali menolak, namun hati nuraninya berbicara. Mencegahnya melakukan semua itu pada seorang gadis yang jika diperhatikan dengan seksama, usianya sangat sama dengan usia mendiang putri bungsunya, bahkan tidak hanya usianya yang sama, melainkan nasib hidup yang sama-sama tidak berpihak padanya.
Bruk!
Semua orang kembali dikejutkan, melihat Rumi yang semula bersimpuh tegar di kaki Pak Aidi, kini gadis itu pingsan tiba-tiba. Membuat semua beranjak, mengerumuni Rumi yang tergeletak lemah di atas lantai.
"Adek...!"
Bram terpekik, mendapati sang adik yang sudah pingsan dengan mata sembab nya. Membuat Dhana tersentak saat panggilan Bram kepada Rumi terngiang di telinganya, membuatnya teringat masa-masa sulitnya bersama sang adik 20 tahun lalu, di mana sang adik juga tengah berjuang melawan penyakit yang bersarang di dalam tubuhnya.
"Biar saya periksa!" seru Ammar.
Bram pun bergeser, membiarkan Ammar memeriksa kondisi adiknya dengan leluasa. Sementara Pak Aidi, Bu Aini, Sadha, Dhana, Mala dan anak-anak masih mengerumuni sofa yang digunakan Rumi untuk berbaring.
"Bagaimana kondisi adik saya, Pak? Dia baik-baik saja 'kan?" tanya Bram, gelisah.
__ADS_1
"Adik anda hanya kelelahan, Pak Bram." jawab Ammar, setelah sepersekian menit berkutat dengan alat medical miliknya.
"Benarkah Pak?" tanya Bram, takut.
"Anda tenang saja. Kondisi fisik adik anda masih sangat kuat. Anda harus bersyukur, karena tidak semua orang yang menderita penyakit kanker darah seperti adik anda ini masih bisa bertahan hidup sampai detik ini." jawab Ammar, mendadak sesak di ulu hati saat mengatakan hal itu.
"Baik, Pak. Terima kasih Pak." ucap Bram, menundukkan kepala sebagai hormat lalu duduk di sisi sang adik yang masih pingsan.
Ammar tersenyum getir, melihat kasih sayang Bram yang sangat nyata pada adiknya, membuat air matanya jatuh begitu saja, teringat dengan almarhumah sang adik yang sangat ia sayangi bahkan sampai saat ini. Tak dapat menahan rasa sedihnya yang tiba-tiba datang, membuat Ammar berlalu. Memilih pergi dan meninggalkan kerumunan keluarganya yang tengah melihat Rumi.
Langkah Ammar tak luput dari perhatian Dhana yang mengerti, karena ia pun juga merasakan hal yang sama dengan Ammar saat melihat kasih sayang Bram pada Rumi, membuatnya iri pada Bram karena lelaki itu masih bisa menyayangi adik kandungnya secara utuh tanpa harus memendam rindu.
"Sayang... lebih baik kamu ajak anak-anak untuk membersihkan diri ya. Lalu siap-siap untuk salat maghrib karena waktu maghrib sudah masuk. Aku akan menenangkan Ayah dan Ibu. Kita biarkan saja Bram dan adiknya di sini dulu sementara." tutur Dhana, berbisik pada sang istri yang berdiri di sampingnya.
"Baiklah Mas..." jawab Mala, tersenyum.
Dhana mengulas senyum, melihat Mala yang dengan telaten mengajak Aifa'al, Syahal-Syahil, Damar-Wulan dan Rainar untuk naik ke lantai atas tanpa membuat keributan lagi, membiarkan Rumi beristirahat barang sejenak. Senyum Dhana semakin mengembang saat melihat Mala memapa Aifa'al yang terluka kakinya, dan dibantu pula oleh anak-anaknya yang lain.
"Ayah, Ibu, Mas Sadha... lebih baik kita menunaikan salat dulu. Biarkan Bram dan adiknya di sini, biar mereka tenang dulu ya." tutur Dhana, berusaha meyakinkan mereka.
"Ibu setuju dengan saran Dhana. Biar adiknya Bram istirahat dulu. Setelah dia sadar, nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita." timpal Bu Aini, melihat Pak Aidi dan Sadha yang tidak suka Bram ada di sini.
"Ya sudah... Ayah mau salat dulu!" jawab Pak Aidi, dingin dan langsung berlalu pergi.
Bu Aini menghela berat, melihat suaminya yang memang masih emosi karena Bram.
"Ibu ke dalam dulu ya." ujar Bu Aini.
"Iya Bu..." jawab Dhana, tersenyum.
Bu Aini pun ikut beranjak setelah melihat Bram dan Rumi sekilas, meninggalkan Sadha yang masih bungkam dan marah bersama Dhana yang mengulum senyum saat memperhatikan sikap mas tengahnya.
Dhana menghela kasar, mendapati sikap Sadha yang sangat ia pahami, berbeda dengan Ammar yang entah sedang apa sekarang, setelah memeriksa kondisi Rumi. Menuntun Dhana untuk berjalan, mengikuti langkah Ammar yang sebelumnya menuju halaman samping rumah yang terasa sunyi.
"Mas..."
Diraihnya bahu sang mas sulung yang terguncang itu, bahu yang naik turun tak beraturan karena melepaskan tangisnya. Melihat Bram dan Rumi membuat Ammar merindukan adik kecilnya yang telah tiada. Dhana pun mendaratkan tubuhnya di sisi sang mas, mengulas senyum kendati hati kecilnya juga menangis pilu, merindukan sosok adik kembarnya yang sudah tiada.
"Maaf ya... Mas jadi cengeng seperti ini hanya karena melihat Bram dan adiknya." ujar Ammar, mengerti dengan sorot mata Dhana padanya.
"Dhana mengerti, Mas. Bahkan Dhana sangat mengerti perasaan Mas, karena Dhana juga merasakan hal yang sama. Dhana juga sangat merindukan Adek, Mas." ujar Dhana kuat namun air matanya jatuh.
Ammar tertunduk lagi, menahan bulir mata yang hendak berjatuhan lagi di depan sang adik. Sementara Dhana berusaha mengulas senyum kendati dipaksakan, karena sekuat apapun ia meraung dan menangis saat ini, tidak akan bisa merubah situasi yang nyata, bahwa adik perempuannya sudah tidak ada.
"Bram sangat beruntung karena kondisi adiknya masih kuat, hingga dia masih bisa bertahan melawan penyakit kerasnya itu. Sangat berbeda dengan kita ya, Dhana. Bahkan Adek pergi meninggalkan kita di saat Mas, Sadha dan kita semua tengah merasakan kebahagiaan yang utuh. Tapi Adek, dia justru pergi meninggalkan kita. Dan sekarang, Bram dan Rumi masuk ke dalam kehidupan keluarga kita. Mas jadi teringat dengan Adek dan Mas jadi kangen sama Adek." tutur Ammar, di sela isaknya.
"Kita semua merindukan Adek, Mas. Tapi siapa sangka Bram dan adiknya itu akan masuk ke dalam kehidupan keluarga kita dengan cara seperti ini, kehadiran mereka seakan menjadi pengingat kita pada Adek." ujar Dhana, terlihat lebih tenang sekarang.
"Kamu benar, Dhana. Bram yang terkenal jahat ternyata memiliki kisah pilu di dalam hidup bersama adiknya, seakan petunjuk untuk kita dan Bram sendiri." tutur Ammar, seketika hatinya yang sedih kini tersadar.
"Petunjuk? Maksud Mas?" tanya Dhana.
"Kamu masih ingat 'kan, saat Mas meminta kamu untuk mencari keberadaan Bram dan adiknya, tapi kamu tidak berhasil. Dan hari ini, Bram dan adiknya sendiri yang datang ke rumah ini, mengantarkan Wulan pulang. Semua ini petunjuk, Dhana! Petunjuk untuk kita yang ingin mencari keberadaan Gibran, dan petunjuk untuk Bram bertemu dengan Mas agar Mas bisa menyembuhkan Rumi." jawab Ammar yang merotasi full matanya.
"Maksud Mas, Mas ingin memberikan imbalan pada Bram dengan cara mengobati penyakit adiknya, jika dia mau memberitahu kita semua di mana keberadaan Gibran?" tanya Dhana, ingin mematikan maksud Ammar.
"Tepat sekali! Ternyata keahlian analisis kamu masih setajam dulu ya, Dik." celetuk Ammar, menggoda adik kembarnya itu.
__ADS_1
Dhana pun terdiam, berusaha menimbang perkataan Ammar yang membuatnya ragu tiba-tiba. Bukan Dhana yang meragu, tapi Dhana ragu apakah keluarganya yang lain akan menerima usulan Ammar seperti ini?
"Sadha tidak setuju, Mas!"
Ammar dan Dhana terlonjak, mendapati Sadha yang muncul secara tiba-tiba dan menatap mereka dengan tatapan tak suka.
"Sadha..." ujar Ammar, beranjak.
"Sadha sudah mendengar semuanya, dan Sadha yakin kalau Ayah, Ibu dan Mala juga tidak akan setuju dengan usulan Mas itu!!! Masa iya, dengan begitu mudahnya kita membantu orang yang sudah menyakiti bahkan membahayakan jiwa anak-anak!" pungkas Sadha yang tidak suka sejak tadi dengan kedatangan Bram dengan adiknya.
"Bukan seperti itu maksud Mas, Sadha! Kamu lihat sendiri bukan, kedatangan Bram dan adiknya secara tiba-tiba tanpa kita mencarinya, apakah semua ini kebetulan? Mas merasa kalau langkah Bram ke rumah ini sudah menjadi takdir yang di atas untuk penyelesaian masalah Mala dan Gibran!!!" jawab Ammar, meyakinkan Sadha agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Tapi bukan berarti Mas harus mengurusi adiknya yang sedang sakit itu! Pokoknya Sadha tidak setuju jika Mas membantu dia!" pungkas Sadha, tidak setuju dengan usulan Ammar.
"Sadha... kenapa kamu jadi pendendam seperti ini sih? Apa kamu tidak melihat kondisi adiknya Bram yang pingsan tadi?" timpal Ammar, menatap heran sang adik.
"Sadha bukan dendam, Mas! Sadha hanya tidak suka jika keluarga kita berurusan lebih jauh dengan orang asing seperti mereka!!! Apalagi lelaki itu sangat jahat! Dia hampir mengancam nyawa anak-anak, terutama nyawa putra Mas sendiri!!!" jawab Sadha.
"Mas... tapi usulan Mas Ammar bisa kita coba dulu 'kan? Tidak ada salahnya juga kalau kita mencobanya." timpal Dhana.
"Mas tidak setuju! Titik!" tegas Sadha.
Ammar menghela berat, sifat asli Sadha ternyata masih ada sampai saat ini, tidak menyukai keberadaan orang baru di dalam keluarga mereka apalagi orang itu jahat, sangat pantang bagi seorang Sadhajiwa. Sementara Dhana pun demikian, helaan nafas berat juga terdengar dari mulutnya.
"Sadha... apa kamu tidak bisa merasakan, apa yang Mas dan Dhana rasakan saat ini? Apakah kamu tidak merasakan sesuatu, di saat melihat secara langsung betapa besar kasih sayang Bram pada adiknya? Apakah kamu lupa, kalau posisi Bram saat ini juga pernah kita lalui? Melihat dan menyaksikan langsung penderitaan adik perempuannya yang sedang sakit keras. Apa kamu lupa, kalau kita juga pernah ada di posisi Bram?"
Sadha terhenyak, menatap Ammar yang juga menatapnya sendu. Ketidaksukaan dirinya pada Bram, membuatnya lupa akan semua itu, bahwa ia juga pernah mengalami apa yang dialami oleh Bram sekarang ini.
"Kalau Adek ada di sini, mungkin dia juga akan setuju dengan usulan Mas. Mas tidak bermaksud untuk mengambil kesempatan dibalik kesadaran Bram atas perbuatannya. Mas hanya ingin memenuhi janji Mas pada Adek yang tidak bisa Mas penuhi, sehingga Adek harus pergi meninggalkan kita semua." tutur Ammar yang tercekat, sesak rasanya.
"Maksud Mas?" tanya Sadha, heran.
"Mas pernah berjanji pada Adek, bahwa Mas pasti bisa menyembuhkan penyakit kankernya. Tapi Mas tidak bisa memenuhi semua itu karena... karena ternyata Allah lebih menyayangi Adek." jawab Ammar.
Sadha kembali diam, membuat memori lama yang sudah berlalu berputar lagi di dalam kepalanya. Sementara Dhana tetap diam, mengerti dengan maksud sang mas.
"Mas hanya ingin memenuhi janji yang pernah Mas ucapkan pada Adek, melalui adiknya Bram! Mas ingin menyembuhkan penyakitnya Rumi agar nasib Bram tidak sama seperti kita, Sadha." timpal Ammar.
Sadha memicing mata, menghela berat seberat hatinya yang tidak rela jika sang mas sulung melakukan niat baiknya pada Rumi, adik dari asisten pribadinya Gibran. Orang yang hampir membuat Dhana mati, orang yang sudah mencelakai keponakan kembarnya, orang yang sudah meneror Wulan dan ingin menculik Wulan kembali dengan cara membayar anak geng motor seperti Dimas. Lalu apakah kini ia harus merelakan Ammar membantu adik Bram, yang jelas-jelas kalau kakaknya itu jahat?
"Mas... tidak semua kejahatan itu harus dibalas dengan kejahatan pula, Mas!!! Mas ingat, bagaimana cara Adek membuat Kak Mira menyadari kesalahannya? Tanpa rasa dendam, Adek membantu Kak Mira agar Kak Mira bisa melihat keindahan dunia ini, dan akhirnya Kak Mira bertaubat 'kan Mas? Cara Adek bisa kita gunakan untuk saat ini, Mas. Tidak baik kalau kita juga menyimpan dendam pada orang, seperti pesan Imam." tutur Dhana berusaha meyakinkan Sadha.
Sadha pun menghela berat, berusaha menghempas rasa kesal dan amarahnya pada Bram dan Gibran yang memuncak.
"Baiklah! Terserah Mas Ammar saja!!!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All 😇😇😇
__ADS_1
Kalau udah teringat Dhina pasti bakal panjang buanget 🤧 maaf ya kakak2 kalau part ini bikin kalian bosan 😚 besok kita cus lanjut lagi ya, stay selalu di kisah Wulan ❤️