
...🍁🍁🍁...
"Mas..."
Motor yang melaju kencang sejak tadi terpaksa dihentikan paksa ketika Wulan menarik jaket Aifa'al dari belakang, membuat Aifa'al terkejut dan langsung menepikan motornya. Diikuti juga oleh Syahal dan Syahil yang membawa Damar, ikut menepikan motor saat melihat motor sang mas tengah menepi.
"Ada apa Dek?" tanya Aifa’al, menoleh ke arah Wulan.
"Kita mampir ke toko buku sebentar ya, Mas. Ada buku kuliah yang harus Adek beli." jawab Wulan, dengan bahasa isyaratnya.
"Di depan ada toko buku besar, Mas. Kita ke sana saja." timpal Syahil, mengerti dengan bahasa sang adik.
"Ya sudah, ayo kita ke sana." seru Aifa’al, menghidupkan kembali motornya.
Ketiga motor itu pun melaju lagi, hanya butuh menyebrangi jalan saja untuk menjangkau jarak ke toko buku. Kini kelima cucu dari pasangan Pak Aidi dan Bu Aini itu telah tiba di sebuah koto buku yang lumayan besar, membuat Wulan takjub.
"Ayo, Dek. Kita cari buku yang Adek perlukan untuk kuliah." ujar Aifa’al, merangkul bahu sang adik dan berjalan.
"Besar sekali toko bukunya, Mas. Sudah seperti mall saja." timpal Wulan dengan bahasanya, berjalan di antara para masnya sembari mengedar ke semua sisi toko buku.
"Di sini toko yang paling lengkap, Sayang. Adek mau mencari buku apapun pasti ada disini. Nah sekarang Adek ingin mencari buku apa?" jawab Aifa’al, masih diposisi nyaman, merangkul bahu sang adik.
"Kita ke sana saja, Mas. Sepertinya buku yang Adek cari ada di sana." ujar Wulan, menunjuk ke sisi dimana bukunya berada.
"Kalau begitu Syahal, Syahil sama Damar ke sana ya, Mas." timpal Syahal, menunjuk ke arah lain, berniat untuk berpencar dan mencari buku juga.
"Damar ikut dengan Adek dan Mas Al saja, Mas. Mas dengan Mas Syahil saja yang ke sana ya." jawab Damar, dengan dinginnya.
"Ya sudah, biarkan Damar dan Adek bersama Mas. Kalian pergi saja. Nanti kita bertemu di lobby lagi ya." jawab Aifa’al, paham.
Syahal dan Syahil hanya mengangguk, bukan tak paham dengan sikap Damar yang memilih mengekori Aifa’al dan Wulan, justru karena sangat paham Syahal melontarkan pernyataan seperti tadi. Hingga akhirnya mereka pun berpisah, Syahal dan Syahil ke arah kiri, sedangkan Aifa’al, Damar dan Wulan ke arah kanan.
"Adek ke sana dulu ya, Mas." ujar Wulan, menoleh ke arah Aifa’al dan Damar.
Aifa’al dan Damar mengangguk, dengan senyum manis di wajah tampan mereka masing-masing yang dapat memikat semua wanita yang ada di sana, kendati senyuman manis itu untuk sang adik, tapi siapa sangka jika senyuman manis itu mampu membuat semua mata pengunjung, terkhususnya pengunjung wanita menjadi terpikat. Namun siapa yang peduli, baik Aifa’al maupun Damar tidak menghiraukan hal itu, mereka pun ikut menyibukkan diri, melihat-lihat buku yang ada di sekitar, sembari menemani sang princess kecil yang tengah asyik mencari bukunya.
"Damar minta maaf, Mas."
Tangan yang tadinya asyik membolak-balikan lembar buku seketika terhenti, mendengar permintaan maaf dari sang adik, menuntun kepala Aifa’al menoleh, menatap Damar yang menatapnya penuh sesal dan rasa bersalah.
"Maaf untuk apa?"
"Untuk sikap Damar tadi malam, tadi pagi, dan saat di kampus tadi, Mas."
Aifa’al menghela, kekesalannya terhadap Damar sejak tadi malam, hingga berlanjut perdebatannya tadi pagi di gerbang kampus hanya karena perihal sepele, lalu berlanjut dengan pertengkaran tak berfa’edah bersama Dimas yang hampir membuat nama Aifa’al sebagai mahasiswa senior di kampus tercoreng, kini menguap seketika. Berganti senyuman manis, sembari mengusap sayang kepala sang adik walaupun sang adik kini telah menjelma menjadi pria tampan yang dewasa.
"Tidak perlu minta maaf. Mas mengerti perasaan kamu." jawab Aifa’al, mengulas senyum, meyakinkan Damar agar tak merasa bersalah lagi.
"Terima kasih, Mas." jawab Damar, masih canggung.
Aifa’al mengangguk, senyum manisnya mampu menenangkan hati Damar yang gelisah. Kini perang dingin di antaranya dengan sang adik telah usai, kembali pada topik hari ini. Wulan yang sudah berada di ujung rak buku masih terlihat antusias, melihat hingga membaca buku yang ada sesuai yang dibutuhkan. Sedangkan Damar pun demikian, setelah meminta maaf pada Aifa’al membuat hatinya tenang, ikut melihat-lihat beragam buku yang mungkin saja juga ia perlukan nantinya. Demikian pula dengan Aifa’al, pemuda yang sedang dalam proses menyusun skripsi itu juga ikut mencari bahan untuk membantu dalam proses menulis skripsinya.
Tanpa mereka semua sadari, bahwa sejak mereka sampai, ada tiga pasang mata dari pemuda-pemuda tampan yang tengah mengintai. Terus melihat dan memperhatikan gerak-gerik Wulan dari jauh tanpa sepengetahuan Aifa’al dan Damar yang mulai lengah.
"Apa rencana lo selanjutnya?" tanya salah satuny yang terus memperhatikan Wulan dan sekitar.
"Bawa gadis bisu itu ketika kakaknya lengah!" jawab pemuda yang jika dilihat dapat dipastikan, bahwa dialah pimpinannya.
"Mau lo apakan si bisu itu?" tanya salah satu pemuda lagi.
"Gue akan memberikan syok terapi pertama untuk kedua kakak dari gadis bisu itu. Sebagai balasan, karena perbuatan mereka tadi terhadap gue!" jawab pemuda itu dengan seringai liciknya.
Kedua pemuda yang disisi pemuda itu pun hanya mengangguk patuh. Lalu ketiganya beranjak, mengambil posisi masing-masing sesuai rancangan rencana yang telah dibuat tadi.
***
"Stop, Pak…!"
Siang pun menyingsing, matahari semakin bergerak naik ke atas langit, menandakan bahwa siang akan segera berlalu dan akan berganti dengan sore. Walau demikian tak membuat toko buku itu sepi pengunjung, melainkan akan semakin ramai hingga malam menjelang. Tampak sebuah mobil berjenis Pajero Sport hitam berhenti di halaman toko buku, membawa seorang pria tampan turun setelah memberikan aba-aba pada sang sopir untuk berhenti di tempat yang pria itu inginkan.
__ADS_1
"Aden mau kemana?" ujar sang supir di atas mobil.
"Tunggu di sini sebentar ya, Pak. Saya ingin mencari buku untuk keperluan penelitian saya. Saya tidak akan lama kok" ujar sang majikan muda, membuka pintu mobilnya.
"Tapi Den…
Belum sampai si sopir melanjutkan perkataannya, sang majikan muda pun beranjak masuk ke dalam tanpa menghiraukan sang sopir. Membuat si sopir pasrah selain mengikuti kehendak sang majikan muda, daripada melawan yang akan membuatnya rugi.
***
"Damar… Adek dimana?"
Wulan yang semakin jauh jaraknya dengan Aifa’al dan Damar dibuat lupa waktu. Tau sendiri bukan bagaimana sifat si gadis bisu itu jika sudah bertemu dengan buku? Tentu saja akan asyik sendiri tanpa menghiraukan sekitarnya kendati sangat ramai. Membuat Aifa’al lengah, mendapati diri sudah berjam-jam berada di tempat yang sama bersama dengan Damar, namun tak sekali pun Wulan menghampirinya. Begitu pun dengan Damar yang sadar, bahwa keberadaan sang adik sudah tak dapat dideteksi lagi oleh mata setelah mendapati pertanyaan sang mas tengah.
"Bukannya Adek ada di sana tadi Mas?" ujar Damar menunjuk ke arah dimana Wulan semula berada.
"Sekarang tidak ada! Ayo kita cari Adek!" seru Aifa’al, gusar.
Damar mengangguk, mengambil langkah lebar mengikuti langkah sang mas kendati berpencar, mencari keberadaan sang adik yang entah tengah asyik dengan buku saat ini atau bagaimana, mereka pun tidak tau. Yang mereka pikirkan saat ini adalah, nyawa sang adik dalam bahaya. Apalagi jika teringat kejadian di kampus tadi, mengetahui kenyataan pahit bahwa Dimas telah kembali dan akan menuntut balas lagi pada Aifa’al melalui Wulan.
"Bagaimana Mas?" tanya Damar, panik.
"Adek tidak ada di sana." jawab Aifa’al, lesu.
"Apa mungkin Adek sudah turun ya Mas?" tanya Damar.
"Tidak mungkin, Damar." jawab Aifa’al panik seraya mengedar.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Damar, kian panik.
"Kita cari lagi! Kali ini harus lebih teliti!" seru Aifa’al.
Damar mengangguk patuh, kemudian berpencar lagi mencari keberadaan Wulan yang entah ke mana. Sementara Aifa’al dan Damar sibuk, tak lama kemudian Wulan pun datang. Hendak menghampiri kedua masnya yang menunggunya di posisi awal, namun tempat yang seharusnya di tempati Aifa’al dan Damar justru kosong, membuat Wulan panik. Berusaha mengedar, mencari keberadaan kedua masnya yang sedang mencari dirinya.
"Hai gadis bisu!"
Mata yang semula mengedar luas, berusaha mencari keberaaan kedua masnya yang entah kemana tiba-tiba terhenti, mendapati suara bariton yang sangat dikenalnya, membuat Wulan terdiam. Perlahan kepalanya menoleh, ingin memastikan jika prasangka buruknya itu salah.
Wulan terbungkam, matanya membola besar ketika melihat sosok yang ia cemaskan sesuai dengan prasangka buruk sementaranya tadi. Menuntun kakinya bergerak mundur, menyadari bahwa posisinya saat ini tengah terancam, dikelilingi oleh tiga orang pemuda tampan namun berhati iblis, menyeringai melihat ketakutannya, menatapnya dengan penuh nafsu setan yang terkutuk, membuat Wulan ketakutan hebat.
Bruk!
Wulan terpojok, bergerak mundur untuk menjauhi ketiga pemuda itu justru membuat tubuh mungilnya semakin terpojok. Hingga memancing seringai licik salah satu pemuda yang diduga, sangat menginginkan dirinya menderita.
"Aauu aaa aaauu?" seru Wulan, berusaha tenang.
"Jangan berisik dong, cantik. Kita cuma mau bersenang-senang sebentar saja kok. Ternyata walaupun bisu, lo cantik juga ya, Lan." ujar pemuda itu sembari mendekati Wulan dan mengelus wajahnya penuh nafsu.
"Aaaann aaaaaaatt!" seru Wulan, mendorong pemuda itu.
"Hahahahahahaha… untuk bicara saja lo tidak bisa. Bagaimana mau minta tolong? Ayo kita bawa gadis bisu ini!" ujar pemuda itu, menyeringai puas melihat Wulan.
Wulan semakin bungkam, tak mampu mengatakan apapun apalagi minta tolong, ditambah ketakutan diri yang semakin memuncak, membuat sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin ketika melihat sosok pemuda itu sejak tadi. Tubuh yang semakin beringsut mundur, dipaksa untuk pergi dengan cara yang tidak baik. Kendari sempat memberontak namun kekuatan diri tak mencukupi untuk melawan tenaga dua orang pemuda sekaligus yang membopong tubuhnya secara paksa, membuat Wulan meraung, berusaha minta tolong tapi tidak bisa.
***
"Ck! Kenapa susah sekali sih mencari buku saja?"
Tampak disisi lain seorang pemuda yang sedang kesal, tidak menemukan buku yang ia cari membuatnya bosan, kendari ditemani oleh seorang pelayan toko yang sejak tadi tak puas-puas memperhatikan dirinya yang terlihat sangat cool dan tampan, membuatnya jengah lalu beranjak pergi dari toko ini.
"Aaaaaa!"
Namun langkah kaki pemuda itu terhenti, tatkala mata yang mengedar liar mendapati sesosok gadis yang tengah dibopong paksa oleh dua orang pemuda, dan didampingi oleh pemuda lainnya yang membuatnya mengeryit. Kaca mata hitam yang semula bertengger di hidung mancungnya, kini dilepas. Berusaha menyipitkan mata ke arah sosok pemuda yang mengiringi langkah dua orang lainnya yang tengah membopong paksa tubuh seorang gadis kendati di pusat keramaian.
"Dimas?"
Pemuda itu berdecak, melihat pemuda yang mengiringi dua pemuda lainnya membopong tubuh seorang gadis yang ternyata adalah Dimas, sosok yang sangat ia kenal. Membuat pemuda itu menyipitkan lagi matanya, berusaha melihat siapa sosok gadis yang tengah dibawa oleh Dimas dan dua orang cecunguknya di keramaian toko.
"Wulan?"
__ADS_1
***
"Bagaimana ini Mas?"
Deru nafas Aifa’al berderu kencang, setelah menyisir semua sisi toko buku yang teramat luas itu untuk mencari keberadaan sang adik, membuatnya kelelahan. Beda hal dengan Damar yang semakin panik, efek tak menemukan sang adik kendati sudah disisirnya semua lantai yang ada di toko ini, membuatnya semakin gusar tak terkira.
"Mas juga bingung, Damar. Bisa-bisanya kita lengah dan kehilangan Adek seperti ini." jawab Aifa’al yang terengah-engah.
"Lalu sekarang bagaimana Mas? Adek belum tau betul dengan daerah sini." ujar Damar, masih mengedar berharap wujud sang adik dapat tertangkap oleh indera penglihatannya.
"Coba kamu telpon Syahil, Mas akan menelpon Syahal. Siapa tau saja Adek bersama mereka." ujar Aifa’al, berusaha tenang sembari meraih ponselnya.
Damar merogoh saku, meraih ponselnya lalu menghubungi Syahil. Begitu pula dengan Aifa’al yang bergegas menghubungi Syahal untuk menanyakan keberadaan Wulan yang saat ini entah memang sedang bersama mereka atau tidak.
***
"Ikat gadis itu di sini!"
Dimas, dialah pemuda yang ternyata membawa Wulan dengan paksa bersama dengan kedua cecunguknya. Sudahlah membawanya dengan paksa, kini Dimas mengikat Wulan di sebuah kursi di sebuah gudang kosong yang ada di dalam toko, posisinya disudut dan sangat pengap. Tiada siapapun orang yang berada di lokasi itu, melainkan mereka berempat.
"Aeaass aaauu!" seru Wulan yang menangis dan terikat.
"Apa? Gue tidak mengerti dengan bahasa lo! Hahaha…!
Wulan terengah, berusaha tenang namun situasi membuatnya semakin takut. Ditempat kosong seperti ini, tidak ada orang dan siapapun itu, hanya dirinya bersama dengan tiga orang pemuda yang tidak ada adabnya sama sekali terhadap sesama manusia apalagi perempuan, membuat pikiran Wulan berkelana jauh, takut sesuatu yang ditakutkan akan terjadi pada dirinya. Sementara Dimas dan kedua temannya terbahak puas, sesekali menatap Wulan dengan penuh nafsu, berniat untuk menakuti awalnya. Namun sesuatu yang tanpa diduga terjadi pada dirinya saat melihat betapa cantiknya Wulan beserta tubuh mungilnya.
"Wulan… andaikan saja lo tidak bisu, mungkin sekarang lo sudah menjadi kekasih gue karena sebenarnya lo itu tipe gue sekali. Cantik, putih dan mungil. Sungguh menggoda iman." ujar Dimas parau, mendekati wajah Wulan yang sudah berkeringat dingin.
"Kenapa tidak lo bantai saja sih, Dim? Lumayan pasti sangat menantang." jawab salah seorang pemuda, tak kalah nafsu saat menatap lebih intens kecantikan Wulan dari dekat.
"Sebenarnya gue sedang berusaha menahan. Tapi setelah dipikir-pikir, omongan lo tadi benar juga. Dengan begitu, gue akan puas banget. Puas melihat penderitaan Aifa’al dan Damar yang sombong itu dengan cara merusak adik kesayangannya ini." ujar Dimas dengan tatapan nafsunya yang memuncak.
Mata yang sudah basah itu terbelalak lagi, mendengar perkataan tidak senonoh yang bisa dimengerti ke mana tujuannya, membuat Wulan semakin ketakutan. Sementara Dimas semakin tidak terkendali, tangannya yang kotor itu mulai bekerja, membelai surai hitam Wulan yang kacau dengan lembutnya, berpindah ke wajah cantik Wulan, membuat Dimas semakin gila.
"Silakan bersenang-senang, Bro. Biar kita yang mengawasi situasi di luar. Selamat bersenang-senang." ujar salah satu pemuda lainnya.
Dimas mengangguk, tersenyum miring menatap Wulan yang sudah sangat ketakutan melihat tatapan nafsu Dimas dimatanya, membuat keringat dingin Wulan semakin bercucuran deras, bersama dengan air mata yang ikut berurai membasahi wajahnya sejak tadi.
"Gue pastikan, Lan. Hari ini adalah hari yang tidak akan pernah bisa lo lupakan. Begitu pun dengan kedua pawang lo yang sombong itu. Lo dan kedua kakak lo itu harus membayar rasa sakit yang pernah gue alami lima tahun yang lalu. Gue akan merenggut apa yang sudah lo jaga selama ini, seperti kakak lo yang sudah merenggut salah satu kaki gue. Karena terlibat masalah dengan lo dan Gibran, gue jadi kehilangan salah satu kaki gue, dan lo wajib membayarnya hari ini!"
Wulan tercengang, menggeleng iba saat mendengar perkataan Dimas yang parau penuh nafsu yang dapat dimengerti oleh gadis seusia Wulan. Kendati salah satu kakinya hanyalah kaki palsu, tak menyurutkan niat busuk Dimas untuk menjalani rencana dadakan ini. Membuat Wulan memberontak sesaat sebelum tangan kekar Dimas akhirnya mendarat di lengan Wulan dan…
Srek!
Lengan baju Wulan pun sobek, hingga memperlihatkan lengan atas Wulan yang tampak putih dan semakin memancing nafsu Dimas yang semakin kalang kabut. Bersiap ingin segera memangsa gadis bisu yang ada di depannya saat ini. Sementara Wulan kian tergugu, berusaha teriak namun tidak bisa, suaranya habis efek meminta tolong sejak tadi, kendati ia tau tidak akan ada orang yang mengerti dengan bahasa isyaratnya.
Bugh!
Bruk!
Suara benda jatuh dari arah luar membuyarkan Dimas yang hendak menjamah tubuh Wulan. Membuat Wulan lega sesaat, ternyata masih ada orang yang berkeliaran di tempat ini kendati itu hanya dugaannya semata.
Brak!
Pintu yang tadinya tertutup rapat, kini terbuka lebar akibat tendangan kaki seseorang yang berdiri tegap di dekat pintu saat ini. Sosok yang menatap itu pun berdecak, seraya membuka kaca mata hitamnya, membuat Dimas maupun Wulan tercengang melihat kedatangannya.
"Lepasin dia!" seru pemuda itu.
Bukan takut ataupun gentar, melainkan tergelak, itulah yang dilakukan Dimas saat menyadari kehadiran pemuda itu. Sementara Wulan dibuat bingung, mendapati adegan dua orang pemuda yang dulunya adalah teman dekat, namun kini sudah menjadi musuh bebuyutan yang saling menjatuhkan.
"Selamat datang kembali, Bimantara…!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All💖💖💖