Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 130 ~ Pencarian


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Damar berangkat dengan Mas Al dan Mas Syahal saja, Pi."


Kilau cahaya rembulan kini telah berganti, tersisihkan karena ada sang penguasa pagi yang akan menempati tahta singgasana hingga senja menjelang datang, akan bertukar kembali nanti setelah sang penguasa malam beristirahat untuk sejenak.


Semua penghuni rumah besar Pak Aidi terbangun, siap untuk menjalani hari yang tak kalah indah dan membahagiakan dari hari kemarin. Kini tampak lah semuanya yang sudah menduduki kursi meja makan masing-masing, siap untuk melakukan ritual berhukum wajib di setiap pagi hari sebelum beraktifitas bagi anggota keluarga rumah ini.


"Kamu berangkat dengan Syahal dan Syahil saja ya. Mas ada kuliah pagi ini." ujar Aifa'al, menolak untuk mengantar Damar Wulan ke sekolah.


"Bukannya jadwal kuliah Mas hari ini kosong ya?" timpal Syahil, cukup tau dengan jadwal kuliah rutin sang mas seraya melemparkan tatapan heran.


Aifa'al meraih gelas, meminumnya sampai habis setelah merasakan ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokan, membuatnya tersedak hingga semua mata tertuju padanya.


"Ada kuliah pengganti! Sebentar lagi 'kan mau ujian semester!" jawab Aifa'al.


"Ya betul juga sih, Mas. Ya sudahlah, kalian biar Mas dan Mas Syahal yang mengantar." ujar Syahil, tidak merasa aneh sama sekali dengan sikap sang mas tengah.


"Oke Mas..." jawab Damar, mengacungkan jempol.


Wulan mengulas senyum, menoleh ke arah Damar yang juga menoleh ke arahnya. Setelah itu Wulan giring matanya ke arah Aifa'al yang sesekali melihat ke arahnya, memberikan senyuman semangat untuk sang mas tengah yang akan mengawali paginya.


Aifa'al, Syahal dan Syahil memilih menginap di rumah sang oma setelah acara makan malam spesial tadi malam usai. Sementara Ammar, Ibel, Sadha, Vanny dan Aiziel memilih pulang ke rumah sebelum malam beranjak larut.


"Uncle minta maaf ya, jadi merepotkan kalian sejak kemarin. Awalnya Uncle yang akan mengantar Damar dan Wulan, tapi karena anty kalian harus terapi lagi, Uncle harus stay di rumah sampai Dokter Ali datang." tutur Dhana, tidak enak hati karena menyusahkah kedua keponakan kembarnya itu.


"Tidak masalah Uncle. Kebetulan hari ini Syahal dan Syahil sedang free. Jadi bisa antar jemput Damar dan Adek dengan leluasa hari ini." ujar Syahal, menenangkan sang uncle.


"Memang Mami harus terapi lagi Pi?" tanya Damar, menoleh ke arah sang mami yang asyik dan menikmati perannya sebagai ibu, menyuapi sang adik dengan sayang.


"Harus, Sayang. Karena Mami harus menjalani proses terapi yang sesuai prosedur rumah sakit agar Mami sembuh total. Ya, walaupun sebenarnya Mami sudah merasa lebih baik." timpal Mala seraya terus menyuapi sang putri di sampingnya.


"Prosedur harus tetap dipatuhi, Damar!!!" seru Aifa'al, tanpa melihat Damar.


"Iya, iya, Mas..." jawab Damar, melas.


Suara kekehan samar keluar serentak dari mulut semuanya, melihat raut wajah Damar yang berubah kecut setelah mendapat cibiran dari Aifa'al yang menggodanya.


"Kalau begitu Al pamit duluan ya Opa, Oma, Uncle, Anty." ujar Aifa'al, beranjak.


"Tapi ini 'kan masih pagi, Sayang." ujar Bu Aini, melihat sang cucu yang sudah siap.


"Al ada urusan di kampus, Oma. Al pamit ya. Assalamualaikum..." jawab Aifa'al, beranjak pergi setelah menyalami Pak Aidi, Bu Aini, Dhana dan Mala.


"Wa'alaikumsalam..." jawab semuanya serentak, kecuali Wulan.


Aifa'al melangkah lebar, meninggalkan semuanya yang masih menikmati sarapan.


"Mas Al aneh sekali pagi ini." ujar Syahil.


"Sudahlah, Sayang. Mungkin masmu itu memang sedang banyak kegiatan." ujar Bu Aini, menenangkan sang cucu kembar.


Syahil hanya mengangguk, membenarkan perkataan sang oma tentang sang mas. Sementara Wulan yang mulutnya terisi full, gadis itu melempar senyum manisnya pada Aifa'al yang tengah berjalan keluar namun dan sesekali memutar kepala, menoleh ke arahnya dengan senyum penuh arti yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.


"Ayo Dek! Nanti kita telat loh. Hari ini 'kan sudah mulai belajar." ujar Damar, membuyarkan lamunan sang adik yang tengah melamun menatap pintu rumah.


Wulan mengangguk patuh setelah tersadar dari lamunan, meraih tasnya yang diulurkan oleh sang mami di sampingnya dengan senyuman menghangatkan, lalu beranjak.


"Bekalnya dihabiskan ya, Sayang." ujar Mala, mengelus wajah sang putri dengan sayang lalu mengecup keningnya lama.


"Damar tidak dicium Mi?" umpat Damar, cemburu yang sebenarnya tidak ada.


"Sini Mami cium juga. Bekalnya dihabiskan juga ya, Sayang. Anak-anak Mami tidak boleh telat makan siang. Ingat!!!" tutur Mala, mengecup kening Damar seperti Wulan.


"Siap Mami..." sahut Damar seraya hormat.


"Kalau begitu Syahal sama Syahil menjalankan tugas dulu ya, Opa, Oma, Uncle, Anty." ujar Syahal, beranjak lalu menyalami semuanya satu per satu.


"Uncle titip adikmu ya, Nak." ujar Dhana, mengusap kepala Syahal.


"Uncle tenang saja. Kejadian kemarin tidak akan terulang lagi." jawab Syahal, tegas.


"Kalau sampai terjadi seperti kemarin lagi, kamu akan Opa sunat lagi!" seru Pak Aidi.


"Jangan Opa! Nanti harta pusaka masa depan Syahal bisa habis dong!" sahut Syahal, menutupi harta miliknya dari tatapan membunuh sang opa yang bercanda.


"Ya sudah... kalau tidak mau disunat lagi, maka kamu harus menjaga adik-adikmu dengan ketat dan baik. Khusus hari ini harus sampai mereka pulang!" titah Pak Aidi.


"Siap Jendral Komandan...!" sahut Syahal seraya hormat.

__ADS_1


Damar dan Wulan terkikik geli, melihat tingkah Syahal yang semakin hari malah semakin garing dan receh, memancing gelak tawa semuanya yang masih ada di sana. Setelah gelak tawa mereda, dua pasang anak kembar pun pamit pergi, berjalan keluar.


"Lebih baik kamu istirahat, Sayang. Biar Ibu sama Bi Iyah saja yang membersihkan semuanya. Kamu 'kan masih belum pulih seutuhnya. Ibu takut kamu sakit lagi nanti." ujar Bu Aini, berusaha menghentikan Mala yang terus membantunya berberes meja.


"Seharusnya Mala yang mengatakan itu pada Ibu. Biar Mala saja yang merapihkan semuanya. Lebih baik Ibu temani Ayah yang sudah bersantai di halaman samping." jawab Mala, menoleh ke arah sang ibu dengan seutas senyum di wajah cantik berserinya.


"Biar saja ayahmu itu bersantai sendiri. Ibu akan membantu kamu ya." ujar Bu Aini.


Mala terkekeh geli, mendapati sang ibu mertua yang begitu perhatian dengan kondisi kesehatannya, membuatnya terharu, mengucap syukur ribuan kali atas anugerah indah ini, hingga pekerjaan dapur dan meja makan pun akhirnya terselesaikan.


Bu Aini beranjak, menghampiri Pak Aidi yang tengah duduk santai menikmati sejuknya angina pagi di halaman samping rumahnya. Sementara Mala memutar tumit menuju kamar, tidak mendapati sang suami di ruang keluarga maupun ruang tamu, membuatnya bergegas menuju kamar.


"Mas... kamu di kamar?" sahut Mala, membuka pintu kamar lalu masuk.


"Iya Sayang. Aku baru saja selesai bicara dengan Pak Dewa untuk mengontrol Cafe." terang Dhana yang berbalik dan langsung menangkup wajah sang istri tercinta.


"Kalau begitu aku mau ke kamar anak-anak dulu ya. Aku ingin merapihkan tempat tidur mereka." ujar Mala, mengelus dada bidang sang suami yang terbalut kemeja khasnya.


"Jangan terlalu lelah ya, Sayang! Sebentar lagi Dokter Ali akan datang." ujar Dhana yang mendaratkan kecupan penuh cinta pada kening sang istri.


Mala mengangguk, lalu beranjak dari kamarnya meninggalkan sang suami. Sementara Dhana mengulas senyum, bahagia dan bersyukur tak terkira hingga detik ini, melihat sikap sang istri yang sudah kembali normal kendati masih harus menjalani terapi untuk penyembuhan sempurna sesuai prosedur rumah sakit dan anjuran sang dokter.


Drrrrttt!


Dhana terperanjat, mendapati getaran yang berasal dari ponselnya di atas nakas, membuatnya beranjak, mengambil ponsel yang menampakan nama sang mas sulung.


"Assalamualaikum Mas..."


"Wa'alaikumsalam... Dhana, kamu jadi mencari Bram 'kan?"


"Tidak bisa sekarang, Mas. Mala harus terapi pagi ini."


"Lalu bagaimana? Kalau tidak cepat masalah ini akan terus berlarut, Dhana!"


"Dhana akan menanyakannya pada Bu Kinan, Mas."


"Oh iya, Mas baru ingat kalau dia akan menyuruh anak buahnya untuk mencari Bram."


"Ya sudah, Dhana akan menghubungi Bu Kinan dulu."


"Nanti beritahu Mas! Assalamualaikum..."


Dhana memutus panggilan setelah menjawab salam Ammar, berlanjut menghubungi Kinan untuk menanyakan perkembangan kerja samanya yang masih jalan di tempat, membuat Dhana maupun Kinan hanya bisa saling memberi kabar, belum melakukan pergerakan yang pasti karena posisi Gibran pun masih belum mendapatkan titik terang kendati mereka sudah membayar mahal detektif yang diduga mampu menuntaskan masalah ini. Namun detektif cerdas yang sudah dibayar mahal pun ternyata juga bisa menyerah, mengeluh karena musuh kali ini terbilang licik, gesit dan penuh pertimbangan.


"Assalamualaikum Bu Kinan..."


"Wa'alaikumsalam Pak Dhana... ada apa Pak? Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin menanyakan perkembangan anak buah Bu Kinan dan detektif itu dalam pencarian Bram dengan adiknya. Apakah sudah ada perkembangannya?"


"Sudah, Pak Dhana. Sebenarnya saya juga ingin menghubungi Pak Dhana sejak tadi, tapi saya takut mengganggu, dan kebetulan saya pun juga baru sampai di sekolah."


"Lalu bagaimana perkembangannya Bu? Apakah Bram sudah ditemukan?"


Kinan terdiam, terdengar suara helaan nafasnya yang berat di balik telepon, menandakan akan ada berita yang tidak menyenangkan yang akan didengar oleh Dhana.


"Detektif bayaran kita sudah menemukan alamat yang sempat Bram tempati bersama adiknya tadi malam, Pak Dhana. Namun ketika anak buah saya pergi ke alamat itu saat pagi buta, ternyata Bram dan adiknya sudah tidak ada di sana. Saya rasa, Bram berhasil melarikan diri lagi dan membawa adiknya. Mungkin saja rencana kita sudah diketahui oleh Bram, Pak Dhana."


Dhana menghela berat, berusaha tenang kendati hatinya masih dirundung rasa takut, cemas jika sewaktu-waktu Bram muncul.


"Jadi belum ada perkembangan lagi dari anak buah anda, Bu Kinan?"


"Belum, Pak Dhana. Saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Sepertinya memang harus tangan kita sendiri yang ikut campur mencari kedua manusia jahat dan licik itu!"


"Saya merasa juga demikian. Tapi untuk sekarang saya tidak bisa ikut andil karena istri saya harus terapi lagi."


"Tidak apa, Pak Dhana. Saya mengerti dan memang lebih baik anda fokus dulu pada kesehatan istri anda. Masalah kerja sama kita, tanpa Pak Dhana ikut andil pun saya masih bisa menangani semuanya sendiri."


"Terima kasih, Bu Kinan. Maaf jika semua masalah saya ini malah merepotkan anda."


"Tidak, Pak Dhana. Masalah ini tidak hanya masalah anda, tapi ada masalah saya juga di dalamnya. Saya harus merebut kembali Zivana dari tangan papanya karena saya tidak ingin putri sambung saya mendapat pengaruh buruk dari papa kandungnya itu."


"Iya, Bu Kinan. Saya mengerti dan semoga saja masalah ini bisa selesai secepatnya."


"Aamiiiin... semoga saja Pak Dhana."


"Kalau begitu saya tutup dulu ya, Bu. Jika ada perkembangan tentang Bram dengan adiknya, tolong cepat beritahu saya!"


"Baik, Pak Dhana. Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam..."


Dhana menghela nafas berat, menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, setelah mengakhiri pembicaraan dengan Kinan, ia bergegas mengirim pesan pada Ammar, memberitahu sang mas sulung apa yang sudah ia dengar dari Kinan melalui telepon. Membuat Dhana semakin frustasi, gelisah berkepanjangan memikirkan masalah yang tak kunjung memperlihatkan penyelesaian.


***


Srek!


Srek!


Srek!


Perlahan sebuah laci meja kerja itu mulai terbuka, memperlihatkan sesuatu yang ia butuhkan saat ini, membuat seringai tipis terlukis jelas di wajah cantik gadis belia itu.


"Ternyata di sini Papa menyembunyikan ponselku selama ini. Papa benar-benar sangat menyebalkan ternyata!!! Bahkan lebih menyebalkan dari pada Bunda Kinan!"


Siapa lagi gadis belia yang dimaksud itu kalau bukan Zivana. Gadis yang tak mau kalah liciknya dengan kelicikan sang papa. Dengan keberanian yang sudah terkumpul sejak kemarin, membuat gadis itu bergerak cepat memasuki kamar pribadi sang papa yang ada di Villa terpencil ini, lalu mencari barang miliknya yang selama ini dirampas oleh sang papa secara halus dan lembut, hingga membuatnya tertipu dengan sikap sang papa.


"Dengan ponsel ini aku bisa menghubungi Bunda dan meminta bantuannya. Bunda pasti masih sayang sama aku, walaupun Papa sudah menyakiti dengan sangat keji!"


Zivana menyeringai, memutar tumit untuk segera beranjak dari kamar pribadi Gibran yang tengah membersihkan diri di dalam kamar mandi, sebelum sang empunya itu keluar dan memergoki dirinya yang telah lancang masuk ke dalam privasi sang papa.


"Zivana...!"


Kaki yang baru saja sampai di ambang kebebasan dengan tangan yang baru saja hendak meraih handle pintu itu, terhenti. Zivana memicing kalut, mendengar suara bariton sang empunya kamar keluar dari tempat meditasi paginya kini memergoki dirinya yang berada di wilayah kekuasaan.


"Apa yang sedang kamu lakukan di kamar pribadi Papa?"


Zivana mendengus samar, menggeram dalam hati saat mendengar pertanyaan sang papa yang jauh dari kata ramah dan lemah lembut seperti dulu. Membuatnya memutar tumit kembali, menoleh ke arah sang papa yang menatapnya penuh telisik.


"Heheheh Papa... ternyata Papa sedang mandi ya. Zivana ke sini mencari Papa." tutur Zivana yang berusaha tenang seraya menyembunyikan ponselnya di belakang.


"Apa yang ada di belakang kamu? Pasti kamu mengambil sesuatu di kamar Papa, bukan?" tukas Gibran, menelisik Zivana.


"Ah iya... Zivana pinjam buku ini ya, Pa. Zivana benar-benar bosan terus-terusan rebahan di kamar. Zivana keluar ya, Pa."


Tanpa menunggu jawaban Gibran, gadis belia itu bergegas keluar dari kamar itu sebelum pertanyaan lainnya didaratkan sang papa padanya. Sementara Gibran berdecak lirih, melihat tingkah sang putri yang sudah kembali namun membuatnya curiga. Pasalnya dari sejak kemarin, sang putri terus mengurung diri di dalam kamar, marah padanya setelah kebenaran bahwa dirinya menipu Bima telah diketahui Zivana.


Ya... Gibran pun juga sudah mengetahui bahwa pembicaraannya dengan Bram didengar oleh Zivana secara diam-diam, membuat Gibran emosi pada Bram, telah ceroboh dan malah membahas masalah yang menyangkut Bima tanpa mengetahui keberadaan Zivana. Namun Gibran hanya diam, membiarkan sang putri melepaskan kekesalannya dan mengurung diri di kamar.


Lalu bagaimana dengan Bram? Tentu saja lelaki itu dimaafkan dengan mudah karena Gibran teringat akan kerja kerasnya selama ini, membuat Gibran tak terlalu memikirkan hal itu karena bangkai yang disimpan akan tercium juga nantinya oleh Zivana.


"Sikap Zivana aneh sekali. Apa dia sudah tidak marah lagi padaku, karena aku telah memisahkan dia dari kekasihnya yang berandalan itu dan telah menipunya? Ahh, semoga saja dan itu sangat bagus bagiku."


Gibran menghela lega, mengira bahwa Zivana sudah tidak marah lagi padanya, padahal di belakangnya entah apa yang sedang direncanakan oleh gadis belia itu. Lalu Gibran mengambil langkah, duduk di tepi ranjang setelah mengambil ponselnya, menghubungi seseorang yang sampai saat ini belum ada kabar, seakan hilang ditelan masa tanpa meninggalkan pesan dan jejak.


"Ck! Ke mana Bram? Kenapa ponselnya tidak aktif dari semalam. Apa dia sedang mengurus adiknya yang sedang sekarat itu, sampai lupa dengan pekerjaan di sini?"


Gibran mendengus kesal, menatap kesal layar ponselnya yang sejak tadi berusaha menghubungi sang asisten kepercayaan. Namun alhasil tetap sama, ponsel Bram tidak bisa dihubungi, membuatnya geram.


"Hallo... di mana kalian sekarang?"


"Kami semua di Basecamp, Pak."


"Kalian ingat dengan tugas tadi malam?"


"Sangat ingat, Pak."


Gibran menyeringai, puas mendengar respon sang anak buah di seberang sana dengan penuh semangat dan ambisi yang tinggi, membuatnya semakin tidak sabar menjalankan rencana permulaan kali ini, sebelum dua rencana rahasia yang ia siapkan meluncur secara bersamaan nanti.


"Bagus! Jalankan dengan baik dan jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun itu! Sebentar lagi tiga orang anak buah saya akan datang ke sana! Mereka sangat kuat dan kalian harus berhasil! Kalian mengerti!"


"Kami semua mengerti, Pak."


Seringai licik Gibran semakin terlukis jelas, membentuk wajah seram hingga menutupi ketampanannya yang sebenarnya nyata.


"Mari kita lihat, Mala. Apakah rencana ini akan semakin membuatmu ketakutan atau akan membuatmu gila? Aku sudah tidak sabar ingin melakukan sesuatu pada putri kesayanganmu yang kamu benci itu, Mala."


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2