Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 93 ~ Bram CS Zivana


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Jadi Nona sudah tau semuanya?"


Di depan pagar rumah, Zivana dan Bram tampak berdiri saling berhadapan. Zivana menarik Bram keluar pagar, bicara empat mata dengan asisten sang papa, jauh dari pendengaran sang bunda yang bisa datang kapan saja di saat emosi tengah berkobar.


"Sudah! Bima yang memberitahu saya. Di saat kami sedang duduk di Cafe, tiba-tiba datang seorang anak bernama Aifa'al. Dia datang mendekati saya, Bima dan Dimas. Memang terlihat marah, namun sikapnya lebih tenang dibandingkan anak yang ikut datang dan ingin langsung memukul Bima. Aifa'al mengancam Bima dan Dimas. Lalu dia juga sempat memperingatkan saya dan sebelum pergi anak itu mengatakan bahwa Papa ada di dalam sell tahanan. Karena itu saya mendesak Bima dan saya sudah tau!"


Bram terperangah, tidak percaya tatkala putri dari sang majikan mengetahui rencana licik penculikan Damar dan Wulan dari Bima, membuat Bram sempat geram, Bima tidak bisa menyimpan rahasia sesuai perjanjian.


"Jadi Bima yang..."


"Bukan Bima, saya yang memaksanya!"


Bram berdecak samar, meracau marah dalam hati saat mendengar Bima tidak professional dalam bertindak, membuat Zivana tau semua rencana jahat sang papa.


"Saya akan membantu Pak Bram untuk membujuk Bunda!!! Karena saya sangat mendukung tindakan Papa!!!" ujar Zivana.


"Nona Zivana tidak marah pada Tuan?" tanya Bram yang kembali dibuat terkejut.


"Hahahahaha... justru saya sangat senang dengan rencana Papa!!! Kenapa Papa tidak melibatkan saya dalam hal ini? Saya sangat membenci kedua anak kembar itu! Karena mereka, saya selalu dimarahi Bunda Kinan. Jadi mulai sekarang saya akan membantu. Saya tidak akan ikut ke Singapore tapi saya akan membuat Bunda Kinan pergi ke sana!" tutur Zivana dengan penuh seringai licik.


"Tapi bagaimana caranya Nona?" tanya Bram, tidak menyangka dan terkejut kini menjadi satu saat melihat respon Zivana.


"Pak Bram harus melakukan ini!!!" seru Zivana, mengulur kertas kecil pada Bram.


Bram terbelalak, melihat isi kertas kecil itu berisi beberapa nomor telepon penting di ruangan kerja sang papa yang sempat ia temukan. Menjelaskan rencana yang akan dilakukan oleh asisten sang papa dengan secarik kertas itu.


"Bagaimana? Pak Bram mengerti?"


Bram tersenyum miring, beranjak tegap setelah mendekatkan telinganya kepada putri sang majikan, mendengar rancangan yang tak kalah terbaik dari rancangan sang papa, sama-sama licik dalam kejahatan.


"Saya mengerti Nona Zivana!"


***


"Assalamualaikum..."


Pintu kamar rawat VIP terbuka perlahan, memperlihatkan dua orang tua beranjak senja itu masuk ke dalam kamar rawat, melangkah perlahan tanpa menimbulkan suara karena tidak ingin sang putra yang tengah tertidur di atas sofa terbangun.


Pak Aidi dan Bu Aini mengedar pandangan, melihat sang putra yang tertidur di atas sofa, lalu melihat sang menantu dan sang cucu yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Memberikan sensasi nyeri di dalam hati, tidak tega melihat ketiganya yang teraniaya hanya karena masalah dendam masa lalu.


"Sepertinya Dhana kelelahan, Mas." ujar Bu Aini yang menatap lekat wajah sang putra.


"Biarkan saja dia tidur, Sayang. Putra kita pasti sangat kelelahan setelah menghadapi banyak ujian dalam keluarga kecilnya." ujar Pak Aidi seraya merangkul bahu sang istri.


"Iya Mas, kamu benar. Kalau begitu, aku ingin melihat cucu dan menantu kita dulu ya." jawab Bu Aini, menunjuk kedua bed.


Pak Aidi tersenyum, membiarkan sang istri melangkah perlahan menuju bed sang cucu dan menantunya terbaring. Sementara Pak Aidi sendiri memilih duduk di samping sofa yang ditempati Dhana untuk berbaring tidur.


"Wulan... cucu Oma yang cantik, bangun Nak. Oma ada di sini untuk Wulan. Jangan tidur terlalu lama, Sayang. Kasihan papimu."


Bu Aini meracau, mengusap lembut wajah sang cucu yang tampak pucat, membuat kepingan kenangan lama akan sang putri berputar kembali. Begitu jelas dan masih tersimpan rapih, sang putri juga tak kalah sering terbaring lemah di bed rumah sakit seperti yang dialami oleh sang cucu saat ini, membuat hati Bu Aini sebagai oma meringis kesakitan, memancing air dari telaga bening luruh begitu saja.


Bu Aini berjalan, mendekati bed sang menantu yang masih terbaring lemah tak berdaya, dengan infus di tangan disertai selang oksigen di hidung, menandakan bahwa kondisi sang menantu sedang tidak baik.


"Kenapa kamu memendam masa kelam hidupmu sendiri Sayang? Kenapa kamu tidak mengatakannya pada Dhana atau pada Ibu? Kami ini keluargamu, masalah hidupmu masalah kami semua juga, Nak! Bangun, Mala! Jangan membuat Ibu takut kehilangan lagi! Sudah cukup Dhina pergi dari hidup Ibu! Kamu jangan, Nak! Jangan!"

__ADS_1


Tangis Bu Aini tak terelakkan, mengusik ketenangan Dhana yang sedang tertidur. Sementara Pak Aidi langsung beranjak tatkala melihat punggung sang istri mulai naik turun tak beraturan, memberi isyarat bahwa sang istri harus segera ditenangkan.


"Ayah, Ibu..."


Dhana mengerjap, mengucek cepat mata yang baru terpejam beberapa waktu lalu, membuatnya terduduk saat melihat sang ayah dan ibu berdiri di samping bed Mala.


"Ayo Sayang... suara tangismu berhasil membangunkan Dhana. Jangan sampai Mala dan Wulan juga terbangun karena suara tangismu." ujar Pak Aidi, berusaha menenangkan sang istri yang sesegukan.


"Kamu ini bagaimana sih Mas! Aku sedih melihat cucu dan menantuku seperti ini!!! Kondisi mereka seperti ini mengingatkan aku pada almarhumah putriku." sungut Bu Aini, kesal namun mendadak sendu lagi.


"Sudahlah, Sayang!!! Jangan seperti itu! Kasihan Dhana kalau dia mendengarnya. Ayo, kita ke sana! Duduk bersama Dhana dan menanyakan kondisi mereka." jawab Pak Aidi, menenangkan seraya membujuk.


Bu Aini mengangguk patuh, menyeka air mata yang membasahi wajah dalam satu detik, berjalan bersama sang suami untuk duduk kembali di sofa, menghampiri sang putra yang melihatnya dengan senyuman.


"Bagaimana kondisimu Nak? Kamu tidak apa-apa 'kan? Cerita masmu tadi malam hampir membuat Ibu jantungan." ujar Bu Aini, mengusap lembut wajah sang putra.


"Jadi Ayah dan Ibu sudah tau semuanya?" tanya Dhana, melihat keduanya bergantian.


Pak Aidi dan Bu Aini mengangguk serentak, memasang wajah cemas yang tiada terkira.


"Ayah sama Ibu jangan khawatir. Dhana baik-baik saja dan semua ini berkat anak Dhana yang cantik itu. Dia yang berhasil menyelamatkan Dhana dari maut dan dia juga yang berhasil menyelamatkan Al dari tembakan Gibran hingga berakhir di sini." tutur Dhana yang mengulas senyum, lega.


"Lalu kondisi mereka bagaimana Nak?" tanya Pak Aidi yang menoleh ke arah bed.


"Wulan baik-baik saja, Yah. Tapi Mala..." jawab Dhana yang menggantung ucapan.


"Mala kenapa Dhana?" tanya Bu Aini.


Dhana menghela nafas berat, menoleh ke arah bed sang istri sesaat hingga akhirnya penjelasan Dokter Ali tadi malam harus ia ceritakan kembali pada ayah dan ibunya. Membuat Pak Aidi dan Bu Aini terhenyak, menoleh ke arah sang menantu. Ternyata pengalaman hidup yang pahit, tidak hanya dialami keluarganya saja. Justru ada orang di luar sana yang lebih parah penderitaan hidupnya, membuatnya harus tetap tegar, berjalan di atas roda yang selalu berputar.


Kadang di bawah dan terkadang di atas, kadang disayang dan terkadang dibenci, kadang lancar dan terkadang pun macet, kadang dibutuhkan dan kadang dilupakan. Namun seperti itulah gambaran kehidupan di dunia yang hanya sementara ini. Semua hidup berdampingan, ada positif dan ada negatif, ada kanan dan ada kiri, ada pria dan ada pula wanita. Semua hidup pada jalur ketentuan dari Pencipta keabadian.


"Semoga saja setelah ini sikap Mala berubah menjadi lebih baik pada Wulan." timpal Pak Aidi yang tak kalah bersyukur.


Dhana menghela nafas lega, rasa syukur yang tiada terkira ternyata juga dirasakan oleh ayah dan ibunya, menambah suasana hati yang semakin bersemangat, tidak sabar ingin cepat-cepat menemani sang istri untuk melakukan psikoterapi dan melihat hasilnya yang tentu akan berdampak pada putrinya.


"Aamiiiin... semoga saja, Yah, Bu."


***


"Tuan Gibran tidak jadi meminta Nyonya Kinan pergi menyusulnya ke Singapore."


Di dalam ruang tamu, kini Bram kembali mendatangi Kinan yang tengah bersantai, memberitahu sesuatu yang berhubungan dengan niat sang suami. Membuat Kinan mengeryit heran, melihat Bram yang tetap berdiri tanpa mau duduk walaupun sudah diizinkan oleh istri sang majikan. Masih ada sisa waktu untuk membujuk istri sang tuan, menggunakan rencana Zivana yang rapih, lebih halus tanpa menimbulkan kecurigaan.


"Loh kenapa mendadak berubah?"


"Tuan ingin pulang ke rumah saja karena beliau bilang tubuhnya tidak sehat, Nyonya."


Kinan tersentak, mendengar kesehatan sang suami yang terganggu di negeri orang, tanpa kerabat atau teman dekat di sana, sukses membuat guratan kecemasan wanita cantik berhijab dan lembut itu terpancar di wajahnya. Membuatnya bergegas meraih ponsel, hendak menghubungi seseorang yang mungkin saja bisa membantu Gibran. Namun, setelah sibuk menghubungi orang yang mungkin dapat membantu sang suami, wajah Kinan justru semakin tampak gelisah.


"Ada apa Nyonya? Nyonya menghubungi siapa?" tanya Bram, terlihat penasaran.


"Saya menghubungi beberapa teman Mas Gibran di Singapore. Mereka mengatakan kalau Mas Gibran memang sakit dan ingin pulang, bahkan Mas Gibran juga sempat menghubungi mereka untuk mengundur pertemuan mereka. Tapi bagaimana bisa Mas Gibran pulang dalam keadaan sakit seperti itu?" cercah Kinan, panik, cemas.


Bram bergeming, memilih menundukkan kepala, menyembunyikan seringai tajam yang terukir jelas di wajahnya, melirik ke arah anak tangga di mana ada putri sang majikan berdiri memperhatikan semuanya.


"Saya akan menyusul Mas Gibran!!! Tolong Pak Bram hentikan kepulangan Mas Gibran. Saya akan pergi ke sana tanpa membawa Zivana dan saya minta Pak Bram menjaga putri saya selama saya pergi!" tukas Kinan.

__ADS_1


"Baik Nyonya." jawab Bram, senang.


Kinan beranjak, melangkah cepat naik ke lantai atas di mana kamarnya berada, bersiap-siap untuk segera menyusul sang suami. Setelah beberapa menit, Kinan pun keluar, membawa sebuah koper besar dan menghampiri Bram yang masih ada di sana.


"Pak Bram tidak perlu mengantar saya!!! Saya akan naik taksi." titah Kinan, tegas.


"Baik Nyonya. Ini tiket pesawat Nyonya." jawab Bram, mengulur tiket pesawat ke Singapore pada istri sang majikan.


"Saya titip Zivana ya, Pak!" titah Kinan.


"Baik Nyonya. Nyonya berhati-hati lah." jawab Bram yang menundukan kepala.


Kinan mengangguk, beranjak pergi seraya menarik koper keluar rumah, diikuti Bram yang ingin memastikan bahwa istri tuannya itu benar-benar berangkat ke Singapore.


"Rencana kita berhasil, Pak Bram!!!"


Bram menoleh cepat, melihat ke arah Zivana yang keluar setelah taksi sang bunda melaju pergi meninggalkan gerbang rumah.


"Setelah Bunda sampai di sana, Pak Bram harus bersiap-siap menerima ocehan dari Bunda dan meyakinkan Bunda kalau Papa benar-benar ada di sana." seloroh Zivana.


"Bagaimana caranya Non?" tanya Bram.


Zivana menyeringai licik, tidak sabar ingin melakukan rencana selanjutnya terhadap sang bunda, mengelabui sang bunda jika sang papa benar-benar ada di Singapore.


"Pak Bram bilang saja kalau Papa sedang pergi meeting dengan klien. Lalu mainkan rencana berikutnya. Pak Bram mengerti?"


Bram mengangguk patuh, beranjak pergi setelah rencana awal Zivana berhasil dan sukses menuntun sang bunda berangkat.


"Zivana minta maaf, Bunda. Tapi Bunda terlalu mengatur hidup Zivana dan Zivana tidak suka diatur orang lain seperti Bunda!"


***


"Anda ingin melaporkan apa?"


Di depan sosok Polisi, tampak sosok pria berpakaian rapih layaknya seperti orang pekerja kantor yang tengah duduk tegap, tangannya terulur, memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat pada Polisi itu. Entah apa isinya, membuat Polisi yang ada di depannya pun tertarik untuk meraih hingga membuka amplop coklat besar itu.


"Saya mempunyai bukti bahwa anak yang bernama Bimantara lah yang salah dalam kasus penculikan anak kembar itu, Pak!!!" tutur pria berpakaian rapih dan tegap itu.


Polisi itu bergeming, melihat satu per satu foto yang ada di dalam amplop besar itu.


"Kakak saya tidak bersalah dalam kasus penculikan itu, Pak. Dia dijebak oleh anak yang bernama Bimantara! Anak ini dendam pada kedua anak kembar itu, jadi dia telah memanfaatkan situasi untuk rencananya." tutur si pria berpakaian rapih itu, mengiba.


"Tapi kakak anda juga terbukti bersalah!!! Dia hampir membunuh orang lain dengan cara melemparnya ke rel kereta api ketika kereta akan melintas. Jadi kakak anda itu tidak bisa bebas begitu saja hanya dengan uang jaminan. Kami akan mengusut kasus ini dan mencari anak yang bernama Bima sebagai tersangka kedua setelah Gibran!!!" tukas Polisi itu dengan nada penegasan.


Pria itu mengangguk lemah, seakan sedih dengan keputusan Polisi yang tidak bisa memenuhi permintaannya. Membuat pria berpakaian rapih itu beranjak pergi, keluar dari kantor Polisi sebelum penyamaran menjadi adik dari Gibran tercium Polisi, bergegas menuju mobil, membuka atribut penyamaran yang telah berhasil.


"Bersiaplah Bima! Tidak lama lagi kamu akan menggantikan posisi Tuan Gibran di dalam sell tahanan. Sementara itu, Tuan Gibran akan keluar nanti malam dari sini!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2