Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 84 ~ Rel Kereta Api


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Mau ke mana Gibran membawa Mala?"


Hati yang gundah Dhana bawa meracau, terus melajukan mobil mengikuti Gibran dari belakang, menjaga jarak aman agar pria itu tidak melihat ke arah belakang, mencurigai gerakannya yang membuntuti sejak tadi.


"Gibran... ternyata firasatku tentang dia tidak meleset! Sejak pertemuan kedua di Cafe saat itu, sikapnya benar-benar aneh. Ternyata seperti ini sifat asli orang itu!"


Dhana yang geram, marah, kesal dan bahkan menyesal setelah mengenal pria bernama Gibran itu terus bergumam, tidak terima dengan semua tindakan berbahaya yang mengancam keluarga, apalagi nyawa anak-anak dan istrinya. Dhana masih terus mengikuti Gibran, memperhatikan ruas jalan yang dilewati, tidak asing dengan lokasi ini.


"Ini 'kan jalan menuju rel kereta api!"


Dhana terperangah, menoleh ke sana ke mari, memastikan jika dugaannya salah.


"Iya! Ini jalan menuju rel kereta api!"


Dugaan Dhana benar, semakin benar ketika matanya bersiborok dengan plang yang menandakan adanya rel kereta api di sana.


"Apa yang ingin Gibran lakukan?"


Perasaan cemas tak karuan mendera, membuat Dhana kelimpungan, menepis kekhawatiran yang menyesakkan pikiran, membuang jauh sekelebat pikiran buruk jika Gibran akan berbuat nekat pada sang istri.


"Jangan-jangan..."


***


"Uncle... Uncle ada di mana sih?"


Kelajuan mobil sengaja dibawa lambat, setelah sepersekian jam melaju dengan kecepatan angin, menyisir setiap jalanan yang ada, mencari keberadaan sang uncle saat ini yang entah ada di mana, membuat Aiziel mendadak cemas dan takut jika sang uncle mengalami masalah di perjalanan.


Aiziel pun menepikan mobil, membawa pikiran yang berselimut kabut kecemasan untuk bertenang sesaat, mencari solusi yang jitu untuk menemukan posisi sang uncle.


"Kira-kira orang yang bernama Gibran itu akan membawa Anty Mala ke mana ya? Di saat situasi seperti ini, orang itu pasti ingin melakukan sesuatu yang berbahaya pada Anty Mala. Tapi kenapa? Apa sebenarnya yang terjadi di antara orang itu dan Anty?"


Aiziel terus meracau, berpikir keras seakan sedang menghadapi ujian kenaikan kelas yang menguras pikiran, waktu dan tenaga. Penasaran yang tiba-tiba datang mendera, membuatnya ingin tau segalanya lebih jauh, apalagi setelah mengetahui semua cerita masa lalu yang menyangkut pautkan sang daddy, paklik, uncle dan juga onty-nya. Sungguh, membuat Aiziel yang memiliki rasa ingin tau yang besar mendadak pias.


"Saat aku, Syahal dan Syahil tiba di depan sekolah, hanya mobil Uncle Dhana di sana. Bukankah Oma bilang kalau mereka pergi dengan menggunakan dua mobil? Mobil Paklik dan mobil Uncle. Apa... Uncle pergi menyusul orang itu dengan mobil Paklik?"


Titik terang solusi mulai terlihat, membuat tangan Aiziel merogoh sesuatu dari dalam saku celananya. Memainkan jari jemarinya dengan lincah, mencari sesuatu yang bisa mempermudah pekerjaannya sekarang ini.


"Ternyata benar! Uncle memakai mobil Paklik untuk menyusul orang yang bernama Gibran itu! Dan untung saja Syahal pernah menyambungkan GPS mobil papanya ke ponselku saat mencari Adek malam itu."


Seringai tipis penuh kelegaan terpancar, membuat semangat yang semula redup kembali menyala bahkan semakin besar. Aiziel meletakkan ponselnya yang sudah tersambung dengan GPS mobil sang paklik, melanjutkan kembali perjalanan, menolong uncle dan anty-nya yang dalam bahaya.


***


"Tidak perlu repot-repot minta maaf dan berterima kasih, Paklik. Al melakukannya untuk diri sendiri, bukan untuk siapa pun!"


Sadha melerai pelukan, menatap nanar Aifa'al yang memalingkan wajah, melihat ke arah lain, tidak ingin menatap balik sang paklik yang sebenarnya ingin mencari tau sesuatu dari dalam matanya.


"Paklik tau, Nak. Tapi kalau bukan karena kamu, mungkin Damar dan Wulan tidak tertolong." ujar Sadha yang berbesar hati.


"Yang penting mereka sudah bebas dari tangan Pak Gibran, Paklik." jawab Aifa'al dingin, tanpa melihat wajah sang paklik.

__ADS_1


Sadha menghela berat, melihat ke arah Imam yang mengangguk samar, seakan memintanya untuk membiarkan Aifa'al tenang terlebih dahulu, membiarkan suasana hati dan pikiran stabil, jauh dari kata emosi apalagi menyangkut Wulan.


"Damar, Adek... kalian baik-baik saja?" tanya Syahal seraya memeriksa kondisi tubuh kedua adiknya, memastikan tidak ada luka apapun bersemayam di dalam sana.


"Damar dan Adek baik-baik saja, Mas. Terima kasih karena Mas Syahal, Mas Syahil, Paklik dan......."


Penuturan Damar terhenti, arah matanya tertuju pada sosok asing yang baru, tidak pernah melihat sosok itu. Membuat Imam yang melihat Damar terkekeh samar, cukup mengerti dengan tatapan Damar dan Wulan yang seakan bertanya, siapa kah dirinya?


"Kalian tau, siapa orang yang berdiri di samping mas kalian itu?" tanya Sadha, mengerti dengan ekspresi keponakannya.


Damar dan Wulan saling pandang sesaat, sebelum akhirnya mereka menggelengkan kepala serentak.


"Ini Paman Imam, suaminya Onty Dhina." jawab Sadha, merangkul bahu sang adik ipar.


"Paman Imam yang sering Papi ceritakan itu?" tanya Damar yang bergema kencang.


"Iya, Damar. Wajar saja kalau kalian tidak mengenali wajah Paman Imam karena dia tidak tinggal di sini dan jarang berkumpul dengan kita semua." tutur Sadha.


"Terima kasih, Paman. Terima kasih karena Paman bersama Paklik, Mas Syahal dan Mas Syahil sudah menolong Damar, Adek dan juga Mas Al." timpal Damar berbinar.


Imam tersenyum getir, melihat Damar dan Wulan seakan menjadi cermin di masa lalu. Sama seperti dirinya melihat Dhana dengan mendiang sang istri semasa hidup, saling melindungi, menyayangi dan menguatkan. Membuatnya melangkah maju, mendekati Damar dan Wulan yang tampak berbinar.


"Sama-sama, Sayang. Paman juga ikut senang dan lega karena akhirnya Paman bisa bertemu dengan dua malaikat kecil yang kuat ini." ujar Imam seraya mengelus kepala keduanya yang mengulas senyum.


Pemandangan indah penuh haru berlatar kabut tebal akibat kebakaran, menjadi titik perhatian Sadha, Syahal, dan Syahil yang ikut terharu. Namun tidak dengan Aifa'al yang memilih diam mematung, tidak ada suara apalagi kata-kata yang terucap.


Lidah yang ingin bertanya dirasa kelu, melihat adegan yang tersaji di depan mata, sempat tersenyum tipis namun hilang dalam sekejap mata. Sesekali pandangan tertuju pada Wulan, melihat senyuman tulus itu, mencubit hati yang kini entah seperti apa, membuatnya terpekur dalam sesaat, sebelum pikirannya kembali ke alam sadar.


Sadha terdiam, menoleh ke arah Imam untuk mencari jawaban yang pas untuk memberitahu keduanya, bahwa saat ini Dhana sedang berjuang menyelamatkan nyawa sang mami dari cengkraman tangan Gibran. Membuat Syahal dan Syahil ikut terbungkam, memilih diam dari pada takut salah bicara yang akan membuat kedua adiknya itu menjadi sedih dan kepikiran.


"Papimu sedang mengejar Gibran, Nak. Karena Gibran membawa mami kamu!!!" jawab Sadha yang gugup.


Damar dan Wulan terperangah, mendadak pias karena takut jika sesuatu yang bahaya menimpa kedua orang tuanya, mengingat betapa kejamnya Gibran, menculik hingga menyekap mereka di ruangan gelap gulita tanpa diberi air atau makanan. Memancing bulir kristal jatuh begitu saja di mata Wulan.


"Apa? Lelaki bangkotan itu membawa Anty Mala, Paklik?" tukas Aifa'al, menahan hati yang tiba-tiba memanas tidak karuan saat mendengar kegilaan Gibran.


"Iya, Nak. Sekarang uncle mu sedang mengejar Gibran dan tadi Ziel juga sempat datang ke sini bersama Syahal dan Syahil lalu dia kekeuh ingin menyusul uncle mu." jawab Sadha, melihat Aifa'al tercengang.


"Mas Ziel juga ikut?" tanya Aifa'al.


Sadha mengangguk samar, guratan kecemasan tampak jelas di wajahnya yang tak lagi muda namun masih tetap tampan, membuat Damar dan Wulan makin cemas, tak hanya orang tuanya tapi juga Aiziel.


"Ck! Mas Ziel pergi tanpa perhitungan! Dia belum tau saja seperti apa pria bangkotan itu! Al akan menyusul Mas Ziel dan Uncle, Paklik!" sungut Aifa'al, mengambil langkah lebar sebelum mendapat izin dari Sadha.


Sadha, Imam, Syahal, Syahil, Damar dan Wulan terkejut, mendapati derap langkah Aifa'al yang beranjak pergi, menuju motor yang terparkir di tempat tersembunyi saat menjadi mata-mata, melaju dengan cepat, meninggalkan semuanya yang tercengang.


"Ayo kita susul Mas Al, Pa!" timpal Syahil, menarik tangan sang papa kareta cemas jika Aifa'al dibiarkan pergi sendirian.


"Mas Syahil benar, Paklik. Kita harus menyusul Papi, Mas Ziel dan Mas Al!!!" timpal Damar yang mendukung ide Syahil.


"Anak-anak benar, Mas!!! Kita tidak bisa membiarkan Dhana dan Ziel menghadapi Gibran. Pria itu bisa saja menyakiti Dhana, Mala dan Ziel sekaligus saat dirinya dalam kondisi marah kerena dendam!" ujar Imam.


Sadha bungkam, menatap satu per satu wajah anak-anaknya yang sendu penuh harap, membuatnya teringat akan semua penuturan cerita Gibran melalui earphone yang tersambung pada Mala ke mobilnya, membuatnya bergidik ngeri.

__ADS_1


"Oke, kita susul mereka!" seru Sadha.


***


"Bawa wanita itu turun!!!"


Gelap malam menjadi saksi, menyaksikan pertunjukkan yang tengah terjadi. Gibran bergegas turun dari mobil, disusul kedua bodyguard bayaran yang menggandeng tangan Mala di setiap sisi. Berjalan cepat, masuk ke dalam semak belukar yang sepi. Hanya ada Gibran dan kedua bodyguard, sedangkan yang lainnya entah di mana.


Terpampang jelas sebuah plang berwarna kuning, dengan pola garis hitam berbentuk rel kereta api, menandakan bahwa tempat ini merupakan salah satu jalan perlintasan kereta api yang akan melaju kencang dari lokasi asal ke tempat tujuan. Lalu kenapa Gibran membawa Mala ke tempat ini???


"Ayo cepat!!! Kita harus tiba tepat waktu sebelum kereta benar-benar melintas!!!"


Seraya berjalan Gibran berseru, menyuruh kedua bodyguard bayaran itu untuk cepat, menyeret Mala yang sejak tadi hanya diam membisu, tidak menolak sedikit pun bahkan pandangannya tertuju entah ke arah mana. Kosong dan dalam! Dengan kondisi tangan yang terikat di depan, mata terbuka lebar serta mulut yang masih bisa dibawa bicara.


Namun itu semua tidak Mala indahkan. Ia hanya diam, seperti orang yang baru saja dirasuki setan jahat, meronta-ronta histeris, menguras tenaga yang membuat tenaganya terkuras habis. Membuat ibu dari dua anak itu menjelma menjadi wanita yang bingung dengan tatapan kosong ke arah sembarang.


Ciittttt!


Sebuah mobil berhenti mendadak, tidak jauh dari mobil Gibran yang terparkir, menimbulkan decitan suara yang keras, namun tidak menimbulkan kecurigaan Gibran dan kedua bodyguard nya yang sudah berjalan jauh. Dhana pun bergegas, mengambil langkah lebar menyusul Gibran yang mempunyai 1001 niat jahat pada Mala.


Brum!


Brum!


Brum!


Terlihat sekilas kalau tempat itu gelap dan sepi, namun tidak jika mata dibawa untuk melihat ke atas, terdapat jalan layang yang menghubungkan ruas jalan di kota. Suara bising terdengar riuh, membuat suasana menjadi tegang seketika walaupun cahaya lampu jalan layang turut serta menerangi.


Perasaanku benar-benar tidak enak. Gumam Dhana dalam hati.


Dhana terus bergerak, mengikuti Gibran yang tiba-tiba berhenti di tepi rel kereta, melihat ke sana ke mari seakan mencari sesuatu yang sedang dinanti, membuat detak jantung Dhana berdetak kencang, melebihi laju kereta api yang siap berjalan.


Tap!


Dhana terkesiap, mendapati tangan seseorang di bahunya dari belakang, membuat jantungnya tidak karuan, takut jika pergerakannya saat ini ketahuan oleh anak buahnya Gibran yang lainnya. Dhana pun berbalik perlahan, tetap waspada dengan keadaan, memastikan kalau tangan itu bukan lah tangan antek-anteknya Gibran.


"Ziel..."


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Sudah tau siapa yang datang kan? 🤭😂 jangan cemas dan deg deg ser dulu ya, simpan dulu deg deg ser sama tegang nya buat episode selanjutnya 🤭 karena bakal ada yang lebih menegangkan dari ini ⚠️ (author PD banget yak ✌️🤣 biasa nama nya juga menghalu ria wkwkwk)


Terima kasih buaaannnyak untuk para sahabat semuanya, baik sesama author maupun readers ku tercinta, tersayang dan termuah-muah deh 😘😘😘 berkat kalian rasa malas yang kadang datang mendera ini jadi bisa dilawan biar lanjut nih cerita 🤭✌️ mohon maaf jika ceritanya terlalu lama di sana-sana aja, ngak maju-maju perasaan wkwkwk 🤣 Tenang ✌️ maju kok tapi lelet kek keong 🐌🐌🐌 jadi mohon maap ye🥰

__ADS_1


__ADS_2