
...πππ...
"Masuk Bima!!!"
Sinar sang mentari tampak semakin terang, memancarkan energi positif bagi kehidupan semua orang yang terbangun. Energi yang seharusnya memberi percikan api semangat ke dalam diri setiap insan manusia. Namun tidak dengan satu insan manusia yang satu ini. Wajahnya terlihat lesu, berjalan masuk ke ruang kepala sekolah SMP Jaya Mandiri, dan duduk tepat di depan sosok cantik.
"Mau berapa kali lagi Ibu harus memanggil kamu ke ruangan Ibu, Bima? Sudah berapa kali kamu membuat onar di sekolah, bahkan di luar sekolah? Ingat, Bima! Kamu itu sudah tiga kali tidak naik kelas! Jika ujian semester ini kamu tidak naik kelas juga, maka dengan terpaksa Ibu harus mengeluarkan kamu dari sekolah ini! Karena memelihara siswa yang tidak mau diajar dan dibimbing, hanya akan membawa masalah bagi akreditasi sekolah! Kamu paham?" cercah sosok cantik itu.
"B-baik, Bu Kinan. Saya akan berusaha untuk naik kelas semester ini. Saya janji!" jawab Bima yang tertunduk takut melihat mata Bu Kinan di depannya.
"Tidak hanya janji, tapi bukti! Ibu tidak butuh janji kamu karena janji dari seorang siswa yang tidak disiplin seperti kamu ini hanya lah bualan semata!" ujar Kinan yang penuh penekanan tegas.
"Iya, Bu..." jawab Bima yang gugup.
"Satu hal lagi! Untuk bisa mengikuti ujian senin depan, kamu harus membawa kedua orang tuamu ke sekolah ini sekarang juga! Tidak ada toleransi! Karena selama ini Ibu sudah cukup sabar menghadapi sikapmu! Jika kamu tidak bisa membawa keduanya datang ke sini, maka jangan salahkan Ibu kalau kamu tidak bisa mengikuti ujian!" ujar Kinan yang menatap tajam siswanya itu.
Bima terperangah, membulatkan sempurna matanya menatap Bu Kinan, tidak ada rasa iba untuk dirinya yang bangor dan selalu membuat malu sekolah dengan tingkahnya.
"Tapi Bu..."
"Itu salah satu hukuman kamu hari ini! Karena kamu hampir mencelakai Damar kemarin siang dengan batu bata! Jangan kamu kira Ibu tidak melihatnya! Ibu sudah melihat semuanya, Bima!" potong Kinan dengan cepat, membuat Bima bungkam.
"Bu... saya..."
"Ibu harus membicarakan masalah ini pada kedua orang tua kamu! Kalau kamu ingin mengikuti ujian semester, maka lakukan lah semua hukuman yang Ibu minta!" potong Kinan lagi, membuat Bima tidak berkutik.
"Baiklah, Bu. Saya permisi dulu!"
Kinan mengangguk samar, memberi izin pada siswanya yang bangor stadium akhir itu untuk keluar dari ruangan yang terasa panas. Ketegangan di antara keduanya tidak dapat terelakkan lagi, titik kesabaran yang telah habis membuat Kinan harus mengambil keputusan tegas agar semua masalah selesai dengan baik tanpa rasa dendam. Kinan menatap punggung Bima yang akan menghilang di telah daun pintu, melanjutkan pekerjaan setelah Bima keluar.
Sementara Bima keluar dengan wajah lesu, disambut hangat oleh sang kekasih tepat di depan ruangan.
"Bagaimana Bim? Apa kata bundaku?" tanya sang kekasih yang tak lain adalah Zivana Asmeralda.
"Aku harus membawa kedua orang tuaku hari ini dan detik ini juga. Kalau tidak aku tidak bisa ikut ujian semester dan pastinya aku tidak akan naik kelas lagi." jawab Bima yang lesu seperti tidak makan selama satu bulan.
"Ya, coba kamu hubungi saja mereka." ujar Zivana yang berusaha memberi jalan keluar.
"Ck! Kamu seperti tidak mengenal kedua orang tuaku saja, Zi. Mereka itu tidak akan pernah mau datang ke sini, apalagi kalau menyangkut dengan masalahku." jawab Bima yang semakin dibuat lesu oleh Zivana.
"Terus apa lagi yang bisa aku bantu buat kamu? Aku tidak mau sampai kamu keluar dari sekolah ini, Sayang!" ujar Zivana yang bergelayut manja di tangan Bima.
__ADS_1
Layaknya seperti ABG labil yang masih membutuhkan perhatian orang tua, jika lengah sedikit anak mereka bisa seperti kedua insan manusia ini, menjalin kasih di waktu yang tidak tepat. Apalagi usia Zivana yang masih jauh dari kata dewasa, berbeda dengan Bima yang seharusnya sudah lulus SMA namun selalu mendapat juara tidak naik kelas di setiap tahunnya, akan sangat berbahaya jika terus dilanjutkan.
Namun Zivana tetap kekeuh ingin berpacaran, sama halnya dengan Bima yang terlanjur jatuh hati pada gadis kecil itu, membuat rasa cinta layaknya seperti sosok pria dewasa pada wanitanya, semakin besar dan bertambah dalam, seakan tidak ingin melepaskan Zivana begitu saja dari dirinya.
"Semua ini karena Damar!!! Dia yang sudah membuatku terjebak di dalam hukuman ini!" ujar Bima seraya mengepal kuat tangannya.
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Zivana yang mengerti dengan jalan pikiran Bima.
"Kita lihat saja nanti! Aku akan membuat perhitungan dengan anak sok jagoan itu!" jawab Bima yang menatap tajam ke arah lain seraya mengepal kuat tangannya.
Zivana mengangguk, memberi semangat pada sang kekasih untuk membalas Damar. Entah apa yang akan direncanakan mereka untuk Damar, membuat hati author gelisah. Namun sejurus kemudian, seringai tajam Zivana terbit seketika, terbesit sesuatu yang melintas sekejap di pikirannya.
"Aku punya satu ide brilian untuk Damar!"
***
"Kenapa kamu sekolah Lan? Kalau kamu sedang demam seperti ini!"
Masih di langit dan lokasi yang sama, ketiga anak manusia ini tengah bersantai di taman sekolah seraya menikmati cemilan-cemilan, melihat riuh pikuk lapangan yang ramai saat ini. Setelah jam pelajaran terakhir semester ini selesai, semua siswa menghambur keluar dari kelas, melepas rasa penat di kepala seraya menunggu pengumuman selanjutnya untuk ujian naik kelas minggu depan.
Rainar terkejut, melihat wajah pucat Wulan yang kekeuh untuk tetap datang ke sekolah walaupun kondisinya masih demam tinggi. Sementara Damar hanya bisa menghela nafas panjang, memperhatikan sang adik yang masih lemah, lelah, letih, lesu, lunglai, membuatnya tidak senang hati membiarkan sang adik berjalan sendiri.
"Aku sudah menyuruhnya untuk tidak ikut sekolah, Nar. Tapi kamu tau sendiri, bukan? Bagaimana keras kepalanya adikku ini jika berhubungan dengan sekolah?" ujar Damar yang duduk menghadap sang adik.
"Awalnya tidak, tapi akhirnya luluh juga." jawab Damar yang tidak bersemangat.
Pembicaraan kedua pria yang ada di sisinya itu memancing tawa Wulan, wajah lelahnya tak menyurutkan semangat atau senyuman hari ini, walaupun tubuhnya terasa berat dan lelah karena demam. Wulan yang terkikik menunduk, meraih note kecil kesayangan.
'Aku tidak apa-apa kok, Nar. Hanya demam biasa nanti juga sembuh. Jangan berlebihan kamu, seperti Mas Damar saja'
Rainar berdecak gemas, membaca untaian kata yang tertulis di dalam note itu, melihat Damar yang ikut terkikik geli membacanya.
"Pengumuman!!! Pengumuman!!!"
Seruan suara mic bergema, memenuhi seisi langit-langit sekolah, menghimbau semua penghuni sekolah yang berstatus sebagai siswa dan siswi untuk segera berkumpul di titik suara tersebut. Membuat para penghuni sekolah berhamburan, berlari menuju asal suara itu berada, termasuk Damar, Wulan, dan Rainar.
"Pengumuman untuk kalian para siswa/i SMP Jaya Mandiri! Bahwa hari senin depan kita akan memulai ujian naik kelas! Harapan kami sebagai guru agar kalian bisa naik dan sukses mengikuti ujian tersebut!" tutur Kinan yang menjadi pemberitahu pengumuman.
Pandangan mata siswa-siswi tertuju pada Kinan, rasa hormat yang ditunjukkan pada sosok ibu kepala sekolah, mendengar dan memahami pengumuman yang diberikan.
"Sebelum kita bubar, Ibu ingin memberikan satu pengumuman penting lainnya! Bahwa kandidat calon ketua osis periode berikutnya yang mendaftarkan diri sudah diputuskan!!! Pemilihan ketua osis periode kali ini akan sangat berbeda dari tahun sebelumnya, sesuai dengan kesepakatan pemilik sekolah, kepala sekolah dan para guru yang akan sangat berkesan untuk kita semua nantinya di sekolah ini!" ujar Kinan dengan lantang.
__ADS_1
Ketenangan yang tercipta seakan bertukar dengan riuh pikuk semua siswa-siswi yang saling bertanya. Siapa yang akan menjadi kandidat calon ketua osis kali ini? Membuat rasa penasaran yang membuncah hebat, tidak sabar ingin mengetahui siapa kandidat calon ketua osis yang berhasil lolos dalam ajang pemilihan bergengsi periode kali ini.
"Bagi kalian yang ikut mendaftar dan dinyatakan lolos, sudah bisa melihat hasil keputusan itu di mading yang sebentar lagi akan kita keluarkan!!! Ibu sebagai kepala sekolah bersama dengan pembina osis kita, mempersilakan kalian yang dinyatakan lolos untuk melakukan kampanye mandiri mulai hari ini! Tapi jangan sampai lalai saat ujian! Kampanye mandiri dapat dilakukan seperti apa saja, baik melalui media sosial maupun memakai aplikasi sekalipun, asalkan tetap berada di dalam norma kesopanan!!! Ibu yakin kalian mampu melakukan kampanye ini sesuai dengan nama sekolah kita!!! Jika terjadi kecurangan sedikit saja, maka kami akan mendiskualifikasi kandidat tersebut!!!" titah Kinan yang mengedar pandangannya.
Sahutan tepuk tangan semakin bergema, sambutan hangat dari seluruh siswa siswi yang ikut berpartisipasi, bersorak-sorai penuh semangat, mengindahkan perintah sang kepala sekolah yang sangat dihormati.
"Silakan meraih vote dan nilai terbanyak selama liburan!!! Setelah liburan berakhir, maka berakhir pula masa kampanye dan voting untuk kalian! Akan kita lanjutkan kampanye mandiri berikutnya di sekolah setelah itu. Ibu do'akan semoga ujian naik kelas yang disertai dengan acara pemilihan ketua osis di sekolah kita periode kali ini akan berjalan sukses dan kalian dapat bersenang-senang! Sekian terima kasih!!!"
Pengumuman berakhir, membawa Kinan untuk segera turun dari atas mimbar dan mengeluarkan sebuah papan putih berisi beberapa kertas yang tertempel di sana, memperlihatkan wajah kandidat calon ketua osis yang berhasil lolos seleksi pertama.
Wulan dan Rainar terperangah, melihat wajah yang tak asing ikut tertempel jelas di depan mading itu. Sementara riuh pikuk antar siswa-siswi semakin bergema kuat, memenuhi langit-langit atap sekolah.
"Damar... selamat! Kamu lolos seleksi, Mar!" sahut Rainar seraya menghambur, memeluk tubuh sahabatnya yang masih membisu.
Damar termangu, masih tidak menyangka jika impiannya selama ini mulai terlihat, mengikuti arus sesuai usaha yang dilakukan. Damar menggiring matanya ke arah Wulan, yang menatapnya lekat. Rasa bangga, haru dan bahagia menyelimuti hati keduanya.
"One step closer, Dek!!!"
Damar memeluk Wulan, bersambut hangat penuh keharuan. Selama ini Wulan sangat mengetahui perjuangan sang mas kembar untuk mengikuti ajang pemilihan bergengsi ini, mempunyai niat tulus untuk sang adik, meraih cinta kasih sang mami bersamaan dengan meraih kesuksesan di masa depan nantinya. Walaupun masih terlalu dini, tapi semua itu sangat membanggakan Wulan.
Air mata sang gadis kecil pun luruh, tak mampu membendung rasa haru dalam hatinya, memancing air mata yang lainnya.
"Semoga kita bisa berhasil ya, Dek!!!" ujar Damar yang berbisik, masih memeluk erat tubuh sang adik.
Wulan mengangguk, melerai pelukannya, menyeka bulir kristal yang ikut menetes di wajah sang mas kembar. Membuat Rainar yang melihatnya ikut terharu sebagai sosok sahabat. Keharuan yang terjadi di antara ketiganya, memancing tatapan tajam dari sepasang mata di sisi lain, memperhatikan kedua anak kembar itu sejak pengumuman berlangsung. Tangannya mengepal kuat, marah karena namanya tidak ikut tertempel di mading sekolah.
"Lihat saja, Damar! Gue tidak akan pernah membiarkan lo menjadi ketua osis periode kali ini! Kalau gue kalah, lo juga harus kalah!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
Hihihi... gimana? gimana? kalian suka ngak sama cerita Wulan? Semoga aja suka yaaa π€π€π€ walaupun memang asli menghalu ria semata dan mengubah sistem pemilihan ketua osis yang ada di dunia nyata dengan di dunia novel π semoga masuk akal dan kalian suka, karena dengan masalah satu akan muncul masalah lainnya yang bakal InsyaAllah lah dari novel sebelumnya π€π€
__ADS_1
Terima kasih untuk kalian karena masih mengikuti kisah Wulanπ ILY All πΉπΉπΉ