Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 146 ~ Aksi Diam-diam


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Bos?"


Gibran menghela panjang, duduk santai bersandar di kursi kebesarannya seraya menikmati satu botol minuman yang diduga minuman beralkohol. Lelaki jahat itu masih dengan seringai tajamnya, melirik ke anak buahnya yang berdiri seperti dayang, siap untuk melakukan apa saja perintah bosnya.


"Kita akan membawa kedua wanita itu ke suatu tempat, di mana Mala dan Bram bisa melihat kematian orang-orang tersayang mereka secara langsung di depan mata!!!" jawab Gibran yang kian menyeringai licik.


"Lalu apa yang harus kami semua lakukan Bos?" tanya anak buah Gibran lagi.


"Periksa semua pintu dan jendela rumah ini dan pastikan jika semuanya sudah tertutup rapat! Pastikan juga kondisi putri saya yang masih saya kurung itu, berada di kamarnya!" seru Gibran, memerintahkan anak buahnya.


"Siap Bos!" jawab sang anak buah, patuh.


Gibran tersenyum licik, melihat kegesitan anak-anak buahnya yang sudah ia bayar sangat mahal. Memang sultan lelaki jahat satu ini, tak peduli jika uang yang ia pakai untuk menggencarkan aksi balas dendam pribadinya telah membuatnya rugi besar, bahkan ia juga tidak segan menipu Kinan.


"Semuanya sudah aman, Bos. Termasuk putri Bos yang masih Bos kurung. Saat ini dia sedang tidur." terang sang anak buah.


"Bagus!!! Sekarang kalian bawa kedua wanita itu! Kita berangkat sekarang juga!" seru Gibran, beranjak dari singgasana nya.


Gibran melangkah lebar, keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil pribadinya yang terparkir di bagian depan. Sementara anak buah Gibran bersama anggota lainnya pun bergegas memasuki kamar kecil di mana Rumi dan Wulan disekap bahkan diikat.


Ceklek!


Rumi terlonjak, mendengar suara gagang pintu yang bekerja, menandakan akan ada orang lagi yang masuk menghampiri dirinya dan Wulan. Sementara Wulan yang telah terbangun dari pingsannya karena usaha Rumi, tak kalah membulatkan mata, takut jika Gibran akan melakukan sesuatu lagi di luar dugaannya. Membuat Rumi dan Wulan saling pandang, mata mereka yang sembab akibat menangis ketakutan terlihat kian jelas.


"Aaaaa... aaaa... aaa?" ("Siapa lagi itu?") ujar Wulan lirih, menatap ke arah pintu.


"Kamu tenang ya, Sayang. Tante akan melindungi kamu dari setan-setan laknat itu. Tante tidak akan membiarkan kamu celaka." tutur Rumi, berusaha menenangkan Wulan.


"Aaaa... aaaaa... aaaaa... aaaaa." ("Tapi Wulan takut, Tante.") ujar Wulan gemetar.


"Jangan takut ya, Sayang. Mereka semua itu hanya manusia biasa, sedangkan kita mempunyai Allah. Ada Allah yang selalu melindungi kita." tutur Rumi, meyakinkan.


Air mata Wulan menetes lagi, setelah merasa lebih tenang dari sebelumnya, di saat gadis itu sadar dari pingsannya dan menyadari bahwa posisinya saat ini tidak lagi di rumah, namun tengah disekap oleh seseorang yang sempat masuk ke dalam kamarnya melalui jendela. Membuat Rumi kewalahan menenangkan tangis gadis itu, apalagi di saat posisi keduanya yang terikat, tidak bisa saling merengkuh satu sama lain. Namun Rumi yang sabar berhasil membuat Wulan lebih tenang kendati hanya sesaat.


"Cepat bawa mereka!" seru anak buah Gibran pada anggotanya yang lain.


"Siap Bos!" jawab keduanya, serentak.


"Tidak! Kami tidak mau ikut kalian!" seru Rumi, berusaha melindungi diri dan Wulan.


"Jangan banyak bicara kalau ingin nyawa kau selamat!" pungkas anak buah Gibran.


"Tidak! Lepas! Jangan kalian sentuh gadis itu! Dia tidak tau apa-apa!" pungkas Rumi.


"Diam!!! Kalau tidak kau akan mati!" tandas anak buah Gibran, menatap tajam ke Rumi.


Rumi mendengus marah, menatap tajam anak buah Gibran yang tidak beda kejam dengan bosnya. Sementara Wulan terisak, berusaha memberontak sekuat mungkin namun apalah daya kekuatan dari sosok gadis kecil jika harus melawan kekuatan lelaki dewasa bertubuh tegap. Wulan tak punya daya untuk melawan, kendati hatinya sangat panas dengan amarah sekarang ini.


"Ayo seret mereka!"


Kedua anggota anak buah Gibran itu pun mengangguk patuh, menarik paksa Rumi dan Wulan keluar dari kamar tanpa adanya rasa kasihan pada seorang wanita, menuju teras rumah di mana mobil Gibran berada.


"Bersiaplah gadis-gadis manis...!!! Saya punya kejutan besar untuk kalian berdua!"


***


"Kamu yakin, di sini tempat Gibran bersembunyi sekarang Dhana?"


Berulang kali Dhana memeriksa ponsel Imam yang ada di tangannya, terhubung dengan cip yang ada di dalam kalung sang putri. Alhasil tetap sama, alat pelacak yang ada di dalam ponsel Imam menunjukan titik keberadaan Wulan, di mana ia menunggu dan memantau dari jarak agak jauh saat ini.


"Iya, Mas. Titik keberadaan Wulan ada di rumah besar yang kosong itu." ujar Dhana, menunjuk salah satu rumah kosong di sana.


"Ayo kita ke sana, Mas. Perasaanku tidak tenang. Aku takut Wulan kenapa-kenapa." timpal Mala, duduk di kursi depan dengan Dhana yang memilih untuk mengemudi.


"Jangan Anty! Kalau kita ke sana secara terang-terangan, maka nyawa Adek dan nyawa adiknya Pak Bram akan terancam." timpal Aiziel, berusaha menenangkan Mala.


"Kita harus membuat strategi agar kita bisa mengalahkan Gibran dan anak buahnya itu!" timpal Sadha, menahan emosi pada Gibran.


"Mas setuju dengan usulan kamu, Sadha. Sekarang apa strategi kamu untuk hal ini?" ujar Ammar, matanya senantiasa mengedar.


"Kita harus..."


"Tunggu Mas..." potong Dhana.


"Ada apa Uncle?" tanya Aiziel, heran.


Mata Dhana masih menatap lekat layar ponselnya yang menyala, memperhatikan titik koordinat keberadaan sang putri yang semakin menunjukan jalan keluar. Namun seketika mata Dhana membulat sempurna, melihat keberadaan Wulan yang tiba-tiba bergerak lagi, tidak seperti tadi yang diam. Membuat Dhana mengeryitkan dahi, lalu mengangkat kepalanya dengan cepat.


Brum!


Dhana terbelalak, melihat dua buah mobil saling beriringan keluar dari rumah kosong itu dengan kelajuan tinggi, melewati mobil Ammar dan mobil Bram yang bersembunyi di balik semak belukar tak jauh dari rumah kosong itu. Sementara Ammar, Sadha, Mala, dan Aiziel yang ikut melihat mobil itu hanya mengeryit heran, kendati hati mereka berkata kalau mobil itu ada mobil Gibran.


"Pak Dhana..."


Dhana, Mala, Ammar, Sadha, dan Aiziel terlonjak kaget. Melihat Bram yang datang mengetuk kaca jendela mobil mereka.


"Ada apa Pak Bram?" ujar Dhana, heran


"Itu mobil Tuan Gibran, Pak! Saya yakin, Wulan dan Rumi akan dibawa ke suatu tempat oleh lelaki itu!" seru Bram, gusar.

__ADS_1


"Cepat ikuti mereka, Pak!" seru Dhana.


Bram mengangguk, beranjak cepat dan masuk kembali ke dalam mobilnya di sana. Sementara Dhana bergegas memakai lagi seatbelt, membuat yang lainnya bingung.


"Dugaan Dhana benar, Mas. Alat pelacak yang ada di kalung Wulan bergerak karena Gibran membawanya pergi barusan." ujar Dhana, bersiap untuk melajukan mobilnya.


"Kalau begitu, ayo jalan sekarang Dhana!" seru Sadha, tidak tahan lagi untuk segera menghabisi makhluk kejam seperti Gibran.


"Iya Mas..." jawab Dhana.


Dhana menghela kasar, sebelum kakinya menginjak pedal gas mobilnya hingga kuda besi itu bergerak menyusul Bram yang telah lebih dulu mengejar mobil Gibran di depan.


***


"Mas Al...! Mas...! Buka pintunya!"


Cahaya lampu yang masih menerangi rumah, membuat Damar yang tidak bisa tidur karena terus memikirkan sang adik, memilih untuk menghampiri kamar Aifa'al yang ternyata masih menyala lampunya.


Ceklek!


Tidak butuh waktu lama, Aifa'al membuka pintu kamarnya untuk Damar. Sementara Damar sempat celingukan, melihat situasi yang kebetulan sudah sepi karena semua orang telah tidur mungkin. Namun Damar tidak ingin gegabah, tak ingin memancing kecurigaan seisi rumah di larut malam ini.


"Damar? Kamu belum tidur?"


"Ck! Bagaimana bisa Damar tidur Mas? Sedangkan pikiran Damar masih tertuju pada Adek."


"Lalu kenapa kamu ke sini?"


Damar menggiring matanya, melihat situasi aman terkendali, tidak ada orang yang akan memergoki dirinya menghampiri sang mas. Sementara Aifa'al mengeryit, heran melihat tingkah Damar yang sangat aneh.


"Kamu kenapa sih? Aneh banget!"


"Damar ingin menyusul Papi, Mas!"


"Ck! Jangan gila kamu, Damar!"


"Damar tidak gila, Mas. Damar serius!"


"Tidak! Mas tidak mengizinkan!"


"Damar tidak pergi sendirian! Itu alasannya kenapa Damar menghampiri Mas ke sini!"


"Maksud kamu apa?"


"Damar dan Mas! Kita akan menyusul Papi!"


Aifa'al tertegun, melihat tekad Damar yang bulat, menyusul sang papi yang tengah berjuang menyelamatkan adik kembarnya. Sama persis dengan niatnya yang semula, namun tidak mendapat izin dari sang oma.


"Caranya? Kamu lihat kaki Mas 'kan?"


"Kita ajak Bu Kinan, Mas!"


"Ck! Kenapa Mas tidak berpikiran ke arah sana sejak tadi?"


"Jadi? Mas setuju dengan usul Damar?"


Aifa'al terdiam sesaat, tampak menimbang perkataan sang adik yang cukup berbahaya namun sesuai dengan niat di hatinya untuk menyelamatkan sang adik dan menghabisi orang yang telah menyakiti fisik sang adik. Sungguh, niat awal yang dipatahkan sendiri oleh Damar, namun kini Damar sendiri pula yang bersemangat mengajak Aifa'al pergi.


"Ide bagus! Lalu sekarang bagaimana?"


"Kita ke rumah Bu Kinan pakai motor Mas!"


"Kamu yakin, orang rumah tidak curiga?"


"Tidak akan, Mas. Selagi kita cerdik!!!"


Aifa'al tersenyum miring, melihat senyum Damar yang tak kalah licik untuk malam ini.


"Oke... kita pergi sekarang! Tapi Mas ingin mengambil sesuatu terlebih dahulu!"


"Mas ingin mengambil apa?"


"Senjata! Kita tidak bisa pergi dengan tangan kosong saja, Damar! Tunggu ya!"


Damar menghela berat, mengontrol deru nafas yang sejak tadi kian berpacu dengan situasi rumah, takut jika tiba-tiba sang oma atau bahkan sang opa memergoki dirinya berdiri di kamar Aifa'al sembunyi-sembunyi. Sementara Aifa'al berjalan pincang, masuk ke dalam kamarnya dan mengambil senjata yang akan dibawanya pergi dengan Damar.


"Mas... ayo cepat! Nanti keburu Oma atau Opa bangun lagi! Rencana kita bisa gatot!"


"Ck! Sabar dulu dong! Kalau kamu takut ketahuan, kita tidak perlu lewat tangga!"


"Terus kita lewat mana? Masa terbang!"


"Balkon kamar Adek! Kamu pernah cerita 'kan, kalau Adek pernah kabur dari rumah dengan lilitan kain di balkon kamarnya itu?"


"Tapi kaki Mas seperti itu memang bisa?"


"Justru yang Mas ragukan itu kamu! Mas sudah biasa kabur dari rumah seperti Adek!"


Damar berdecak gemas, menatap jengah sang mas tengah yang sedang mengejek, meragukan kemampuannya yang memang belum pernah merasakan bagaimana asyik dan menantangnya kabur dari rumah. Lupa jika mas tengahnya itu dulu pernah menjadi anak pembangkang, keras kepala dan keras hati, sering minggat dari rumah setelah bertengkar dengan Ammar bahkan Aiziel.


"Hei...! Kenapa diam? Kamu tidak berani?"

__ADS_1


"Berani kok, Mas! Ayo kita pergi sekarang!"


Aifa'al tergelak lirih, melihat sikap Damar yang sebenarnya gugup karena takut tidak bisa membuktikan bahwa dirinya berani untuk terjun dari atas balkon dengan kain. Sementara Damar berjalan lebih dulu, tak ingin memperlihatkan kegugupan dirinya di depan sang mas yang sayup-sayup tengah menertawakan dirinya yang mendadak pias.


Drap!


Dengan kakinya yang masih terluka, Aifa'al berjalan menyusul Damar masuk ke kamar Wulan. Menutup pintunya kembali setelah keduanya masuk secara mengendap-ngendap. Aifa'al dan Damar melangkah lagi, mengambil lilitan kain lalu berjalan mendekati jendela, meraih balkon.


"Berani 'kan?" tanya Aifa'al, menepuk bahu Damar yang terdiam menatap ke bawah.


"Bismillah saja lah, Mas." jawab Damar, mengurut dada yang semakin berpacu.


"Biar Mas duluan agar kamu bisa meniru Mas. Ya?" ujar Aifa'al, meyakinkan Damar.


Damar mengangguk, menelan saliva nya susah payah saat melihat ketinggian yang baru ia sadari. Sementara Aifa'al beranjak, bergegas turun ke bawah dengan lilitan kain yang sudah mereka rangkai sedemikian rupa, lalu diikat sekuat mungkin di balkon.


Grep!


Hap!


Damar terkesiap, melihat betapa gesitnya Aifa'al turun dengan lilitan kain itu dalam kurun waktu yang kurang dari satu menit kendati kakinya sedang terluka parah, membuatnya semakin gugup. Takut jika caranya turun tidak akan sama seperti cara sang mas turun, tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Sementara Aifa'al yang sudah sampai di bawah, melambaikan tangannya. Menyuruh Damar untuk bergegas turun ke bawah sebelum semua orang melihatnya.


"Damar... ppssttt! Ppssttt! Ayo cepat!"


Damar menghela panjang, mengatur nafas yang semakin tak terkendali kecepatannya, melihat ke bawah berkali-kali, memastikan kalau situasi dan kondisi di bawah nyaman.


"Ayolah Damar! Kamu harus bisa! Demi Adek! Kamu tidak boleh takut! Bismillah!"


Perlahan Damar mengangkat kakinya, menaiki balkon kamar sang adik seraya memegangi lilitan kain yang terikat kuat, mengikuti teknik yang sempat ia perhatikan ketika Aifa'al turun menggunakan benda itu. Kendati degup jantungnya semakin cepat, namun tidak menyurutkan niat di hatinya.


Bruk!


Damar hilang kendali, membuat tubuhnya meluncur bebas hingga jatuh dengan keras dan menimbulkan suara yang cukup keras. Sementara Aifa'al bergegas meraih tangan Damar, membawanya berdiri dan beranjak, bersembunyi terlebih dahulu, memastikan jika situasi setelah Damar jatuh tetap aman.


Ceklek!


Aifa'al dan Damar terperangah, mendengar suara pintu utama rumah sang opa terbuka. Membuat mereka semakin terbelalak saat melihat Vanny yang ternyata keluar rumah, mengedar mata, sedang mencari sesuatu.


"Kamu sedang apa Dek?" tanya Ibel, ikut keluar saat melihat adik iparnya itu keluar.


"Vanny mendengar suara benda terjatuh tadi, Kak. Tapi aneh, tidak ada apa-apa di luar. Padahal Vanny yakin, kalau telinga ini mendengar suara jatuh yang cukup keras." jawab Vanny, masih mengedar matanya.


"Mungkin hanya perasaan kamu saja, Dek. Sudahlah, ayo masuk lagi. Kakak tidak mau kalau sampai kamu sendirian berada di luar! Tidak aman!" seru Ibel, menarik tangan adik iparnya itu.


"Tapi Kak, Vanny..."


"Sudah, ayo masuk! Kita duduk di ruang keluarga saja sambil menunggu kabar dari Mas Ammar, Sadha, Dhana dan juga Mala." potong Ibel, menarik tangan Vanny masuk.


Vanny menghela pasrah, mengikuti sang kakak ipar masuk ke dalam rumah kendati dirinya masih sangat penasaran. Semasuk Ibel dan Vanny ke dalam rumah, Aifa'al dan Damar yang bersembunyi menghela lega. Mengurut dada yang kini berpacu kencang setelah mereka tahan beberapa menit agar tidak menimbulkan suara yang memancing kecurigaan Ibel dan Vanny.


"Ck! Karena kamu, kita hampir ketahuan!"


"Maaf ya, Mas. Kaki Damar kepeleset."


"Makanya hati-hati dan pakai strategi!"


"Iya, yang penting 'kan kita masih aman."


"Aman apanya! Terus bagaimana caranya kita mengeluarkan motor? Mommy dan Bulik ada di ruang keluarga! Mereka bisa mendengar suara motor dari dalam nanti!"


"Untuk urusan itu Mas tenang saja. Motor Mas belum masuk ke garasi rumah kok!!!"


"Maksud kamu?"


"Ituuuuu...! motor Mas di sana."


"Kenapa motor Mas bisa ada di sana? Kalau hilang bagaimana? Kamu mau ganti, hah?!"


"Ihhh kenapa marah-marah sama Damar! Yang membawa motor Mas 'kan Rainar! Kenapa jadi Damar yang salah?"


"Ck! Anak itu...!"


"Sudahlah, Mas. Yang penting motornya masih aman sentosa dan sejahtera 'kan? Lebih baik kita pergi sekarang, sebelum Bulik dan Bude keluar lagi kerena curiga!"


Aifa'al menghela berat, lalu beranjak dari tempat persembunyian di balik mobil sang uncle yang masih terparkir di luar garasi. Sementara Damar beranjak cepat seraya mengendap-ngendap, mendekati motor Aifa'al yang masih terparkir di dekat pagar, membuat sang pemilik motor sempat kesal karena motornya dibiarkan berdiri jauh dari garasi, dan pastinya bisa mengundang rasa ingin memiliki yang tinggi dari sosok maling.


"Siap Mas?" tanya Damar yang siap.


Aifa'al yang duduk di belakang Damar menghela lagi, meyakinkan diri dan hati, membulatkan tekad untuk menyusul sang daddy yang tengah membantu sang uncle mencari keberadaan Wulan. Kendati ia tau, bahwa setelah ini akan ada amukan massal dari orang di rumah setelah mengetahui aksinya bersama Damar yang berbahaya.


"Bismillah! Mas siap! Ayo kita pergi!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All 😇😇😇


__ADS_2