
...☘️☘️☘️...
"Woi...! Jangan kabur lo!"
Seruan suara Aifa'al yang menggelegar sukses mengejutkan Aiziel, Syahal-Syahil, Damar dan semuanya. Sementara Aifa'al beranjak dari tempat dengan sangat cepat, mengejar sesosok hitam yang ingin berlari.
"Al...!" seru Aiziel.
"Mas Al...!" seru Syahal-Syahil.
Aiziel dan Syahal-Syahil pun ikut beranjak, menyusul Aifa'al yang tengah berlari cepat, mengejar seseorang yang tampak samar karena gelap akibat kurang pencahayaan. Sementara Ammar dan Sadha yang kaget dengan seruan Aiziel memanggil sang adik pun hanya bisa terpaku.
"Anak-anak...!" seru Ammar.
"Mereka mau ke mana Mas?" tanya Sadha.
"Entahlah, Sadha. Ziel dan si kembar berteriak memanggil Al yang sepertinya tengah mengejar seseorang di depan sana." jawab Ammar, masih memantau anak-anak.
"Ayo kita susul, Mas!!!" seru Sadha, ingin mengejar anak-anaknya.
"Tidak perlu, Sadha!!! Mereka pasti bisa mengatasinya!!!" seru Ammar, mencegah.
Ammar dan Sadha tetap di posisinya, namun mata keduanya tetap memantau walaupun jarak mereka yang cukup jauh.
***
"Woi...! Berhenti lo...!!!"
Aifa'al terus berlari, mengejar seseorang yang sudah siap melajukan motor dengan kecepatan kilat, meninggalkan Aifa'al yang terus berseru, berusaha menghentikannya.
Greng!
Suara keras mesin motor yang sudah pergi sukses membuat Aifa'al menggeram kesal. Tangannya mengepal kuat, rahangnya pun ikut mengeras, menghunuskan tatapan membunuh yang tajam pada seseorang itu.
"Al...!" sahut Aiziel, terengah-engah.
"Siapa dia Mas?" tanya Syahil, terengah.
"Pengecut! Dia seorang pengecut yang hanya berani meneror orang diam-diam!" jawab Aifa'al, mendengus sangat marah.
"Apa kamu melihat wajahnya Al?" tanya Aiziel, mengusap punggung Aifa'al untuk menenangkannya.
"Dia pakai masker, Mas! Sulit bagi Al untuk mengenali wajahnya, apalagi di saat gelap seperti ini." ujar Aifa'al, berusaha tenang.
"Dia pasti suruhan Gibran lagi!!!" timpal Syahil, menatap tajam kabut malam.
"Ya sudah... sebaiknya kita kembali ke rumah, Mas!!! Kasihan Adek masih syok." timpal Syahal, menengahi emosi keduanya.
"Syahal benar, Al. Lebih baik kita pulang sekarang. Ayo!!!" ujar Aiziel, menarik sang adik yang sepertinya enggan beranjak.
"Ayo Syahil!" seru Syahal, menarik Syahil.
Aifa'al dan Syahil yang masih menahan geram hanya pasrah, mengikuti gerakan sang mas yang terus menariknya pulang. Saat mereka sampai di depan gerbang, ternyata Wulan masih berada di posisinya, meringkuk ketakutan dan tampak tergugu.
"Uncle... lebih baik kita bawa Adek masuk ke dalam!!! Kasihan nanti Adek bisa sakit!!!" seru Aiziel yang menghampiri sang uncle.
"Ayo Damar! Bawa adik kamu masuk ya!" timpal Dhana, setelah memberi anggukan pada sang keponakan.
Damar mengangguk patuh, lalu beranjak perlahan tanpa melepas dekapannya dari sang adik yang masih tergugu ketakutan. Diikuti semuanya yang tampak masih syok karena terkejut mendengar pekikan Wulan.
Perlahan Damar membawa sang adik duduk, masih dalam posisi memeluknya.
"Minum dulu, Sayang!" ujar Ibel, duduk dekat dengan Wulan dan menuntunnya.
Wulan melerai pelukannya, menjangkau gelas yang diberikan oleh sang bude lalu menegaknya sampai habis. Nafasnya pun terengah-engah karena menahan takut. Sementara yang lainnya ikut terpaku pada posisi duduk, melihat Wulan yang gemetar.
"Sebenarnya apa yang terjadi Nak?" tanya Bu Aini, tidak bisa menahan penasarannya.
"Iya, Sayang. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa kamu terpekik begitu keras dan meringkuk ketakutan di luar sendirian?" timpal Ibel, mengelus pucuk kepala Wulan.
Wulan pun menghela nafas berkali-kali, menetralisir rasa takut yang menyelimuti, berusaha tenang dan menepis rasa gelisah yang tengah menyeruak di dalam dada.
"Semuanya karena kotak ini, Mommy!!!" jawab Aifa'al, menunjukan kotak yang ia temukan di luar gerbang.
"Coba Uncle lihat kotak itu!" seru Dhana.
"Sebelum Uncle membukanya, Uncle harus bisa menahan bau busuk dari dalam sana!!!" seru Aifa'al seraya mengulurkan kotak itu.
"Memang apa isi kotak itu Al?" tanya Pak Aidi, tak bisa menampik rasa penasarannya.
"Kita lihat saja, Opa!" jawab Aifa'al, tegas.
Dhana mengeryit bingung, menatap sang keponakan yang sedang menahan marah. Sama hal dengan yang lain, namun tidak dengan Wulan yang sudah melihat isi dari kotak teror misterius itu.
"Cepat buka, Dhana!" seru Ammar.
Dhana mengangguk patuh, menghela panjang sesaat sebelum tangannya mulai bekerja membuka penutup kotak teror itu.
Srek!
Mata Dhana membulat sempurna tatkala mendapati sebuah kain kafan kosong tapi berisi tulisan, memakai tinta merah pekat.
__ADS_1
"KAMU AKAN MATI!!!"
Tidak hanya mata Dhana yang membola, kini semuanya pun tak kalah tercengang, mendengar perkataan Dhana yang sesuai dengan apa yang tertulis di kain kafan itu. Bau amis dari darah pekat pada kain kafan itu pun menyeruak keluar, hingga membuat semua orang mendadak mual ingin muntah.
"Siapa yang berani meneror kamu, Dhana? Bilang sama Mas! Mas akan menghajarnya dengan tangan Mas sendiri!!!" seru Ammar, geram dengan musuh sang adik.
"Dhana rasa, semua ini ulah..."
"Anak buah Gibran! Dan orang yang sempat Al kejar tadi pasti orangnya, Daddy!" tukas Aifa'al, memotong perkataan sang uncle.
"Apa kamu sempat melihat wajahnya Al?" timpal Sadha, geram sekaligus penasaran.
"Sayangnya tidak, Paklik! Itulah yang Al sesali! Padahal hampir saja tangan Al ini menghabisi orang itu!" ujar Aifa'al, marah.
"Sabar, Al! Kamu tidak boleh gegabah!" timpal Ibel, memberikan peringatan tegas.
Aifa'al menghela kasar, emosi yang kini tengah mengusai diri seakan enggan pergi, ingin sekali melampiaskannya pada orang yang sempat ia lihat tadi. Sementara Aiziel dan Syahal yang berada di samping Aifa'al, juga ikut menenangkannya.
"Kita harus mencari tau, siapa antek-antek Gibran yang masih berkeliaran bebas, Mas!" ujar Syahil, menoleh tajam melihat Aifa'al.
"Syahil... kamu jangan nekat, Sayang! Gibran itu sangat berbahaya!" seru Vanny, memperingati sang putra yang masih kesal.
"Mama mu benar, Sayang!!! Oma mohon, jangan ada di antara cucu-cucu Oma yang bertindak gegabah tanpa rencana!!!" timpal Bu Aini, cemas melihat sang cucu emosi.
"Tapi Syahil benar, Oma, Bulik!!! Jika kita tetap diam dan membiarkan Gibran beserta anak buahnya berkeliaran di luar sana, tidak hanya Adek, tapi kita semua pasti juga akan terancam, apalagi Anty Mala!" tukas Aifa'al.
"Iya, Al. Bulik dan Oma mengerti, kami semua di sini sangat mengerti!!! Tapi tidak dengan gegabah, Nak! Kami semua tidak ingin kalian celaka!" tutur Vanny.
"Tapi Bulik..."
"Al... Opa mengerti perasaan kamu, Nak! Kamu pasti sangat mencemaskan Wulan dan keluarga kita, tapi yang dikatakan oleh mama dan oma mu itu semuanya benar!!! Dalam keluarga kita ini, keselamatan dan saling melindungi adalah prioritas terdepan! Opa yakin, adikmu Wulan, pasti juga setuju dengan perkataan Opa, Oma, Bulik dan mommy mu." ujar Pak Aidi, menenangkan sang cucu yang masih diselimuti amarah.
Wulan yang sudah tampak lebih tenang, mengangguk cepat. Mendukung sang opa yang mewakili perasaan cemas jika kedua masnya itu bertindak gegabah dan ingin mencari tau segalanya tanpa ada rencana. Sementara Aifa'al dan Syahil yang melihat anggukan sang adik dengan seutas senyum manis itu hanya menghela berat, setelah keduanya saling pandang barang sejenak.
"Baiklah! Al akan menuruti perkataan Opa, Oma, Mommy dan Bulik! Tapi jika kejadian ini terjadi lagi, Al mohon agar kalian tidak menghalangi Al lagi!" jawab Aifa'al, masih marah sebenarnya lalu memilih untuk pergi.
Pak Aidi menghela nafas berat, melihat sikap sang cucu yang tetap keras kepala, tidak ingin dibantah walaupun sudah salah.
"Syahil mau menyusul Mas Al!" seru Syahil.
"Tunggu, tunggu! Kamu tidak berniat untuk membuat rencana diam-diam dengan Mas Al 'kan?" tukas Syahal, menelisik sang adik.
"Ck! Jangan mulai deh, Mas!" seru Syahil.
"Ya bisa saja kamu dan Mas Al ingin kabur lalu melakukan rencana diam-diam." tukas Syahal, merotasi matanya jengah dengan situasi tegang yang melanda keluarganya.
Alih-alih menjawab, Syahil hanya berdecak lalu pergi menyusul Aifa'al ke teras samping rumah. Sementara Syahal dibuat kesal oleh sang kembaran, hingga memancing sesaat senyum semua orang yang ada di sana.
"Ayo Mas! Dari pada mereka kabur nanti, bisa-bisa masalah ini bakalan makin runyam!" jawab Syahal, beranjak lebih dulu.
Aiziel menggeleng kepala, lalu bergegas meninggalkan ruang tamu dan menyusul Aifa'al dan Syahil ke teras samping rumah.
"Dhana... kalau benar kotak teror itu untuk Mala, tapi kenapa peneror nya meletakkan kotak itu di depan gerbang? Hingga mata Wulan yang menjadi korban dan harus terkontaminasi dengan teror murahan itu!" ujar Sadha, masih geram tapi lebih tenang.
"Entahlah, Mas! Sebenarnya Dhana juga sempat terpikirkan pertanyaan Mas, tapi mungkin saja, kalau peneror itu tidak tau kondisi Mala yang sebenarnya seperti apa." jawab Dhana, melihat tulisan berdarah itu.
"Mungkin peneror itu mengira bahwa Mala lah yang akan menerima kotak itu, Sadha." timpal Ammar, melihat kedua adiknya.
"Nah itu maksudnya, Mas!" seru Dhana.
"Ya bisa saja sih, tapi tidak menutup kemungkinan juga bukan, jika peneror itu ternyata tau kondisi Mala. Lalu dia tengah memanfaatkan situasi untuk menjatuhkan psikis istrimu lagi, Dhana." timpal Sadha.
"Semua kemungkinan bisa terjadi begitu saja, Mas! Tanpa kita duga sebelumnya." jawab Dhana, seraya bersandar lemas.
"Tapi entah kenapa Damar rasa, kalau teror ini memang untuk Adek, Pi, Pakde, Paklik!!!" timpal Damar, menoleh ke arah ketiganya.
"Semoga saja tidak, Damar. Kasihan adik kamu kalau dia yang menjadi target teror Gibran." ujar Ammar, meyakinkan Damar.
"Ya semoga saja, Pakde." jawab Damar.
Wulan mengulas senyum tatkala Damar menoleh ke arahnya, menenangkan hati sang mas kembar yang mencemaskannya, berusaha meyakinkan melalui senyumnya bahwa semua akan baik-baik saja kendati dirinya sendiri pun sebenarnya tidak yakin.
"Ya sudah... untuk sementara, kita lupakan saja dulu masalah teror ini! Sebaiknya kalian semua istirahat karena hari semakin malam!" seru Pak Aidi, seraya beranjak dari sofanya.
"Kalau begitu Ammar sama Ibel pamit pulang dulu ya, Yah." ujar Ammar yang beranjak dan diikuti juga oleh sang istri.
"Tidak, Ammar!!! Ayah bukan menyuruh kalian untuk pulang malam ini! Ayah tidak ingin mengambil resiko, jika di perjalanan nanti terjadi sesuatu padamu dan juga Ibel! Lebih baik kalian di sini saja, sampai situasi aman dan besok pagi kalian boleh pulang!!! Keputusan Ayah juga berlaku untuk Sadha dan juga Vanny!" tutur Pak Aidi, tegas.
Ammar dan Ibel saling melempar pandang, begitu juga dengan Sadha dan Vanny yang ikut menjadi saksi titah tegas dari sang ayah. Membuat mereka terdiam, sebelum kepala mereka mengangguk patuh bersamaan.
Pak Aidi pun beranjak, disusul Bu Aini yang mengerti dengan guratan kecemasan sang suami, meminta semua anak, menantu dan cucunya untuk tetap bersama. Setelah Pak Aidi dan Bu Aini masuk ke kamar, Ammar dan Ibel pun beranjak setelah tangan halus Ibel mengelus wajah Wulan. Membiarkan kedua anak kembar itu bersama sang papi. Membuat Sadha dan Vanny mengerti, lalu bergegas pula masuk ke dalam kamarnya.
"Pi... Papi kenapa melamun?" ujar Damar.
"Papi takut kalian celaka!" jawab Dhana.
"Damar janji akan menjaga Adek, Pi!"
"Tapi Gibran sangat kejam, Damar!"
"Dan yang baik akan selalu menang, Pi!"
__ADS_1
Dhana terhenyak, menoleh ke arah dua anak kembarnya yang mengulas senyum, menenangkan sang papi yang ketakutan. Didukung sepenuhnya dengan anggukan Wulan, membenarkan perkataan Damar.
"Aaaaaahhh...!"
Suasana hening sesaat berubah. Dhana, Damar dan Wulan yang masih duduk di ruang tamu terjingkat kaget saat terdengar pekikan dari arah kamar Mala. Membuat mereka bergegas menuju kamar itu untuk melihat Mala yang terbangun dan histeris lagi.
Ceklek!
Dhana terperangah, melihat sang istri yang sudah terbangun namun tengah meringkuk diri di sudut kamar. Kondisi kamar pun sangat berantakan seperti kapal pecah.
Dhana pun masuk, menghampiri Mala yang tampak gusar. Sementara sang papi masuk dan menenangkan sang mami, Wulan yang sempat ingin menyusul pun dicegah cepat oleh Damar. Membuat netra gadis kecil itu berkaca-kaca, tak tega melihat sang mami histeris terpekik-pekik seperti itu.
"Aaaaaahhh...! Tidak...!"
"Mala! Kamu kenapa Sayang?"
"Tidak! Anakku tidak boleh mati!"
"Sayang... tenanglah!"
"Anakku tidak boleh mati! Tidak boleh!"
"Sayang... tenang! Ini aku, suami kamu!"
"Aaaaaahhh...! Jangan bunuh anakku!"
"Sayang... aku mohon tenanglah!"
Mala terus berteriak, melempar semua bantal ke sembarang arah seakan sedang mengusir seseorang, membuat sang suami kelimpungan saat menghadapi penyakitnya yang tiba-tiba kambuh entah karena apa.
"Damar... bawa Wulan keluar!" seru Dhana, melihat kedua anaknya yang masih terpaku di ambang pintu.
"Baik Pi! Ayo Dek!" sahut Damar, menoleh ke arah sang adik yang sudah menangis.
"Aaaaai... aass!!!" ujar Wulan, menggeleng kuat karena tidak mau meninggalkan Mala.
"Mas mengerti, Dek! Tapi di saat seperti ini Mami akan sangat berbahaya untuk Adek!" jawab Damar, berusaha membujuk Wulan.
"Aaaaai... aass!" ujar Wulan, terisak.
Damar menggeleng, membawa sang adik keluar dari kamar sang mami yang tengah menggila seperti tadi. Membuat Wulan kian terisak, moment yang ia tunggu sejak tadi sepertinya harus urung jika melihat kondisi sang mami saat ini.
"Damar... ada apa?" cercah Aiziel.
"Siapa lagi yang terpekik?" timpal Aifa'al.
"Damar... jawab!" seru Syahal-Syahil.
Aiziel menghampiri Damar, datang bersama Aifa'al dan Syahal-Syahil yang mendengar suara pekikan Mala dari arah teras samping rumah. Tidak berselang lama, para orang tua yang ingin beristirahat pun juga datang setelah terkejut dengan suara pekikan Mala.
"Suara siapa lagi itu?" tanya Pak Aidi.
"Mami! Mami histeris lagi, Mas, Opa!"
"Lalu di mana papimu?" timpal Ammar.
"Papi sedang menenangkan Mami, Pakde!"
"Kamu bantu Dhana, Mas!" seru Ibel.
Ammar mengangguk, melangkah lebar hendak menjangkau pintu kamar Dhana. Namun langkah Ammar terhenti, melihat Dhana yang keluar dengan tampang gusar, membawa sebuah kotak yang besarnya sama seperti kotak yang ditemukan Wulan.
"Bagaimana kondisi Mala, Dhana?"
"Mala sudah Dhana bius lagi, Mas!"
"Ini kotak apa?" tanya Ammar lagi.
Dhana menghela berat, membuka tutup kotak itu perlahan lalu mengeluarkan isinya, memperlihatkan pada semuanya apa yang ada di dalam kotak murahan itu.
"ANAKMU AKAN MATI!!!"
Sebuah tulisan di atas kain kafan bekas, bertinta merah darah dengan tulisan dan maksud yang hampir sama dengan kotak sebelumnya. Yang membedakan tulisan itu hanya kata 'ANAKMU' pada kotak di kamar Mala, dengan kata 'KAMU' pada kotak di luar gerbang yang ditemukan oleh Wulan. Membuat semua mata terbelalak, terkejut dengan teror yang datang bertubi-tubi ini.
"Dugaan Damar benar!" seru Ammar.
"Dugaan apa Mas?" tukas Sadha.
Ammar terbungkam, melihat Dhana sesaat yang terlihat mengerti dengan maksudnya. Keduanya pun menoleh, melihat ke arah Wulan yang tampak kebingungan, begitu pun dengan yang lainnya tapi tidak dengan Aifa'al. Pemuda itu menggeram, mengepal tangannya kuat berteman tatapan sangar, seakan paham dengan dugaan sang adik.
"Gibran bukan mengincar Anty lagi, Paklik! Tapi dia sedang mengincar Adek Wulan!!!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇