Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 53 ~ Yang Dirindukan, Datang!


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Aaaa... aaaaa..."


Ternyata ada tamu kehormatan yang tengah mengunjungi kedua wanita berbeda generasi itu. Dhina, lebih tepatnya arwah Dhina. Sosok cantik itu berjalan perlahan, mendekati sang ibu dan keponakan cantiknya. Senyum manis yang sangat dirindukan Bu Aini dan semuanya sejak 20 tahun berlalu tak luput dari wajahnya.


Kehidupan memang terus berjalan, tapi siapa yang bisa menjamin kesembuhan hati sosok ibu yang kehilangan putrinya, apakah baik-baik saja? Jawabannya, tentu saja tidak!!!


Bu Aini dan Wulan saling pandang, masih tertegun tidak percaya dengan apa yang kini mereka lihat di depan mata, secara nyata. Sesekali Bu Aini dan Wulan mengucek mata, berusaha menepis halusinasi yang tercipta. Namun arwah Dhina mengulas senyum nan indah, berdiri tepat di hadapan kedua wanita yang sangat ia sayangi dan sangat ia rindukan.


"Ibu... ini Adek! Putri kesayangan Ibu! Putri kesayangan Ayah! Adik kesayangan Mas Ammar, Mas Sadha dan Mas Dhana! Adek sangat merindukan Ibu." tutur arwah Dhina.


Bulir kristal kian menetes, membasahi wajah putih cantik berseri milik arwah Dhina. Begitu pun dengan Bu Aini dan Wulan. Mata mereka membulat sempurna, bulir bening menetes tanpa henti, menatap wajah berseri terbalut hijab di hadapan mereka. Perlahan, Bu Aini melangkah, membawa tubuh yang terasa kaku, mendekati sosok arwah sang putri tersayang.


"I-ini... i-ini benar kamu, Sayang? Apakah Ibu sedang bermimpi Nak? Apakah benar kalau yang ada di hadapan Ibu saat ini, adalah putri kesayangan Ibu yang telah lama menghilang?" tutur Bu Aini yang meraba, hingga tangannya menyentuh kulit mulus arwah sang putri.


Dhina mengangguk, tersenyum indah dengan tatapan penuh kerinduan di mata berbinarnya. Tangannya terbentang, memberi isyarat kalau ia ingin sekali memeluk sang ibu dengan erat. Bu Aini tersenyum getir, menghambur seketika ke dalam dekapan hangat arwah sang putri.


Tangis Bu Aini pecah, bergema memenuhi langit-langit kamar yang sudah lama Dhina tinggalkan bersama ribuan kenangan manis di dalamnya. Tak kalah pecah, Dhina membenam wajahnya ke dalam dekapan yang ia rindukan. Dekapan hangat yang selalu ada untuk dirinya, dekapan hangat yang selalu menenangkannya, dekapan hangat yang melebihi hangatnya api unggun malam. Tangis kedua wanita berbeda generasi dan berbeda dunia itu kian mendera, memancing isak tangis gadis kecil yang ikut menyaksikan betapa beruntungnya sang onty dibandingkan dirinya yang tidak pernah bisa merasakan hangatnya dekapan ibu kandung.


Entah ada keajaiban apa hari ini, arwah Dhina bisa menyentuh bahkan memeluk erat Bu Aini sepuasnya. Rasa ingin kembali ke dunia nyata, namun itu tak akan mungkin bisa terjadi untuk orang yang sudah bertahun-tahun pergi. Dhina menyeka bulir bening di wajahnya, melonggar sedikit dekapan hangatnya dari ibu tersayang. Diangkatnya tangan, mengusap lembut wajah sang ibu yang basah akibat menangis terisak. Seutas senyum pun terbit, menggiring mata ke aras gadis kecil yang menangis sendirian.


"Dia putri mas kembar kamu, Sayang." ujar Bu Aini yang terengah-engah karena sesegukan.


Tangan Bu Aini seakan tertempel, enggan beranjak dari punggung sang putri tercinta. Perlahan Dhina melangkah, menghampiri Wulan yang tergugu-gugu menangis terisak. Dhina berlutut, mensejajarkan tinggi dengan tinggi sang gadis kecil kesayangan masnya.


"Wulan sayang... Wulan mengenal Onty 'kan, Nak? Ini Onty! Adik kembarnya papi Wulan!" ujar Dhina seraya menangkup wajah Wulan.


Wulan mengangguk, wajahnya terlanjur basah karena bulir kristal yang kian deras membasahi pipi. Dhina tersenyum getir, merengkuh tubuh mungil yang mengingatkan dirinya pada masa kecil. Hampir sama seperti Wulan, tubuh kecil dan mungil, menjadi kesayangan semuanya.


"Jangan bersedih lagi, Sayang. Percayalah, kalau tidak lama lagi hati mami kamu akan terbuka untukmu, Nak. Onty selalu berdo'a di sana agar kamu, Damar dan papimu bahagia. Jaga kesehatan! Jangan sampai sakit ya, Nak! Karena kesehatan sangat lah mahal dan sulit untuk didapatkan bagi mereka yang sakit. Ini ujian untuk kamu yang kuat. Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umatnya. Do'akan selalu mami kamu. Dia itu wanita yang baik namun hatinya belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan hidupmu." tutur Dhina, mengelus kepala sang keponakan yang tak kalah malang dari dirinya.


"Aaaa... aaaaa... aaaaa... aaaa!" jawab Wulan yang enggan melerai pelukannya dari Dhina.


Dhina terhenyak, menoleh ke arah sang ibu yang sepertinya juga mengerti dengan bahasa Wulan. Dhina pun mengulas senyum, melerai sedikit pelukannya, menatap lekat netra Wulan yang sembap seraya menyeka air matanya.


"Tidak mungkin Onty bisa melakukan itu, Sayang. Kamu tidak boleh berkata seperti itu ya. Kamu harus bisa melewati masa sulit ini! Kamu harus lebih kuat dari Onty, Nak! Kamu kuat, kamu sehat dan kamu cerdas!!! Kamu harus bisa, dan jangan berakhir seperti Onty!" tutur Dhina seraya menangkup wajah Wulan.


Wulan tertunduk sedih, membuat Dhina tidak tega lalu merengkuh tubuhnya kembali. Bulir bening seakan tidak ada habisnya di matanya hari ini. Namun Dhina berusaha menenangkan keponakan kesayangannya. Sepersekian detik berlalu, Wulan terlihat lebih tenang, membuat Dhina melerai pelukannya lalu menghampiri sang ibu.


"Adek sayang Ibu! Maaf, kalau kepergian Adek membuat hati Ibu hancur dan rapuh. Mungkin hanya maaf yang bisa Adek katakan pada Ibu dan keluarga kita. Adek mohon, Ibu dan Mas Dhana harus kuat menghadapi sikap Kak Mala! Adek yakin Kak Mala hanya khilaf karena hati kecilnya tertutup sesuatu yang Adek sendiri tidak mengetahuinya. Adek yakin, Kak Mala akan berubah dan bisa menerima Wulan, Bu!" tutur Dhina yang menggenggam tangan sang ibu dengan erat.


"Ibu sangat percaya, Sayang! Ibu juga sayang sama kamu, Nak! Kenapa? Kenapa kamu pergi meninggalkan Ibu? Ibu ingin kamu di sini, Nak! Ibu ingin kamu tetap berada di rumah ini! Ibu sangat hancur karena kepergianmu, Sayang!!!" jawab Bu Aini yang tak mampu menahan isak.


"Adek pergi karena batas kemampuan Adek yang sudah berakhir, Bu. Sudah 20 tahun dan hari ini Allah tengah memberikan kuasa-Nya hingga Adek bisa berdiri di depan Ibu dan juga Wulan. Adek bersyukur, tapi Adek harus pergi!" tutur Dhina yang ikut meneteskan bulir kristal.

__ADS_1


"Tidakkah bisa kamu tetap berada di sini untuk sehari saja, Nak? Agar Ayah, Dhana dan Damar juga bisa bertemu denganmu." tanya Bu Aini.


"Adek tidak punya banyak waktu, Bu. Hanya Wulan dan Ibu yang menjadi tujuan Adek ke sini. Adek titip Wulan ya, Bu. Kuatkan hatinya dan jangan biarkan Kak Mala menyakitinya!" jawab Dhina yang mengulas senyum, meraih wajah sang ibu untuk terakhir kalinya.


Bu Aini kembali terisak, merengkuh tubuh sang cucu yang berdiri di sisinya, menatap kepergian sang putri untuk yang kedua kalinya setelah 20 tahun berlalu. Kabut tipis datang menyelimuti, membawa arwah Dhina setelah melepas rindu pada sang ibu, meninggalkan Bu Aini dan sang keponakan di dalam keheningan. Namun demi Wulan, Bu Aini harus tetap kuat, sesuai dengan permintaan arwah sang putri yang telah pergi.


"Itu onty-mu, Sayang. Dia sangat cantik sama seperti mamimu, bukan? Sama seperti kamu juga, Nak." ujar Bu Aini seraya mengelus wajah sang cucu dengan sayang.


Wulan mengangguk cepat, memuji di dalam hati betapa cantiknya sang onty saat datang menghampiri dalam wujud arwah, tidak bisa membayangkan betapa cantiknya sang onty ketika masih hidup di masa lalu, pasti sangat cantik melebihi arwahnya.


'Onty Dhina benar-benar sangat mirip dengan Mami, Oma. Saat memeluk Onty, Adek merasa sedang memeluk Mami'


Nafasnya yang masih tergugu-gugu, dibawa untuk mengatakan isi hatinya pada sang oma, mengungkapkan betapa mirip wajah sosok sang onty dengan wajah sang mami tercinta. Sementara Bu Aini yang melihat bahasa sang cucu pun mengangguk haru, berteman bulir kristal yang masih saja menetes tanpa permisi.


"Oma akan mengobati luka di punggungmu, Sayang." ujar Bu Aini seraya tersenyum getir, mengalihkan pembicaraan agar air matanya berhenti menetes.


Wulan mengangguk patuh, membawa tubuh yang masih terasa sakit duduk di tepi tempat tidur lalu disusul oleh sang oma yang kembali setelah mengambil kotak obat di dalam nakas.


***


"Mas Dhana..."


Pagi berlalu, berganti siang dengan pancaran sinar mentari yang semakin terik menyilaukan, memutar mesin waktu sehingga tiba di ujung waktu siang. Kewajiban sebagai umat muslim telah ia lakukan, duduk di atas kain sejadah ke arah kiblat, jari jemari dibawa untuk berdzikir, memuji sang Pencipta langit dan bumi beserta isinya yang sangat sempurna, mengucap kata demi kata yang teruntai menjadi sebuah do'a tulus dari hati, membawa pria dua anak yang masih terlihat gagah ini ke dalam keheningan.


Degh!


Dhana terpekur, menatap wajah yang mengukir senyum indah dengan sorot mata berbinar nan penuh kebahagiaan dan kedamaian. Wajah itu masih terlihat sama, cantik dan masih muda, tidak ada garis kerutan di wajah itu, membuat Dhana pangling dan enggan untuk mengerjap.


"A-adek..."


"Iya, Mas. Ini Adek!"


Dhana melangkah, satu langkah, dua langkah hingga tepat berada di depan arwah sang adik yang tetap tersenyum padanya. Terlihat bulir bening menumpuk di pelupuk mata, menatap nanar sosok berkilauan di hadapannya saat ini. Diangkat tangan yang lemas, meraih wajah itu. Berharap agar tangan itu bisa menyentuh sang adik yang datang berwujud arwah. Tidak ada rasa takut sama sekali, melainkan hanya ada rasa rindu yang menggebu, mengukir kenangan lama yang telah ikut terkubur bersama jasad sang adik, meninggalkan luka mendalam tiada tara.


Grep!


Dhana merengkuh tubuh arwah sang adik, memeluknya kian erat, mengalahkan eratnya perangko yang menempel pada amplopnya, menambah suasana haru yang menyelimuti hati keduanya. Anak kembar Bu Aini yang terpisah jarak. Jarak yang tidak bisa diukur seberapa jauh, jarak tak kasat mata yang tak bisa membuat keduanya untuk saling bertemu. Dhana dan Dhina menangis, memeluk erat satu sama lain, menumpahkan rasa rindu yang telah lama terpendam.


Terima kasih atas waktu yang sangat, sangat berharga ini Ya Allah. Terima kasih Kau telah memberikan kekuatan yang sangat besar ini untukku. Berkat waktu ini aku bisa menemui keluargaku. Keluarga yang telah lama kutinggal pergi. Gumam arwah Dhina dalam hati.


Hening. Belum ada yang membuka suara, masih tetap saling memeluk. Kecupan sayang terus Dhana daratkan pada kepala, kening dan kedua pipi arwah sang adik. Memanfaatkan situasi dan waktu yang mungkin akan singkat, seperti yang ia alami sebelum pernikahannya berlangsung 13 tahun yang lalu. Rasanya hari ini seperti mimpi. Sosok yang selalu di hati, sosok yang dirindukan datang menghampiri.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, mengejutkan Dhana dan arwah Dhina yang tengah larut dalam suasana haru penuh air mata kerinduan, membuat dua pria yang membuka pintu kamar itu terbelalak sempurna saat melihat sosok cantik berbinar.

__ADS_1


"Adek..."


Arwah Dhina tersenyum getir, menyeka bulir kristal yang membasahi wajah cantik berseri terbalut hijab putih. Sementara Dhana masih terisak, menghapus air mata yang kian deras. Arwah Dhina melangkah, mendekati keduanya yang masih berdiri terpaku di ambang pintu.


"Mas Ammar... Mas Sadha..."


Suara lembut nan parau seakan berbisik, mengusik telinga kedua pria yang baru saja datang dan berniat untuk menemui Dhana. Ammar dan Sadha termangu, lidahnya kelu, menatap nanar sosok yang baru pertama ini mereka lihat setelah sekian lama tidak. Mata yang berkaca-kaca, menuntun tangan untuk meraih tubuh arwah sang adik yang nyata.


"Mas tidak bermimpi 'kan Dek? Ini sungguh Adek? Adek sudah kembali lagi ke rumah ini. Mas sangat merindukan adik Mas ini. Jangan tinggalkan Mas lagi, Sayang. Tetaplah berada di sini, di tengah-tengah kita semua! Jangan pergi lagi, Sayang." tutur Ammar, tidak bisa menahan air mata yang mengalir tanpa izin.


Dhina tersenyum getir, memeluk erat sang mas sulung kesayangan tanpa mengatakan apapun. Sesaat kemudian, Dhina melerai pelukannya, menoleh ke arah sang mas tengah yang masih termangu. Namun air matanya tetap menetes.


"Mas Sadha..."


Sadha menangis lirih, dada yang terasa sesak membawanya meraih tubuh sang adik kembar, memeluknya dengan erat. Rindu, sangat rindu. Tidak ada yang bisa mengukur betapa besar kerinduan di dalam hati ketiga pria dewasa itu.


"Maaf, Dek! Adek pasti kecewa pada Mas! Mas sudah melanggar janji Mas sendiri. Maaf, Dek! Mas merindukan Adek. Mas sangat, sangat dan sangat merindukanmu, Sayang!" tutur Sadha yang terisak, mengecup sayang kening hingga kedua pipi arwah sang adik bertubi-tubi.


Arwah Dhina pasrah, membiarkan sang mas tengah tersayang menciumnya bertubi-tubi, seperti yang selalu dilakukan Sadha di saat dirinya masih hidup. Lalu kembali memeluk erat tubuh sang mas tengah, meraih tangan sang mas sulung dan sang mas kembarnya yang masih terpaku di tempat masing-masing.


Kini tampak lah sebuah pemandangan indah. Pemandangan yang selalu ada di masa-masa terdahulu, di mana sang adik bungsu masih hidup dan sehat, saling memeluk erat secara bersamaan. Walaupun usia yang tidak muda lagi, tak menyurutkan ketiga pria dewasa itu untuk saling berpelukan, menempatkan arwah sang adik tepat di tengah-tengah mereka.


Sepersekian menit, arwah Dhina berada di dalam dekapan ketiga mas tersayang. Lalu kemudian, Dhina melerai pelukannya hingga ketiganya pun menatapnya penuh makna.


"Adek bersyukur sekali, karena hari ini Adek bisa menemui orang-orang kesayangan Adek yang ada di dunia. Adek juga bersyukur karena Mas Ammar dan Mas Sadha datang di waktu yang sangat tepat. Ada sesuatu yang ingin Adek sampaikan pada kalian! Sebelum Adek harus kembali lagi ke alam Adek yang asli."


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Kita reuni sebentar ya 🀧πŸ₯Ί author lagi rindu banget sama mendiang yang senama dengan author πŸ˜… semoga kehadiran arwah Dhina di part ini bisa mengobati rindu para sahabat ya.


Jangan nangis ya 🀧 cukup author aja yang sampai berhenti 3x nulisnya karena nangis dan ngak kuat buat lanjut 😭 terlalu pakai hati nih soalnya, padahal yang ngetik jari bukan hatiπŸ˜…


Translate bahasa Isyarat Wulan di atas :


"Bawa Wulan pergi, Onty!"

__ADS_1


__ADS_2