Takdir Si Gadis Bisu

Takdir Si Gadis Bisu
Episode 65 ~ Kecurigaan Syahil


__ADS_3

...☘️☘️☘️...


"Jika sampai terjadi sesuatu pada Damar dan Adek, maka Mas sendiri yang akan membuat kamu membayarnya, Aifa'al!!!"


Rasa perih menjalar hebat di pipi Aifa'al, membuatnya mendengus kesal, menatap tajam Aiziel yang menatapnya tak kalah tajam dan membunuh.


"Jangan asal menuduh orang, Mas! Sudah Al katakan tadi, bahkan Al belum bertemu dengan mereka! Bagaimana mungkin Al bisa menyembunyikan Damar dan Wulan tanpa bertemu dengan mereka! Jangan membuat Al emosi, Mas! Al masih berusaha untuk menahan diri karena ini rumah Opa dan Oma! Jangan memancing amarah Al! Apa Mas punya bukti kalau Al yang menyembunyikan mereka?" ujar Aifa'al yang menatap tajam sang mas sulung.


"Bukti? Motor kamu itu sudah cukup menjadi bukti kalau orang yang menculik lalu menyembunyikan Damar dan Adek adalah kamu!!! Apa bukti itu masih belum cukup?" tandas Aiziel yang membalas tatapan tajam sang adik.


Aifa'al mendengus marah, tidak tahan dengan sikap mas sulungnya itu yang terus menuduh dirinya, membuatnya melangkah, hendak mendekati Aiziel dengan kepalan tangan yang siap ingin melayang. Namun sikap Aifa'al mampu ditangkap oleh Imam yang masih berdiri di sisi sang keponakan.


"Ziel, Al... tenangkan emosi kalian, Nak! Ayo kita duduk lagi! Paman akan menjelaskan semuanya padamu, Al!" ujar Imam yang berdiri di antara kedua keponakannya.


Tatapan tajam di antara dua bersaudara kandung itu tidak terputus, terpancar jelas dari sorot mata yang memerah, tangan kekar yang semakin mengepal. Namun keduanya ditahan oleh sang paman, yang membawa mereka duduk.


Aiziel duduk di sisi Syahal, membuat kembaran Syahil itu mengusap punggung sang mas untuk menenangkan. Sementara Aifa'al duduk di samping sang opa, memang saling berhadapan hingga tatapan tajamnya masih tertuju pada Aiziel.


"Al... Damar dan Wulan hilang saat mereka dalam perjalanan pulang dari rumah paklikmu. Awal cerita bermula dari pengeroyokan Syahil yang dilakukan oleh geng motor kamu, ada Bima juga di sana. Kamu bisa lihat, bagaimana kondisi wajah adikmu itu? Semua itu karena teman-teman geng motor kamu. Untung Damar dan Wulan datang hingga Syahil selamat dari keroyokan Bima. Lalu Damar dan Wulan mengantar Syahil pulang, tapi setelah itu mereka hilang entah ke mana." ujar Imam.


Aifa'al terdiam, menoleh ke arah Syahil yang duduk tanpa melihat ke arahnya. Bekas luka memar terlihat jelas, memenuhi wajah sang adik, membuat Aifa'al kesal dan sakit hati.


"Paman, Uncle dan paklikmu sudah mencari mereka, namun yang kami temukan hanya ponsel Damar yang tertinggal di dalam taksi. Taksi itu yang mengantar mereka pulang, tapi supir taksi mengatakan ada seorang anak muda yang menghampirinya di saat Damar dan Wulan berhenti di sebuah minimarket. Anak muda itu mengaku sebagai kakak Damar dan Wulan lalu menyuruh supir itu pergi. Untuk meyakinkan, supir taksi memberikan rekaman CCTV yang terpasang pada bagian belakang taksi dan merekam motor kamu. Apakah kamu sudah mengerti ke mana arah penjelasan Paman yang panjang lebar ini?" tutur Imam yang benar-benar menjelaskan kejadiannya.


Aifa'al menghela nafas panjang, mengerti dengan arah pembicaraan sang paman yang tidak berbeda jauh dengan tuduhan Aiziel, ikut menuduh dirinya secara halus.


"Jadi Paman menuduh Al yang telah mengikuti taksi Damar dan Wulan lalu menyembunyikan mereka? Tidak, Paman! Ini tidak benar!!!" jawab Aifa'al yang membela diri, meyakinkan Imam.


"Tapi motor kamu ada di dalam rekaman itu, Al!" ujar Pak Aidi seraya meraih tangan sang cucu tersayang.


"Sungguh, Opa!!! Itu bukan Al!!! Sejak pagi sampai siang, Al di kampus karena ada jadwal kuliah pengganti. Dan Al belum bertemu dengan Damar atau pun Wulan." jawab Aifa'al yang berusaha meyakinkan sang opa.

__ADS_1


"Bohong!!! Kamu pasti bohong!!!" tandas Aiziel yang membuat Aifa'al terlonjak kaget.


"Mas... Al memang nakal, Al memang anak geng motor berandalan yang terkenal liar dan jahat, dan Al memang membenci Wulan karena dia bisu!!! Tapi Al masih peduli dan sayang pada diri Al sendiri, Mas. Al tidak mungkin melakukan tindakan kriminal seperti yang Mas tuduhkan! Untuk apa Al menculik mereka? Untuk apa? Al tidak punya motif apa-apa untuk melakukan hal itu. Al tidak menyembunyikan Damar dan Wulan, Mas!!!" ujar Aifa'al yang meyakinkan sang mas sulung.


"Kalau bukan kamu, lalu siapa yang mengendarai motor itu? Tidak mungkin ada motor yang bisa berjalan sendiri!!! Jangan mengelak lagi kamu, Al!!!" tandas Aiziel.


Aifa'al mendengus kasar, rasa sesak di dadanya akibat tuduhan-tuduhan semakin menyiksanya, membuat raut wajah yang semula memerah kini tertunduk, kesal pasti, tapi ia harus meluruskan semuanya, meyakinkan keluarga kalau hilangnya Damar dan Wulan bukan perbuatannya.


"Opa, Oma... kalian pasti percaya pada Al 'kan? Cucu kalian ini memang nakal, tapi Al tidak pernah bertindak sejauh itu. Al memang membenci Wulan, tapi Al masih menghargai Uncle Dhana sebegai ayahnya dan adik dari Daddy, jadi mana mungkin Al melakukan hal itu. Tolong percaya pada Al, Opa. Tolong percaya pada Al, Oma!!!" tutur Aifa'al seraya berlutut di depan Pak Aidi dan Bu Aini.


Pak Aidi dan Bu Aini terdiam, sesaat mereka melempar pandangan lalu menoleh lagi, menatap lekat manik yang mulai berembun milik sang cucu, mencari kebohongan yang ada di dalam sana. Namun yang keduanya dapati hanya lah sebuah kebenaran, manik Aifa'al mengatakan segalanya, bahwa dirinya tidak bersalah.


"Paklik, Bulik, Uncle, Anty... Al mohon, percaya pada Al! Bukan Al orang yang mengikuti taksi Damar dan Wulan. Al tidak tau siapa yang membawa motor Al untuk melakukan semua ini. Tapi yang pasti, bukan Al orangnya. Sungguh!!!" tutur Aifa'al seraya berpindah, berlutut di depan Sadha, Vanny, Dhana dan Mala.


Sadha, Vanny, Dhana dan Mala saling pandang. Sama dengan yang dilakukan kedua orang tuanya, berusaha mencari sesuatu di dalam manik sang keponakan tapi yang ada hanya sebuah pengakuan jujur, bukan bohong.


Keringat dingin jatuh bersamaan dengan bulir kristal dari mata tajam seorang Aifa'al. Rentetan tuduhan sang kakak membuatnya sakit hati, tuduhan yang sama sekali tidak ia lakukan kini malah menyudutkan dirinya, membawa tubuh bergeser ke arah Aiziel, berlutur di depan sang mas yang duduk bersama Syahal dan Syahil.


"Al pasrah, Mas! Kalau memang semuanya tidak ada yang percaya pada Al, silakan!!! Al sudah mengatakan yang sebenarnya pada kalian, bukan Al yang mengikuti taksi itu, bukan Al yang menyembunyikan Damar Wulan. Kalian bisa memeriksa kamar Apartement Al, karena Al hanya mempunyai kamar itu sebagai persembunyian. Al tidak bohong!!! Al benar-benar tidak tau di mana Damar dan Wulan berada." tutur Aifa'al yang berlutut di depan Aiziel, tertunduk karena tidak ada kepercayaan untuknya.


Aiziel menghela nafas panjang, sangat mengerti dengan sifat Aifa'al yang nakal cenderung berbohong, membuat emosi dalam hatinya semakin menyala. Namun gerakan Aiziel mampu ditangkap oleh Syahil yang sejak tadi memperhatikan kedua masnya itu. Penuturan Aifa'al kali ini sungguh membenarkan firasatnya yang sempat keliru.


"Berdiri lah, Mas!!!" ujar Syahil yang meraih kedua bahu Aifa'al dan mengajaknya berdiri.


Aifa'al mendongak, melihat wajah sang adik yang penuh dengan luka memar karena Bima, membuat tangannya mengepal kuat, menahan amarah pada Bima yang berani memukul adiknya seperti ini. Kekecewaan yang Aifa'al rasakan pada Syahil yang telah berkhianat menurutnya seakan menguap, berganti dengan amarah yang semakin mendominasi.


"Apa benar Bima mengeroyoki kamu?" tanya Aifa'al yang meraih bahu Syahil.


Syahil mengangguk, mengulas sedikit senyum untuk menenangkan sang mas. Hatinya menghangat saat melihat kekhawatiran di mata Aifa'al yang begitu besar, walaupun ia tau kalau Aifa'al masih marah padanya, namun saudara tetap lah saudara. Sadar atau tidak, kekuatan naluri di dalam hati kecil sosok yang memiliki gelar kakak, tidak bisa dibohongi apalagi ditutupi.


"Mas akan membalasnya untuk kamu!!! Kamu harus percaya kalau Mas tidak menyembunyikan Damar dan Wulan! Pasti ada orang lain yang menggunakan motor Mas dan menjadikan Mas kambing hitam dari masalah ini!!!" tutur Aifa'al yang berusaha meyakinkan sang adik.

__ADS_1


"Jika memang seperti itu, Syahil ingin bertanya satu hal pada Mas! Setelah pulang dari kampus, Mas ke mana?" ujar Syahil yang tau betul dengan perangai sang mas.


"Mas pulang ke Apartement dan itu masih siang. Lalu Mas berniat pergi ke Basecamp dan Mas tidak pergi ke mana-mana lagi. Bahkan Mas ketiduran di sana sampai jam delapan tadi. Hanya kampus, Apartement, dan Basecamp yang Mas datangi hari ini, Syahil. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakan hal ini pada teman-teman di kampus. Mereka saksi keberadaan Mas selama di kampus hari ini." jawab Aifa'al yang berusaha menjelaskan secara jelas.


Syahil terdiam untuk sesaat, raut wajahnya yang terlihat tengah berpikir ia bawa untuk menoleh, melihat Aiziel dan Syahal yang saling pandang. Lalu Syahil menoleh lagi, melihat ke arah Sadha, Dhana, Imam, Vanny, Mala, Pak Aidi dan Bu Aini yang saling melempar pandangan satu sama lain setelah mendengar penuturan Aifa'al dan memancing sesuatu yang tersimpan di dalam diri Syahil.


"Saat Mas sampai di Basecamp, apakah Bima ada di sana?" tanya Syahil yang tengah mengorek informasi.


"Tidak, hanya Dimas dan teman-teman yang lain. Saat Mas bertanya, Dimas bilang kalau Bima sedang pulang karena ingin menyelesaikan masalahnya di rumah. Tapi setengah jam kemudian, Bima datang lagi dan dia membawa banyak makanan serta minuman untuk kami. Setelah kami semua makan-makan, Mas tidak tau lagi apa yang terjadi. Mas ketiduran di Basecamp, mungkin karena Mas terlalu banyak makan di sana." ujar Aifa'al yang menjelaskan.


"Saat Bima datang membawa makanan ke Basecamp, jam berapa Mas?" tanya Syahil yang semakin penasaran sekaligus geram.


"Bima datang kurang lebih jam tiga dan dia juga sempat ikut makan-makan dengan kami semua di Basecamp." jawab Aifa'al.


Syahil berdecak lirih, kecurigaan yang sejak tadi menyelimuti kekhawatirannya terkuak sudah bahwa memang bukan Aifa'al orang yang mengikuti taksi kedua adik kembarnya dalam perjalanan pulang, melainkan orang lain yang tengah ia curigai saat ini.


"Sepertinya Syahil tau siapa orang yang menggunakan motor Mas lalu mengikuti taksi Damar dan Adek!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All 😇😇😇


Kira-kira siapa ya yang menjadikan Al kambing hitam dari masalah ini?

__ADS_1


Terima kasih kakak² semuanya yang masih setia bersama author dan Wulan... 💛💛💛


__ADS_2