
Elena baru saja tiba di mansionnya. Ia segera turun tanpa menunggu sang supir membukakan pintu mobil untuknya. Elena mengernyitkan keningnya ketika melihat sebuah mobil mewah berwarna merah terparkir di halaman mansion. Jelas mobil itu bukan milik Dav, lalu mobil siapakah itu? Apakah mungkin Dav membeli mobil baru? Pikir Elena sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Non, Elena sdah pulang?"Tanya si bibi yang melihat kedatangan Elena.
"Iya, bi. Aku baru aja sampai."Jawab ElenaĀ seperti biasa di hiasi dengan senyuman di wajah cantiknya. "Minuman untuk siapa, bi?"Tanya Elena ketika melihat nampan yang berisikan minuman di tangan si bibi.
"Oh, ini untuk non Alisha, non. Non Elena masih ingatkan kekasih tuan Dav?"
"Oh iya aku ingat, bi."Jawab Elena riang, ia dulu memang dekat dengan Alisha, Alisha sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri."Kak Alisha sudah kembali, itu berarti ...."Elena menjeda ucapannya, ia langsung berlari menuju ruang tamu di mana tempat Alisha berada. "Kak Alisha..."Panggilnya ketika melihat Alisha sedang duduk manis di atas sofa.
Alisha seketika menengok ke arah Elena, ia tersenyum lalu berdiri, sementara Elena langsung berhambur memeluk tubuh Alisha. Sudah satu tahun ia tidak bertemu dengan Alisha, ia sangat merindukan Alisha sosok seorang kakak yang selalu membelanya ketika Dav mengomelinya dulu.
"Kakak kenapa baru pulang sekarang? Aku sangat merindukanmu tahu."Ucap Elena tanpa melepaskan pelukannya yang erat.
"Maafkan kakak, Elen. Kakak juga sangat merindukanmu."Balas Alisha sambil mengelus punggung Elena yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. "Bagaimana kabarmu selama ini? Apakah kamu baik_baik saja, Elen?"Tanya Alisha melepaskan pelukannya.
Elena tersenyum ia menuntun Alisha untuk duduk kembali di sofa."Aku baik_baik saja, kak. Bagaimana dengan kakak?"
"Syukurlah. Kakak juga baik_baik saja, kok. Hanya saja..." Alisha sengaja menggantung ucapannya membuat Elena penasaran.
"Hanya saja apa?" Tanya Elena.
"Kakak terlalu merindukan unclemu."Jawab Alisha membuat Elena terkekeh pelan.
__ADS_1
"Kalau kakak merindukan uncle, kenapa kakak tidak pulang saja?" Tanya Elena sambil bergelayut manja di lengan kanan Alisha. "Terus apa kakak tahu kalau sekarang uncle sedang pergi ke luar kota?"
"Silahkan di minum, non."Si bibi menaruh minuman di hadapan Alisha. "Non, Elena mau bibi buatkan minuman?"Tanyanya kepada Elena.
"Tidak usah, bi."Jawab Elena lembut.
"Yasudah kalau begitu bibi ke dapur dulu ya, non."Pamit si bibi yang mendapat anggukkan kepala dari Elena dan juga Alisha.
"Kak Alisha tidak tahu kalau uncle pergi ke luar kota?"Elena mengulang pertanyaannya.
"Dav ke luar kota? Kenapa dia tidak memberitahuku? Apakah aku memang sudah benar_benar tidak ada di dalam hatinya lagi?"Batin Alisha menahan rasa sakit dalam hatinya. Namun Alisha tetap berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan Elena. "Ah tentu, semalam Dav sudah memberitahu kakak." Jawab Alisha tetap menampilkan senyuman di wajah cantiknya. "Bagaimana kabar unclemu selama ini? Apakah dia masih mengekangmu? Apakah dia sudah memiliki perempuan lain selain kakak?"
"Dia masih sama, bahkan dia lebih parah di bandingkan dengan satu tahun yang lalu. Nyebelin banget deh. Tapi kalau soal perempuan sih, kayaknya uncle setia deh sama kakak." Ucap Elena membuat Alisha dapat bernafas lega karena pikiran negatif mengenai kekasihnya ternyata salah besar.
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau Dav setia sama kakak?"
"Benarkah begitu? Tapi kenapa aku merasa Dav sudah berubah? Bahkan Dav sudah tidak menginginkan kehadiran diriku lagi."Batin Alisha sedikit ragu dengan apa yang di ucapkan oleh Elena. Alisha menatap Elena, ntah mengapa tiba_tiba saja perasaannya sedikit khawatir. Khawatir jika Dav jatuh cinta kepada Elena gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. "Astaga, apa yang ku pikirkan? Seharusnya aku tidak khawatir seperti ini. Mungkin saja Dav berubah karena kita jarang sekali berkomunikasi. Sudahlah Alisha jangan berpikiran negatif lagi tentang Dav. Kamu harus percaya Dav."Alisha kembali membatin sambil menggelengkan kepalanya guna mengusir pikiran negatif tentang kekasihnya.
"Kak Alisha gak apa_apakan?"Tanya Elena ketika melihat Alisha menggelengkan kepalanya. "Kakak harus percaya sama aku, uncle Dav itu tidak mungkin mengkhianati perempuan sebaik dan secantik kakak." Elena menggenggam erat tangan Alisha, ia menangkap raut wajah kekhawatiran yang tersirat dari wajah cantik Alisha.
"Kakak gak apa_apa, kok. Dan kakak percaya sama ucapanmu."Jawab Alisha memperlihatkan senyuman manis di bibirnya."Lalu, bagaimana denganmu? Apa kamu sudah memiliki seorang kekasih?"Tanya Alisha membuat Elena menghela nafasnya kasar.
"Jangankan kekasih, teman laki_laki pun aku tak punya."Jawab Elena sambil mengercutkan bibirnya kesal."Kakak tahu kalau kekasih kakak itu tidak memperbolehkan aku untuk berpacaran ataupun berteman dengan laki_laki. Bahkan dia sampai ngancam aku segala."
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa Dav sampai mengekang Elena seperti itu? Apakah tebakkanku benar, bahwa Dav jatuh cinta kepada Elena?"Alisha membatin, pikiran negatif tentang Dav pun kembali merasuki otak kecilnya. "Benarkah?"Tanya Alisha yang mendapat anggukkan kepala dari Elena." Unclemu memang keterlaluan, nanti biar kakak yang bicara sama dia, ok."
"Terima kasih, kak. Kakak memang terbaik."Ucap Elena dengan bola mata berbinar."Kak, sebenarnya malam ini aku ada janji sama seseorang, apa kakak bisa membantuku?"
"Janji dengan siapa? Pacarmu?"Tanya Alisha penasaran.
"Bu,, bukan kak. Hanya seorang teman saja kok."Jawab Elena sedikit gugup."Kakak bantu aku ya, please..."
"Baiklah, kakak bakalan bantu kamu. Kakak tahu kamu pasti tidak di izinkan keluar oleh Dav kan?"Tebak Alisha tepat sasaran. Elena mengangguk pelan, membuat Alisha tersenyum."Yasudah kamu mandi dulu sana. Dandan yang cantik."
"Siap, bos." Jawab Elena cepat. "Kak, nanti kalau para pengawal suruhan si uncle nanya, bilang aja kita mau jalan_jalan, terus jangan biarkan mereka ikut. Kakak bilang aja kalau kita udah minta izin sama uncle Dav. Ok."Bisik Elena.
"Iya, kakak tahu. Yasudah sana cepetan mandi."
"Iya, iya. Makasih kakakku. Kalau begitu aku mandi dulu ya."Pamit Elena riang. Alisha hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
Elena segera bergegas melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dengan raut wajah yang terlihat begitu bahagia membuat Alisha tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Elena yang seperti anak kecil.
Elena versi aku, jika tidak suka boleh kok ber imajinasi sendiri ya. Oh iya kemarin Elena versi komiknyaš¤
Dav
__ADS_1
Bersambung.