
Setelah makan malam selesai, Dav dan juga Elena langsung pergi ke dalam kamarnya, begitupun juga dengan Sam, ia langsung bergegas pergi ke kamarnya. Makan malam kali ini sukses membuat si jomblo itu kebakaran bulu ketiaknya, bagaimana tidak! Bos dan istrinya itu terus memamerkan kemesraannya di hadapan dirinya yang seorang jomblo sejati itu. Ingin sekali Sam pergi meninggalkan meja makan tadi, namun sayangnya perutnya tidak bisa di ajak kompromi. Jadi mau tidak mau Sam pun harus makan dengan tenang sambil menyaksikan dua insan yang tidak berperasaan itu.
Dav menghembuskan nafasnya panjang, ia menatap istrinya dengan tatapan mata yang menurut Elena sangat sulit untuk di artikan, tatapan mata yang baru pertama kali Dav berikan kepada dirinya selama mereka tinggal bersama.
Dav mengusap pucuk kepala istrinya, kemudian ia memberikan ciuman hangatnya di kening sang istri, lalu kembali menghembuskan nafasnya panjang membuat Elena mengerutkan keningnya bingung juga sangat penasaran, mengapa suaminya itu tidak seperti biasanya? Apakah ada sesuatu yang ingin di ucapkan olehnya? Atau mungkin suaminya itu sedang mendapatkan masalah? Itulah pemikiran Elena saat ini.
"Ada apa denganmu sayang?" Tanya Elena lembut sambil menatap dalam kedua bola mata suaminya.
"Tidak ada apa-apa sayang." Jawab Dav sambil membawa sang istri ke dalam pelukannya.
"Aku tidak percaya." Elena mendongak, ia kembali menatap suaminya dalam. "Apakah ada yang ingin kamu katakan?" Tanyanya semakin penasaran.
"Tidak ada sayang. Sebaiknya kita tidur saja yuk." Ucap Dav sambil mengelus lembut wajah cantik istrinya. "Aku masih belum bisa mengungkapkan jati diriku kepadamu Elen. Aku masih takut, takut jika kamu akan membenciku, takut jika kamu akan meninggalkanku Elen. Maafkan aku." Batin Dav khawatir.
__ADS_1
"Sayang! Apakah kamu sedang berbohong? Bukankah tadi saat di telepon kamu bilang ada yang ingin kamu sampaikan kepadaku?"
"Waktunya tidak tepat sayang, mungkin lain kali saja, ya."
"Sayang! Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan padaku sampai-sampai kamu harus nunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya? Apakah sangat penting sekali?" Tanya Elena tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan suaminya. Elena benar-benar sangat penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh suaminya itu sehingga membuat suaminya terlihat ragu dan harus menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan kepada dirinya.
Dav menghela nafasnya kasar, ia menatap dalam dua bola mata sang istri yang terlihat tengah menanti jawaban dari dirinya. Jujur saja ia masih merasa ragu untuk mengatakan tentang jati dirinya itu, rasa khawatir juga takut selalu saja menghantui dirinya saat ini.
Dav kembali membawa sang istri ke dalam pelukannya, ia merasa sedikit lega karena istrinya tidak memaksa dirinya untuk mengungkapkan jati dirinya saat ini. "Terima kasih sayang. Jujur saja aku masih belum bisa mengatakannya saat ini. Aku minta maaf sayang." Ucap Dav sambil memberikan kecupan hangat di pucuk kepala sang istri. "Maafkan aku, Elen. Ternyata aku masih belum berani mengungkapkan jati diriku yang sesungguhnya saat ini. Tapi aku janji, aku pasti akan memberitahu dirimu siapa aku sebenarnya."Batin Dav.
"Tidak apa-apa sayang, kamu tidak perlu meminta maaf. Beritahu aku jika kamu sudah siap untuk mengatakannya. Mengerti." Elena berkata dengan nada yang masih terdengar lembut membuat Dav kembali mengukir senyuman di wajah tampannya. "Yasudah, sekarang kita tidur ya, besok kamu harus kerja, jangan sampai kesiangan." Ucap Elena sambil menjauhkan tubuhnya dari suaminya.
"Tidur?" Dav mengernyitkan keningnya, ia menarik kembali pinggang ramping sang istri membuatnya kembali ke dalam pelukannya. "Sayang! Apakah kamu sudah melupakan sesuatu yang sangat penting?" Bisik Dav sambil menggigit cuping telinga sang istri yang sensitif itu.
__ADS_1
Deg....
Detak jantung Elena mulai berdegup dengan sangat cepat, wajahnya mulai memerah, bahkan nafasnya mulai tak teratur Ketika tangan kiri suaminya sudah mulai aktif bermain di leher putihnya itu.
"Emmh... Sa,,,,sayang... I,, ini sudah malam," Ucap Elena gugup.
"Kenapa sayang? Bukankah semalam kita melakukannya di jam segini." Ucap Dav dengan suara beratnya. "Aku mau kamu malam ini, tidak ada penolakan sayang!" Bisk Dav sambil merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.
Elena mulai merasakan gelenyar aneh dalam dirinya, hawa panas mulai menyelimuti seluruh tubuhnya, deru nafasnya mulai tak beraturan ketika satu tangan suaminya terus menelusuri setiap inci tubuhnya. Dav tersenyum bahagia ketika sang istri sama sekali tidak memberikan penolakkan kepada dirinya, Dav mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri, mengikis jarak di antara keduanya, Dav mulai menempelkan bibirnya dengan bibir sang istri, lalu ********** dengan sangat lemut.
Perlahan Eelna mulai mengalungkan tangannya di leher sang suami, membalas setiap ******* yang di berikan oleh suaminya, membiarkan lidah sang suami masuk ke dalam mulutnya dan mengabsen setiap inci di dalamnya.
Bersambung.
__ADS_1