Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
seperti orang bodoh


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi. Elena dan juga Dav sudah berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh Sam asisten pribadi Dav yang beralih sebagai supir pribadi Dav karena supir penakutnya sudah di pecat dan Sam masih belum bisa menemukan supir yang cocok untuk bosnya itu.


Seperti biasanya, pasangan itu selalu menampilkan keromantisannya di belakang Sam si jomblo abadi itu. Dan seperti biasa, Sam akan brrsikap acuh tak acuh meskipun hatinya selalu merutuki bos yang tidak punya hati itu.


"Sayang, kalau kita punya anak, kamu ingin berapa? Satu, dua, tiga, atau empat?" Tanya Dav sambil mengelus lembut pucuk kepala sang istri.


"Dua saja." Jawab Elena singkat.


"Kenapa cuma dua? Kenapa tidak empat saja?" Tanya Dav lembut.


"Aku maunya dua, sayang."


"Empat saja, ya. Biar keluarga kita rame. " Ucap Dav membuat Elena langsung mendongak dan menatap suaminya. "Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku, sayang?" Tanya Dav sambil membalas tatapan tajam istri tercintanya itu.


"Tidak ada, ucapanmu benar." Jawab Elena kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Jadi empat ya?"

__ADS_1


"Terserah kamu deh." Jawab Elena malas. "Oh iya, sayang! Apakah unle Sam tidak tertarik sama perempuan?" Tanya Elena dengan tiba-tiba membuat Sam langsung menginjak pedal remnya.


"Sam.... Apakah kau sudah bosan hidup hah?" Geram Dav sambil menatap horor asistennya itu.


"Maafkan saya, bos. Tadi ada kucing di depan." Jawab Sam kembali melajukan kendaraannya.


"Lain kali hati-hati." Ucap Dav yang mendapat anggukkan kepala dari Sam. "Sayang! Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Dav kepada istrinya dengan sangat lembut dan penuh perhatian.


"Tidak apa-apa, kok. Kamu tidak perlu khawatir seperti itu." Jawab Elena sambil mengelus wajah suaminya yang terlihat khawatir.


Dav mengecup kening sang istri, kemudian berkata. "Sayang! Aku ini suamimu, bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkan istriku sendiri?"


"Aku tahu, sayang. Tapi aku selalu merasa khawatir jika mengenai keselamatanmu. Mungkin karena aku terlalu mencintaimu dan takut kehilanganmu sehingga membuat diriku menjadi berlebihan seperti ini." Ucap Dav sambil memberikan kecupan mesranya di pucuk kepala sang istri.


"Terima kasih, sayang. Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu. Maafkan aku, karena aku belum bisa menjadi istri terbaik untukmu...." Ucapan Elena tercekat di tenggorokkan ketika jari telunjuk sang suami menempel di bibirnya.


"Ssst.... Kamu tidak perlu berterima kasih dan kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku. Karena bagiku, kamu adalah istri yang terbaik di dunia ini. Seharusnya aku yang sangat beruntung memiliki istri sepertimu." Ucap Dav membuat Elena tersenyum bahagia.

__ADS_1


Dav kembali mendaratkan kecupannya di kening sang istri, ia tidak memperdulikan asistennya yang sudah kepanasan sedari tadi. Bahkan asistennya itu selalu berdoa dalam hatinya agar mobil yang di kemudikannya cepat tiba di bandara.


***


Sam memarkirkan mobilnya dengan sangat hati-hati. Lalu setelah itu ia pun segera turun dari dalam mobilnya dengan penuh semangat. Sam berjalan menuju pintu mobil bagian belakang, dengan wajah cerah, secerah mentari di siang hari, ia pun segera membuka pintu mobil itu. "Silahkan, bos." Ucapnya sambil memperlihatkan senyuman yang menurut Dav sangat menyebalkan.


"Jangan tersenyum seperti itu, kau seperti orang bodoh." Seru Dav membuat senyuman di wajah si jomblo itu menghilang seketika. "Ayo sayang turun." Dav mengulurkan tangannya kepada sang istri.


"Sayang! Kamu jangan berkata seperti itu, kasihan uncle Sam." Ucap Elena sambil menatap suaminya dengan tajam. "Uncle. Kalau uncle selalu tersenyum seperti tadi, pasti banyak perempuan yang tertarik sama uncle. Jadi! Uncle jangan dengerin ucapan bos uncle, ya." Elena berucap kepada Sam, tak lupa ia juga memberikan senyuman manisnya membuat si raja bucin itu menggeram kesal.


"Jangan tersenyum seperti itu kepada orang lain, sayang. Senyummu cukup untukku saja. Mengerti." Tegas Dav membuat Elena harus menghela nafasnya. "Istriku hanya menghiburmu saja. Jangan di ambil hati." Ucap Dav sambil menatap asistennya.


"Saya tahu, bos." Jawab Sam tidak mau berdebat dengan bos menyebalkannya itu. "Serah anda, bos." Batin Sam tanpa mau membalas tatapan tajam dari bosnya itu.


"Sayang! Ayo kita pergi." Ajak Dav sambil merangkul pinggang sang istri posesif. "Sam, kau bawakan koperku dan juga istriku, karena tanganku tidak bisa membawanya." Perintah Dav yang mendapat anggukkan kepala dari Sam.


Dav segera melangkahkan kedua kakinya bersama Elena. Sementara Sam berjalan menuju bagasi mobilnya dan mulai menurunkan koper bosnya tersebut.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2