Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Elena, bukan Alisha


__ADS_3

Dav merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya. Ia segera menghubungi Sam asistennya dengan tidak sabaran.


"Kenapa kau lama sekali mengangkat telponnya, Sam!"Tegur Dav kesal ketika Sam mengangkat panggilannya setelah bunyi dua kali.


Sam mengusap wajahnya kasar, hari ini adalah hari libur, waktunya untuk Sam istirahat. Sam baru saja terbangun ketika mendengar deringan dari ponselnya. Ia sebenarnya sangat malas untuk menjawab panggilan itu, namun ketika melihat nama sang bos, Sam segera menggeser tombol yang berwarna hijau, lalu bangkit dari tempat tidurnya. "Saya baru bangun, bos. Bukankah ini hari libur?"Sam menjawab sedikit kesal, ntahlah bosnya itu selalu saja mengganggu hari liburnya. Sangat menyebalkan.


"Jadi aku sudah mengganggu hari liburmu! Begitu maksudmu?"Ucap Dav kesal, sambil melangkahkan kakinya menuju sofa. Dav mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Tangannya meraih secangkir kopi yang sudah di siapkan oleh si bibi.


"Bukan begitu, maksud saya bos..."

__ADS_1


"Sudahlah, jangan banyak bicara."Sahut Dav memotong ucapan Sam kesal. Dav menyesap kopinya secara perlahan, menikmati rasa yang begitu pas di lidahnya. Setelah itu, Dav kembali menaruh kopi itu ke atas meja. Dav terlihat menghembuskan nafasnya kasar, lalu kembali berkata."Kau persiapkan acara pernikahanku dengan Elena. Dalam tiga Minggu, aku mau semuanya sudah selesai. Mengerti."Perintah Dav membuat Sam terkejut setengah mati.


Sam sangat yakin ia tidak salah dengar, tapi kenapa bosnya itu meminta dirinya untuk menyiapkan acara pernikahannya dengan Elena? Bukankah kekasih bosnya itu Alisha? Atau mungkin telinga Sam tersumbat sehingga dirinya mendengar nama Elena bukan Alisha. Sepertinya memang begitu. Sam kembali bernafas lega, setelah ia meyakinkan dirinya jika nama yang keluar dari mulut Dav adalah Alisha, bukan Elena. Sam mendehem pelan kemudian ia menjawab ucapan sang bos.


"Sepertinya anda sangat mencintai nona Alisha. Sampai_sampai anda mengadakan pernikahan secepat ini. Saya turut bahagia."Ucap Sam sambil menyunggingkan senyumannya di seberang telpon sana. Sementara Dav langsung mengerutkan keningnya kesal, rasanya ia tidak salah menyebutkan nama Elena tadi. Tetapi mengapa Sam menyebut nama Alisha? Apakah Sam mendadak budeg sekarang? Pikir Dav di iringi dengan dengusan kesalnya.


"Apa kau mendadak budeg, Sam?"Teriak Dav membuat Sam berjingkat kaget di seberang telpon sana. "AKU BILANG ELENA. BUKAN ALISHA. KAU DENGAR."Dav kembali berteriak membuat Sam langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya. Bosnya itu bener_bener gak ada akhlak. Berteriak sesukanya saja.


"Laksanakan saja perintahku, Sam."Tegas Dav.

__ADS_1


"Baik, bos." Jawab Sam cepat. Ia tidak ingin membuat bosnya marah, lalu memotong gajinya, Atau lebih parah lagi, mengirimnya ke Afrika. Membayangkannya saja membuat Sam merinding seketika.


"Pastikan semuanya berjalan lancar." Tegas Dav sambil meraih kembali secangkir kopi miliknya. Dav tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun, Dav ingin semuanya berjalan lancar sesuai dengan ke inginannya.


"Anda tenang saja, bos. Semuanya pasti berjalan lancar sesuai dengan perintah anda."Sam menjawab sangat yakin. Meskipun ia masih tidak percaya, karena tiba_tiba saja bosnya itu menyuruhnya untuk mempersiapkan acara pernikahannya dengan Elena. Lalu bagaimana dengan Alisha? Apakah Alisha tahu jika Dav akan menikahi Elena bukan dirinya? Lalu bagaimana reaksi Alisha? Apakah dia akan sedih? Pikiran Sam menjadi terpecah belah.


Sam sangat tahu betul, jika Alisha sangat mencintai bosnya itu, Sam juga tahu, bahwa Alisha adalah perempuan baik dan juga setia. Alisha tidak pernah mengkhianati bosnya, Alisha selalu menjaga kesetiaannya. Sam tahu semuanya, karena selama satu tahun ini, ia menyuruh seseorang untuk terus mengawasi pergerakan Alisha selama di luar negeri. Sam tidak ingin bosnya itu di khianati, Sam ingin perempuan yang akan menjadi istri bosnya adalah perempuan baik_baik. Perempuan yang mencintai Dav dengan tulus. Dan semua itu ada pada diri Alisha.


"Kalau begitu, kau istirahatlah kembali."Setelah mengucapkan hal itu, Dav langsung menggeser tombol berwarna merah. Membuat Sam mendengus kesal di tempatnya.

__ADS_1


Dav menyunggingkan senyumannya, ia merasa sangat bahagia, karena sebentar lagi, Elena akan menjadi miliknya.


Bersambung.


__ADS_2