
"Sayang! Kenapa kamu lama sekali? Perutku sudah lapar, tahu." Ucap Elena sambil menatap suaminya yang tengah berjalan menghampirinya.
Dav tersenyum, lalu mengecup kening istrinya mesra. "Maaf, sayang. Aku sudah membuatmu kelaparan, lain kali, kalau kamu lapar, makan duluan saja, ya. Jangan nungguin aku. Mengerti." Ucapnya lembut sambil mengelus pucuk kepala Elena.
"Makan sendiri tidak enak, sayang. Makannya aku nungguin kamu. Lagian kan, sekarang kamu sudah menjadi suamiku, jadi aku harus menunggumu untuk makan bareng." Jawab Elena sambil memperlihatkan senyuman manis di bibirnya.
"Hmm aku memang sudah menjadi suamimu, tapi sayangnya..... aku belum bisa menyentuhmu."Bisik Dav membuat kedua pipi Elena merona seketika.
"Mulai lagikan!" Elena menatap horor suaminya, ucapan suaminya itu selalu tidak bisa di jeda, membuat Elena gemas sendiri.
Dav terkekeh pelan, ia menarik kursi yang berada di samping istrinya kemudian ia duduk. "Mulai apa sayang? Pemanasan saja kita belum pernah melakukannya."
"Sayang...... Berhenti berbicara vulgar seperti itu, atau aku tidak akan memberimu jatah, meskipun tamu bulananku sudah pergi. Apa kamu mau?" Ancam Elena sambil menatap tajam suaminya.
"Sayang! Apa kamu tega melihat suamimu ini menderita setiap harinya? Aish kenapa kamu jahat sekali." Ucap Dav sambil mencubit gemas pipi mulus istirnya.
"Sudahlah, sebaiknya kita makan dulu."Elena mengalihkan pembicaraannya, ia tidak ingin meladeni ucapan suami mesumnya itu yang ntah kapan selesainya.
__ADS_1
***
Pasangan pengantin baru itu sudah berada di kamarnya, mereka saat ini tengah duduk di atas tempat tidur dengan posisi, Elena menyenderkan kepalanya di bahu sang suami.
"Sayang." Panggil Elena lembut.
"Iya, sayang. Ada apa?" Tanya Dav sambil mengusap lembut pucuk kepala sang istri.
"Bagaimana dengan kuliahku? Apakah aku tidak boleh pergi lagi ke kampus?" Elena menatap suaminya, ia sangat berharap suaminya mau memberi izin untuk dirinya pergi ke kampus seperti dulu lagi.
"Kenapa? Apakah aku harus putus kuliah?" Tanya Elena setengah kecewa.
"Tentu, tidak. Tapi aku takut sesuatu terjadi sama kamu ketika kamu pergi ke kampus." Dav kembali menghela nafasnya panjang, ntah mengapa perasaannya sedikit kahwatir jika membiarkan istrinya kembali lagi ke kampus seperti dulu. Rasanya seperti ada seseorang yang menunggu dan merencanakan sesuatu yang buruk kepada istri kecilnya itu. Ntah itu perasaannya yang berlebihan atau memang sesuatu yang buruk sedang menanti istrinya. Dav pun tidak tahu.
"Bagaimana kalau kuliah online? Bukankah sekarang banyak orang yang mengambil kuliah online?" Ucap Dav membuat Elena terlihat berpikir.
"Hmm baiklah, daripada aku harus diam terus di sini tidak melakukan apapun, lebih baik aku ambil kuliah online saja. Kamu urus semuanya, ya." Jawab Elena setelah mempertimbangkan ucapan suaminya itu.
__ADS_1
"Baiklah, jurusan apa yang ingin kamu ambil?" Tanya Dav sambil memperliharkan senyuman manisnya di bibirnya yang tipis.
"Aku ambil jurusan desain interior." Jawab Elena dengan senyuman manis yang terukir di wajah cantiknya.
"Hmm baiklah, aku akan mengurus semuanya. Sekarang kita tidur dulu ya." Ucap Dav kembali mengecup kening istrinya mesra. Lalu mengecup sekilas bibir yang sudah menjadi candunya itu.
"Makasih, sayang."Elena tersenyum, kemudian ia mengecup bibir suaminya membuat sang suami berbunga-bunga. Padahal baru saja dia mengecup bibir istrinya. Dasar bucin tingkat dewa.
"Tidak perlu berterima kasih sayang, bukankah sudah ku bilang, untukmu apapun akan aku lakukan." Ucap Dav lalu membaringkan istrinya di atas tempat tidur. "Yaudah sekarang kita tidur, ya. Sebelum juniorku bangun." Bisik Dav membuat wajah Elena memerah seperti tomat.
"Ish mesum..."
Dav terkekeh pelan, kemudian ia memeluk tubuh istrinya yang kini sudah membelakangi dirinya. "Good nigt baby." Bisiknya mesra.
Elena kembali membalikkan badannya, ia menatap suaminya, lalu tersenyum. "Night to, sayang." Ucapnya sambil memeluk tubuh suaminya. Dav tersenyum bahagia, ia pun memeluk tubuh istrinya, hingga beberapa menit kemudian, hawa ngantuk menyerang keduanya, mereka pun mulai memejamkan kedua bola matanya secara perlahan.
Bersambung.
__ADS_1