
Dav menghembuskan nafasnya kasar, ia menatap Sam dengan tajam, "Apa pertemuannya tidak bisa di batalkan saja?" Tanyanya kesal.
"Tidak bisa bos. Kalau kali ini pertemuannya di batalkan, tuan Diran pasti akan kecewa dan tidak mau bekerja sama dengan perusahaan kita."
"Kalau begitu kau wakilkan aku untuk menemuinya. Bilang saja jika aku ada urusan yang sangat penting dan tidak bisa datang."
"Tapi bos..."
"Sam!!! Kalau kau tidak mau mendengar ucapanku, sebaiknya kau gantikan Lucas saja sana."
"Jangan bos. Kalau saya menggantikan Lucas, bisa-bisa saya menjomblo seumur hidup saya."
"Jadi kau mau pergi atau..."
"Pergi, bos." Jawab Sam cepat, secepat kilat. "Tapi bagaimana kalau tuan Diran membatalkan kerja samanya dengan kita, bos? Bukankah tuan Diran sangat tidak suka jika pertemuan dengan rekan kerja samanya di wakilkan?"
"Kalau dia mau membatalkannya, batalkan saja. Masih banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita. Untuk apa kamu pedulikan tentang hal itu."
"Astaga bos... Memang banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita, tapi... Yang paling menguntungkan hanyalah perusahaan Diran Group. Mereka memiliki... "
"Kau terlalu banyak bicara, Sam! Sebaiknya kau segera pergi untuk menemuinya." Ucap Dav sambil memakai jas hitamnya. Dav melirik arloji yang berada di tangan kanannya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 17.25. Waktu untuk dirinya pulang.
__ADS_1
"Baik, bos. Apa anda akan pulang sekarang?" Tanya Sam ketika melihat bosnya bangkit dari kursi kebesarannya.
"Tidak. Aku akan pulang setelah kamu menikah." Ucap Dav membuat Sam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ah bosnya itu kalau becanda suka kelewatan.
"Bos bisa aja becandanya. Masa harus nunggu saya nikah dulu baru pulang, astaga bos... Pacar aja saya tidak punya...
"Sudahlah aku malas dengar curhatan orang jomblo, sebaiknya aku pulang sekarang." Dav langsung melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Sam, ia tidak membiarkan si jomblo itu melanjutkan ucapannya.
"Dasar bos gak punya hati. Apa susahnya mendengarkan curahan hatiku ini. Sudahlah, sebaiknya aku juga segera berangkat untuk menemui tuan Diran." Ucap Sam dalam hati. Sam kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan bosnya.
***
Dav segera masuk ke dalam mobilnya, ia juga sekalian menutup pintu mobilnya, sementara si pak supir langsung bergegas menuju kursi kemudinya. Pak supir itu mulai melajukan kendaraannya dengan hati-hati membelah ibukota negara itu.
Jalanan sore hari ini begitu macet, banyak kendara roda dua maupun roda empat berlalu lalang membuat si mafia bucin itu kesal.
"Sial... Kenapa hari ini sangat macet sekali? Padahal jam pulang kerja sudah lewat." Batin Dav sambil mengusap wajahnya kasar. "Belok kiri, kita ambil jalan pintas saja." Perintah Dav datar sambil menatap si pak supir melalui kaca spion mobil dalamnya.
"Baik, tuan." Jawab si pak supir sambil tetap fokus dengan setir kemudinya. Ia mulai membelokkan mobilnya ke kiri, jalanan ini jarang sekali di lewati, karena sering terjadi kecelekaan lalu lintas. Jalanan ini terlihat biasa saja, namun justru sebaliknya. Tetapi bagi Dav jalanan ini sama saja dengan jalanan yang sering ia lewati.
Pak supir mengendarai kendaraannya dengan sangat hati-hati, ia tahu betul jalanan yang kini sedang ia lewati itu sangat berbahaya.
__ADS_1
"Apa kau sedang belajar menyetir? Kenapa lambat sekali?" Ucap Dav kesal sambil menatap tajam si pak supir melalui kaca spion mobilnya.
"Maafkan saya tuan, saya... "
"Jangan meminta maaf! Percepat laju kendaraannya sekarang!" Perintah Dav dingin membuat si pak supir langsung meneguk salivanya kasar.
"Ba,,, baik tuan." Jawab si pak supir gugup kemudian ia pun menambah kecepatannya, dalam hatinya ia merapalkan beberapa doa agar Tuhan melindunginya.
Dav menghela nafasnya kasar, ia merogoh benda pipih miliknya dari dalam saku celananya, ia berniat untuk msnghubungi istri kesayangannya, namun niatnya terhenti ketika ia mendengar suara si pak supir yang terdengar ketakutan.
"Bos... Sepertinya mobil di belakang mengikuti kita." Ucapnya dengan suara bergetar.
Dav langsung mengalihkan pandangannya, ia menoleh ke belakang dan ternyata memang benar ada beberapa mobil yang sedang mengikuti mobilnya. "Kau pindah ke samping." Perintah Dav dingin.
"Ta,,, tapi bos... "
"Pindah atau kau akan mati di sini." Tegas Dav membuat si pak supir itu ketakutan. "Cepat!"
Dengan sedikit ragu akhirnya si pak supir pun pindah ke kursi penumpang, sementara Dav, langsung beralih ke kursi kemudi. Si pak supir tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh bosnya itu, bagaimana bisa bosnya berpindah tempat duduk secepat kilat? Apalagi posisi bosnya tadi duduk di belakang, sungguh membuat si pak supir tidak bisa berkata apa-apa selain mengagumi kehebatan bosnya itu.
Bersambung.
__ADS_1