
Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Dokter pribadi yang di minta datang oleh Dav pun sudah tiba. Elena menyambut dokter itu dengan hangat.
"Selamat pagi, dokter. Silahkan duduk." Ucap Elena mempersilahkan si dokter itu duduk di kursi sofa yang berada di ruang tamu.
"Terima kasih, nona Elen." Ucap dokter itu seraya memperlihatkan senyuman ramahnya.
Elena pun tersenyum, kemudian duduk si kuri sofa yang berhadapan dengan dokter tersebut.
"Dokter, mau minum apa?" Tanya Elena pelan namun terkesan lembut.
"Tidak perlu repot-repot, nona. Saya ke sini untuk memeriksa anda. Apakah pemeriksaannya sudah boleh di mulai?"
Elena kembali tersenyum sembari menatap dokter itu. "Saya tahu, dok. Suami saya sudah memberitahu saya, tadi. Dan saya sama sekali tidak merasa di repotkan, dok. Jadi, dokter mau minum apa, biar saya suruh si bibi untuk membuatkannya." Ucap Elena membuat dokter itu tersenyum kaku, merasa tidak enak.
"Air putih saja, nona." Sahut si dokter itu.
"Baiklah, sebentar saya panggilkan dulu si bibi." Ucap Elena seraya bangkit dari atas kursi sofa itu. Dokter itu hanya mengangguk saja, lalu setelah itu Elena pun berjalan menghampiri si bibi dan meminta si bibi untuk membawakan minuman serta cemilan ke ruang tamu.
__ADS_1
Setelah memberi perintah, Elena kembali melangkahkan kedua kakinya menuju ruang tamu. Elena kembali duduk di atas kursi sofa yang tadi.
"Jadi, apakah pemeriksaannya sudah boleh di mulai?" Tanya dokter itu tidak sabaran.
"Kenapa buru-buru sekali dok? Apakah suami saya yang memintanya?" Elena berbalik nanya kepada dokter itu, sementara si dokter terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat ia mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh istri si mafia bucin tersebut. Itu memang permintaan si mafia bucin, agar ia cepat-cepat memeriksa istri kesayangannya itu. Padahal cepat atau lambat hasilnya pun akan tetap sama.
"Santai saja, dok. Tidak perlu terburu-buru. Lagian suami saya juga tidak ada di sini, kok." Elena kembali berkata seraya memperlihatkan senyumannya yang ramah.
Dokter itu pun mengangguk, jujur saja jika ada si mafia bucin di sana, pasti ketika doktet itu tiba, dia sudah langsung di suruh memeriksa istrinya. Apalagi Dav sangat amat penasaran dengan kondisi sang istri yang menurut Sam sedang berbadan dua.
"Silahkan di minum, non, dokter." Ucap si bibi setelah ia meletakkan cemilan dan minuman itu di atas meja.
"Terima kasih, bi." Ucap Elena selalu sopan dan selalu memperlihatkan senyumannya yang manis.
"Sama-sama, non. Kalau begitu bibi pamit ke belakang dulu." Izin si bibi yang mendapat anggukkan kepala dari Elena. Lalu setelah itu si bibi pun langsung berbalik dan melangkahkan kedua kakinya menuju belakang.
"Silahkan di minum dulu, dok." Ucap Eena yang mendapat anggukkan kepala dari si dokter itu. Tanpa menunggu lama, dokter itu pin langsung meraih minumannya, lalu meneguknya secara perlahan. Lalu setelah, ia pun menaruh kembali gelas tersebut di atas meja.
__ADS_1
Keduanya pun kini mulai mengobrol membahas tentang apa yang terjadi pada Elena akhir-akhir ini.
***
Waktu pemeriksaan sudah selesai, dokter itu menjelaskan bahwa saat ini Elena tengah mengandung anak pertamanya. Bahkan bukti tespack menunjukkan dua garis merah membuat Elena menatap dengan penuh haru.
"Aku,,,, aku beneran hamil." Lirih Elena terdengar sangat bahagia.
"Selamat ya, nona. Tolong jaga kandungan anda dengan baik, jangan terlalu kecapean, agar babynya selalu sehat." Ucap dokter itu yang mendapat anggukkan kepala dari Elena.
"Saya sarankan agar nona lebih banyak mengkomsumsi buah dan sayuran. Itu sangat baik untuk janin yang ada di dalam perut nona." Saran si dokter seraya menatap Elena yang kini masih menatap tespack miliknya.
"Iya, dok. Pasti aku akan mendengarkan saran dari dokter." Sahut Elena yang kini mulai mengalihkan pandangannya pada dokter tersebut.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu, nona. Dan untuk pemeriksaan selanjutnya, nona bisa datang langsung ke rumah sakit terdekat."
"Baik, dok. Terima kasih." Ucap Elena tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya. Dokter itu mengangguk, ia pun mulai berdiri dan melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Elena.
__ADS_1