
Waktu berjalan begitu cepat, kini kehamilan Elena sudah menginjak sembilan bulan dan sebentar lagi ia akan segera melahirkan. Selama ini Dav benar-benar menjadi suami siap siaga, ia jarang pergi ke kantor karena ia takut jika sang istri tiba-tiba saja ingin melahirkan sementara dirinya tidak ada di rumah.
Saat ini kedua pasangan romantis dan harmonis itu sedang duduk di atas kursi sofa yang berada di ruang keluarga. Dav terlihat mengusap lembut perut buncit sang istri sambil sesekali menciumnya penuh kasih sayang. Ia benar-benar terlihat tidak sabar menantikan kehadiran buah hatinya tersebut.
"Sayang, jika anak kita lahir, kamu ingin memberi nama apa?" Tanya Dav seraya mengelus perut sang istri, namun tatapan matanya tak lepas dari wajah cantik istrinya.
"Emm nanti kita kasih nama dari gabungan nama kita berdua saja, sayang. Biar adil." Sahut Elena di iringi dengan senyuman manisnya.
"Baiklah, kalau begitu. Bagaimana jika anak kita lahir seorang laki-laki, kita beri nama Davindra Sentra Wiliam's. Dan kalau perempuan kita kasih nama Elleiana Daviena William's. Bagaimana, sayang? Apakah kamu setuju?" Ucap Dav sekaligus bertanya kepada istri tercintanya itu.
Elena tersenyum, kemudian ia pun menganggukkan kepalanya pelan. "Aku setuju, sayang. Namanya sangat indah." Jawabnya membuat Dav kembali mengembangkan senyuman di wajahnya yang tampan.
Dav kembali mengelus lembut perut sang istri, kemudian ia pun mendekatkan wajahnya dengan perut buncit itu. "Sayang, kamu sudah dengarkan. Mama sama papa sudah menyiapkan nama yang sangat indah untukmu, jadi, jangan nakal ya. Jangan buat mama kesakitan lagi. Nanti papa sentil nih." Ucap Dav membuat Elena terkekeh seraya menggelengkan kepalanya pelan. Ada-ada saja ucapan suaminya itu, belum juga lahir udah mengancam di sentil saja. Dasar bucin.
Tiba-tiba saja Elena merasakan perutnya nyeri, ia pun meringis membuat Dav langsung menjauhkan dirinya dari perut sang istri.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Dav terlihat sangat khawatir sambil menatap lekat wajah istrinya itu.
"Tidak tahu, sayang. Tiba-tiba saja perutku terasa sakit." Sahut Elena kembali dengan raut wajahnya yang seperti biasanya agar suaminya itu tidak mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
"Apakah ini tanda-tanda bayi kita akan segera lahir?" Tanya Dav masih terlihat sangat khawatir.
"Entahlah, aku tidak tahu, sayang." Sahut Elena seraya menggelengkan kepalanya pelan. Ia benar-benar tidak tahu, karena ini adalah kali pertamanya ia hamil.
"Sebentar aku panggilkan si bibi dulu, ya. Mungkin si bibi tahu, sayang." Ucap Dav yang mendapat anggukkan kepala dari sang istri.
Dav langsung beranjak dari atas kursi sofa itu, kemudian ia berjalan dengan cepat menuju belakang di mana tempat di mana si bibi berada.
Beberapa detik kemudian, Elena kembali merasa nyeri di perutnya, bahkan rasa nyeri ini jauh lebih menyakitkan daripada yang tadi. Elena kembali meringis kesakitan seraya memegangi perutnya.
"Bi, cepat." Suara Dav mulai terdengar di telinga Elena. Di ujung sana terlihat Dav sedang berlari ke arahnya bersama si bibi.
"Tuan, sebaiknya kita segera bawa nona Elena ke rumah sakit, bibi yakin sebentar lagi nona Elena akan segera melahirkan." Ucap si bibi dengan panik. Si bibi benar-benae yakin jika istri majikannya itu sebentar lagi akan melahirkan.
"Baik, bi. Tolong persiapkan semua kebutuhan untuk persalinan istriku. Nanti bibi nyusul ke rumah sakit dengan Sam." Perintah Dav seraya mengangkat tubuh istrinya, kemudian ia berjalan meninggalkan si bibi yang kini sedang bergegas menuju kamar Elena untuk mengambil semua kebutuhan Elena dan juga bayinya.
"Bersabarlah sayang, aku akan segera mengantarmu ke rumah sakit." Ucap Dav sambil mempercepat langkah kakinya menuju parkiran mobilnya.
Setelah tiba di parkiran, Dav langsung menyuruh si pak supir untuk membukakan pintu mobilnya. Dengan cepat si pak supir pun langsung membuka pintu mobil untuk bosnya tersebut. Dav segera meletakkan sang istri di kursi penumpang dengan hati-hati, lalu setelah itu ia pun masuk dan duduk.
__ADS_1
"Pergi ke rumah sakit terdekat. Cepat." Perintah Dav membuat si pak supir itu langsung melajukan kendaraan roda empatnya.
"Sayang apakah masih sakit?" Tanya Dav sambil menatap sang istri dengan tatapan yang masih sama khawatirnya.
"Emm... Sakitnya sudah hilang sayang." Sahut Elena yang memang sudah tidak merasakan sakit lagi di bagian perutnya.
"Benarkah?" Tanya Dav sedikit tenang.
"Be.... Aaaaw..." Tiba-tiba saja rasa nyeri itu kembali Elena rasakan membuat Dav kembali khawatir.
"Ada apa, sayang? Apakah sakit lagi?" Tanya Dav terlihat panik dan juga khawatir.
"Iya, Sayang. Dan ini semakin menyakitkan." Sahut Elena semakin menambah kekhawatiran suaminya itu.
"Bersabarlah, sayang. Demi bayi kita, ok." Dav mengusap lembut pucuk kepala sang istri, kemudian ia pun memberikan kecupan hangatnya di kening sang istri. Elena hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya pelan.
"Cepatlah, istriku sebentar lagi akan melahirkan." Perintah Dav kepada si pak supir itu dengan dingin.
"Ba,,,baik, tuan." Sahut si pak supir itu sedikit gugup. Si pak supir kembali menambah kecepatan laju kendaraannya.
__ADS_1
Bersambung.