Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Sabar


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Elena hanya diam seribu bahasa, sementara Dav, terlihat sangat sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya. Beberapa email penting harus di periksanya saat itu juga. Sam terlihat fokus dengan setir kemudinya, namun dalam hati, ia mengumpat kesal karena bosnya itu sudah membuat dirinya menunggu lebih dari dua jam, di lobi hotel tadi. Padahal semalam, Sam sudah memberitahukan bosnya, jika hari ini ada meeting penting dengan kliennya.


"Sayang, hari ini kamu ikut aku saja ke kantor, ya. Sepertinya kalau kamu pulang ke mansion, waktunya tidak cukup." Dav mulai membuka suaranya memecah keheningan dalam mobil itu.


"Hmm terserah kamu saja." Jawab Elena sambil melirik sang suami sekilas, lalu ia kembali menatap luar jendela mobil itu.


Dav menutup layar laptopnya, lalu mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Kemudian ia membawa sang istri ke dalam pelukannya. "Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanyanya lembut.


"Aku hanya memikirkan keadaan Sindy. Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya." Lirih Elena sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Dav menghela nafasnya berat, ia mencium pucuk kepala sang istri lalu berkata. "Dia baik-baik saja, sayang. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya."


"Syukurlah, kalau dia baik-baik saja." Elena bernafas lega ketika mendengar keadaan Sindy yang sudah baik-baik saja. "Apakah aku boleh melihatnya nanti?" Tanya Elena sambil mendongak menatap suaminya dari bawah.


"Tentu saja, sayang. Tapi kamu harus pergi bersamaku. Mengerti." Tegas Dav sambil mencubit hidung mancung istrinya.

__ADS_1


"Mengerti, sayang. Aku tidak mungkin pergi sendirian lagi, nanti bagaimana kalau ada yang menculikku?"


"Maka orang yang menculikmu akan mati di tanganku." Ucap Dav sambil memberikan kecupan mesranya di kening sang istri, membuat seseorang mulai kepanasan.


"Sabar, Sam. Sebentar lagi sampai." Sam membatin, obat nyamuk seperti dirinya harus banyak bersabar, di tambah lagi memiliki bos yang tidak punya perasaan seperti Dav. Benar-benar menguji kesabaran si jomblo sejati itu.


Sam menambah laju kendaraannya, ia tidak ingin berlama-lama berada di dalam mobil itu, ia ingin segera tiba di tempat kerjanya. Suara-suara mesra bosnya membuat Sam merasa tidak nyaman, apalagi ketika ia mendengar ******* pelan yang keluar dari mulut istri bosnya itu, membuat pikiran Sam melayang jauh ntah kemana.


***


Dengan cepat, Sam memarkirkan mobilnya, lalu mematikan mesinnya, kemudian ia membuka pintu Mobilnya, lalu turun dengan tidak sabaran membuat Dav langsung mengerutkan keningnya bingung. Tidak biasanya Sam turun buru-buru dari mobilnya, apakah Sam sedang kebelet? Pertanyaan itulah yang ada di dalam benak Dav saat ini.


Sam segera membuka pintu mobil untuk bosnya, wajahnya terlihat biasa saja tidak seperti orang yang sedang ingin buang hajat, lalu kenapa dia tadi terburu-buru? Dav kembali berpikir, ia merasa bingung sendiri jadibya.


"Silahkan, bos."

__ADS_1


"Hmmm... " Dav berdehem pelan, lalu ia turun dari mobilnya. "Ayo turun sayang." Ucapnya lembut kepada Istri tercintanya sambil mengulurkan tangan kanannya ke hadapan sang istri.


Elena tersenyum, lalu ia pun segera turun dari mobilnya. "Terima kasih sayang." Ucapnya lembut.


Dav pun tersenyum, ia mulai melangkahkan kakinya dengan pelan, tangannya menggenggam erat tangan sang istri, seakan-akan takut jika istrinya itu akan pergi dari sisinya.


"Apakah kakimu masih sakit, sayang?" tanya Dav ketika ia mendengar suara rintihan sang istri.


"Sedikit, nanti...." Sebelum Elena menyelesaikan ucapannya, Dav sudah mengangkat tubuhnya membuat Elena terkejut dan juga merasa malu, karena aski suaminya itu mengundang para karyawan dan karyawati perusahaan William's langsung menatap ke arahnya, degan tatapan yang berbeda-beda. Mereka juga saling berbisik, saling melempar senyuman, ada juga yang langsung teriak histeris melihat bos dingibmn mereka yang begitu romantis.


Sayang, apa yang kamu lakukan? Cepat! Turunkan aku." Bisik Elena sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Diamlah, sayang. Biarkan aku menggendongmu, aku tidak mungkin membiarkanmu berjalan denagn kaki yang sakit." Sahut Dav sambil terus berjalan melangkahkan kedua kakinya menuju lift khusus untuk dirinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2