
Elena menghempaskan tubuhnya di atas sofa, malam ini adalah malam yang sudah di tentukan bahwa dirinya akan menyerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada suaminya.
Elena tidak tahu harus berbuat apa nanti, apakah dia akan langsung di makan oleh suaminya? Ataukah dia perlu menggoda suaminya terlebih dahulu? Ah dengan membayangkannya saja membuat wajah Elena merona. Debaran jantungnya berpacu dengan sangat cepat, padahal jelas-jelas suaminya tidak ada di dekatnya, namun ntah mengapa dengan dirinya membayangkan wajah suaminya saja sudah membuat detak jantung Elena berdegup dengan sangat kencang.
Elena menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ucapan suaminya tadi pagi selalu saja menghantui otak cantiknya hingga membuat dirinya merasa kepanasan juga merasakan sesuatu yang aneh yang tak dapat ia jelaskan.
"Apakah aku akan melakukannya malam ini? Ya Tuhan.... Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Elena bertanya-tanya dalam hati. Ini adalah pengalaman pertamanya, tentu saja Elena tidak tahu apa yang harus ia lakukan nanti malam.
Elena beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan menuju ranjang, lalu ia meraih lingerie berwarna merah yang sudah di siapkan oleh suaminya itu. "Dav menyuruhku memakai lingerie ini, astaga.... Kenapa lingerie ini lebih tipis daripada yang waktu itu aku pakai? Dia benar-benar sudah menyiapkannya dengan sempurna." Ucapnya di iringi dengan kekehannya.
"Bagaimana ya rasanya? Apakah benar itu akan menyakitkan bagi yang baru pertama kali melakukan itu?" Elena kembali bertanya-tanya sendirian, waktu kuliah ia tidak sengaja mendengar pembicaraan teman sekelasnya tentang hubungan intim yang di lakukan oleh teman sekelasnya itu. Teman sekelasnya bilang, untuk yang baru pertama kali melakukan hal itu, terasa sangat menyakitkan, bahkan untuk berjalan dengan benar saja, ia sangat kesusahan.
Elena jadi merasa cemas juga takut, namun ia tentu saja sangat penasaran, karena selain menyakitkan, melakukan hal itu sangatlah nikmat. Itulah kalimat yang di dengar oleh Elena dulu.
__ADS_1
Elena menghembuskan nafasnya panjang, ia melirik jam di dinding menunjukkan pukul 16.50. Jika suaminya tidak lembur, itu artinya suaminya sedang berada di perjalanan pulang, namun jika suaminya lembur, tentu saja suaminya masih berada di kantor bergelut dengan beberapa pekerjaannya. Ah kenapa juga dia jadi gelisah menantikan kepulangan suaminya. Biasanya juga dia akan bersikap santai kayak di pantai.
***
Apartemen..
Deril menatap Alisha nanar, perempuan cantik itu terlihat kurus dalam beberapa hari ini. Wajahnya menjadi semakin tirus, matanya terlihat bengkak karena setiap bangun ia akan selalu mencari ponselnya lalu menghubungi mantan kekasihnya, namun sayangnya mantan kekasihnya sudah tidak pernah lagi menerima panggilan dari dirinya sehingga membuat Alisha fruatasi.
"Melepaskannya?"Alisha menatap tajam Deril, jari jemarinya mulai bertautan dengan kuat menahan amarah yang kembali memuncak. "Itu tidak mungkin, Deril. Selamanya aku tidak akan melepaskannya. Jadi stop! Jangan pernah lagi memintaku untuk melepaskannya. Lebih baik kamu bantu aku untuk mendapatkannya dan juga melenyapkan istrinya. Bukankah kamu mencintaiku? Jika memang benar kamu mencintaiku, maka kamu harus membantuku untuk mendapatkan kebahagiaanku." Ucap Alisha sambil memegang baju kemeja Deril mencengkeramnya dengan kuat.
"Buktikan kalau kamu mencintaiku, Deril. Jika kamu bisa melenyapkannya, aku akan memberikan apapun yang kamu mau, termasuk tubuhku." Alisha kembali berucap, ia sengaja membisikan kaliamat terakhir membuat Derip seketika terdiam dan menatap Alisha dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kamu mau kan, Deril?" Alisha kembali bersuara, suaranya terdengar begitu menggoda di telinga Deril.
__ADS_1
"Alisha! Kamu rela mengorbankan tubuhmu demi melenyapkan Elena?"
Alisha mengangguk. "Asal aku bisa mendapatkan Dav kembali, apapun akan aku lakukan termasuk memberikan tubuhku kepadamu."
Deril tertawa keras, ia merasa perempuan yang di cintainya itu sudah tidak waras lagi. "Lupakanlah, Alisha. Kita tidak bisa melenyapkannya. Sebaiknya kamu buang pikiran jahatmu itu dan berhenti untuk mengejar mantan kekasihmu itu. Karena sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa kembali lagi kepadanya." Ucap Deril membuat amarah Alisha semakin membuncah.
"Dasar pengecut! Jika kamu tidak ingin melakukannya, maka aku akan menyuruh orang untuk melakukannya. Pergilah, jangan pernah muncul di hadapanku lagi, karena aku tidak ingin melihat tampang pengecutmu itu." Hardik Alisha sambil menatap tajam Deril.
"Alisha! Aku melakukan semua ini demi keselamatanmu. Tapi jika kamu tetap keras kepala tidak mau mendengarkan perkataanku, maka aku akan menyerah. Aku tidak akan menghalangi kamu, terserah apapun yang ingin kamu lakukan , maka lakukanlah. Tapi jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari. Karena aku sudah memperingatimu." Ucap Deril pasrah.
"Aku tidak akan pernah menyesal. Tidak akan pernah." Teriak Alisha sambil melempar vas bunga kecil ke dasar lantai. "Pergi dari sini, aku sangat muak melihatmu. Pergiiiii....." Alisha kembali berteriak. Ia mendorong tubuh Deril dengan sekuat tenaga, Deril hanya pasrah, dia meninggalkan Alisha yang sudah di kuasai oleh amarahnya.
Bersambung.
__ADS_1