Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Ciuman panas


__ADS_3

Setelah selesai merapikan berkas-berkasnya, Dav kemudian memakai jasnya, lalu ia segera memghubungi Sam, Dan meminta Sam untuk datang ke ruangannya. Setelah selesau memberi perintah kepada Sam, Dav langsung melangkahkan kedua kakinya menghampiri istri kesayangannya.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu bosan, Sayang." Ucap Dav dengan rasa bersalahnya karena sudah membuat sang iatri bosan seharian ini.


Elena tersenyum, ia menatap suaminya lalu berkata dengan nada yang begitu halus dan lembut. "Jangan meminta maaf, sayang. Seharusnya aku yang minta maaf sama kamu, karena aku, kamu harus pulang sebelum menyelesaikan pekejaanmu."


Dav menggelengkan kepalanya pelan, ia berjongkok di hadapan istrinya, lalu meraih tangan sang istri dan mengecupnya lembut. "Demi kamu, apapun akan ku lakukan, ini hanyalah masalah sepele, dan aku juga sudah terbiasa membawa pekerjaanku pulang ke rumah. Jadi! Kamu tidak perlu meminta maaf. Mengerti." Ucapnya, lalu mencium kening istrinya lembut. Dav paling tidak suka jika sang istri mengeluarkan kata maaf hanya karena masalah sepele. Toh itu bukanlah kesalahan sang istri, itu adalah kesalahannya karena sudah membawa istrinya ikut dengannya ke perusahaan.


"Gombal banget, sih." Elena memencet gemas hidung mancung suaminya itu, namun ia juga tidak memungkiri jika ucapan yang di lontarkan oleh suaminya itu sangat membuat dirinya bahagia.

__ADS_1


"Hey! Aku tidak pernah gombal sayang. Ucapanku semuanya serius."


"Baiklah, aku percaya."


Dav terkekeh pelan, ia kembali mendaratkan kecupannya di kening sang istri, kemudian berkata. "Ingat, ya. Kamu tidak di perbolehkan untuk tidak mempercayai ucapanku, karena apa? Karena aku selalu serius dengan apa yang aku ucapkan. Aku tidak pernah bersilat lidah, dan aku bukanlah orang yang akan mengingkari janjiku sendiri. Mengerti."


"Iya, iya. Aku akan selalu percaya dengan ucapanmu. Puas." Jawab Elena sambil memeluk tubuh suaminya.


Sementara itu, Sam yang berada di balik pintu pun mengumpat dengan kesal, berapa kali ia mengetuk pintu ruangan bosnya, namun tidak ada jawaban sama sekali dari sang bos. Bukankah tadi bosnya itu meminta dirinya untuk secepatnya datang ke ruangannya? Lalu kenapa bosnya itu tidak menyuruhnya masuk sekarang? Padahal Sam sudah mengetuk pintu hingga berkali-kali.

__ADS_1


"Apa aku masuk saja, ya? Tapi... Bagaimana kalau si bos lagi bermesraan dengan istrinya? Bukankah aku akan mengganggunya? Ah bisa-bisa gajiku di potong sampai habis." Batin Sam sambil menghentikan tangannya yang sedari tadi mengetuk pintu ruangan bosnya tersebut.


Sam jadi stress sendiri, jika ia diam, nanti bakal di salahin, kalau terus mengetuk pintu ruangan bosnya juga tidak ada gunanya, mau masuk, tetap ia takut melihat pemandangan yang akan mengotori kedua bola matanya. Lalu! Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah dia harus diam mematung di depan pintu ruangan bosnya? Atau dia harus kembali ke ruangannya dan menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda? Ah ntahlah, Sam semakin merasa stress sekaligus pusing.


Sementara itu di dalam ruangan, Dav dan juga Elena sedang menikmati ciuman panas mereka yang begitu memabukkan. Bahkan tangan Dav sudah mulai bergerak menyusuri tubuh mulus istrinya. Namun saat tangan Dav akan menyentuh dua gundukkan yang kenyal itu, Elena segera menghentikannya.


Elena mendorong pelan tubuh suaminya lalu berkata dengan nada suara yang terdengar begitu merdu di telinga si mafia bucin itu. "Jangan lakukan sekarang, sayang." Elena mengatur deru nafasnya yang tak beraturan karena aksi ciuman panasnya tadi, matanya menatap sang suami yang terlihat sudah mulai di selimuti oleh kabut gairahnya. "Nanti malam, kita lanjutkan lagi, ok." Bisik Elena membuat Dav harus susah payah menelan salivanya.


Dav mengusap wajahnya frustasi, hasrat dalam dirinya sudah membara, namun sang istri justru menolak untuk melanjutkan aksinya. Dav hanya dapat menahannya sampai malam hari tiba, ia tidak mungkin memaksa sang istri untuk melakukan sesuatu yang akan membawanya ke surga dunia.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2