
"Maaf, Sindy. Aku,,, aku tidak bisa pergi." Ucap Elena dengan rasa bersalahnya. "Bagaimama jika kamu datang ke tempatku saja?" Tawarnya Berharap agar Sindy mau datang menemuinya.
Sindy menghembuskan nafasnya kasar, sungguh ia tidak tahu lagi harus memaksa Elena dengan Cara seperti apa lagi supaya Elena mau pergi untuk menemuinya. "Elena. kenapa kamu jadi berubah seperti ini? Bukankah dulu kamu tidak pernah mendengarkan ucapan om mu itu? Lalu kenapa sekarang kamu malah seperti seorang anak yang baik hati, dan penurut terhadap kedua orangtuanya? Bukankah kamu tidak perlu melakukan semua ini, Elena? Dia hanya om-mu, kamu tidak perlu setiap hari harus mendengarkan ucapannya bukan?"
"Sindy. sepertinya kamu lupa, jika saat ini dia adalah suamiku. Aku sebagai istrinya sudah sewajarnya bukan jika aku harus menuruti ucapannya?" Elena menghela nafasnya panjang, sepertinya ia sedikit merasa aneh dengan sahabatnya itu. "Jika tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, aku akan menutup telponnya sekarang."
"Tunggu, Elena. Aku,,, aku akan pergi ke tempatmu besok pagi. Kirimkan alamatnya sama aku."
"Baiklah, aku akan mengirimkan alamatnya." Ucap Elena seneng karena Sindy tidak lagi memaksanya untuk pergi keluar.
"Yasudah, kalau begitu aku tutup dulu telponnya. Jangan lupa, kirimkan alamatnya padaku. Ok." Setelah mengatakan hal itu, Sindy langsung mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Setelah panggilan terputus, Elena segera mengetikkan alamatnya, kemudian ia langsung mengirimkannya kepada Sindy. Setelah itu, Elena kembali melakukan aktifitasnya yang tertunda.
***
Waktu menunjukkan pukul 16.05 sore. Tidak seperti biasanya, kini Dav sudah tiba di mansionnya. Dia melangkahkan kedua kakinya dengan sangat cepat, namun masih terlihat elegan dan berwibawa. Di tangannya ada sebuket mawar merah yang sengaja ia beli untuk memberikan kejutan manis kepada wanita yang paling di cintainya itu, siapa lagi kalau bukan Elena istri kesayangan si mafia bucin itu.
"Anda sudah pulang tuan." Sambut si kepala pelayan sambil mengambil tas kerja tuannya.
"Hmm. Dimana istriku?" Tanya Dav tidak sabaran.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Dav kembali melangkahkan kedua kakinya menuju kamarnya, ia benar-benar sangat tidak sabar untuk memeluk tubuh istrinya dan memberikan bunga mawar yang indah dan harum itu.
__ADS_1
Tanpa membutuhkan waktu yang lama, Dav sudah tiba di depan pintu kamarnya, ia mulai meraih knop pintu tersebut, kemudian memutarnya secara perlahan hingga pintu itu terbuka dengan lebar. Dav segera masuk, tak lupa ia juga kembali menutup pintu kamarnya, lalu setelah itu, ia pun kembali melangkahkan kedua kakinya dengan mata yang terus menelisik mencari keberadaan istri kesayangannya itu.
"Hmmm.. Kemana dia? Kenapa dia tidak ada di sini?" Dav bertanya dalam hatinya, ia mulai merasa cemas ketika dirinya tidak menemukan keberadaan istri kesayangannya itu. "Apakah dia sedang mandi? Ah tidak mungkin, lampu kamar mandi saja mati, itu artinya istriku tidak ada di dalam kamar mandi. Lalu Keman dia pergi?" Dav mulai mengusap wajahnya frustasi, kini ia membawa kakinya menuju balkon kamarnya.
Sepertinya kecemasannya terlalu berlebihan, nyatanya wanita yang mampu membuatnya hilang kendali itu kini sedang asik duduk sambil membaca komik romansa, dan menikmati segelas jus favoritnya. Dav langsung bernafas lega, senyumannya langsung terukir dari sudut bibirnya yang tipis itu, Dav segera melangkahkan kedua kakinya menghampiri sang istri yang masih terlarut dalam dunia halunya itu.
Dav langsung mendaratkan kecupan hangatnya di pucuk kepala sang istri, membuat sang istri langsung mendongak menatapnya dengan wajah yang terkejut. Dav terkekeh pelan, raut wajah istrinya itu begitu menggemaskan membuatnya tidak dapat mengendalikan dirinya dan mengecup bibir istrinya yang manis itu. "Sedang apa sayang?" Tanyanya lembut, tak lupa dengan senyumannya yang manis, semanis madu.
"Aku sedang baca komik sayang. Kamu tumben sudah pulang?" Elena berbalik nanya, lalu menaruh komiknya ke atas meja.
"Kenapa kamu tidak suka aku pulang cepet hmm." Dav jongkok di hadapan istrinya, kemudian ia memberikan sebuket mawar merah itu kepada Elena. "Untuk istri tercintaku." Ucapnya lembut.
__ADS_1
"Makasih sayang, kamu tahu sih kalau aku suka mawar merah." Elena tersenyum bahagia, ia mencium aroma mawar itu lalu menatap suaminya, kemudian Elena memberikan kecupan mesranya di pipi kanan sang suami membuat Dav semakin melebarkan senyumannya.
Bersambung.