
Elena mulai membuka kedua bola matanya secara perlahan, tatapan matanya langsung tertuju pada sosok laki_laki tampan yang tengah menatapnya sambil memperlihatkan senyumannya. Kesadaran Elena belum sepenuhnya pulih, nyawanya masih belum menyatu sehingga membuat dirinya harus menunggu beberapa detik untuk menyadari jika dirinya sedang berada di tempat tidurnya.
"Aaaaaaaah..."Seketika Elena berteriak dengan sangat kencang membuat laki_laki tampan yang tengah duduk di sisi ranjangnya berjingkat kaget. "Kenapa aku bisa ada di sini? Bukankah aku tadi sedang mandi?"Tanya Elena sambil melihat seluruh tubuhnya yang sudah terbalut dengan pakaian lengkap.
"Baby, kenapa kamu harus berteriak segala? Kamu berada di sini berarti aku yang menggendongmu dari kamar mandi."Ucap Dav lembut sambil mengelus pucuk kepala Elena.
"Ka... kamu yang menggendongku?"Elena membekap mulutnya tak percaya. Ia sangat ingat jelas, jika dirinya tadi tidak memakai sehelai benang pun. Dan itu berarti Dav menggendong tubuhnya yang polos, dan tidak menutup kemungkinan, jika Dav sudah melihat seluruh tubuhnya. Benar_benar sangat memalukan. Pikir Elena dengan raut wajah yang memerah seperti tomat.
"Kalau bukan aku, lalu siapa?"
"Jadi, jadi kamu su, sudah melihat semuanya?"
__ADS_1
"Hmm..."Dav hanya berdehem pelan, ingatan tentang tubuh polos Elena kembali merasuki isi kepalanya, membuat Dav harus menahan kembali hasratnya yang mulai muncul dalam dirinya.
"Astaga, ini sangat memalukan. Kenapa aku bisa tertidur di kamar mandi sih! Argh benar_benar sangat memalukan." Jerit Elena dalam hatinya. Ia merutuki kebodohannya sendiri, sementara Dav masih menatapnya dengan seulas senyuman di wajahnya. "Lalu, apakah kamu juga yang memakaikan pakaian ini?"Tanya Elena malu.
"Hmmm menurutmu?"Bisik Dav membuat Elena semakin di landa rasa malu. "Kamu tahu, kalau kamu sudah membangunkan tongkat saktiku tadi. Jadi sudah seharusnya kamu bertanggung jawab sayang."Dav kembali berbisik, ia sengaja ingin menggoda gadisnya itu.
"Argh.. Dasar mesum...."Elena mendorong Dav dengan sekuat tenaganya, ia sangat yakin jika Dav barusan menggigit daun telinganya yang sensitif. "Kenapa jantungku berdetak seperti ini. Ini pasti gara_gara si mesum ini menggigit daun telingaku barusan."Batin Elena sambil menetralkan detak jantungnya yang berdegup dengan sangat cepat.
"Sayang, aku tidak melakukan apapun, kenapa kamu menyebutku mesum?"Tanya Dav dengan wajah tanpa dosanya menatap Elena yang terlihat semakin menggemaskan di matanya.
"Hukuman untukmu karena sudah membuatku khawatir."Jawab Dav sambil mengusap lembut wajah cantik Elena. "Jadi, kenapa kamu menangis baby? Bukankah tadi sebelum aku berangkat kamu baik_baik saja?"Tanya Dav lembut.
__ADS_1
"Aku, aku hanya merindukan kedua orangtuaku."Ucap Elena sambil mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Dav. "Aku tidak mungkin bilang, jika aku menangis karena ucapan kak Alisha. Aku juga tidak berbohong, aku memang sangat merindukan kedua orangtuaku."Batin Elena.
"Aku tahu kamu sedang berbohong, Elen. Tapi aku juga tidak akan memaksamu untuk menceritakan semuanya. Aku hanya ingin kamu berkata jujur dengan mulutmu sendiri tanpa adanya paksaan."Batin Dav tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Elena yang kini tengah menatap ke arah jendela kamarnya. "Menangis sampai bengkak seperti ini?"Dav meraih dagu Elena supaya berhadapan langsung dengannya. "Sayang, jika kamu sangat merindukan kedua orangtuamu, aku akan mengantarmu ke tempat peristirahatan kedua orangtuamu. Bagaimana?"Ucap Dav membuat kedua bola mata Elena berbinar.
"Terima kasih, Dav."Elena langsung memeluk tubuh Dav membuat Dav seketika terdiam. Ini adalah kali pertamanya Elena memeluk dirinya. Benar_benar membuat Dav sangat bahagia.
"Asalkan kamu bahagia, aku pasti akan melakukan apapun untukmu, Elen. Jadi jangan pernah menangis lagi. Jika kamu merindukan kedua orangtuamu, kamu bilang sama aku. Mengerti."Ucap Dav sambil membalas pelukan Elena.
"Mengerti."Jawab Elena sambil melepaskan pelukannya. Ia menatap Dav dalam, begitupun juga dengan Dav. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Detak jantung Elena kembali berpacu dengan sangat cepat, ketika Dav mulai mendekatkan wajahnya mengikis jarak di antara mereka berdua.
"Dav....."Elena memanggil nama Dav, suaranya terdengar begitu sexy dan menggoda semakin membuat Dav ingin memilikinya saat ini juga.
__ADS_1
Dav menempelkan jari telunjuknya di bibir manis Elena. "Sssst .... Diamlah sayang."Bisik Dav sambil menatap lekat Elena. Elena terdiam membisu. Sementara Dav mulai menempelkan bibirnya dengan bibir manis Elena. Mengecupnya secara perlahan, lalu ********** dengan lembut. Alih_alih mendorongnya, Elena justru menikmati ciuman itu. Perasaannya saat ini sangatlah kacau, sementara Dav, merasa sangat bahagia, karena ini adalah kali pertamanya ia mencium Elena tanpa adanya perlawanan ataupun penolakkan yang di lakukan oleh Elena.
Bersambung.