
Elena tersenyum menanggapi ucapan suaminya tersebut, jujur saja ia sendiri sudah menantikan sosok bayi mungil dalan hidup rumah tangganya.
"Sayang, mulai hari ini kamu tidak boleh kecapean, ya. Kamu harus banyak istirahat, biar babynya sehat, mengerti." Ucap Dav seraya mrncubit hidung mancung sang istri.
"Astaga sayang, bukankah selama ini aku tidak pernah mengerjakan apapun? Jadi, tidak mungkin aku kecapean, kecuali kamu yang buat aku capek tengah malam." Sahut Elena membalas cubitan sang suami gemas.
"Itukan wajib, sayang. Kalau aku tidak membuat kamu capek tengah malam, baby ini tidak mungkin hadir di rahimmu." Ucap Dav yang kembali mendapat cubitan gemas dari sang istri.
"Aaw... Kok di cubit sih, sayang. Bukannya yang aku ucapkan memang benar hmm."
"Ish tau ah, kamu nyebelin." Seru Elena sambil turun dari pangkuan suaminya.
"Kok nyebelin sih sayang, aku kan berbicara sesuai fakta loh." Protes Dav kembali menarik tubuh sang istri dan mendudukkannya kembali di pangkuannya.
"Hmm, tetap saja kamu nyebelin. Pokoknya malan ini kamu tidak akan mendapat jatah. Titik." Ucap Elena membuat wajah Dav langsung memelas.
"Jangan dong sayang, malam kemarin kan aku tidak mendapat jatahku, masa malam ini juga aku tidak mendapatkannya. Apa kamu tega melihat aku tersiksa seperti malam kemarin."
"Bodoamat. Aku tidak perduli hmm." Sahut Elena seraya bangkit kembali dari pangkuan suami bucinnya itu.
"Sayang, kamu mau kemana?" Panggil Dav yang ikut bangkit dari kursinya.
__ADS_1
"Aku mau makan, laper." Sahut Elena tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Sayang, nanti malam kita..."
"Nggak! Pokoknya itu hukuman untukmu karena sudah membuat moodku rusak." Sela Elena sambil berbalik dan menatap suaminya.
"Sayang, jahat banget sih." Gumam Dav sambil menatap lekat wajah cantik sang istri.
"Biarin." Sahut Elena singkat. Elena kembali berbalik dan melangkahkan kedua kakinya menuju ruang makan.
Dav pun kembali melangkahkan kedua kakinya mengekori sang istri dengan wajah cemberut.
***
Elena sudah duduk di kursinya, ia tidak sabar menunggu makanan yang masih di masak oleh si bibi. Sementara lemon tea sudah tersedia di atas meja makan itu. Perlahan, Elena mulai bangkit dari kursi itu, ia berniat untuk melangkahkan kedua kakinya menuju dapur. Namun, niatnya terhenti ketika suara sang suami masuk ke dalam indera pendengarannya.
"Sayang, kamu kemana?" Tanya Dav sambil menatap sang istri lekat.
"Aku mau ke dapur, sayang." Sahut Elena dengan cepat.
"Untuk apa ke dapur?" Tanya Dav sembari mengelus lembut wajah cantik sang istri.
__ADS_1
"Untuk melihat si bibi, sayang. Perutku sudah keroncongan, tapi makanannya belum ada." Sahut Elena sambil mengusap perutnya yang terasa sangat lapar.
"Yasudah, kamu tunggu saja di sini, biar aku yang ke dapur, ok." Ucap Dav sembari melayangkan kecupan mesranya di kening sang istri.
"Tidak perlu, sayang. Nanti yang ada kamu malah menakuti si bibi lagi. Yasudah, aku ke dapur dulu, kamu duduk di sana, ok." Perintah Elena seraya menunjuk kursi meja makan.
"Sayang, tapi nanti malam kita...." Ucapan Dav tercekat di tenggorokkan ketika sang istri menempelkan jari telunjuknya di atas bibir miliknya.
"Sssst.... Jangan bahas itu lagi, atau aku tidak akan memberimu jatah selama satu bulan, mau?" Ancam Elena membuat si mafia bucin itu langsung menggelengkan kepalanya dan duduk di kursi yang Elena tunjuk tadi. Melihat hal itu, Elena tersenyum geli, kemudian ia pun melangkahkan kedua kakinya menuju dapur.
"Bi, udangnya belum mateng ya?" Tanya Elena seraya berjalan menghampiri si bibi di yang terlihat sibuk dengan masakannya.
"Astaga, non. Non Elen ngagetin bibi saja. Belum, non. Tunggu sebentar lagi ya." Ucap si bibi ramah.
"Ya, padahal perutku sudah laper banget, bi. Emm kira-kira berapa lama lagi bi?" Tanya Elena tidak sabaran.
"Lima menit lagi, non. Sabar ya, non." Ucap si bibi sambil menatap istri tuannya itu.
"Hmmm baiklah, demi udang aku akan sabar menunggu deh. Yasudah aku pergi dulu ya, bi." Pamit Elena yang mendapat anggukkan kepala dari si bibi.
Setelah itu, Elena pun kembali melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan si bibi yang terlihat sedang menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dasar si non, kenapa kenapa mendadak amnesia gitu, bukannya tadi dia menyuruhku untuk membuatkan makan malam? Biasanya kan sekitar pukul tujuh atau setengah delapan, tapi ini baru pukul setengah tujuh si non sudah laper. Untung saja tadi aku langsung masak." Batin si bibi kembali fokus dengan masakannya.
Bersambung.