Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Nyaman dan tenang


__ADS_3

Alisha yang mendengar bisikan_bisikan para pelayan tadi pun hanya dapat mengepalkan satu tangannya. Ia merasa sangat geram, namun ia juga harus menahan amarahnya dan bersikap seperti biasanya.


Bi Inah menghampiri Alisha, ia juga sedikit merasa kasihan kepada perempuan cantik itu. "Nona tidak apa_apa?" Tanya si bibi setelah ia berdiri di hadapan Alisha.


"Memangnya aku kenapa, bi? Bukankah yang mereka ucapkan benar adanya." Jawab Alisha sambil memperlihatkan senyuman palsunya.


"Mereka hanya asal bicara saja, non. Jangan di masukkan ke dalam hati."


"Aku tahu kok, bi." Jawab Alisha sambil menaruh jusnya di atas meja. "


"Mengapa Dav belum pulang juga? Apakah dia sedang melakukan sesuatu bersama Elena?" Batin Alisha bertanya_tanya. "Ah tidak_tidak, mereka tidak mungkin melakukannya. Apalagi sekarang sudah sangat siang. Mereka pasti sedang di perjalanan." Alisha kembali membatin sambil menggelengkan kepalanya mengusir pikiran negatifnya.


"Ada apa, non?" Tanya si bibi ketika melihat Alisha menggelengkan kepalanya.


"Ah tidak apa_apa, bi. Kenapa pengantin baru itu belum pulang?"


"Ah mungkin mereka sedang....." Ucapan si bibi terjeda ketika ia mendengar klakson mobil milik tuannya. "Sepertinya mereka sudah sampai, non. Sebentar bibi bukakan pintu dulu." Ucap si bibi yang mendapat anggukkan kepala dari Alisha.


***

__ADS_1


"Sedang ada tamu ya, bi?" Tanya Elena ketika ia melihat mobil mewah terparkir di halaman mansion itu.


"Eh iya, non." Jawab si bibi tersenyum kikuk.


"Siapa, bi?" Elena kembali bertanya penasaran.


"Non...."


"Masuk dulu, sayang. Nanti juga kita pasti tahu siapa tamunya." Sela Dav sambil menggenggam lembut tangan Elena.


"Ish, aku kan lagi nanya sama si , bibi."Elena mengercutkan bibirnya kesal, suaminya itu memang paling seneng nyerempet ucapan orang.


"Jangam cubit pipiku, nanti jadi cuby tahu." Dengus Elena sambil mengikuti langkah kaki suaminya.


"Gak apa_apa, sayang. Biar kamu tambah imut."


"Ish, aku gak suka."


"Tapi aku suka."

__ADS_1


"Aku gak suka, Dav."


"Tapi aku suka, sayang. Semua yang ada pada dirimu aku suka. Mau kamu cuby ataupun tidak aku tetap suka." Ucap Dav membuat kedua pipi Elena merona.


"Dih gak jelas...." Dengus Elena sambil menarik tangannya lalu mempercepat langkah kakinya.


Dav tersenyum, ia pun mempercepat langkah kakinya menyeimbangi istri tercintanya. "Sayang, pelan_pelan jalannya. Nanti kamu bisa jatuh." Ucapnya lembut kembali menggenggam tangan istrinya.


"Terlalu berlebihan hmmm." Elena kembali medengus, ia memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Obrolan pengantin baru itu membuat si bibi menyunggingkan senyumannya. Ia merasa sangat bahagia karena sepertinya Elena sudah dapat membuka hatinya untuk suaminya itu. Terlihat dari raut wajah Elena yang merona ketika suaminya itu sedang menggodanya.


"Ekhmmm." Suara deheman seorang perempuan membuat keduanya menghentikan langkah kakinya. Elena menatap tak percaya dengan penglihatannya saat ini. Alisha orang yang paling tidak ingin Elena temui, kini tengah berdiri sambil menatapnya.


"Kak Alisha..." Gumam Elena dengan tangan yang terkepal kuat. Ntah mengapa ucapan yang Alisha lontarkan beberapa hari lalu kembali merasuki isi kepalanya.


"Untuk apa kau datang kemari?"Suara dingin Dav membuat Elena tersentak dari lamunannya. Tangan suaminya yang mengusap lembut pucuk kepalanya, membuat Elena merasa nyaman dan juga tenang.


"Aku hanya ingin memberi selamat kepada kalian berdua." Jawab Alisha sambil memperlihatkan senyuman manis di bibirnya yang sexy.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2