Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Aku mengaku kalah


__ADS_3

"Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu." Ucap Elena sambil menggenggam telapak tangan suaminya.


"Aku juga sangat beruntung memiliki seorang istri sepertimu, sayang." Jawab Dav sambil mengelus punggung tangan istri kesayangannya itu.


"Sebaiknya kita selesaikan dulu makan malam kita, karena aku sudah tidak sabar untuk menikmati malam yang panjang bersamamu." Ucap Dav membuat kedua pipi Elena memerah seperti tomat membuat Dav gemas melihatnya dan ingin segera menerkamnya saat itu juga. "Sayang, sepertinya kamu sudah membangunkan juniorku hmm."


"Aku tidak melakukan apa-apa. Mana mungkin juniormu bangun begitu saja." Ucap Elena sambil menatap suaminya tidak mengerti.


"Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh melihatnya, sayang." Goda Dav membuat wajah Elena semakin memerah.


"Diamlah, jangan menggodaku, atau aku tidak akan memberikanmu jatah malam ini." Ucap Elena sambil menatap kesal suaminya yang selalu berkata sembarangan.

__ADS_1


Dav menatap lekat wajah cantik sang istri yang sedang memasukkan makanannya ke dalam mulutnya, kemudian berkata. "Kamu tega hmm."


Elena mengunyah makanannya dengan tenang, lalu menelannya secara perlahan. Ia menatap suaminya yang tengah menatap dirinya sedari tadi. "Ya. Coba saja kamu goda aku lagi, aku pasti tidak akan memberimu jatah malam ini, bahkan malam besok pun aku tidak akan memberinya."


"Sayang. Apa kamu ingin menyiksaku? Bagaimana mungkin kamu bisa berkata seperti itu kepadaku? Lagian kalau kamu tidak mau memberikan hakku, aku bisa memaksamu." Ucap Dav tanpa mrngalihkan tatapannya dari wajah cantik sang istri.


"Kalau kamu memaksaku, maka aku akan marah dan membencimu." Tegas Elena sambil menatap kesal suaminya.


"Baiklah, sayang. Aku mengaku kalah, aku tidak akan menggodamu lagi. Jadi jangan marah, ya. Aku hanya becanda saja, sayang." Ucap Dav sambil mengelus lembut pucuk kepala sang istri. Kalau istrinya sudah marah, maka dapat di pastikan ia akan kehilangan jatahnya dan juga ia akan tersiksa sepanjang malam.


Keduanya mulai makan malam dengan tenang dan saling menyuapi satu sama lain, tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar di malam itu.

__ADS_1


***


Setelah makan malam selesai, Dav langsung membawa istrinya masuk ke dalam villa. Ia menggendong Elena layaknya sang pangeran yang tengah menggendong putrinya. Elena hanya pasrah dalam gendongan suaminya itu, ia mengalungkan tangannya sambil menatap lekat wajah sang suami dari bawah.


"Aku tahu, kalau aku tampan, kamu boleh menatapku sepuasmu, sayang. Tapi nanti ya, saat kita sudah berada di atas ranjang." Ucap Dav tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Ish, aku tidak menatapmu, aku hanya menatap langit-langit Villa ini saja." Jawab Elena sambil meneluspkan wajahnya di dada bidang suaminya membuat Dav terkekeh dengan pelan.


"Kamu tidak pandai berbohong, sayang. Akui saja kalau suamimu ini memang tampan dan mempesona." Ucap Dav sambil menghentikan langkah kakinya ketika ia sudah tiba di depan pintu kamarnya. "Buka pintunya, sayang." Perintahnya begitu lembut.


Tanpa menjawab ucapan sang suami, Elena pun segera meraih knop pintu tersebut dan memutarnya secara perlahan hingga pintu terbuka lebar. Dav segera melangkahkan kakinya masuk, tak lupa ia juga meminta sang istri untuk menutup pintunya sekaligud menguncinya.

__ADS_1


Bersambung.


Mohon Maaf untuk semuanya, Karena othor jarang sekali up novel ini 🙏🙏🙏. Tapi othor janji, othor akan menyelsaikan novel ini sampai tamat. Dan terima kasih buat kalian yang sudah mengikuti kisah Dav dan Elena.😘😘😘😘😘


__ADS_2