
Elena menghela nafasnya kasar, ia menatap langit yang terlihat begitu cerah tanpa adanya awan putih di sekitarnya. Elena tersenyum kecut, ia tidak menyangka jika dirinya akan menikah dengan Dav yang sudah ia anggap sebagai unclenya sendiri.
Elena merasa sangat bersalah kepada Alisha, harusnya dirinya tidak boleh menerima lamaran, Dav. Harusnya dia membuat hubungan mereka kembali seperti semula, bukannya malah membuat dirinya terikat dengan pernikahan yang tidak ia inginkan sama sekali.
"Pasti kak Alisha akan semakin membenciku, jika kak Alisha tahu kalau aku akan menikah dengan, Dav." Ucap Elena pelan. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"Elena memejamkan kedua bola matanya, ia merasa sangat pusing sekarang. Elena sangat menyesal karena sudah menerima lamaran Dav tadi pagi.
"Maafkan aku, kak..."Lirih Elena kembali membuka kedua bola matanya lebar.
Drtt .. drt... Drt ..
Getaran ponsel membuat Elena mengalihkan pandangannya. Elena meraih benda pipih itu, lalu menatap nama yang ada di layar ponselnya."Kak Alisha..."Gumamnya, bersiap untuk menggeser tombol berwarna hijau.
"Elena. Apakah kita bisa bicara?"Seru Alisha terdengar sedikit serak. Sepertinya ia habis menangis.
"Bisa, kak. Kakak mau bicara apa?"
"Tidak lewat telpon, Elen. Kita ketemuan di cafe biasa yang sering kita kunjungi dulu. Bagaimana?"
"Kapan, kak?" Tanya Elena.
"Sekarang, Elena."
"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang."
__ADS_1
"Ok. Aku tunggu."Setelah mengucapkan hal itu, Alisha langsung memutuskan sambungannya secara sepihak. Sementara Elena terlihat menghembuskan nafasnya kasar. Elena segera bangkit dari tempat duduknya, ia mulai melangkahkan kakinya memasuki kamarnya.
***
Elena segera berlari menghampiri Dav, ketika ia melihat Dav tengah berjalan menuju ruangan khusus untuk melatih kebugaran tubuhnya."Uncle.."Panggil Elena membuat Dav menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik dan menatap Elena dalam.
"Ada apa, baby?"Tanya Dav lembut sambil mengusap pucuk kepala Elena.
"Aku izin keluar sebentar ya." Ucap Elena membuat Dav menarik tangannya, lalu menatap Elena penuh selidik.
"Mau ngapain?"Tanya Dav dingin.
"Aku mau ketemu sama temenku, sebentar."
"Kamu yakin? Kamu hanya ketemu sama temenmu?"Selidik Dav sambil menelisik seluruh tubuh Elena, membuat Elena salah tingkah.
"Kamu lupa dengan sebutan mu baby."Dav mendekati Elena. Hembusan nafas hangatnya menyentuh wajah cantik Elena. "Sepertinya kamu perlu di hukum, hmmm."Bisik Dav sambil membelai lembut wajah cantik Elena.
"Tidak...."
Sebuah kecupan mendarat sempurna di bibir manis milik Elena. Elena langsung terdiam, bola matanya membulat sempurna. Untuk kesekian kalinya, Dav sudah berhasil mencuri ciuman di bibirnya.
"Jika tidak ingin di hukum, jangan lupakan panggilanmu, sayang."Bisik Dav di iringi dengan senyuman manis di wajah tampannya. Dav kembali menjauhkan wajahnya, ia menatap gemas Elena yang terlihat kesal karena ulahnya.
__ADS_1
"Ish... Nyebelin banget, sih."Gerutu Elena sambil menatap horor Dav yang hanya tersenyum sambil menatap dirinya."Bagaimana, di izinkan atau tidak?"Tanya Elena sedikit kesal.
"Tidak."
"Dav... Aku hanya ingin ketemu sama temanku. Please..."Mohon Elena sambil memperlihatkan wajah imutnya membuat Dav semakin gemas.
"Baiklah. Tapi ada syaratnya."Dav kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Elena. Membuat jantung Elena seketika berpacu dengan sangat cepat. "Cium aku dulu, baru aku akan mengizinkanmu. Bagaimana, baby?"Bisik Dav menimbulkan rona merah di wajah cantik Elena.
"Astaga... Kenapa harus cium, sih?"Batin Elena kesal sekaligus frustasi, ia tentu saja tidak akan melakukannya, tetapi Elena juga tidak mungkin membatalkan janjinya dengan Alisha."Apa yang harus aku lakukan? Apa aku cium saja? Arrgh tidak mau..."Elena kembali membatin frustasi. Syarat yang di ajukkan oleh Dav menurutnya sangatlah konyol.
"Bagaimana baby?"Suara lembut Dav kembali terdengar di telinga Elena. Membuat Elena seketika tersadar dari lamunannya.
"Apa tidak ada syarat lain?"
"Tidak ada, sayang."Jawab Dav sambil mengelus lembut wajah Elena. "Kalau tidak mau, aku tidak akan...."
Sebuah kecupan mendarat sempurna di pipi sebelah kanan, Dav. Membuat Dav langsung terdiam mematung.
"Sudahkan. Sekarang aku pergi dulu."Dengan cepat Elena langsung membawa kakinya menuju pintu depan. Elena sangat malu sekaligus kesal. Ia terus menggerutu sambil mempercepat langkah kakinya.
"Ah dasar gadis nakal."Dav mengusap pipi sebelah kanannya, ia tersenyum sambil menatap kepergian Elena yang sudah menghilang di balik pintu. Dav merogoh ponselnya yang berada di saku celananya, ia segera menghubungi anak buahnya. "Awasi Elenaku, jangan sampai dia bertemu dengan laki_laki lain. Jika dia bertemu dengan laki_laki lain, bawa dia, dan buat laki_laki itu menyesal karena sudah berani mendekati Elenaku. Tapi jika perempuan, kau cukup awasi saja. Mengerti."Perintah Dav ketika panggilannya sudah di angkat oleh anak buahnya.
"Mengerti bos."
__ADS_1
Dav memutuskan sambungannya, ia kembali melangkahkan kakinya menuju tempat di mana ia melatih otot_ototnya.
Bersambung.