Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Manja


__ADS_3

"Sudah sampai, cepat turunkan aku, kamu pasti berat menggendongku dari tadi." Ucap Elena ketika keduanya sudah berada di dalam ruangan suaminya.


"Gak sabaran banget, sih." Dav mencubit gemas hidung mancung istrinya, lalu ia menurunkan sang istri dan mendudukkannya di atas sofa. "Kamu itu tidak berat, sayang. Hanya saja sedikit berat." Kekeh Dav yang mendapat pelototan dari istri tercintanya.


"Ish... Itu sama saja, honey." Ucap Elena sambil memencet hidung mancung suaminya dengan gemas.


Dav kembali terkekeh, ia lalu berjongkok dan mengecup kening istrinya mesra. "Yasudah, aku pergi rapat dulu, ya. Kamu istirahat di sini, jangan pergi kemana-mana. Mengerti." Dav kembali mengecup kening istrinya mesra, rasanya ia sangat tidak ingin pergi meninggalkan istri kesayangannya itu, tetapi ia juga tidak bisa meninggalkan rapat bulanan perusahaannya.


"Baiklah, aku tidak akan kemana-mana, kok. Semangat sayang." Jawab Elena sambil memberikan kecupan singkat di bibir sang suami sebagai penyemangat untuk suaminya.


"Lagi." Pinta Dav manja.


Elena terkekeh dengan pelan, ia kembali mendaratkan kecupan hangatnya di bibir sang suami. "Sudah, sekarang pergilah."


"Gak berasa, sayang. Sekali lagi ya."


"Sayang!!!"

__ADS_1


"Baiklah, aku akan segera pergi. Jangan memelototiku seperti itu, sayang. Aku jadi ingin memakanmu sekarang." Ucap Dav dengan membisikkan kata terakhirnya membuat Elena kembali memelototkan kedua bola matanya sempurna.


Sementara itu, Dav langsung bergegas melangkahkan kedua kakinya pergi, ia tahu jika istrinya itu akan mengeluarkan asap di kepalanya karena ucapannya barusan. Dia itu memang paling senang menggoda istrinya.


"Dasar mesum. Selalu saja berkata tanpa saringan." Gerutu Elena sambil menatap kepergian suaminya yang sudah menghilang dari balik pintu.


***


Kediaman Gerald.


"Tuan." Panggil seseorang yang tak lain adalah Baron kaki tangan Gerald sekaligus orang yang di selamatkan oleh Deon dulu.


"Sudah, tuan." Baron menghela nafasnya panjang, kemudian ia kembali berkata. "Tuan Dav memang yang membunuh tuan muda Deon. Alasannya karena tuan Deon sudah menculik istri tuan Dav sehingga membuat tuan Dav marah. Bukan hanya itu saja, tuan. Menurut info yang saya dapat, istri tuan Dav adalah anak dari pasangan Sentra yang lima tahun lalu anda bunuh."


Tuan Gerald mengepalkan dua tangannya kuat, pantas saja lima tahun yang lalu, putri Satu-satunya keluarga Sentra menghilang tanpa jejak, ah ternyata, dia sengaja di sembunyikan oleh Dav.


"Baiklah, kau terus awasi pergerakkannya, jika dia lengah, kau bawa dia ke hadapanku, dan juga istrinya. Aku akan membunuh istrinya dengan tanganku sendiri. Aku ingin lihat dia menderita karena kehilangan orang yang dia sayangi tepat di depan kedua bola matanya. " Perintah tuan Gerald dingin. Amarah dan juga dendam terpancar sangat jelas dari kedua bola matanya, apalagi saat dirinya mengetahui bahwa Elena adalah putri dari musuhnya yang sudah ia bunuh dulu, semakin menambah amarah dalam dirinya.

__ADS_1


"Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Jawab Barron sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada tuannya. Gerald hanya berdehem pelan, wajahnya masih terlihat sangat mengerikan menahan amarah dalam dirinya. Sementara itu, Baron langsung berbalik dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kediaman Gerald.


***


"Sayang, kamu belum selesai juga?" Tanya Elena membuat Dav langsung mdngalihkan pandangannya dari layar konputernya.


"Sebentar lagi sayang." Dav menatap istrinya, ia jadi merasa bersalah karena sudah membuat istri tercintanya bosan seharian. "Kamu bosan, ya?" Tanya Dav lembut yang mendapat anggukkan kepala dari istrinya. "Bagaimana kalau kamu berkeliling di kantorku? Aku bisa menyuruh sekertarisku untuk menemanimu, sayang."


"Tidak, sayang. Kamu tahu sendiri kakiku masih sakit, hmm." Tolak Elena dengan nada terdengar manja membuat Dav ingin sekali melahapnya saat itu juga.


"Aku lupa sayang." Dav menghela nafasnya berat, kemudian ia berkata kembali. "Yasudah, kalau begitu kamu tunggu sebentar ya, aku akan membereskan dulu berkas-berkas ini, lalu setelah itu kita pulang, ok."


"Memangnya sudah selesai?" Tanya Elena sambil menatap lekaf wajah lelah suaminya.


"Belum sayang, aku akan membawa pekerjaanku pulang, karena aku tidak ingin membuat istriku semakin kebosanan di sini."


"Tidak apa-apa sayang, kamu selesaikan dulu saja pekerjaanmu, setelah pekerjaanmu selesai, baru kita pulang." Ucap Elena lembut.

__ADS_1


"NO! Baby. Aku tetap akan membawa pekerjaanku pulang. Jadi, kamu tunggu sebentar ya, sayang." Jawab Dav kekeh dengan pendiriannya. Dav lebih baik membawa pekerjaannya pulang dari pada harus membuat istri tercintanya bosan seharian. Elena hanya tersenyum, ia sangat tahu betul sifat suaminya itu. Jika suaminya berkata A, maka jangan harap dia dapat merubahnya menjadi B.


Bersambung.


__ADS_2