
Sam menghela nafasnya panjang, dua hari ini dia sudah bekerja lembur karena bosnya itu benar_benar menghabiskan waktunya bersama istri tercintanya. Bahkan ponselnya saja di matikan terakhir kali bosnya itu menghubunginya ketika meminta dirinya untuk membelikan pembalut. Ah mengingat soal pembalut, Sam jadi geli sendiri, ia jadi berpikir apakah suatu saat nanti ia akan membelikan pembalut untuk istrinya? Astaga kenapa juga dia malah memikirkan soal pembalut, jelas_jelas di hadapannya pekerjaannya masih menumpuk. Dasar Samson.
Sam kembali menghela nafasnya panjang, sejenak ia menghilangkan rasa lelahnya dari pekerjaan yang tak ada habisnya itu, apalagi saat ini cabang perusahaan bosnya sedang memiliki kendala, semakin menambah beban hidup si jomblo sejati itu.
"Pak, Sam. Apakah anda sangat lelah?" Suara perempuan terdengar di gendang telinganya.
Sam langsung membuka kedua bola matanya, tatapannya langsung bertemu dengan netra hitam yang ada di hadapannya. "Kapan kau masuk?"Tanya Sam terkesan dingin dan juga datar. "Kenapa tidak mengetuk pintu dulu."
"Ah saya sudah mengetuk pintu ruangan bapak sebanyak tiga kali, tapi tidak ada jawaban dari bapak, jadi saya masuk karena takut anda kenapa_kenapa." Jelas si perempuan itu yang tak lain adalah Tari sekertaris Dav. "Berhubung pak Dav masih belum masuk, jadi saya menyerahkan berkas_berkas ini kepada bapak. Saya harap bapak memberikannya kepada pak Dav." Tari menyerahkan beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan dari bosnya itu.
"Baiklah letakan saja di atas meja, kau boleh keluar." Ucap Sam datar tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu pak."Pamit Tari yang mendapat anggukkan kepala dari Sam. Setelah itu Tari pun langsung pergi melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Sam yang terasa dingin juga tak nyaman. "Hupt... Pantas saja sampai sekarang dia masih jomblo, bicaranya saja dingin begitu. Sangat menyebalkan."Ucap Tari dalam hati sambil mempercepat langkah kakinya.
"Sebaiknya besok saja aku memberikan berkas_berkas ini kepada si bos. Daripada aku kena semprot gara_gara mengganggu waktunya dengan istri kecilnya itu, mending kena semprot saja, bagaimana kalau gajiku di potong? Itu akan sangat menyakitkan sekali."Gumam Sam sambil merapikan berkas_berkas yang harus di tanda tangani oleh bosnya itu. "Baru pukul dua siang. Pekerjaanku masih numpuk, alamat lembur lagi inimah."Ucap Sam sambil mengusap wajahnya kasar. Sam kembali melakukan pekerjaannya, ia mulai mengecek beberapa email dari kliennya juga harus memeriksa laporan tentang pembangunan mall yang berada di kota a.
__ADS_1
***
Lucas terlihat sangat kesal juga frustasi, sedari tadi ia menghubungi bosnya namun nomor bosnya itu sama sekali tidak bisa di hubungi, padahal ada sesuatu yang sangat penting untuk di sampaikan kepada bosnya itu, namun ternyata ponsel bosnya malah tidak dapat di hubungi.
"Si bos ini, benar_benar tidak ingin di ganggu." Gerutunya sambil berjalan keluar dari ruangannya. "Apa aku datangi saja rumahnya? Ah tapi dia pasti bakalan marah besar. Tapi informasi ini sangat penting, mungkin saja dia tidak akan marah dan malah memberiku bonus yang besar." Lucas terus berjalan, ia berniat untuk pergi ke kediaman bosnya itu. Tidak perduli bosnya mau marah atau tidak, yang jelas, ia harus memberitahukan informasi penting itu secepatnya.
Lucas membuka pintu mobilnya, kemudian ia masuk dan menutup kembali pintu mobil itu, ia mulai melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata_rata.
***
Dav tersenyum, kemudian ia mengusap lembut pucuk kepala istri kecilnya itu. "Apa kamu ingin keluar, sayang?" Tanyanya dengan lembut. Elena hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Kalau begitu malam ini, kita makan malam di luar saja Bagaimana, sayang? Apa kamu mau?"
"Aku mau, tapi aku yang tentukan tempatnya, ya." Ucap Elena sambil menatap suaminya dari bawah.
__ADS_1
"Baiklah, terserah sama kamu, sayang." Jawab Dav dengan senyuman manis yang terukir di bibir tipisnya.
"Kalau begitu aku siap_siap dulu sekarang." Elena langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia berniat untuk pergi ke kamarnya.
"Kenapa buru_buru, sayang? Ini baru jam lima lewat empat puluh menit. Masih lama kita perginya."Ucap Dav sambil menarik pinggang ramping sang istri membuatnya langsung terjatuh di pangkuannya. "Sebaiknya kita nikmati dulu pemandangan indah ini." Bisik Dav sambil membelai wajah cantik Elena.
"Hmm baiklah. Tapi turunkan aku dulu, aku ingin duduk di sebelahmu."Pinta Elena yang merasa tidak nyaman duduk di pangkuan suaminya itu.
"Tapi aku ingin kita tetap seperti ini, sayang." Bisik Dav membuat Elena salah tingkah.
"Tapi,,, tapi ini tidak nyaman, sayang." Ucap Elena keceplosan memanggil suaminya dengan sebutan sayang. "Astaga barusan aku memanggilnya sayang? Ah ini gila." Teriak Elena dalam hati.
"Aku ingin mendengarnya sekali lagi." Wajah Dav semakin dekat, bahkan hembusan nafas yang beraroma tembakau masuk ke dalam indera penciuman Elena. "Panggil aku lagi seperti tadi." Dav mengusap lembut bibir manis Elena, rasanya ia ingin sekali ********** saat itu juga.
"Sayang...." Panggil Elena terdengar sangat menggoda. Dav langsung ******* bibir yang mengucapkan kata sayang itu, hatinya sangat amat bahagia. Ini adalah kali pertamanya Elena memanggil dirinya dengan sebutan sayang.
__ADS_1
Bersambung.