
Dav berjalan dengan sangat tergesa_gesa. Rasa rindunya sudah menguasai dirinya sejak siang tadi. Si mafia bucin itu terus melangkahkan kakinya tanpa jeda, ia juga tidak menyadari jika istri kecilnya sedang duduk manis di atas sofa sambil menonton drama favoritnya.
"Nona, Elen! Sepertinya tuan Dav sudah pulang." Ucap si bibi ketika melihat tuannya berjalan menaiki anak dengan cepat.
"Kenapa aku tidak melihatnya?" Elena mengerutkan keningnya, ia memang tidak melihat kedatangan suaminya karena terlalu fokus dengan televisi yang ada di hadapannya. "Maksud bibi, dia sudah di depan, bi?" Tanya Elena sambil menatap si bibi.
"Sudah masuk, non. Baru saja bibi lihat tuan Dav menaiki anak tangga. Sepertinya tuan sedang ada masalah, non."
"Memangnya kenapa, bi?" Tanya Elena sambil mengerutkan keningnya.
"Tadi bibi lihat, tuan jalannya sangat tergesa-gesa. Raut wajahnya juga tidak terlihat seperti biasanya, non."
"Oh! Yasudah kalau begitu, aku ke atas dulu ya, bi." Pamit Elena seperti biasanya selalu menampilkan senyuman di wajah cantiknya. Si bibi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Elena langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia membawa kedua kakinya berjalan menuju anak tangga.
***
Sayang! Kamu dimana?" Panggil Dav ketika dia sudah berada di dalam kamarnya, wajahnya terlihat cemas ketika dia tidak mendapati keberadaan istri tercintanya itu. "Kemana dia pergi? Apakah dia sedang mandi? Tapi lampu kamar mandi mati, itu artinya dia tidak ada di kamar mandi itu. Lalu kemana dia pergi?" Dav terus menelisik setiap sudut kamarnya. Namun bayangan sang istri sama sekali tidak ada di dalam kamar itu.
__ADS_1
Kedua kakinya mulai melangkah menuju balkon kamarnya. Dav sangat yakin jika istrinya berada di balkon kamarnya. Dav berjalan dengan sangat pelan, ia berniat untuk mengejutkan istrinya, lalu memeluknya dari belakang, bukankah itu sangat romantis? Pikir Dav dengan senyuman yang terukir di bibir tipisnya.
Elena baru saja memasuki kamarnya, ia langsung mencari keberadaan suaminya itu. "Bukankah kata si bibi Dav sudah pulang? Lalu kemana perginya dia?" Elena bertanya-tanya sendirian sambil melangkahkan kedua kakinya pelan. Elena mengerutkan keningnya, ketika ia melihat sang suami yang berjalan mengendap-endap menuju balkon seperti seorang maling. "Mau apa dia? Kenapa berjalan seperti itu?" Gumam Elena lalu berjalan menghampiri suaminya. "Sayang! Kamu mau ngapain?" Tanya Elena membuat Dav tersentak kaget.
Dav langsung menghentikan langkah kakinya, kemudian ia berbalik dan mendapati sang istri yang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Sayang! Kamu mengagetkanku." Ucap Dav sambil berjalan mendekati sang istri. Sepertinya niat Dav untuk mengagetkan istrinya gagal, justru dirinyalah yang di kagetkan oleh suara istrinya. "Kamu dari mana, sayang? Aku cariin kamu kok tidak ada." Tanya Dav sambil mengelus lembut wajah cantik istrinya, kemudian ia mengecup keningnya, lalu memeluknya.
"Aku dari tadi ada di ruang tivi, sayang. Kata si bibi kamu udah pulang, terus kamu terlihat terburu-buru, makannya aku langsung ke sini." Jawab Elena sambil membalas pelukan hangat suaminya. "Apakah sudah terjadi sesuatu di perusahaanmu?" Tanya Elena sambil melepaskan pelukan suaminya. Elena menatap lekat wajah suaminya, wajah itu terlihat lelah, namun kadar ketampanannya masih saja terlihat.
Dav tersenyum, ia kembali mengelus lembut wajah cantik istrinya, lalu mengecup keningnya mesra. "Tidak, sayang. Semuanya baik-baik saja. Aku hanya terlalu merindukanmu." Jawab Dav dengan nada yang begitu lembut. "Aku pikir kamu ada di kamar, makannya aku langsung kemari dengan terburu-buru." Sambungnya di iringi dengan kekehannya.
Elena menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak habis pikir kenapa bisa ia memiliki suami bucin seperti, Dav? Apakah ini sebuah keberuntungan yang Tuhan berikan padanya? Atau justru sebaliknya.
"Sayang! Kalau aku selalu berada di sampingmu setiap detik, lalu bagaimana aku melakukan kewajibanku sebagai seorang istri?"
"Kita bisa melakukannya di ruanganku, sayang. Di sana ada...."
"Astaga.... Bukan kewajiban itu yang ku maksud." Elena menatap kesal suaminya. Sementara yang di tatap malah menampilkan wajah tanpa dosanya. "Maksudku, tugas seorang istri yang menyiapkan segala kebutuhanmu, saat pergi kerja, lalu menyambutmu saat pulang kerja. Menyiapkan sarapan untukmu, menyiapkan makan malam untukmu, seperti yang mama lakukan dulu sama papa saat mereka masih hidup." Jelas Elena membuat si mafia bucin itu paham dan tidak mengarah ke urusan ranjang lagi.
__ADS_1
"Sebaiknya sekarang kamu bersihkan tubuhmu dulu, setelah itu kita makan, kamu pasti belum makan malam kan?" Tanya Elena lembut.
"Mandiin." Pinta Dav manja seperti bocah kecil saja.
"Sayang.... Kamu minta di pukul, ya."
"Aku minta di mandiin sayang."
"Mandi sendiri."
"Mandiin, ya."
"Mau menderita lagi? Kalau mau ayo aku mandiin."
"Tidak, sayang. Itu sangat menyakitkan." Jawab Dav yang tidak ingin menahan penderitaannya seperti kemarin-kemarin.
"Kalau begitu sekarang kamu mandi, aku tunggu di bawah, ya." Ucap Elena sambil mengelus lembut wajah suaminya itu.
Dav menganggukkan kepalanya pelan, lalu mengecup lembut kening istrinya, kemudian mengecup sekilas bibir manis sang istri. Lalu setelah itu, Dav pun pergi membawa kedua kakinya menuju kamar mandi, sementara Elena membawa kedua kakinya keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Bersambung.