Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Malam pertama02


__ADS_3

Elena mulai mengalungkan tangannya di leher suaminya, gelenyar aneh mulai merasuki tubuhnya ketika tangan suaminya bergerak di bagian sensitifnya yang tidak pernah tersentuh oleh siapa pun.


Dav mulai melepaskan pagutannya ketika dirasa oxygennya sudah terkuras habis, ia menempelkan keningnya dengan sang istri, matanya mulai terbuka menatap wajah sang istri yang begitu menggoda dengan nafas naik turun tak beraturan. Dav tersenyum, baru kali ini ia melihat istrinya begitu menikmati ciuman panasnya.


Setelah dirasa oxygennya sudah terkumpul penuh, Dav pun kembali melakukan ciuman panasnya, ciuman itu turun ke leher sang istri dan memberikan stempel kepemilikan di area sana, ******* demi ******* keluar dari bibir manis Elena, membuat Dav semakin bersemangat juga semakin bergairah.


Dav kembali memberikan stempel kepemilikan di bagian leher istrinya, tangannya kembali beraksi menyentuh bagian sensitif sang istri yang begitu menggoda. Memainkannya dengan lembut, membuat Elena kembali mendesah. Untuk pertama kalinya Elena merasakan sensasi yang luar biasa.


"Malam ini aku akan menjadikanmu sebagai milikku seutuhnya." Bisik Dav di sela-sela ciumannya. Dav memulai melakukan aksinya, malam ini ia akan membawa istrinya terbang ke surga bersama dirinya.


Malam masih panjang, malam yang paling bersejarah bagi dua insan yang kini sedang mencurahkan kasih sayang juga hasrat yang sudah lama tersimpan dalam tubuhnya.


***


Setelah melakukan pertempuran yang membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih, Elena langsung tertidur pulas, bahkan ia tidak sempat untuk membersihkan dirinya karena rasa ngantuk dan juga lelah telah menghantui dirinya. Sementara itu, Dav masih terjaga. Matanya masih membuka lebar menatap lekat wajah lelah istri kesayanangannya itu.


Dav tersenyum bahagia, tangannya mengelus lembut wajah sang istri, lalu ia mengecup keingnya mesra. "Terima kasih sayang, karena kamu telah memberikan dirimu seutuhnya kepadaku. Terima kasih karena kamu sudah membuatku merasakan indahnya surga dunia. Aku sangat mencintaimu istriku. Semoga benih yang aku tanamkan secepatnya tumbuh dalam rahimmu." Ucap Dav lalu mengelus perut rata sang istri dari balik selimut.


"Good nigt baby, i love you." Bisik Dav lalu memberikan kecupan kembali di kening sang istri. Dav mulai menginjakkan kakinya di atas lantai, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah beberapa menit, Dav pun keluar dari kamar mandinya, ia berjalan menuju walk in closet untuk mengambil pakaian santai yang biasa ia kenakan. Setelah selesai mengambil pakaiannya, Dav langsung mengenakannya di tempat. Setelah selesai, Dav langsung melangkahkan kedua kakinya keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.


***


Waktu menunjukkan pukul 06.30 pagi. Elena mulai membuka kedua bola matanya secara perlahan, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama bagian sensitifnya yang terasa begitu nyeri. Elena kembali mengingat kejadian semalam, saat dirinya dan juga suaminya melakukan sesuatu yang membuatnya terbang ke angkasa raya. Wajah Elena mulai memerah, bahkan hawa panas mulai menyelimuti dirinya saat adegan-adegan yang mengairahkan itu terus bermunculan di otak cantiknya. "Apa aku sudah gila.... Kenapa aku malah terbayang-bayang bagian itu? Argh sangat memalukan." Gumam Elena dengan pelan sambil mengetuk kepalanya berusaha untuk menghilangkan bayangan dirinya saat bercinta semalam.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu memukul kepalamu sendiri?" Tanya Dav dengan suara khas bangun tidurnya.


"Ti,,, tidak apa-apa sayang?" Jawab Elena sedikit gugup.


"Sepertinya kamu sedang membayangkan kejadian semalam." Bisik Dav sambil memeluk tubuh istrinya yang masih polos hanya tertutupi oleh selimut tebal.


"Tidak!" Jawab Elena cepat membuat Dav terkekeh pelan.

__ADS_1


"Tidak apa sayang?"


"Aku tidak membayangkannya." Ucap Elena kesal.


"Yakin sayang?"


"Iya."


"Lalu kenapa wajahmu memerah hmm."


"Ish mana ada wajahku memerah." Ucap Elena sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Jangan menggodaku lagi, apa kamu tidak pergi ke kantor?" Tanya Elena mengalihkan pembicaraannya.


"Aku akan pergi, sayang. Tapi mungkin agak siangan. Karena aku masih ingin memeluk tubuh istriku ini." Jawab Dav sambil membenamkan wajahnya di leher sang istri.


"Ish lepaskan, sayang. Aku mau mandi dulu, rasanya badanku sangat lengket sekali."


"Nanti saja sayang, aku masih ingin memelukmu." Ucap Dav sambil mengeratkan pelukannya.


"Kenapa sayang?"Tanya Dav dengan nada suara yang terdengar berat menandakan bahwa dirinya sudah di selimuti oleh kabut gairahnya. "Sayang! bagaimana kalau kita melakukan olah raga pagi." Bisik Dav, lalu menggigit cuping telinga Elena pelan membuat tubuh Elena serasa di sengat listrik. Elena sangat tahu dengan apa yang di maksud olah raga pagi oleh suaminya itu.


"Sayang please, jangan lakukan lagi. Tubuhku masih terasa sakit." Ucap Elena jujur.


Dav mendongak menatap istri tercintanya, lalu bertanya dengan lembut. "Apa sangat sakit sekali sayang?"


Elena menganggukkan kepalanya pelan. "Iya sayang, jadi jangan lakukan lagi ok." Ucap Elena sambil memperlihatkan wajahnya yang imut berharap agar suaminya mau mendengarkan ucapannya.


Dav menghembuskan nafasny panjang, ia merasa tidak tega jika harus memaksa istrinya untuk melakukan kembali pertempuran seperti semalam. "Baiklah sayang, aku tidak akan memaksamu. Maafkan aku karena sudah membuatmu kesakitan." Ucap Dav sambil mengelus lembut wajah cantik istrinya.


Elena tersenyum lega, ia mengecup pipi sang suami kemudian berkata. "Tidak apa-apa sayang. Yasudah aku mau ke kamar mandi dulu ya."


Dav menganggukan kepalanya pelan, kemudian ia pun melepaskan istri tercintanya, meskipun juniornya sudah berdiri dnegan tegak dan siap untuk bertempur, namun Dav berusaha untuk menahannya.


Elena mulai menurunkan kakinya dari tempat tidur, tubunya terbungkus selimut tebal karena ia tidak mungkin berjalan dengan tubuhnya yang polos itu, membayangkannya saja Elena sudah sangat malu. Elena mulai melangkahkan kakinya dengan pelan, rasa sakit di bagian sensitifnya membuat Elena harus berjalan dengan tertatih-tatih.

__ADS_1


Dav yang tidak tega melihat sang istri berjalan dengan tertatih-tatih pun langsung beranjak dari tempat tidurnya. Lalu menggendong tubuh sang istri, membuat sang istri terkejut."Sayang kamu mau ngapain?" Tanya Elena terkejut karena tiba-tiba suaminya sudah mengangkat tubuhnya.


"Diamlah sayang, aku hanya ingin membantumu pergi ke kamar mandi." Ucap Dav sambil melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.


"Aku ,, aku bisa sendiri."


"Sudahlah sayang, aku tau kamu masih merasakan sakit karena pertempuran kita semalam, jadi biarkan aku menggendongmu ok." Ucap Dav lembut tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Jangan bahas yang semalam lagi." Ucap Elena sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Dav terkekeh pelan, kemudian ia menurunkan Elena di kamar mandi."Sayang apa kamu malu?"Tanyanya sambil menatap lekat wajah cantik istrinya.


"Ti ,,tidak, aku tidak malu." Jawab Elena dengan terbata-bata sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Tapi wajahmu sangat merah sayang."


"Aku mau mandi, kamu keluar dulu." Ucap Elena sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, tingkahkan itu sungguh membuat Dav gemas.


"Mau mandi bareng sayang?"


"Tidak mau."


"Tapi aku mau sayang."


"Aku tidak mau, kamu keluar dulu."


"Mandi bareng ya."


"Tidak! keluar atau aku akan membuatmu berpuasa selama satu bulan penuh." Ancam Elena yang mampu membuat suaminya itu langsung menuruti ucapannya.


"Aku akan keluar. Dasar istri galak." Dav langsung melangkahkan kakinya keluar, sementara Elena tersenyum melihat wajah kesal suaminya itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2