Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Anggap saja tidak ada


__ADS_3

"Aaaargh.... Brengsek! Bagaimana bisa kau gagal untuk membunuhnya hah!" Teriak Deon penuh amarah kepada si penjahat yang berhasil hidup dengan luka tembakkan di lengan dan juga kaki kanannya.


"Maafkan sa,,, saya, bos...."


"Dasar tidak berguna! Membunuh satu orang saja tidak becus. Pergilah ke neraka."


Doooor....


Deon melepaskan tembakannya tepat mengenai kepala si penjahat itu, seketika itu pula si penjahat itu langsung ambruk dan meregang nyawanya. Deon kembali menaruh pistolnya ke dalam saku jasnya, kemudian ia berjalan melangkahi mayat yang baru saja mati di tangannya. "Urus mayat tidak berguna ini." Perintahnya kepada anak buahnya.


"Baik, bos." Jawab si anak buahnya sambil mengangguk pelan.


Deon kembali melangkahkan kedua kakinya dengan penuh amarah. Rencananya untuk melenyapkan Dav gagal total, bukan hanya gagal untuk membunuh Dav, beberapa penjahat yang ia suruh pun mati di tangan Dav.


"Dav... Tunggu saja, suatu saat nanti aku pasti akan membunuhmu!" Ucap Deon dengan amarah yang semakin menggebu-gebu. Deon duduk di kursi yang biasa ia tempati, ia meraih segelas wine, kemudian meneguknya secara perlahan, menikmati setiap tetesnya.


Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah garang datang menghampirinya, Deon tidak menghiraukan kedatangannya, hingga laki-laki garang itu bersuara. "Bos! Sepertinya ada sedikit masalah dengan penyelundupan senjata tajam yang akan kita kirim ke negara S."

__ADS_1


Deon langsung menatap tajam laki-laki garang itu, ia melempar gelas yang sudah kosong ke dasar lantai dengan penuh amarah. "Katakan! Masalahnya apa? Jangan sampai membuatku menembak kepalamu." Ucap Deon dingin, tatapan matanya begitu tajam membuat si laki-laki garang itu sedikit ngeri.


"Sepertinya ada yang membocorkan rencana kita, bos. Kapal yang akan membawa senjata kita di tahan di pelabuhan. Beberapa petugas polisi akan segera datang ke pelabuhan untuk memeriksanya."


"Sial... Siapa yang berani membocorkan rencana kita?"


"Sudah pasti ada pengkhianat, bos."


"Batalkan dulu rencana kita, kau suruh mereka untuk bawa semua senjata api itu sembunyikan di tempat yang aman. Jika tertangkap, bunuh saja para petugas polisi itu, buang mayatnya ke laut. Mengerti."


"Mengerti, bos. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap si laki-laki garang itu sambil menundukkan kepalanya memberi hormat. Deon hanya mengibaskan tangannya, menyuruh si laki-laki garang itu untuk segera pergi dari hadapannya.


***


Dav, Elena dan juga Sam sedang berada di meja makan. Ketiga manusia itu sedang menikmati makan malamnya dengan tenang, tanpa ada yang mengeluarkan suaranya. Dav melihat ada sebutir nasi di sudut bibir istrinya, ia tersenyum, kemudian meraih sebutir nasi itu dengan mulutnya membuat Elena terkejut, "Sayang! Apa yang kamu lakukan?" Ucap Elena dengan wajah yang memerah.


"Aku hanya membantumu membersihkan sisa makanan yang ada di sudut bibirmu, sayang." Jawab Dav santai dengan senyuman yang tersungging di bibirnya yang tipis.

__ADS_1


"Ish... Tapi kamu bisa bilang sama aku kan."


"Bisa. Tapi aku lebih senang membantumu untuk membersihkannya dari pada harus memberitahumu."


"Ish.. Dasar... Jangan lupa, di sini bukan hanya kita berdua saja, di sini masih ada uncle Sam." Ucap Elena sambil melirik Sam dengan ekor matanya.


"Anggap saja dia tidak ada, sayang."


"Mana bisa begitu, dia juga manusia punya perasaan sayang."


"Bisa sayang." Ucap Dav lembut sambil mengelus wajah istrinya yang halus. Kemudian menciumnya mesra. "Ayo kita lanjutkan lagi makannya." Tuturnya sambil memberikan sesendok nasi beserta lauknya kepada Elena.


"Aku bisa makan sendiri, sayang. Kamu tidak perlu menyuapiku." Tolak Elena lembut.


"Tapi aku ingin menyuapimu sayang. Ayo buka mulutmu." Paksa Dav dengan senyuman manis yang masih setia menghiasi wajah tampannya. Elena menghembuskan nafasnya panjang, kemudian ia pun membuka mulutnya lebar. "Istri pintar." Ucap Dav setelah ia memasukan satu sendak makanannya ke dalam mulut istrinya.


Elena tidak menyahut, kelakuan suaminya itu membuat dirinya merasa tidak nyaman karena di meja makan itu masih ada seorang jomblo yang harus menyaksikan keromantisan dirinya dengan suaminya. Elena sangat yakin jika si jomblo itu merasa terganggu, dengan tingkah suaminya itu, namun dia hanya dapat diam dan memakan makanannya dengan tenang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2