
Elena terusik dari tidur nyenyaknya ketika ia merasakan sentuhan hangat di wajah cantiknya. Perlahan ia membuka kedua bola matanya, tatapannya langsung tertuju pada sosok laki-laki tampan yang tak lain adalah Dav suaminya sendiri.
"Emmm sayang, kamu sudah pulang?" Ucap Elena dengan suara khas bangun tidurnya yang terdengar sexy di telinga si mafia bucin itu.
Dav tersenyum, lalu ia mengecup kening istrinya mesra. "Aku baru saja pulang, sayang. Aku sangat merindukanmu." Ucap Dav sambil membawa Elena ke dalam pelukannya. "Sayang! Mulai saat ini, tidak akan ada lagi orang yang berani menyakitimu ataupun berniat untuk melenyapkanmu, jadi aku bisa tenang sekarang." Batin Dav semakin mengeratkan pelukannya.
"Ish padahal hanya beberapa jam saja tidak bertemu, kamu sudah begitu merindukanku." Kekeh Elena sambil membalas pelukan sang suami.
"Satu jam bagiku itu seperti satu bulan, sayang. Jadi wajar jika aku begitu merindukanmu hmm." Dav melepaskan pelukannya, lalu mencubit gemas hidung mancung sang istri. "Apakah kanu tidak merindukanku?" Tanyanya sambil menatap dalam kedua bola istri tercintanya.
"Tentu saja, aku juga sangat merindukanmu." Jawab Elena sambil memberikan kecupan mesra di pipi sang suami. "Apa kamu sudah makan?" Tanya Elena yang mendapat gelengan kepala dari suaminya. "Ini sudah jam sepuluh, sayang. Kenapa kamu belum makan?"
"Tadi kerjaanku sangat banyak, sayang. Jadi aku belum sempat makan malam." Jawab Dav kembali membawa sang istri ke dalam pelukannya.
"Yasudah sekarang kamu bersihkan dulu tubuhmu, aku akan ke bawah untuk menyiapkan makan malam untukmu, ok."
"Nanti aku suruh si bibi aja untuk menyiapkan makan malamku, sayang. Kamu sebaiknya tidur lagi, ya." Ucap Dav sambil mengelus lembut pucuk kepala sang istri.
__ADS_1
"Biar aku saja, sayang. Biarkan si bibi istirahat, ok."
"Tapi... "
"Tidak ada tapi-tapian, honey. Sekarang kamu bersihkan tubuhmu, lalu setelah itu kamu turun ke bawah. Mengerti." Tegas Elena membuat Dav harus menghela nafasnya pelan.
"Baiklah, sayang. Aku menyerah kalau kamu sudah berkata seperti itu." Ucap Dav membuat Elena terkekeh pelan. "Yasudah aku mandi dulu ya, sayang." Dav mengecup kembali kening sang istri, lalu setelah itu ia pun mulai melangkahkan kedua kakinya menuju pintu kamar mandi. Sementara Elena, langsung beranjak dari tempat tidurnya, lalu berjalan menuju pintu kamarnya.
***
Ruang makan.
Dav mengangguk, lalu ia menarik kursi yang berada di samping istrinya, kemudian duduk. "Terima kasih sayang." Ucapnya lembut.
"Jangan berterima kasih, sayang. Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri. Yasudah kamu makan dulu, ya. Habis itu kita istirahat."
"Iya, sayang." Jawab Dav seperti biasa selalu memberikan kecupannya di kening sang istri. Lalu setelah itu, ia pun mulai memasukan makanannya ke dalam mulutnya, sementara Elena hanya duduk manis sambil menatap suaminya.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian...
Dav sudah menyelesaikan makan malamnya, ia menatap istrinya lalu berkata. "Sayang. Apa kamu sudah menyiapkan baju-bajumu untuk kita pergi nanti?"
"Sudah, sayang. Semuanya sudah aku siapkan, bajumu juga sudah ku masukkan ke dalam koper."
"Baguslah, sayang. Jadi besok kita tinggal berangkat aja." Ucap Dav membuat Elena mengerutkan keningnya bingung.
"Besok? Bukankah kita berangkat hari minggu?"
Dav menghela nafasnya panjang, sebelum ia menjawab ucapan sang istri, ia terlebih dahulu meneguk air minumnya, lalu menaruh gelas itu di atas meja. "Lebih cepat lebih baik, sayang." Jawabnya sambil mengelus lembut wajah cantik sang istri. "Apa kamu keberatan hmm?" Tanya Dav yang mendapat gelengan pelan dari sang istri. "Baguslah. Jadi besok kita berangkat pukul sembilan pagi. Ok."
"Hmm terserah kamu saja. Yasudah sekarang kita istirahat dulu, biar besok tidak kesiangan."
"Mau olah raga malam.... "
"NO! Sayang. Kita tidur saja. Mengerti." Tegas Elena membuat Dav langsung merenggut karena malam ini ia tidak bisa melakukan aktifitas yang akan mebawanya terbang di atas awan.
__ADS_1
Bersambung.