
"Tapi aku sedang ingin berkembang biak sayang." Ucap Dav yang kini sudah bertelanjang dada. Dav terus mendekati istirnya, melihat wajah istrinya yang seperti anak kecil membuat Dav semakin ingin menggodanya.
"Sayang! Jangan ya, nanti malam saja." Elena mendorong pelan tubuh suaminya itu.
"Sekarang saja sayang," ucap Dav dengan nada suara beratnya.
"Sayang, tadi Sindy bilang dia akan main ke sini besok. Apakah tidak apa-apa?" Ucap Elena sengaja mengalihkan pembicaraannya membuat Dav langsung menghentikan niat mesumnya itu.
Dav mengernyitkan keningnya, ia duduk di sisi ranjang, tangannya mulai terulur mengelus wajah cantik sang istri dengan lembut. " Tidak apa-apa sayang, asal jangan maen keluar ya, nanti kalau dia ajak kamu keluar, kamu jangan pergi, ok." Ucapnya lembut.
"Aku tahu sayang, aku tidak akan pergi kok jadi kamu tenang saja." Jawab Elena manja.
"Kamu jadi semakin cantik kalau sedang manja begini hmm, argh aku jadi ingin melanjutkan... "
"Sayang, aku mau ke kamar mandi, perutku sakit." Sela Elena dengan cepat.
"Jangan berbohong sayang,"
__ADS_1
"Beneran sayang, kamu mau aku buang aer di sini?"
Dav menghela nafasnya panjang, sepertinya ia harus menunda niatnya untuk berkembang biak kali ini. "Pergilah, tapi ingat! Nanti malam kita..."
"Aku ingat sayang. Yasudah lepaskan tanganmu, nanti aku keburu buang aer di sini lagi." Ucap Elena membuat Dav terkekeh pelan, kemudian ia pun segera melepaskan tangannya dari pinggang ramping istrinya. "Pakai lagi bajumu sayang, nanti kamu masuk angin, loh." Elena sengaja mengelus sebentar dada bidang milik suaminya itu, lalu setelah itu ia langsung pergi ke kamar mandi dengan langkah kaki seribunya.
Dav menyunggingkan senyumannya, bisa-bisanya istrinya itu menggoda dirinya di waktu yang tidak tepat, benar-benar menguji kesabarannya. "Dasar istri nakal, lihat saja, nanti malam aku pasti akan membuatmu tidak tidur semalaman." Ucap Dav pelan. Dav segera bangkit dari tempat tidurnya, kemudian ia kembali memungut kemeja putihnya, lalu memakainya.
Dav berjalan keluar dari kamarnya, ia melangkahkan kedua kakinya menuju ruang kerjanya. Sambil melangkahkan kaki, Dav merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya, ia segera menghubungi Sam asistennya.
"Sam! Besok aku tidak pergi ke kantor, jika ada berkas yang perlu aku tanda tangani, bawalah kemari." Ucapnya setelah panggilannya tersambung.
"Dan jangan lupa besok sabtu, kita pergi ke markas." Setelah mengatakan hal itu, Dav langsung memutuskan sambungannya secara sepihak, ia kembali menaruh ponselnya ke dalam saku celananya.
Dav menghentikan langkah kakinya ketika berpapasan dengan si bibi. "Bi, buatkan aku kopi, bawa ke ruang kerjaku." Perintahnya datar. Tanpa menunggu jawaban dari si bibi, Dav kembali melangkahkan kedua kakinya menuju ruang kerja, sementara si bibi, langsung bergegas menuju dapur.
***
__ADS_1
Keluarga Gerald.
Deon duduk di hadapan sang papa, ia sangat tahu jika perusahaan papanya itu sedang mengalami masalah, namun Deon bersikap biasa saja dan pura-pura tidak mengetahuinya. Deril yang duduk di samping papanya pun mulai membuka suaranya ketika melihat papanya hanya terdiam, enggan untuk membicarakan masalah perusahaannya.
"Deon, kamu pasti sudah mengetahui masalah perusahaan papa bukan?" Deril menatap Deon, Deon hanya mengedikkan bahunya membuat Deril harus menghela nafasnya berat.
"Deon! Papa harap kamu mau membantu papa. Bagaimanapun juga, suatu saat nanti perusahaan papa akan menjadi milik kamu dan juga Deril." Ucap Gerald sambil menatap putra bungsunya itu.
Deon terkekeh pelan, ia meraih minumannya lalu meminumnya dalam sekali tegukkan. "Papa memanggilku ke sini hanya untuk meminta bantuanku? Papa sangat luar biasa, di saat perusahaan papa ada masalah papa langsung mencariku."
"Deon, bukan itu maksud papa... "
"Lalu apa maksud papa? Bukankah sudah jelas papa memanggilku hanya untuk meminta bantuanku bukan?" Sela Deon sambil menatap papanya.
"Deon! Jangan berkata seperti itu." Ucap Deril sambil menatap kesal adiknya.
"Oh aku tahu, kau bukan yang sudah membocorkan rahasiaku kepada papa? Papa tidak mungkin tahu kalau aku memiliki perusahaan dan juga kekuasaan jika bukan kau yang memberitahukannya."
__ADS_1
"Ya, memang aku yang memberitahu papa, bahkan aku juga sudah memberitahu papa tentang kau yang seorang pemimpin mafia nomor dua di negara ini." Ucap Deril membuat Deon geram.
Bersambung.