Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Lingeri sialan


__ADS_3

Setelah menerima laporan dari Lucas tentang putra bungsu Gerald. Seringai menakutkan tersungging dari bibir tipis Dav. Dav benar_benar sangat penasaran, ingin bertemu langsung dengan putra bungsu Gerald itu. Namun sayangnya, Lucas masih belum bisa melacak keberadaannya karena putra bungsu Gerald itu terlalu pintar dan juga sangat licik.


Dav menyesap rokoknya secara perlahan, saat ini dirinya sedang berada di balkon kamarnya. Ia menatap hamparan langit yang begitu gelap. Bahkan cahaya bulan pun tidak nampak pada malam itu. Hembusan angin malam begitu terasa menyejukkan.


"Sedang apa?"Suara merdu seorang perempuan masuk ke gendang telinganya. Dav seketika berbalik dan mendapati istri kecilnya tengah berdiri dengan balutan lingeri yang sengaja ia minta belikan kepada si bibi.


Dav tidak menjawab, matanya fokus menjelajahi seluruh tubuh istrinya yang begitu menggoda. Sementara itu, Elena yang tidak mendapat jawaban dari suaminya pun kembali bersuara. "Sedang apa kamu di sini? Angin malam sangat tidak baik untuk tubuhmu." Suara itu terdengar begitu menggoda dan mengajak Dav untuk berfantasi liar tentang istrinya.


Dav mematikan sebatang rokok yang terjepit di tengah jarinya. Ia membuangnya asal. Kemudian ia berjalan menghampiri istri kecilnya itu. "Kamu sengaja ingin menggodaku, sayang!" Bisik Dav yang kini sudah memeluk tubuh istrinya penub kehangatan.


Elena mendengus kesal, jelas_jelas tidak ada lagi piyama yang harus ia kenakan. Bahkan baju_bajunya pun hilang ntah kemana, dan hanya menyisakan lingeri sialan itu. "Bukankah kamu yang sengaja menyuruh si bibi untuk menyembunyikan piyamaku beserta baju_bajuku." Ucap Elena sambil mendorong tubuh suaminya itu.


Dav terkekeh pelan, ternyata istrinya itu sangat pintar dan pandai menebak. "Mungkin si bibi yang lupa naro baju_bajumu, sayang. Ini tidak ada hubungannya denganku." Elak Dav dengan nada suara terdengar begitu lembut.

__ADS_1


"Alasan yang tidak masuk akal." Dengus Elena tidak percaya.


"Jangan marah_marah, sayang. Nanti cepet tua, loh." Ucap Dav lalu mengangkat tubuh istri kecilnya itu.


"Apa yang kamu lakukan, Dav? Turunkan aku." Teriak Elena terkejut karena tiba_tiba saja suaminya itu mengangkat tubuhnya.


"Nanti akan aku turunkan di atas tempat tidur." Jawab Dav sambil melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya.


"Diamlah sayang. Kamu sudah menggodaku, jangan harap kamu bisa lepas malam ini." Ucap Dav tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Dasar tidak tahu malu. Jelas_jelas kamu yang sengaja menyiapkan lingeri sialan ini, dan jelas_jelas kamu sengaja menyuruh si bibi menyembunyikan baju_bajuku. Sekarang malah menuduhku menggodamu. Benar_benar ngeselin.


Dav merebahkan Elena di atas tempat tidur, kemudian ia membelai wajah cantik istrinya itu. "Jangan menuduhku tanpa bukti, sayang. Itu kan kesalahan si bibi yang lupa menaruh semua pakaian_pakaianmu hmmm." Ucap Dav dengan wajah tanpa dosanya.

__ADS_1


"Tidak masuk akal. Jelas_jelas semua pakaianku ada di dalam lemari, kenapa bisa hilang semua? Tidak mungkin si bibi lupa."


"Mungkin saja si bibi lupa ketika ingin memindahkan semua pakaianmu ke kamarku. Bukankah sekarang kamu ini istriku? Jadi semua barang yang ada di dalam kamarmu harus di pindahkan ke sini. Termasuk semua pakaianmu." Ucap Dav tanpa melepaskan tatapannya dari wajah cantik istrinya yang mulai merona.


"Tetap saja tidak masuk akal kalau si bibi lupa." Dengus Elena sambil berusaha untuk mendorong tubuh suaminya dari atas tubuhnya.


"Sayang, sepertinya malam ini kita harus terbang ke angkasa."Bisik Dav yang membuat Elena mengernyitkan keningnya tidak mengerti.


"Maksudmu?"


"Kita harus melakukannya sekarang. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi." Ucap Dav dengan suara beratnya. Tatapan matanya mulai berkabut, nafasnya naik turun tak beraturan. Sementara itu, Elena membolakan kedua bola matanya dengan sempurna. Ia merasakan sesuatu yang keras mengenai pahanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2