Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Yakin sekali


__ADS_3

Elena mulai terbangun dari tidur nyenyaknya. Kedua bola matanya ia buka secara perlahan menatap langit-langit kamarnya. Elena mengernyitkan keningnya bingung, rasanya ia tadi tertidur di ruangan sang suami, lalu, mengapa saat ini ia berada di dalam kamarnya? Apakah dia sedang bermimpi?


Elena kembali menutup kedua matanya, lalu membukanya kembali, mencubit lengan kanannya dan itu terasa sangat menyakitkan bagi dirinya. Ok sepertinya ini bukanlah sebuah mimpi bagi dirinya.


Lantas Elena duduk di atas tempat tidur, matanya mulai menelisik sudut kamarnya, mencari keberadaan sang suami. "Kemana dia? Kenapa tidak ada di sini?" Batin Elena bertanya-tanya seraya turun dari ranjang berukuran besar itu.


Perlahan, Elena mulai melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi, ia berharap sang suami berada di dalam sana. "Sayang, apakah kamu di dalam?" Tanya Elena sembari membuka pintu kamar mandi itu dengan lebar.


"Tidak ada di sini. Kemana dia pergi?" Gumamnya kembali melangkahkan kedua kakinya meninggalkan pintu kamar mandi tersebut dan berjalan menuju pintu kamarnya.


"Mungkin dia sedang di bawah, sebaiknya aku turun saja." Gumamnya lagi seraya keluar dari dalam kamarnya.


Elena mulai menuruni anak tangga itu satu persatu. Si bibi yang melihatnya pun tersenyum kepada Elena.


"Nona Elena sudah bangun?" Tanya si bibi membuat Elena langsung menoleh ke arahnya.


"Belum bi, ini arwahku sedang mencari keberadaan suamiku." Sahut Elena membuat si bibi tertawa.


"Non Elen bisa saja."


"Lagian pertanyaan bibi ada-ada saja. Oh iya bibi melihat suamiku tidak?" Tanya Elena yang mendapat anggukkan kepala dari si bibi.


"Di mana, bi?" Tanya Elena lagi.

__ADS_1


"Tuan sedang berada di ruang kerjanya, non." Ucap si bibi ramah.


"Baiklah. Terima kasih ya, bi. Oh iya, bi. Tolong nanti siapkan makan malam, menunya udang saus padang ya, bi. Jangan lupa minumannya lemon tea yang asem banget tapi, bi."


"Baik, non. Laksanakan." Sahut si bibi dengan semangat empat lima.


"Yasudah aku mau ke ruang kerja suamiku dulu. Ingat pesanku ya, bi. Yang asem banget. Ok." Ucap Elena sebelum ia melangkahkan kedua kakinya meninggalkan si bibi yang kini sedang membentuk hurup o menggunakan tangan kanannya.


"Asem banget. Tumben si non minta yang asem banget. Sepertinya ada yang aneh dengan nona Elena akhir-akhir ini." Batin si bibi sambil menatap kepergian istri tuannya itu.


***


Ruang Kerja.


"Sayang, kamu masih bekerja?" Tanya Elena membuat Dav langsung mengalihkan pandangannya kepada sang istri.


"Tidak kok, sayang. Ini cuma memeriksa email yang di kirimkan oleh klienku saja." Sahut Dav selalu lembut dan halus.


"Sudah bangun baby?" Tanya Dav seraya membawa sang istri untuk duduk di pangkuannya.


"Menurutmu, apakah aku sudah bangun?" Elena berbalik nanya sembari mengalungkan tangannya di leher sang suami.


Dav terkekeh pelan, ia mengecup singkat bibir sang istri lalu berkata. "Sepertinya belum, karena aku lihat tadi, tidurmu sangat nyenyak sekali."

__ADS_1


"Ish... Nyebelin. Kalau aku belum bangun, lalu ini siapa? Arwah aku gitu?" Ucap Elena sambil mencubit gemas hidung mancung sang suami.


"Aku hanya becanda, sayang." Dav kembali mendaratkan kecupan mesranya di bibir sang istri, lalu setelah itu, ia pun mengecup kening sang istri dengan mesra.


"Besok pagi dokter pribadiku akan datang kesini." Ucap Dav membuat Elena langsung mengernyitkan keningnya.


"Untuk apa kamu memanggil dokter pirbadimu? Apakah kamu sakit, sayang?" Tanya Elena seraya menempelkan punggung tangannya di kening sang suami.


"Tidak, sayang. Aku sengaja memanggilnya kemari, untuk memeriksa keadaanmu. Karena Sam bilang kamu itu seperti wanita hamil, jadi dia menyarankan aku untuk memanggil dokter pribadiku kemari. Sebenarnya sih, aku sudah menyuruh Sam untuk menyuruh dokter itu datang nanti malam, tapi dokter itu sekarang sedang berada di luar kota." Ucap Dav sambil mengelus lembut wajah cantik sang istri.


Elena terdiam sejenak, ia berusaha untuk mengingat kapan ia kedatangan tamu bulanannya.


"Sayang, kenapa kamu diam saja?" Tanya Dav lembut.


"Ah tidak, sayang. Aku hanya sedang mengingat tamu bulananku saja. Sepertinya bulan ini aku memang belum kedatangan tamu bulananku deh. Apa jangan-jangan, aku memang beneran hamil?" Ujar Elena sambil memperlihatkan senyuman manisnya.


"Kamu yakin, sayang?" Tanya Dav antusias.


"Yakin sekali." Jawab Elena cepat.


"Astaga.... Semoga saja kamu memang beneran hamil sayang. Aku sudah tidak sabar menantikan kehadiran buah hati kita." Ucap Dav sambil memberikan beberapa kecupannya di wajah sang istri. Bahkan tangannya kini mulai mengelus lembut perut sang istri yang masih rata itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2