Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Merencanakan sesuatu


__ADS_3

Deon sudah menginjakkan kakinya di tempat kelahirannya. Dia berjalan dengan gaya khasnya yang selalu dapat membuat para perempuan terphipnotis oleh ketampanannya. Namun sepertinya ada yang berubah dengan expresi di wajahnya. Jika dulu ia selalu menampilkan wajahnya yang hangat, senyumannya yang menawan, dan juga tatapan matanya yang memikat, tetapi kali ini ia menampilkan wajahnya yang dingin juga tidak ada senyuman di bibirnya. Namun meskipun begitu, para perempuan pemuja wajah tampan tetap saja terpesona.


Langkah kaki Deon terhenti di pinggir mobil mewah miliknya. Sang asisten langsung bergegas membukakan pintu untuknya dan mempersilahkannya. "Silahkan tuan." Ucapnya ramah.


Deon segera masuk ke dalam mobilnya, kemudian ia duduk. "Bawa aku ke tempat Sindy." Perintahnya dingin.


"Baik, tuan." Jawab asistennya, lalu menutup pintu mobil tersebut.


Deon menghela nafasnya panjang, ia mulai mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang.


"Bagaimana! Apakah ada informasi mengenai Elena?" Tanyanya dingin setelah panggilannya di terima.


"Saya sudah memeriksa ke kampusnya, nona Elena sudah tidak lagi berkuliah di sana."

__ADS_1


"Sial... Ini pasti kerjaannya dia. Argh brengsek." Geram Deon dengan tangan terkepal kuat menahan amarah dalam dirinya. "Baiklah, kau terus pantau mansionnya! Ingat jangan sampai ketahuan, atau kau akan mati seperti Simon. Mengerti." Tegas Deon dingin. Setelah mengatakan hal itu, Deon langsung memutuskan sambungannya, ia menendang kursi depan meluapkan amarahnya.


"Dav... Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Elena kembali. Kau tunggu saja nanti, aku pasti bisa membawanya pergi dari sisimu." Batinnya dengan seringaian yang menakutkan. "Sindy! Ya Sindy satu-satunya sahabat Elena. Aku bisa memanfaatkan dia untuk membuat Elena pergi sendirian. Dengan begitu akan mudah bagiku untuk membawa Elena pergi tanpa harus berhadapan dengan para pengawal sialan itu." Deon kembali menyeringai, seringaiannya terlihat begitu menyeramkan, bahkan asistennya Dito sampai bergidik ngeri ketika ia tidak sengaja melihat seringaian bos iblisnya itu.


***


Perusahaan William's.


Waktu menunjukkan pukul 16.45. Dav masih berkutat dengan pekerjaannya, sementara Elena sudah mulai bosan berada di dalam ruangan suaminya itu. Elena mondar mandir tidak jelas, ia terkadang menghela nafasnya panjang sambil menatap suami bucinnya itu.


"Sebentar lagi sayang." Jawab Dav sambil meregangkan otot-ototnya. "Apa kamu bosan?"Tanyanya yang mendapat anggukkan kepala dari istri kecilnya. "Kenapa kamu tidak pergi untuk melihat-lihat perusahaanku?"


"Ish.... Bukankah sudah!"

__ADS_1


"Aku lupa."Dav terkekeh pelan, ia baru ingat ketika tadi dirinya sedang mengadakan rapat, Elena meminta izin untuk berkeliling melihat perusahaannya.


"Dasar kakek pikun." Dengus Elena dengan menggelengkan kepalanya.


Dav kembali tersenyum, kemudian ia beranjak dari kursi kebesarannya, lalu berjalan menghampiri istri kesayangannya."Sabar ya sayang. Sebentar lagi pekerjaanku selesai kok." Ucap Dav sambil mengelus lembut pucuk kepala Elena. Lalu memberikan kecupan mesra di kening istrinya.


"Untuk menebus rasa bosanmu, aku akan melakukan apa pun yang kamu inginkan. Bagaimana?" Dav berjongkok, tangannya menggenggam lembut tangan istrinya. Tatapan mata yang di berikan oleh Dav mampu membuat wajah cantik Elena merona. Debaran jantungnya selalu tak beraturan ketika suaminya itu menatapnya penuh rasa cinta juga kasih sayang.


"Hmm baiklah."Jawab Elena dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.


"Seneng banget sih. Pasti lagi ngerencanain sesuatu hmm." Ucap Dav sambil mencubit gemas pipi mulus istrinya.


"Ish mana ada! Lebih baik sekarang kamu selesaikan pekerjaanmu dulu, ok."

__ADS_1


"Baiklah." Dav kembali mengecup kening istrinya, lalu mengecup sekilas bibir manis sang istri. "Buat tambah staminaku." Bisiknya yang mendapat gelengan kepala dari istrinya. Setelah itu Dav pun kembali melangkahkan kakinya menuju kuris kebesarannya. Ia kembali melakukan pekerjaannya, sementara Elena langsung mengecek ponselnya ketika suara pesan masuk terdengar di telinganya.


Bersambung.


__ADS_2