Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Apakah kamu cemburu


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹


"Selamat pagi." Elena tersenyum sambil menatap suaminya yang baru saja membuka kedua bola matanya.


"Pagi, sayang." Jawab Dav dengan suara khas bangun tidurnya. Dav mulai bangun, kemudian duduk sambil menatap gerak gerik sang istri yang terlihat sibuk. "Kamu sedang apa sayang? Kelihatannya sangat sibuk sekali."


"Aku sedang menyiapkan pakaian kerjamu."Jawab Elena lembut. "Sebaiknya kamu mandi dulu, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita."


"Istriku rajin sekali." Dav turun dari tempat tidurnya, kemudian ia berjalan menghampiri sang istri, lalu memeluknya dari belakang. "Makasih sayang." Bisiknya lalu mengecup pipi istrinya mesra.


Elena melepaskan tangan suaminya dari pinggang rampingnya, kemudian ia berbalik menatap suaminya. "Sudah kewajibanku, jadi kamu tidak perlu berterima kasih. Mengerti." Ucapnya sambil mencubit gemas hidung mancung suaminya. "Yasudah, kamu mandi dulu sana, nanti kamu bisa telat, loh." Tuturnya sambil mendorong tubuh suaminya pelan.


"Iya istriku yang cantik. Aku akan pergi mandi, tapi.... Berikan aku morning kiss dulu." Ucap Dav manja seperti bocah kecil.


"Manja sekali." Kekeh Elena kemudian ia pun segera memberikan morning kissnya di pipi kanan suaminya. "Sudahkan! Jadi sekarang pergi mandi, pakaianmu sudah aku siapkan, dan aku akan menunggumu di bawah. Ok."Ucapnya sambil memberikan usapan lembut di pundak suaminya.

__ADS_1


"Baiklah, aku mandi dulu, ya. Hari ini kamu temani aku pergi ke kantor ya."


"Tapi..."


"Cuma hari ini saja, sayang. Mau ya?" Ucap Dav sambil memperlihatkan wajah memelasnya, berharap agar sang istri mau menuruti permintaannya.


"Baiklah, hanya kali ini saja. Mengerti."


"Mengerti, sayang." Jawab Dav kembali memeluk tubuh istrinya. Sepertinya sedetik tidak memeluk tubuh istrinya membuat Dav mati penasaran. "Mau mandiin aku, gak?" Bisik Dav yang mendapat pukulan pelan dari istrinya. "Kok di pukul sih? Aku kan hanya menawarkan...."


"Hilangkan sejenak pikiran mesummu itu. Sekarang! Pergi mandi, ini sudah jam setengah tujuh loh, sayang. Nanti kamu bisa terlambat." Ucap Elena kembali mendorong tubuh suaminya.


"Sebagai seorang bos, kamu harus memberikan contoh yang baik pada semua karyawanmu." Ucap Elena sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Mandi sekarang atau aku tidak akan ikut denganmu!"


"Iya-iya aku mandi, jangan galak-galak sayang, nanti cantiknya ilang." Ucap Dav lalu pergi melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

__ADS_1


Elena hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, tingkah suaminya itu selalu saja membuat dirinya terhibur juga membuatnya dirinya kesal sekaligus gemas.


***


Perusahaan William's.


"Selamat pagi, pak." Sapa para karyawan yang berpapasan langsung dengan bos dinginnya itu.


"Pagi," Dav menjawab datar tanpa menghentikan langkah kakinya. Ia terus berjalan menuju lift khusus untuk dirinya. Sementara itu, Elena yang berjalan di sampingnya terlihat tidak nyaman dengan tatapan sebagian para karyawan perempuan yang menatapnya iri dan juga benci. Tetapi saat mereka menatap suaminya, sorot mata mereka menunjukkan kekaguman yang begitu luar biasa, hingga membuat hati Elena sedikit tidak senang.


"Penggemarmu ternyata banyak juga, ya." Ucap Elena ketika mereka sudah menaiki lift tersebut.


"Apakah kamu sedang cemburu?" Dav langsung menarik pinggang sang istri membawanya ke dalam pelukannya. Pertanyaan suaminya itu membuat Elena harus menghela nafasnya kasar. Cemburu? Tentu saja Elena cemburu, bagaimanapun juga Elena sudah jatuh cinta kepada si mafia bucin itu. Tidak ada alasan bagi Elena untuk tidak cemburu kepada para perempuan pemuja suaminya itu.


"Apa salahnya aku cemburu? Bukankah kamu itu suamiku." Ucap Elena sambil melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya.

__ADS_1


"Aku suka kalau kamu cemburu," Dav mengecup sekilas bibir manis yang sudah menjadi candunya itu, lalu ia kembali berkata. "Kecantikkanmu semakin menambah jika kamu sedang cemburu. Tapi..... Lebih cantik lagi jika kamu berada di bawah tubuhku dengan desahanmu yang menggoda itu." Sebelum istrinya mengucapkan kata mutiaranya, Dav sudah membungkam mulut sang istri dengan mulutnya. ********** dengan lembut. Elena membolakan kedua bola matanya sempurna, ia ingin mendorong tubuh suaminya, tetapi hatinya berkata lain. Ciuman memabukkan yang di berikan oleh suaminya itu seperti magnet bagi dirinya. Tidak mau lepas juga tidak bisa lepas.


Bersambung.


__ADS_2